• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya



Maret 2017, tepatnya hari Kamis di akhir bulan, 18 hari setelah pertama kali ke Gardu Pandang Jehan atau sekitar satu minggu setelah Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doyan Dolan, aku kembali ke Gardu Pandang Jehan lagi. Kali ini hanya berjumlah empat orang dan ironisnya, semuanya laki-laki kecuali aku. Awalnya karena memang sedang tidak ada kegiatan karena les libur akhirnya aku putuskan mengikuti mereka saat ada yang membuat ajakan kesana di Personal Message BBM.

Kami berangkat melalui jalan utama dari arah Jepara kota, mellaui Kembang dan jalur menuju Air Terjun Songgolangit dan berbelok ke arah Jehan di pertigaan sebelum Air Terjun. Sesampainya disana, aku sedikit kaget dengan perubahan yang cukup cepat dan drastis. Jika dulu hanya ada sekitar empat Gardu Pandang berbentuk persegi dengan tangga mnuju keatas, kali ini sudah bertambah dengan sebuah miniatur kapal dengan ujung lancip berbendera merah putih.
Gardu berbentuk Kapal

keep safety ya...

aman kok, jangan takut.

harus ada yang berkorban buat foto, nih hehe


tetap gahol donk...
Warung warung kecil yang dulu hanya beralas tikar dan beratap terpal kini sudah memiliki tempat yang lebih baik. Meski masih beratap terpal, setidaknya para penjual bisa menyimpan dagangannya di dalam lemari yang sekaligus menjadi meja tempat makan para pembeli. Mereka pun menyediakan kursi di kanan kiri meja dan beberapa warung bahkan menyediakan hiburan musik yang khas Jepara banget.


Hujan deras banget sampe gelap di bawah

Kami tiba disana pada siang hari disambut dengan hujan deras tepat setelah kami tiba diatas. wow, segarnyaaa. Sejenak menikmati camilan yang kami bawa dari bawah ternyata tak membuat perut kenyang, setelah hujan reda kami pun berjalan menuju salah satu warung. Kamipun memesan mie instan sebagai satu-satunya menu yang cukup mengenyangkan dibandingkan yang lain. Selesai makan, kami baru berkeliling dan berfoto bersama.

Di beberapa spot foto memang sudah cukup aman untuk dinaiki bersama-sama, namun tetap harus menjaga keselamatan diri sendiri mengingat di bawah beberapa Gardu Pandang terdapat jurang yang mungkin akan membuatmu tegang. Bagi yang takut ketinggian sebaiknya tidak perlu naik ke Gardu Pandang yang cukup tinggi ya, atau jika kamu bersama teman atau pacar sebaiknya mintalah bantuan agar lebih aman.



Seperti itulah cerita Piknikku ke Gardu Pandang Jehan Bagian 2. Kamu punya cerita tentang Gardu Pandang Jehan juga?, share yuk...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Maret 2017, salah satu komunitas di Jepara mengadakan Camping Ceria di Pulau Panjang Jepara. Kebetulan aku sedang free dan memang ingin piknik, maka segera kuiyakan saat ada ajakan mengikuti. Dengan menaiki perahu milik salah satu anggota komunitas, kami pun menyeberang ke Pulau Panjang. Karena sejak siang hujan turun dengan derasnya, maka jadwal kamipun molor cukup lama menunggu hujan kembali reda. Sekira pukul 16.30, hujan sudah mulai reda dan kekhawatiran kami tentang batalnya acara kami pelahan luntur. Dengan menaiki perahu milik salah satu anggota komunitas, kami pun menyeberang ke Pulau Panjang.

Kami tiba disana menjelang matahari tenggelam dengan sambutan pasir yang basah akibat hujan yang hampir seharian mengguyur mereka. Matahari sudah tak lagi nampak karena tersapu mendung yang menambah gelap suasana. Syukurlah kami sudah sampai di Pulau Panjang dengan selamat.
Setelah para Punggawa (baca-anggota pria) memeriksa lokasi yang akan kami gunakan untuk mendirikan tenda, kamipun bergegas kesana sambil membawa perlengkapan yang kami bawa dari rumah. Kompor dua tungku, gas elpiji, panci besar dan alat camping lainnya kami bawa ke tenda besar yang ternyata sudah siap. Memang agak alay ya, camping kok bawa kompor dua tungku, hehe.
Yah, daripada sewa kompor portabel dan harus ngantri masak mendingan bawa aja yag ada. Toh gak ada yang dirugikan kalau alat ini dibawa, peralatan ini milik salah satu anggota yang memang tinggal sendirian di rumahnya. Dan tidak perlu banyak tenaga untuk membawanya sampai ke perahu karena tempat parkir perahunya ada di belakang rumah. Enak, bukan?

Lanjut ke Pulau Panjang, sejak magrib hingga menjelang pukul 20.00, gerimis yang turun tak kunjung reda. Kami banyak menghabiskan waktu di dalam tenda masing-masing. Kami membawa empat tenda, dua tenda untuk pria, satu untuk wanita satu tenda untuk peralatan kami.

Menjelang malam, kami memutuskan untuk makan malam bersama. Di luar ekspekstasi, ternyata panci besar yang tadi kami bawa berisi ayam yang sudah diungkep lengkap dengan bumbu khasnya. Nasi hangat juga telah tersedia disana, tak ketinggalan pula sambal kecap yang menemani ayam nikmat kami. Wah, ini sih piknik paling mewah sejauh pengalamanku.

Tidak ada acara khusus yang kami rencanakan. Tujuan kami semata-mata untuk Camping melepas penat setelah sekian hari berkutat dengan kegiatan harian. Sehingga kami hanya bersantai, ibarat kata hanya berpindah tempat tidur saja hehe. Selesai makan malam, aku dan teman wanita lain memutuskan untuk mengambil camilan dan kembali ke tenda sambil menunggu gerimis sedikit reda. Lama mengobrol, kamipun dilanda kantuk hingga masing-masing dari kami tertidur dengan sendirinya.

Aku terbangun saat waktu menunjukkan pukul 23.00 ketika gerimis sudah reda dan keadaan terlihat sepi. Ternyata teman-teman yang lain sedang memancing di dermaga Pulau Panjang. Aku menyusul sambil berbincaang dengan mereka di bawah payung langit malam yang temaram, duh.

Selepas ngobrol ngalor ngidul, sebagian dari kami menghidupkan api unggun. Sayangnya upaya mereka selalu gagal, Pertamax yang disiramkan ke kayu basah tak mampu membuatnya menyala meski dengan segala upaya. Untunglah ada bantuan dari nelayan yang singgah di Pulau Panjang, kami meminta sedikit solar untuk membantu perapian kami. Syukurlah bisa berhasil dan cukup untuk menghangatkan tubuh kami yang kedinginan sejak sore.

Menjelang Pukul dua dini hari, satu persatu dari kami kembali tidur dan bangun saat matahari agak meninggi. Setelah membersihkan diri dan berkeliling tenda, kami sarapan dengan nasi dan ayam sisa semalam ditemani mie instan goreng yang sungguh lezatnya. Dengan diiringi canda tawa, kami makan dengan lahapnya. Berbagi nasi, lauk dan kebahagiaan bersama. Selepas kenyang, kami pun membersihkan sampah yang ada di sepanjang garis pantai bagian depan dari Pulau Panjang. Ini salah satu agenda yang kami rencanakan sejak awal.


Selepas itu, Aku bersama seorang teman, mbak Ida,menyusul teman kami yang datang dengan rombongan lain, Opal. Kami mengajaknya berkeliling sambil mencari beberapa spot foto yang bagus. dan ini beberapa hasilnya. Gak bagus-bagus amat sih, hehe.




Kemudian kami berkeliling santai bersama-sama. Suasana pagi di sana masih segar, apalagi belum banyak pengunjung yang datang. Sayangnya sampah yang tercecer masih banyak dan tak ada petugas yang membersihkannya. Well, sebaiknya jangan menambah sampah di sana ya, Gais.

Setelah asik berfoto, kami dilanda lelah dan akhirnya hanya duduk-duduk di belakang tenda. Menjelang siang, kamipun berkemas dan pulang dengan hati yang gembira.

Komunitas Doyan Dolan merupakan komunitas dengan anggota yang tidak terlalu banyak namun bisa dikatakan cukup solid dalam hal pertemanan. Pertamaali mengikuti #Piknikfolkom saat di Kedung Paso bersama KPP Pratama Jepara. Setelah itu, setiap kali mereka mengadakan kegiatan aku selalu diajak, salah satunya adalah acara Camping Ceria di Pulau Panjang ini.

Sekian ceritaku tentang Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doyan Dolan. Kapan-kapan aku post lagi eksklusif tentang Pulau Panjang. Punya cerita tentang Pulau Panjang? Share yuk....


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kota Jepara dengan segala kelebihannya di pusat kota tak menyurutkan langkah kaki para pemuda untuk sekedar mlipir ke pedesaan. Selain karena aku anak desa, rasanya udara di perkotaan sudah jauh berbeda dengan di pedesaan yang meskipun tak sesejuk dan seasi dulu, setidaknya masih bisa disebut asri dan sejuk. 

Tahun ini, 2017, menjadi tahun yang asik bagiku. Banyak sekali hal baru yang kutemui, sampai nggak kober nulis di blog, (alibi). Akhirnya berhasil meluangkan waktu ubek ubek galeri cek stok foto, kira-kira apa saja yang bisa jadi konten blog, dan taraaaaaaaa, banyak banget lho ternyata sampe ngingetin kalo aku lama gak bersyukur diberi nikmat sebanyak ini sama Tuhan :).

Foto pertama yang kutemui adalah saat pertama kali ke Gardu Pandang dukuh Sikunir desa Jehan kecamatan Keling. Letaknya cukup jauh dari pusat kota jepara, jauh banget malahan.Saat pertama kali kesana, wisata yang ditawarkan masih seger-segernya. Baru sekitar dua mingguan di push ke media sosial dan langsung banjir pengunjung. Waktu itu wisata Gardu Pandang belum sebanyak sekarang, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata tersebut.

Kami bersama teman-teman Forum Lintas Komunitas (FOLKOM) yang berasal dari beberapa komunitas di Jepara berangkat pada hari Minggu, 12 Maret sekira pukul 09.00 dengan lebih kurang 20 sepeda motor. Kami juga sempat bertemu dengan beberapa rombongan lain yang juga menuju kesana. Rencananya kami akan mengadakan aksi pungut sampah disana.

Setibanya di sana, kami harus membayar tiket masuk seharga lima riburupiah perorang dan parkir dengan harga yang sama per sepeda motor. Sepeda motor yang kami bawa hanya bisa sampai di tempat parkir dan kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter dengan tiga pilihan jalur. Jalur pertama sedikit memutar, sempit dan agak curam, jalur kedua menanjak tinggi namun lebih cepat dan jalur ketiga lebih jauh tapi dengan jalanan yang mudah dan cukup lebar.

Akhirnya kami memilih jalur kedua. Dan benar, jalanannya menanjak dan sempit serta melewati Pohon Pinus di kanan dan kiri kami dengan jarak yang hanya sekitar setengah meter. sesampainya di atas, kami disuguhi hamparan tanah yang lapang serta terkesan miring. Ada beberapa warung kecil yang menjajakan makanan ringan bagi pengunjung yang datang kesana.




Teman-teman penggagas acara ini ternyata sudah berkoordinasi dengan kepala desa terkait kegiatan ini, ada juga dari Dewan Lingkungan Hidup yang membantu kami menyediakan kebutuhan untuk aksi kami. Setelah berdiskusi sejenak dan mengambil foto bersama, kamipun memunguti sampah yang ada disana. Meskipun baru saja dibuka,sampah yang tercecer sudah tak lagi sedikit karena memang belum disediakan tempat sampah.




Setelah melakukan aksi pungut sampah, kami beristirahat di salah satu warung. Aku takjub dengan jumlah pengunjung yang kulihat, banyak sekali. Ada pula ibu-ibu dan bapak-bapak setempat yang juga ada disana. setelah kutelisik ternyata banyak dari mereka yang hanya penasaran dengan apa yang ada disana. Wajar sih, depan rumahnya mendadak ramai oeh wisatawan yang sebelumnya tidak ada sama sekali.

Disana disediakan beberapa Gardu yang menempel pada pohon dengan tangga di bagian bagian bawah sebagai jalan untuk naik. Adapula yang dibuat diatas tanah -tidak menempel di pohon- sehingga bisa muat lebih banyak orang. Tapi harus tetap menjaga keamanan ya, gak boleh selfie dengan gaya ekstrem.

Oh ya, karena di atas hanya ada hamparan tanah lapang yang jarang terdapat pohon maka sudah dapat dipastikan bahwa sinar matahari akan memancar langsung ke tubuh kita. Pengalaman pertamaku kesana membuat wajahku belang sebatas jilbab yang kupakai. Sebaiknya gunakan sunblock atau pelindung wajah saat ke Gardu Pandang Jehan ya...

Sekian dulu kisah piknik ke gardu pandang part satu. nantikan selanjutnya di part 2. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ▼  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ▼  September 2017 (3)
      • Gardu Pandang Jehan Part II
      • Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doya...
      • GARDU PANDANG JEHAN PART I
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates