• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


POV 1

Bencana yang disebut covid-19 telah berhasil mengubah kehidupan masyarakat hampir secara total. Meskipun sudah banyak himbauan sebelum virus ini benar-benar sampai ke Indonesia, nyatanya tak banyak yang mengalami panic action ketika tamu tak diundang ini benar-benar datang. Justru banyak yang mendadak menjadi pakar kesehatan hingga pakar spiritual di media sosial. Pandemi ini benar-benar ajaib.

Memang tak elak akan banyak terjadi perdebatan, apalagi Indonesia yang masyarakatnya terkenal bebal dan segan menalar ke dalam. Tapi untuk kali ini, apakah tidak bisa meninggalkan ego masing-masing demi keselamatan bersama?

Pemerintah sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran virus ini agar tak merenggut banyak nyawa lagi. Tapi apalah artinya pemerintah yang hanya menyeru tanpa digugu oleh masyarakatnya. Bahkan semakin banyak yang seakan sengaja menentang dan menantang maut dengan dalil ketuhanan. Ah, lucunya Negeri ini.

Sehari yang lalu, justru muncul ajakan untuk bergotong royong bersatu padu mengeratkan genggaman tangan demi pengadaan spot cuci tangan di seluruh kota. Tujuannya sih untuk membantu para pekerja lepas yang mau tak mau harus tetap bekerja di tengah pandemik ini. Terkesan baik dan memikirkan sesama, tapi bagaimana jika salah satu atau bahkan beberapa dari spot tersebut justru menjadi media penyebaran yang lebi masif?. Jangan dibayangkan ya, menyedihkan.

Himbauan tentang social distancing yang belakangan dialihkan ke phisycal distancing menjadi pilihan untuk siapapun yang merasa perlu menjaga diri dari virus yang bisa bertahan selama tiga jam di udara ini. Zaman makin berkembang dan kehidupan sosial bisa berjalan via daring. Sekolah diliburkan, segala kegiatan berjalan via media yang kian berkembang pesat. Life must go on. Tetap #DiRumahAja dan kehidupan akan tetap berjalan dengan baik.

Virus lama bernama hoax pun kian menyebar. Tetap hati-hati dan jangan sampai termakan oleh hoax yang dibuat sendiri. bukannya meredakan, justru menambah kasus baru. Seperti video merokok yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bahkan mengikutsertakan anak-anak. Narasinya pun seakan paling kuat dan kebal, padahal bebal. Atau hoax tentang menambahkan pil amoxicillin pada bak penampungan air yang katanya bisa menangkal virus corona. Ya Ampun, kenapa makin aneh saja masyarakat kita ini.

Tentang pandemi ini, serahkan pada siapapun yang kompeten dan berwenang mengatur. Jalankan tugas kita sebagai warga masyarakat yang baik untuk tetap menjaga kondusifitas wilayah masing-masing. Tak perlu banyak bacot tak penting, apalagi menyerang pihak lain demi kepuasan dan kepentingan pribadi. Ini wabah, ini musibah, siapapun memiliki kemungkinan terserang jika tak aman.

POV 2  


Sekolah-sekolah diliburkan demi tak menambah banyak korban. Tugas sekolah berubah menjadi tugas orang tua. Entah sudah berapa banyak keluhan yang tersebar di media sosial tentang kesusahan orang tua membantu anaknya mengerjakan soal yang diberikan pihak sekolah. Tak jarang pula muncul makian dan hinaan yang mungkin jika didengar para SJW (Social Justice Warrior) bisa dipidanakan. Sungguh ngeri dan mencekam. Orang tua sudah lelah bekerja untuk anaknya, ditambah lagi memikirkan turunnya pendapatan dan masih harus menemani anaknya belajar. Huft, terbayang betapa lelahnya.

Di beberapa belahan bumi yang lain, ada kaum rendahan yang menggantungkan hidupnya pada apa yang dikerjakan hari ini. Tak ada tanggungan besar dalam hidupnya kecuali apa yang harus dimakan hari ini. Corona? Covid-19? Pandemi? Tak ada artinya bagi mereka. Bekerja adalah hal yang wajib dan tak boleh ditinggal, apapun alasannya. Interaksi mereka ada yang terbatas adapula yang tanpa batasan. Sebatas ke sawah, sebatas ke ladang, sebatas ke rumah majikan atau tanpa batas melanglang buana tak tentu arah mencari barang bekas atau menunggu pelanggan di pinggir jalan.

Hidup mereka tak kompleks, sangat monoton, tapi tak banyak pilihan yang dimiliki. Mengikuti himbauan #DiRumahAja artinya mereka akan kelaparan. Memang aman dari virus kejam itu, tapi penyakit lain akan datang merusak kehidupan mereka.

Sementara corona menjadi sorotan, penyakit lain tak diindahkan. Korban Demam Berdarah Dengue tak bisa disepelekan. Desinfektan disebarkan, tapi voging ditinggalkan. Aman dari virus tapi nyamuk makin gencar menyerang.  

Pusat perbelanjaan banyak yang libur, its ok untuk yang sempat merasakan panic buying kemarin. Persediaan lengkap dan aman untuk beberapa hari ke depan. Lagi-lagi fulus yang berbicara, hanya orang kaya yang bisa melakukannya. Mereka yang bekerja dengan hasil pas-pasan hanya bisa makan yang ada. Jika garam habis dan tak ada tempat membeli. Lauk hambarpun tetap jadi kudapan lezat di mata mereka.

Gaya hidup sehat, air bersih, masker, cuci tangan sesering mungkin hanya informasi yang sekilas lewat di telinga mereka. Mereka begitu percaya bahwa dunia masih baik-baik saja. Sebentar lagi pandemi akan hilang dan kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti kemarin dan hari ini, karena setiap hari adalah sama bagi mereka.

Disclaimer


Dua POV diatas adalah hasil pengamatanku selama dua minggu. di tengah pandemi global ini, ternyata banyak hal unik yang terjadi. Bukan bermaksud membuat lelucon, tapi sekedar berbagi tentang apa yang aku rasakan. Dua sisi kehidupan berbeda membuat siapapun jengah, lebih jengah lagi jika ada di posisiku saat ini yang ada diantara mereka. Niat hati menjadi seperti yang diatas tapi apa daya tangan tak sampai, tapi untuk hidup seperti POV kedua rasanya mentalku belum siap menjalaninya.

Hidup di antara dua kubu rasanya cukup menyesakkan, berjalan ke 1 sisi aku dihadapkan pada solusi untu tetap di rumah dan bekerja sepanjang waktu. Pekerjaan selesai dan dapur tetap ngebul, nafsu makan tetap terjaga, gizi dan nutrisi tetap aman terkendali. Di sisi yang lain, tak akan ada sendawa setelah makan jika tak bekerja hari ini. Bahkan jikapun bekerja, belum tentu juga porsi makannya akan sama.

Memang tidak mudah menjalani hidup di tengah pandemik ini. merasa sudah baik-baik saja, ternyata diburu kepanikan yang sebenarnya tak perlu ada. Insecurity yang meningkat drastis membuat siapapun cenderung acuh pada sesama. Tapi bukan itu intinya, yang penting adalah saling menjaga. Menerima apa yang dianjurkan oleh pemegang kuasa, berusaha melakukan yang terbaik dimulai dari diri sendiri untuk orang lain di luar sana. tetap berbuat baik pada sesama meskipun tak ada jabat tangan, gantikan dengan senyuman tulus untuk saling menguatkan.

Tetap menjaga lisan dan jari agar tak mudah terprovokasi dan tanpa sadar menjadi provokator di sirkel baru. Tetap stay #DiRumahAja dan menjaga kewarasan dengan asupan informasi daring bermanfaat serta menjaga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup. Tetap rajin cuci tangan, gunakan masker jika terpaksa keluar dan jaga jarak minimal 1 meter dengan orang yang terindikasi flu atau sejenisnya.

Mohon maaf jika ada salah kata. Terimakasih sudah membaca.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Demam Foto Menggunakan Kain Tenun, Separah Inikah? - Beberapa waktu yang lalu saat stalking menggunakan akun instagram pribadi, saya menemukan sebuah post berisi foto seorang anak muda dengan balutan kain tenun utuh sedang berada di sebuah tebing. Foto tersebut dibanjiri like ribuan dan mendapatkan banyak pujian di kolom komentar.

Saya sempat sebal karena saya tidak bisa seperti itu, mendapatkan banyak like dan komentar. Ah, iri.

Tapi selanjutnya saya lebih fokus pada kain yang dikenakan anak muda tersebut. Ya, adalah kain tenun dengan motif etnik yang sedang hits di kalangan anak muda. Ya, maksudnya hits disini adalah sering dijadikan sebagai objek fotografi dan pemanis feed instagram.

Semakin hari saya semakin intens stalking dengan keyword yang sama. Hasilnya sama semakin banyak menemukan foto serupa. Kadang ada juga foto prewedding juga. Yang ini sukses bikin baper sih.

Well, makin hari saya jadi makin kagum dengan anak muda zaman sekarang. Kreatif sekali dan tetap mencintai produk lokal khas daerah. Sudah banyak buktinya, salah satunya yang tadi saya sampaikan di atas.

Sama sekali nggak apa-apa kok. Nggak akan terjadi hal fatal. Justru berdampak bagus bagi tenun itu sendiri dan si empunya foto tersebut. Tolong jangan membayangkan hal parah seperti judulnya. Kan judul hanya pemanis buatan biar kamu penasaran.
Berikut beberapa foto yang saya dapatkan di instagram.
View this post on Instagram

A post shared by ⓜⓐⓨⓐ (@mayaaa105) on Jun 18, 2019 at 5:51pm PDT





Nah, Pasti Ada Yang Penasaran Dengan Jenis Kainnya Kan?


Jadi jenis kain yang digunakan adalah jenis Tenun Blanket yang terbuat dari Benang Katun. Ukurannya standar kain tenun, yaitu 240x120cm. Coraknya beragam, mencapai ratusan motif dari berbagai daerah. Tinggal pilih saja di katalog tenun ikat Milka Ethnic di instagram. 

Harganya pun cukup terjangkau meskipun tidak bisa dibilang murah. Ya, namanya juga kain tenun yang dibuat dengan tangan. Jadi ya maklum jika harganya tidak seperti kain yang dijual meteran di pasar. Jangan harap bisa menemukan kain dengan motif dan tekstur sama di pasaran dengan harga seperti kain jenis lain, ya.

Untuk mengetahui dan mendapatkan harga terbaik Kain Tenun Ethnic ini langsung saja hubungi admin Milka Ethnic di bawah ini :

INSTAGRAM : @kainethnic.id 
                          @tenuntrosoofficial
WHATSAPP : 0822 3500 2336 (link WA : Milka Ethnic)
LINE : MilkaEthnic


Sekian artikel saya tentang Demam Foto Menggunakan Kain Tenun, Separah Inikah?, semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi pilihan saat membeli Kain Tenun di Media Sosial.


Share
Tweet
Pin
Share
23 komentar

Disclaimer : Tulisan ini udah delay lama banget, sejak event pertama kali ngumpul. Kalah niat diiringi sama beberapa aktivitas nggak penting yang lain, dan baru kali ini berhasil muncul di blog. Telat nggak papa, daripada nggak sama sekali *beladiri*. Dan akhirnya tulisan ini ditulis seminggu setelah event ngumpul ketiga bareng Anak #TwitterJepara. 

Anak #TwitterJepara Ngumpul Lagi - Beberapa bulan lalu sempat ramai anak twitter di seluruh penjuru negeri pada ngumpul di dunia nyata alias kopdar. Mereka menggunakan #AnakTwitterHarapNgumpul untuk meramaikan. Dan Anak #TwitterJepara nggak mau kalah dengan yang lainnya dong. Harus dan merasa perlu turut meramaikan. 

Di Jepara, yang menurutku pengguna twitternya hanya sedikit, ternyata SALAH BESAR. Saat  agenda acara ngumpul dihare ke twitter, responnya cukup banyak. Bahkan aku cukup kaget, ternyata wong Njeporo o gaul ya, nganggone twitter. 

Sampai sekarang, Anak #TwitterJepara udah mengadakan tiga kali acara Ngumpul Bareng. Dan pastinya akan lebih banyak lagi agenda lainnya ke depan. Berikut rangkuman event Ngumpul kita selama ini.

Event Pertama

Pertama kali Anak #TwitterJepara Ngumpul saat #AnakTwitterHarapNgumpul masih hangat-hangatnya. Perasaan baru kemaren banget tapi saat aku lihat kembali ternyata acaranya sudah 5 bulan yang lalu, Juli. Nggak kerasa banget.


Waktu itu kita ngumpul di Djago Resto & Cafe. Terkesan berkelas memang buat kaum missqueen kaya kita. Sempat ada yang merasa keberatan, termasuk aku yang nggak biasa datang ke tempat hits kaya gitu *haha*. Tapi it's ok. Prinsipnya kita ngumpul, nggak harus makan. Meskipun tempatnya di kafe, kita tetap mengedepankan keasikan. Makan nggak makan yang penting kumpul. Pesan masing-masing, bayar masing-masing. Pilihan tempat di tengah kota cukup baik untuk akses dari arah manapun. Tidak jauh dan tidak terlalu dekat kecuali yang rumahnya di kota.

Acaranya cukup seru, ada sekitar 20 orang yang hadir. Karena masih awal, kita lebih banyak perkenalan dan kepo dengan akun masing-masing. Selanjutnya, kita bersua di grup whatsapp yang sudah disiapkan. Berikut beberapa foto kala itu yang dibagikan beberapa teman di media sosial.


View this post on Instagram



A post shared by Travell⭕man (@negabod) on Jul 22, 2018 at 11:34pm PDT



Event kedua

Oh ya, ada yang terlewat. Saat di Djago Resto kita sempat membahas pertemuan selanjutnya. Maklum lah, komunitas baru yang masih hangat-hangatnya. Bawaannya pengen ngumpul terus, ya nggak sih?.  Selain nggak ada yang dibahas juga sih sebenarnya.

Pasca itu, kita masih bahas lagi di grup WA Satu persatu anggota nambah dan kian hari makin ramai. Makin semangat buat kopdar lagi. Yuhuuu


Daaan... Akhirnya kita kopdar lagi dong. Sesuai jadwal banget. Satu bulan setelah event Ngumpul pertama. Kali ini agak melipir ke tepi pantai, tetap di kafe kok, tapi di tepi pantai. Kita ambil hari Minggu karena satu-satunya tanggal merah dalam satu minggu. Meskipun dengan konsekuensi tempat yang bakalan ramai banget. Apalagi di sore hari.

Let it flow, nggak perlu mikirin itu. Tujuan kita cuma satu, Ngumpul. Dan jangan lupa juga, ngumpulnya kita punya banyak nilai plus. Termasuk yang dibawah ini:


Sejauh ini, setiap ngumpul kita ngga mau serius serius banget kaya DPR lah. Niat ngumpul ketemu teman dunia maya aja. Nggak usah dilebih-lebihin. Jadi kalo ada yang nanya kita bakalan ngapain disana?, jawab aja : NGUMPUL.

Event ketiga

Nah, ini yang masih segar di ingatan, tapi agak lupa sih. Setelah tiga bulan hiatus dan nggak ada pergerakan, akhirnya kita ngumpul lagi. Setelah disodok (baca : didesak) ngalor ngidul baik di grup WA maupun twitter oleh beberapa oknum yang suka kangen ngumpul, akhirnya tercetuslah sebuah kesepakatan yang waktu itu sebenarnya masih ragu untuk ditetapkan. Kita ngumpul lagi di hari dan tanggal sekian (cek gambar).


Selain itu, mendekati hari H ngumpul ada twit dari akun twitterJeparaHariIni yang agak nyambung nih sama suasananya. Pas dong, langsung tebar tebar jaring dan makin banyak yang tertarik masuk grup. Baiqlaaa.... Bakalan makin rame nih kayaknya.

Selamat malam kawan, masih ada yang make Twitter?
— Jepara Hari Ini (@JeparaHariIni) 27 November 2018



Daan yeeeeeay, akhirnya ngumpul lagi. Tempatnya masih sama seperti sebelumnya. Ya gimana ya, abis tempatnya enak sih. Deket banget sama pantai. Apalagi ada yang kaya gini, kan bonus banget buat yang suka.


Apa Saja Yang Dibahas?

Yawlaaa, aku suka bingung kalo ditanya kaya gini. Seperti yang aku tulis di atas, tujuan utama kita ke lokasi adalah Ngumpul. Soal materi, BEBAS. Mau nanya akun masing-masing, boleh. Mau bagi-bagi duit, boleh. Mau tebar pesona, boleh banget. Mau bagi undangan, emm... jangan dulu. Aku duluan kalo yang ini.

Jadi, nggak ada alasan lagi buat malu-malu Ngumpul sama Anak #TwitterJepara ya. Aku bilang gini ya karena banyak yang nggak jadi ikutan ngumpul karena merasa nggak kenal atau malu buat nyapa duluan. Kita ini sama-sama kaum missqueen dari peradaban twitter kok, open banget sama siapapun. (Pencitraan banget ini sih)

Masa Cuma Ngumpul Aja, Mbak?

Sebenarnya sih nggak juga, kita yakin potensi kita besar untuk ke depan. Tapi apapun itu, enaknya kita mulai dulu dengan Ngumpul Asik biar saling kenal. Bukan tak mungkin suatu saat kita bisa bermanfaat bagi khalayak. Aamiin. Nah, bagi yang berminat masuk grup bisa tuliskan komentar di bawah atau japri aku di twitter @haiulya. Atau bisa langsung chat WA di nomor yang ada di bio blog ini dengan password #TwitterJepara. 
Yuk Ngumpul Bareng!, Twitteran mulu, nggak pengen ketemu langsung apah?!

Terimakasih, sekian dulu cerita tentang Ngumpulnya Anak #TwitterJepara. Tunggu ceritaku tentang Anak #TwitterJepara Ngumpul Lagi  selanjutnya ya. Happy Blogging!


   
Share
Tweet
Pin
Share
32 komentar

Sebuah tulisan klarifikasi pada diri sendiri atas kesalahan besar telah membiarkan blog berdebu dan bikin bersin siapapun yang berkunjung.
Halo, mohon maaf semua jika akhir-akhir ini jadi  jadi males nulis. Pakai mohon maaf segala kaya ada aja yang mau buka blognya yah. Huhu

Awal ngeblog memang aku benar-benar ingin memiliki semacam buku harian online. Karena tak mungkin diceritakan sekedar di media sosial; twitter harus nge-thread, instagram pasti pada malas membaca, dan di facebook aku terlalu malu karena banyak teman dekat yang jadi teman disana. 

Akhirnya, jadilah blog ini.


Dengan niat dan tekad menulis setiap hari, akhirnya aku memberanikan diri untuk membeli domain. Alasannya sih agar lebih rajin dan semangat menulis. Kenyataannya? Hehe, bisa dilihat di daftar tulisanku yang bagai kanguru. Meloncat-loncat.

Semakin kesini, ternyata kegiatan semakin banyak. Kadang malah jadi kompleks banget. Ujung-ujungnya ya tidak jadi menulis. Belum lagi ditambah rasa malas yang sering hinggap meski tak tahu darimana asalnya.

Soal ide, sebenarnya sih tumpah-tumpah banget. Sayangnya, kadang aku lupa take moments karena saking asiknya melakukan hal yang sebenarnya bisa dibagikan. Akhirnya memutuskan untuk tak jadi dibagikan karena tak ada gambar pendukung.

Soal gadget, ready semua kok. Smartphone, netbook, kuota internet pun selalu ada.

Atau mungkin sudah merasa tak penting berbagi cerita ya. Sudah ada tempat berbagi yang lain. Pacar, mungkin!

Ah, nggak juga. Aku memang tak lagi jomblo tapi aku jarang sekali bercerita sama doiku. Kalau memadu cinta, sering.

Lalu apa ya masalahnya?

Em, mungkin karena kegiatanku yang monoton ya. Bayangkan saja. Bangun tidur, main gadget, jam 10 sudah ngajar les, jam 12 ngantuk, tidur. Jam 2 siang ngajar les lagi sampai jam 8 malam. Meskipun cuma ngajar les, rasanya sudah seperti ikutan sekolah. Pusing juga mikirin tugas. Apalagi murid lesnya variatif. Dari kelas 1-5 SD. Sekolahnya beda. Pelajarannnya beda. Semakin mengurangi minat mikir buat nulis lagi.

Hmmm.. Alasan aja. Lha wong tulisan curhat kaya gini aja nyatanya bisa jadi. Bisa dibaca meskipun nggak enak-enak banget bacanya. Kenapa ga bikin tulisan yang natural kaya gini aja Ulya?!.

Hehe
Hehe
Hehe

Iya juga sih ya.

Jadi aku harus bagaimana nih?

Ya nulis aja lah. Sayang banget kan kalo kosong blognya. Soal seo-seo an itu belakangan aja mikirnya. Jalani saja dulu. Toh dulu tujuanmu ngeblog cuma buat berbagi cerita kan?


*hening*


Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar
DISCLAIMER : JUDULNYA SIH SOSIAL MEDIA, TAPI PERCAYALAH DI ARTIKEL INI YANG DIBAHAS CUMA INSTAGRAM AJA
Share
Tweet
Pin
Share
37 komentar



Sebagai Generasi Milenial yang hidup di zaman Now, tentunya kita tak lepas dari yang namanya Sosial Media. Entah saat ini kamu sedang membaca ini sebagai teman melepas penatmu, atau karena asal klik dari link yang kusebar di sosial media atau kamu memang sedang mencari inspirasi untuk menemukan username yang pas untuk akunmu, semoga yang aku tulis kali ini bermanfaat.


Semua yang aku tulis disini berdasarkan apa yang aku alami selama ini dan ditambah beberapa referensi dari blog lain seperti ini dan ini. 


Tanya Username


Username merupakan hal yang cukup penting bagi pengguna media sosial. Selain sebagai identitas di dunia maya, username seringkali dijadikan patokan bagaimana gambaran diri pemilik username tersebut. Kalian tentu pernah bertemu dengan orang baru atau teman yang lama tak berjumpa lalu salah satu berinisiatif menanyakan akun media sosial. 

3 Tips Menentukan Username Sosial Media


Untuk saat ini, mungkin instagram yang masih menjadi andalan meskipun kadang facebook acapkali disebut. Nah, setelah diberitahu usernamenya, lalu klik tombol follow dan tak lupa minta follow back. Ini salah satu potret tanya jawab dan follow-followback yang mulus. 


Beda cerita dengan kisah dimana pemilik akun kesulitan menyebutkan usernamenya karena terdiri dari paduan huruf dan angka atau merupakan bahasa asing yang disertai tanda baca rumit. Yang ada, bukannya tertarik dan antusias, malah malas dan menyerahkan hpnya dan menyuruhnya menuliskan username dan mencarinya sendiri. Imbasnya, usernamemu akan mudah dilupakan dan ia malas mengingat kembali. Saking susahnya.


3 Tips Menentukan Username


Username itu seperti identitas kita di dunia maya. Kita berhak membentuk diri kita dengan karakter yang kita inginkan menggunakan Username tersebut. Username yang baik tentu yang mudah diingat dan memiliki karakter kuat. Berikut 3 Tips Menentukan Username:


Relevan / Nyambung


Pilih Username yang nyambung dengan nama asli kamu, atau dengan karakter yang akan kamu bawakan dalam akun yang kamu gunakan. Hal ini tentu tidak berlaku bagi akun anonim. Akun anonim bebas pilih nama dan bebas ngapain aja, Terserah!. Kembali lagi ke kamu yang bukan anonim, tentukan nama yang menggambarkan dirimu atau setidaknya mengandung nama aslimu. Misalnya, namamu adalah Adi Musdalifa maka pilihan nama yang bisa kamu gunakan adalah Adi Musda, Amusda, Adi MS, atau mungkin Adifa. 


Atau jika namamu adalah Adi Musdalifa dan kamu adalah seorang pejuang skripsi yang tentunya akan membuat akun tentang perjuangan para mahasiswa tingkat akhir, maka pakailah nama yang bisa mengejawantahkan tujuanmu. Tak harus sempurna, yang penting ada unsur mahasiswanya.


Sebut saja @haiulya sebagai contoh, semua akunku menjadi tempat curhatku. Dari blog, facebook, twitter hingga instagram menjadi tempat curahan hatiku. Jadi semuanya memakai namaku yang dimodifikasi sedemikian rupa agar terlihat menarik (meskipun aku tak tahu apakah memang menarik atau tidak) dengan tambahan kata “hai” didepannya. Berharap menjadi identitas dan mudah diingat jika aku hilang nanti.


Unik Dan Mudah Diingat


Username tak perlu menggunakan nama panjangmu sepenuhnya. Buatlah keunikan dari nama yang kamu punya. Semakin sedikit semakin menarik, dan tentunya mudah diingat. Jangan sampai kita sendiri lupa dengan Username kita seperti kasus di atas. Sebagai salah satu referensi bermedia sosial, Prabusakti adalah salah satu influencer yang berhasil membuatku eksis hingga saat ini. Racun yang beliau berikan membuatku selalu penasaran dengan apa yang ada di dunia maya.


Salah satu yang paling kuingat adalah tentang bagaimana memilih Username yang tepat, yaitu:


  •  Gunakan maksimal dua kata
  •  Hindari penggunaan tanda titik (.) atau underscore (_)
  • Samakan semua username meski berbeda platform

Ketiga hal ini adalah standar ideal sebuah username. Apakah jika tidak seperti lalu dicap tidak menarik atau tidak boleh digunakan?. O.. tentu saja tidak. Bebas aja, kok. Standar setiap orang kan berbeda.


Alhamdulillah aku bisa menerapkan semuanya dan memang aku akui lebih mudah saat menggunakan username untuk beberapa kebutuhan. Misalnya saat ditanya teman, saat mengisi form ataupun saat ada job yang mengharuskan pencantuman username Sosial Media.



Samakan Username di berbagai platform


Langkah ini sebenarnya berlaku bagi kamu yang setuju dengan tiga langkah di poin kedua; menyamakan username di semua platform. Hal ini untuk menghindari adanya miss dalam pengejaan username yang berakibat pada tidak tepatnya nama yang diketik dalam kolom pencarian.


Setidaknya cek dulu ketersediaan Username yang akan digunakan di beberapa platform Sosial Media yang akan dipakai, misalnya facebook, twitter, instagram, path dan sebagainya. Simplenya, jika ditanya orang “apa nama akun kamu?”, tinggal jawab aja “at haiulya”, dan ditambah “semua akun aku pake username itu kok. Cari aja”. 


Selain itu, username yang sama akan lebih memudahkan kita saat mengisi form atau apapun yang meminta username kita. Tak perlu cek sana sini, langsung aja ditulis. Kan sama semua. Selain itu juga terlihat lebih rapi. Kebetulan aku sudah mengaplikasikannya dan begini penampakannya jika ditulis:


Blog : www.haiulya.com

Fb : www.facebook.com/haiulya

Twitter: www.twitter.com/haiulya

Instagram : www.instagram.com/haiulya


Gampang banget diingat kan?. Kalo gampang diingat kaya gini kan jadi makin semangat sharing dan bersosial media. Soalnya nama kita mudah diingat baik oleh kita maupun orang yang mengikuti kita.



Nah itu tadi 3 Tips Menentukan Username Sosial Media dari aku. Semoga bermanfaat dan Happy Blogging. 






Share
Tweet
Pin
Share
40 komentar
Instagram, siapa yang tak tahu aplikasi satu ini? People zaman now sudah pasti tahu dan punya aplikasi ini di smartphonenya. Meskipun tak dipungkiri juga banyak people zaman old yang juga tak ketinggalan untuk memiliki setidaknya satu akun di platform bergengsi ini.

Aku mengenal instagram sekitar dua tahun lalu saat pertama kali memiliki smarthphone berbasis android. Karena sedang asik-asiknya punya hp android, aku yang memang tak bisa diam ini pun memanfaatkannya untuk hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang tidak ada gunanya. Ya, meskipun akhirnya kandas dan pupus di tengah jalan.

Semakin hari, inovasi yang diberikan pihak instagram pun semakin banyak dan diterima dengan baik oleh para penggunanya. Salah satunya adalah instastory yang menurutku sangat membuang banyak waktu dan kuota (tentu saja).
Bagaimana tidak?
Saat masih awal-awal menggunakan instagram, aku sering sekali khilaf scroll apapun yang ada di feed hingga jauh ke akun yang mungkin sebenarnya tidak aku butuhkan. Hal ini saja sudah membuang banyak waktu, apa sih yang kita lihat disana?

Kecuali jika kita memang butuh untuk riset atau untuk hal penting lainnya, hal ini hanya membuang waktu saja. Hehe ketimbang hanya scroll mendingan baca buku kali ya, nambah wawasan.

Dan sekarang, instastory yang hanya berisi cuplikan kegiatan baik berupa foto maupun short video seakan telah menjadi hal wajib yang harus dilakukan setiap hari. Tentang kita dimana, sedang apa, dengan siapa, dan sebagainya.

Sejauh ini aku tak pernah memebedakan orang, entah artis atau bukan semuanya sama di sosial media. Semuanya bersifat hiburan. Bedanya adalah jika para artis melakukan live dan mengunggah story mereka di media sosial sebagai bagian dari pekerjaan, dan kita sebagai orang biasa hanya menikmatinya tanpa sadar telah menjadi korban kekhilafan kita sendiri.

Hal lain yang menjadi ironi adalah merebaknya suasana ala ala artis di dunia nyata. Kali ini bukan artis sebagai pelakunya ya. Mungkin hanya follower yang hobi stalking akun idolanya saja. Mulai bermunculan kegiatan-kegiatan yang terinspirasi dari para idola, dari yang baby shower, perayaan mau lepas masa lajang, sampai yang suka sewa studio foto tiap minggu.
 -bersambung



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi sebagian wanita, make up adalah hal yang terpisahkan dari setiap helaan nafas. Baik wanita dewasa maupun yang baru menginjak dewasa, bahkan yang sok sok udah dewasa. Baik yang sudah bisa dan pandai bersolek maupun yang masih amatiran (sepertiku). Wajarkah? Tentu saja sangat wajar. Bukankah wanita memang tercipta untuk segala keindahan tersebut?. 

Pikiran asal-asalanku mengatakan tentu sangat wajar, lha kalo wanita gak pake make up kasian yang jualan bedak donk, bangkrut lah mereka!.

Aku adalah salah satu pengagum kecantikan yang tidak bisa mengaplikasikan, eh maksudku belum bisa. Berkali-kali aku menengok video tutorial make up di youtube demi dapat bermake up dan terlihat cantik, tapi nyatanya masih saja nihil. Aku tak bisa berdandan.

Biasanya aku hanya menggunakan pelembab, bedak dan lipstik untuk menyapu wajahku agar tak terlihat kuyu. Begitu saja setiap hari, ke kampus, ke tempat kerja, ke tempat hang out dan ke tempat-tempat lainnya. Sangat simple dan murah. Untungnya kulit wajahku bukan tipe yang rewel sering jerawatan maupun perlu perawatan ekstra, sangat menguntungkan bagiku yang agak malas melakukan perawatan rutin.

Musim Nikahan


Dalam penanggalan jawa, bulan safar diyakini sebagai bulan yang baik untuk menyelenggarakan hajatan maupun kegiatan tertentu. Salah satunya adalah hajat pernikahan yang saat ini bisa dibilang sedang musim di kotaku, Jepara. Dimana-mana selalu ada tenda biru ala nikahan. Apalagi di sosial media, timeline hampir penuh dengan foto-foto pernikahan dengan berbagai caption, status whatsapp dan dp bbm pun tak berbeda, isinya NIKAHAN semua. 

Bukannya baper, aku justru tergoda melihat dan mengamati riasan makeup para pengantin yang silih berganti menghantui timelineku. Semuanya cantik. Yaiya, namanya juga dirias pasti cantik. Kecuali kalo yang merias adalah mantannya calon suami, bisa jadi badut deh tuh pengantin perempuan. Setiap ada yang menikah, salah satu yang menjadi topik khas ibu-ibu adalah ngantene mangklingi ora?.

Ada keyakinan terselubung bahwa wanita yang suka berhias aka. Bermake up tidak akan mangklingi saat menjadi pengantin, pun sebaliknya. Mangklingi disini maksudnya adalah perbedaan yang mencolok dari pra dan pasca riasan. Ada yang wajahnya berubah menjadi cantik dan mempesona bak bidadari, adapula yang terkesan cantik namun biasa saja, tidak ada yang menarik. Aku tak tau apa yang ada dibalik semuanya, tapi yang pasti hal seperti itu ada di dunia ini. 


Tutorial Make Up dari Youtube


Berawal dari ketidaksengajaan saat mengecek perkembangan channel youtube yang berujung pada sebuah video tutorial make up yang aku lupa milik siapa. Aku bersama salah seorang teman kerja yang ekspert di bidang make up sepakat untuk membuat video dengan make konten make up. Setelah negosiasi yang cukup alot akhirnya aku yang menjadi objek eksperimen make up yang pertama kalinya ini. Agak takut sih, tapi penasaran juga gimana mukaku setelah dimake up nanti. Peralatan yang digunakan cukup sederhana dan seadanya. Bermodal kamera handphone dan tripod kami membuat video di jam istirahat kerja. 

Dengan memanfaatkan salah satu sudut di tempat kerja, video pun direkam dengan konsep seadanya. Harap maklum karena masih pemula, semuanya serba sederhana dan apa adanya. tentang hasil, wow... sungguh di luar ekspektasi. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Lihat saja hasilnya.


 Video lengkapnya mari kita tonton di sini


Sejak saat itu aku seperti ketagihan berdandan. Tapi apalah dayaku yang hanya punya bedak, lipstik dan maskara. Harus sabar menunggu hari gajian untuk bisa sedikit bereksperimen, setidaknya aku bisa terlihat lebih cantik saat di kamera, huaahahaa. Dan sekarang hanya cukup menerima apa yang dengan modal dan make up seadanya sambil belajar dari para beauty blogger dan beauty vlogger di luar sana. 

Sekian celotehku yang tak penting tentang make up kali ini. semoga ke depannya lebih oke, tapi jangan pangling ya kalau suatu saat bertemu aku dan keliatan beda, haha. Kamu punya cerita tentang makeup? Share yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
17 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates