• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Waktu terus berlalu, tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Tak tahu kenapa, rasanya lagu ini mewakili perasaanku saat ini. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, tahu-tahu sudah ada di penghujung batas semester. 365x banyak tahun yang sangat mengesankan. Sayangnya banyak momen yang terlewat karena tak didokumentasikan. Duh, sayang sekali ya.
Lama nggak ngeblog rasanya pikiran blank, nggak punya gairah menulis. Mood jelek banget tiap berhadapan dengan ide. Rasanya ingin menulis tapi bingung mau memulai darimana. Well, maafkan jika tulisan kali ini acakadut.

Sebenarnya kali ini aku mau membahas tentang Quarter Life Crisis, fase hidup paling wow yang pernah aku alami. Wow banget sampai aku sempat berujar, "gapapa lah kejadian sekarang pas masih muda dan belum menikah, setidaknya bebanku nggak berat-berat banget.

Tapi rasanya tulisan ini akan panjang dan terbagi menjadi berberapa part. 

Fase Pause dalam hidup

Sebagai manusia yang tak lagi bisa dikatakan remaja, menghadapi tanggung jawab rasanya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi buatku yang belajar tanggung jawab secara otodidak dan nyaris tanpa dampingan. Bagiku, what people around me said, nggak menggambarkan diri mereka yang sebenarnya nggak lebih baik daripada aku. So,  apa yang membuatku harus percaya pada ucapan mereka? 

Time flies, dan aku akhirnya lebih percaya pada ucapan orang-orang yang menurutku lebih layak digugu lan ditiru. Bukan teman, bukan saudara, tapi ucapannya relate untuk kehidupanku. Dan setidaknya aku tak tahu apakah dia hanya omdo atau benar-benar menerapkannya dalam hidup. I don't care, yang penting aku hanya mencari bagian positif dari orang-orang tersebut.

Semakin kesini rasanya semakin mudah bertemu dengan banyak orang. Relasi pertemanan menjadi salah satu modal utama. Hubungan dengan keluarga menjadi hal sekunder yang nggak penting-penting amat. Waktu itu, belum terbersit untuk mengiyakan ungkapan "Keluarga adalah segalanya". Jahat ya, hehe... tapi ya memang begitu adanya. Tapi percayalah, ini bukan akhir. Ini hanya proses menuju pendewasaan dan pemicu kesadaran menjadi manusia yang seutuhnya ; makhluk sosial.

Setelah melewati fase enak-enak dengan banyak hal yang aku inginkan, akupun jenuh. Ya, jenuh sejenuh jenuhnya. Rasanya ingin berubah haluan tapi tak tahu harus bagaimana. Mendadak banyak masalah muncul, entah darimana asalnya yang pasti mereka ini mainnya keroyokan. Gak sportif banget. Kalau diingat lagi rasanya seperti jadi gula yang diperebutkan banyak semut. Gatal.

Dari sini, tanpa aku sadari ternyata banyak sekali kegiatanku yang terhenti sejenak sebelum waktunya selesai. Beberapa aku lakukan secara sengaja, dan selebihnya terjadi karena tragedi. Nih ya aku kasih uraiannya di bawah:


1.  Kuliah molor sampai 14 semester. 

Awalnya aku pikir biasa aja. Tak ada yang perlu disesali, dan memang aku nggak menyesal. kenapa?

Ya karena di waktu yang molor ini bukan berarti aku nggak dapat apa-apa. Banyak hal positif yang aku dapatkan. Lebih banyaknya berupa pengalaman sih, jadi ya wajar kalau orang lain melihatnya gitu-gitu aja. Padahal diri ini banyak upgrade-nya. 

Waktu terus berjalan, proses belajar pun masih berlanjut tapi dunia pendidikan formal terhenti sekian tahun. Meskipun pada akhirnya berjalan normal kembali dan lancar hingga akhir, fase ini cukup bikin deg-degan sih. tekanan dari berbagai pihak tanpa memberi solusi membuatku terpojok tapi perlahan bisa berdiri tegap lagi. Semoga lancar hingga waktunya wisuda bulan depan. 

2. Patah hati. 

Fase ini cukup wkwk sih. Iya, wkwk kalau diingat lagi, tapi sedihnya ga ketulungan waktu lagi ngerasain fase itu. Rasanya seperti nggak ada gunanya lagi hidupku ini. Ingin pergi ke ujung dunia lalu menghilang agar tak ada lagi rasa penyesalan yang berkepanjangan. Haduh, ini kalo diterusin bisa gila nih. Malu banget. 

Anyway, fase patah hati sebenarnya perlu banget. Ya memang rasanya ngilu, tapi efeknya bagus untuk pendewasaan diri. Tentu saja dengan catatan asupan energi positif harus selalu terpenuhi. Tidak harus keluar rumah, bisa kok lakukan hal-hal positif dari rumah. Kalo aku dulu suka nonton drakor, baca-baca wattpad atau nontonin video random di youtube.

Di fase ini, hidupku sempat terhenti sejenak. Memang aneh sih, gegara patah hati aja bisa sampe nge-pause-in hidup orang. Kurang lebih sebulan aku terkungkung di kehidupan yang toxic ini. Sampai akhirnya aku bisa keluar dengan tenang. Next aku akan ceritain gimana aku keluar dari goa gelap ini.


3. Bokek

Ya, bokek sebokek-bokeknya. Nggak ada uang, Nggak ada semangat hidup, ga ada teman berbagi. Yang ada cuma angan-angan tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu. 

Menyesal sekali kenapa aku nggak nabung, menyesal kenapa nggak punya simpanan daa lain sebagainya. Tapi dari sini mulai bisa berpikir logis untuk masa depan yang lebih baik. Emang bener ya, pengalaman itu guru terbaik.

Nah, di fase bokek ini juga hidupku rasanya berhenti. Nggak bisa kemana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain. Fix, pause lumayan lama. Tapi waktu akhirnya menjawab segalanya dengan sangat bijak. Semua masalah teratasi di waktu yang tepat.

Waktunya Play Lagi!

Begitulah hidup, tak ada yang benar-benar sempurna. Sesempurna apapun penampakannya, pasti ada sisi buruknya. Setiap orang pasti punya sisi kelemahan masing-masing, tergantung orangnya saja, mau memilih menampakkan atau menyembunyikan saja. Yang pasti keduanya punya konsekuensi masing-masing.

Dari ketiga hal yang membuat hidupku berhenti sejenak di atas, kini semuanya sudah berjalan normal kembali. Efek dari hal tersebut tentunya banyak sekali, mulai dari stress sampai badan kurus kering hehe.

Apapun itu, kini hidup sudah kembali normal dan masih banyak ide yang harus dieksekusi, masih ada laporan yang harus dikerjakan, dan masih banyak cinta yang harus di sebarluaskan.

Teruntuk kalian yang sedang mengalami fase pause dalam hidup, never give up!, hidup akan berjalan dengan baik lagi seperti sedia kala. Cukup sabar saja dan rasakan berkah Tuhan ada dimana-mana.
Terimakasih sudah membaca. Tunggu tulisan lanjutannya ya.




Share
Tweet
Pin
Share
19 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates