• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


POV 1

Bencana yang disebut covid-19 telah berhasil mengubah kehidupan masyarakat hampir secara total. Meskipun sudah banyak himbauan sebelum virus ini benar-benar sampai ke Indonesia, nyatanya tak banyak yang mengalami panic action ketika tamu tak diundang ini benar-benar datang. Justru banyak yang mendadak menjadi pakar kesehatan hingga pakar spiritual di media sosial. Pandemi ini benar-benar ajaib.

Memang tak elak akan banyak terjadi perdebatan, apalagi Indonesia yang masyarakatnya terkenal bebal dan segan menalar ke dalam. Tapi untuk kali ini, apakah tidak bisa meninggalkan ego masing-masing demi keselamatan bersama?

Pemerintah sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran virus ini agar tak merenggut banyak nyawa lagi. Tapi apalah artinya pemerintah yang hanya menyeru tanpa digugu oleh masyarakatnya. Bahkan semakin banyak yang seakan sengaja menentang dan menantang maut dengan dalil ketuhanan. Ah, lucunya Negeri ini.

Sehari yang lalu, justru muncul ajakan untuk bergotong royong bersatu padu mengeratkan genggaman tangan demi pengadaan spot cuci tangan di seluruh kota. Tujuannya sih untuk membantu para pekerja lepas yang mau tak mau harus tetap bekerja di tengah pandemik ini. Terkesan baik dan memikirkan sesama, tapi bagaimana jika salah satu atau bahkan beberapa dari spot tersebut justru menjadi media penyebaran yang lebi masif?. Jangan dibayangkan ya, menyedihkan.

Himbauan tentang social distancing yang belakangan dialihkan ke phisycal distancing menjadi pilihan untuk siapapun yang merasa perlu menjaga diri dari virus yang bisa bertahan selama tiga jam di udara ini. Zaman makin berkembang dan kehidupan sosial bisa berjalan via daring. Sekolah diliburkan, segala kegiatan berjalan via media yang kian berkembang pesat. Life must go on. Tetap #DiRumahAja dan kehidupan akan tetap berjalan dengan baik.

Virus lama bernama hoax pun kian menyebar. Tetap hati-hati dan jangan sampai termakan oleh hoax yang dibuat sendiri. bukannya meredakan, justru menambah kasus baru. Seperti video merokok yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bahkan mengikutsertakan anak-anak. Narasinya pun seakan paling kuat dan kebal, padahal bebal. Atau hoax tentang menambahkan pil amoxicillin pada bak penampungan air yang katanya bisa menangkal virus corona. Ya Ampun, kenapa makin aneh saja masyarakat kita ini.

Tentang pandemi ini, serahkan pada siapapun yang kompeten dan berwenang mengatur. Jalankan tugas kita sebagai warga masyarakat yang baik untuk tetap menjaga kondusifitas wilayah masing-masing. Tak perlu banyak bacot tak penting, apalagi menyerang pihak lain demi kepuasan dan kepentingan pribadi. Ini wabah, ini musibah, siapapun memiliki kemungkinan terserang jika tak aman.

POV 2  


Sekolah-sekolah diliburkan demi tak menambah banyak korban. Tugas sekolah berubah menjadi tugas orang tua. Entah sudah berapa banyak keluhan yang tersebar di media sosial tentang kesusahan orang tua membantu anaknya mengerjakan soal yang diberikan pihak sekolah. Tak jarang pula muncul makian dan hinaan yang mungkin jika didengar para SJW (Social Justice Warrior) bisa dipidanakan. Sungguh ngeri dan mencekam. Orang tua sudah lelah bekerja untuk anaknya, ditambah lagi memikirkan turunnya pendapatan dan masih harus menemani anaknya belajar. Huft, terbayang betapa lelahnya.

Di beberapa belahan bumi yang lain, ada kaum rendahan yang menggantungkan hidupnya pada apa yang dikerjakan hari ini. Tak ada tanggungan besar dalam hidupnya kecuali apa yang harus dimakan hari ini. Corona? Covid-19? Pandemi? Tak ada artinya bagi mereka. Bekerja adalah hal yang wajib dan tak boleh ditinggal, apapun alasannya. Interaksi mereka ada yang terbatas adapula yang tanpa batasan. Sebatas ke sawah, sebatas ke ladang, sebatas ke rumah majikan atau tanpa batas melanglang buana tak tentu arah mencari barang bekas atau menunggu pelanggan di pinggir jalan.

Hidup mereka tak kompleks, sangat monoton, tapi tak banyak pilihan yang dimiliki. Mengikuti himbauan #DiRumahAja artinya mereka akan kelaparan. Memang aman dari virus kejam itu, tapi penyakit lain akan datang merusak kehidupan mereka.

Sementara corona menjadi sorotan, penyakit lain tak diindahkan. Korban Demam Berdarah Dengue tak bisa disepelekan. Desinfektan disebarkan, tapi voging ditinggalkan. Aman dari virus tapi nyamuk makin gencar menyerang.  

Pusat perbelanjaan banyak yang libur, its ok untuk yang sempat merasakan panic buying kemarin. Persediaan lengkap dan aman untuk beberapa hari ke depan. Lagi-lagi fulus yang berbicara, hanya orang kaya yang bisa melakukannya. Mereka yang bekerja dengan hasil pas-pasan hanya bisa makan yang ada. Jika garam habis dan tak ada tempat membeli. Lauk hambarpun tetap jadi kudapan lezat di mata mereka.

Gaya hidup sehat, air bersih, masker, cuci tangan sesering mungkin hanya informasi yang sekilas lewat di telinga mereka. Mereka begitu percaya bahwa dunia masih baik-baik saja. Sebentar lagi pandemi akan hilang dan kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti kemarin dan hari ini, karena setiap hari adalah sama bagi mereka.

Disclaimer


Dua POV diatas adalah hasil pengamatanku selama dua minggu. di tengah pandemi global ini, ternyata banyak hal unik yang terjadi. Bukan bermaksud membuat lelucon, tapi sekedar berbagi tentang apa yang aku rasakan. Dua sisi kehidupan berbeda membuat siapapun jengah, lebih jengah lagi jika ada di posisiku saat ini yang ada diantara mereka. Niat hati menjadi seperti yang diatas tapi apa daya tangan tak sampai, tapi untuk hidup seperti POV kedua rasanya mentalku belum siap menjalaninya.

Hidup di antara dua kubu rasanya cukup menyesakkan, berjalan ke 1 sisi aku dihadapkan pada solusi untu tetap di rumah dan bekerja sepanjang waktu. Pekerjaan selesai dan dapur tetap ngebul, nafsu makan tetap terjaga, gizi dan nutrisi tetap aman terkendali. Di sisi yang lain, tak akan ada sendawa setelah makan jika tak bekerja hari ini. Bahkan jikapun bekerja, belum tentu juga porsi makannya akan sama.

Memang tidak mudah menjalani hidup di tengah pandemik ini. merasa sudah baik-baik saja, ternyata diburu kepanikan yang sebenarnya tak perlu ada. Insecurity yang meningkat drastis membuat siapapun cenderung acuh pada sesama. Tapi bukan itu intinya, yang penting adalah saling menjaga. Menerima apa yang dianjurkan oleh pemegang kuasa, berusaha melakukan yang terbaik dimulai dari diri sendiri untuk orang lain di luar sana. tetap berbuat baik pada sesama meskipun tak ada jabat tangan, gantikan dengan senyuman tulus untuk saling menguatkan.

Tetap menjaga lisan dan jari agar tak mudah terprovokasi dan tanpa sadar menjadi provokator di sirkel baru. Tetap stay #DiRumahAja dan menjaga kewarasan dengan asupan informasi daring bermanfaat serta menjaga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup. Tetap rajin cuci tangan, gunakan masker jika terpaksa keluar dan jaga jarak minimal 1 meter dengan orang yang terindikasi flu atau sejenisnya.

Mohon maaf jika ada salah kata. Terimakasih sudah membaca.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


Apa yang kalian pikirkan saat telah lulus dari dunia pendidikan?. Sebut saja s1, s2 atau SMA.

Mungkin bagi lulusan S2 akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan melihat jenjang pendidikan yang ditempuh sudah oke dan banyak sekali lowongan yang bisa menampung mereka. Bagi lulusan S2 mungkin lebih sedikit sulit, jika tidak dibarengi dengan ikhtiar kuat dan kualifikasi yang mumpuni tentu akan terasa berat dalam menjalani kehidupan di dunia kerja.

Nah, untuk yang lulusan SMA atau sederajat nih. Kalo menurutku sih lebih mending dibanding yang lulusan SMP. Meskipun banyak penyedia lowongan kerja yang masih menyamakan kedudukan keduanya. Tapi yang namanya rejeki pasti tak akan kemana.

Jadi pekerja adalah pilihan. Menurutku, setiap hal yang dilakukan dan bisa menghasilkan uang adalah sebuah bentuk nyata dari kata 'BEKERJA'. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan pendapat orang lain, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Beberapa orang telah memiliki pekerjaan impian sejak masuk ke perguruan tinggi, atau sekolah menengah atas atau bahkan di tingkat pendidikan yang lebih rendah. Semuanya tergantung pada pola pikir dan ajaran keluarga yang didapatkannya sejak kecil. Tak jarang diantara mereka yang memperjuangkan impiannya mati-matian demi sebuah harapan besar.

Beberapa orang lain justru lebih acuh pada pekerjaan impian. Lebih suka menjalani hidup dengan santai dan mengikuti arus. Kemana takdir memanggil, ia akan datang. Kurang lebih begitu. Termasuk jika ia pernah memiliki pekerjaan impian lalu memilih berjalan mengikuti kemana arah angin membimbingnya.

Mengangur? BIG NO!!!

Sebesar apapun keinginanmu untuk bekerja, bersyukurlah jika bisa mewujudkannya dengan jalan yang biasa, maksudku tanpa hambatan dan perjuangan yang berlebihan. KARENA, di luar sana banyak yang masih kebingungan melabuhkan dirinya pada satu pekerjaan impian. Ya, lagi-lagi ini tentang takdir.

Apalagi jika dibarengi gengsi yang sebesar gunung, wah... bisa nganggur kamu. Hm.. maaf jika ini terkesan berlebihan, tapi begitulah kenyaataan yang ada. Banyak tawaran pekerjaan tapi tak semuanya membutuhkan skill dan title yang kamu miliki. Kalaupun ada, biasanya sudah disusupi orang dalam. Dan kamu hanya bisa memilih untuk pulang untuk membuat surat lamaran baru esok hari.

Jika memang niat bekerja, jalani saja apa yang ada di depan mata. Bukan soal berapa rupiah atau berapa lama kamu bisa bertahan, tapi ini tentang pengalaman. You need it, Trust Me!

Atau
Jika memang tidak punya niat bekerja sama sekali artinya ini tipe yang lebih suka membuka lapangan kerja. Setidaknya untuk dirinya sendiri. "Lha, emang bisa bikin lapangan kerja?, so so an banget lah baru lulus udah mau jadi bos."

Please abaikan kalimat julit kaya gitu. Banyak kok yang baru lulus dan sudah punya usaha, bahkan yang belum luluspun banyak. Dan kebanyakan jenis usahanya ngga nyambung dengan jurusan yang diambil saat kuliah. Dan satu hal lagi yang cukup penting diketahui adalah bahwa memulai usaha itu gak harus langsung besar, bisa kok dimulai dari yang kecil-kecilan. Apa aja? Ini aku beri beberapa contohnya:

1. Jual Gorengan
Sebenernya ini bukan duniaku, hehe. Aku ga bisa masak dan bikin cemilan enak. Jadi maaf kalo saran ini ga berdasarkan pengalamanku. Tapi siapa sih yang ga suka gorengan? Biarpun lagi batuk atau kena penyakit lain yang dilarang makan gorengan pasti tetep dimakan. Hehe

Menurutku, jualan gorengan tuh ga ada matinya. Bahkan peluang berkembangnya sangat besar. Bisa merambah ke jualan nasi bungkus semacam 'angkringan' yang berjualan semalaman. Bisa juga membuka banyak cabang di berbagai tempat. Wah, kalo gini sih bisa kasih kerjaan ke orang lain juga.

Modalnya juga lumayan gampang, yang penting tau resepnya dan telaten menjalani usahanya insya Allah akan menuai hasil baiknya.

Eits, meskipun disini aku tulis jualan gorengan aja kalian juga bisa kok buka usaha dengan berjualan barang lainnya. Ya kan ini berdasarkan apa yang aku lihat aja. Banyak anak muda dan masih aku kenal yang memilih berjualan gorengan, nasi bungkus, roti bakar dan lain sebagainya.

2. Membuka Jasa Les
Jasa di bidang pendidikan adalah salah satu hal yang akan terus dicari. Nah, peluang ini bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha. Modalnya yang cukup ringan dan mudah tentu menjadi kelebihan tersendiri bagi siapapun yang ingin bergelut di bidang pendidikan.

Hanya dengan modal ilmu yang dimiliki dan ruang tamu di rumah saja sudah cukup untuk membuka jasa les. Ditambah dengan promosi melalui media sosial serta brosur sederhana untuk media informasi sepertinya sudah cukup. Setelah ada beberapa murid tentu akan semakin berkembang informasi dari mulut ke mulut yang justru semakin membantu tersebar luasnya usaha les yang kamu punya.

Hanya sekedar info tambahan bahwa beberapa orang tua ada yang sangat selektif memilih tempat belajar tambahan untuk anaknya. Bahkan tak jarang dari mereka mengharuskan anaknya diajar oleh lulusan S1 Pendidikan. Wow, amazing!. It's okelah kalo memang kamu memiliki kualifikasi yang mumpuni. Kalo ngga????

Em, jangan khawatir deh.. kamu yang lulusan non pendidikan atau bahkan hanya lulusan SMA bisa kok membuka jasa les untuk anak. Ya memang bukan les privat atau les pelajaran sekolah, tapi Les Baca Anak Hebat atau biasa disingkat AHE.

Syarat yang diperlukan cukup mudah dan simpel. Cukup mendaftar di website anakhebat.com atau kepada konsultan terdekat lalu mengikuti pelatihan mengajar dan sudah bisa membuka unit resmi di rumah. Siapapun bisa mendaftar dan membuka les baca di rumah baik ibu rumah tangga adik-adik yang baru lulus SMA atau para calon ibu muda sepertiku hehe. Yang penting di area yang akan didaftarkan belum terdapat unit resminya. Nah, kamu bisa cek area kamu di webnya langsung tuh. Atau kamu bisa cek di media sosialnya di sini.

3. Jadi Freelancer
Sebenarnya aku juga belum tau definisi freelancer yang sebenarnya. Yang pasti kerja jadi freelancer itu lumayan enak dibanding yang lainnya. Gak ada jam kerja khusus dan gak ada kerjaan khusus. Semuanya seperti berjalan apa adanya. Yaa... namanya juga pekerja lepas, bebas.

Wah, freelancer gak bisa jadi kerjaan utama dong? Paling honornya kecil!

Eh, jangan salah, coba aja deh baca cerita teman-teman yang memilih menjadi freelancer pasti bikin kamu kepincut pengen seperti mereka. Apalagi kalau kamu tipe yang gak suka kerja rutin setiap hari. Kalo masih kepo dengan jenis kerjaan ini kamu bisa dapat info lainnya disini atau disini.


Nah, itu tadi beberapa pilihan Pekerjaan untuk kamu yang belum diterima bekerja setelah lulus. Jangan putus asa, kamu bisa kok buat pekerjaanmu sendiri. Dari ketiga jenis kerjaan itu, sebenarnya banyak aku ambil dari pengalamanku sebagai penjual kain tenun, pengajar les, blogger dan vlogger yang masih terus belajar sampai sekarang.

So, jangan pernah memilih untuk menganggur. Bekerjalah, berusahalah semampumu. Mungkin tak ada yang tau hasilnya, tapi kamu yang merasakannya.

Sekian, selamat membaca dan happy blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jika dulu aku pernah membahas tentang kopi sebagai skincare disini, sekarang aku akan bercerita tentang kopi pekat yang membuatku patah hati beberapa hari yang lalu.

Sebelumnya, ijinkan kuceritakan bahwa aku suka kopi. Suka banget sih enggak, ya suka aja. Tapi tetap membatasi diri untuk nggak mengonsumsi berlebihan karena riwayat penyakit lambung yang pernah aku alami beberapa bulan yang lalu. Takut kambuh, takut sakit, tapu aku pengen kopi. Hehe

Jadi waktu itu kedua temanku sedang asik meminum kopi masing-masing, aku yang melihat mereka pun akhirnya tergoda untuk ikut berpartisipasi meramaikan malam kopi kala itu. Dengan kopi yang aku pesan pada seorang teman dengan varian arabika, akhirnya jadilah kopiku. Kopi pekat dengan gula cukup banyak. Tentu saja manis, tapi bubuk kopinya banyak.

Seperti biasanya, saat sedang ingin pasti akan lupa dengan resikonya. Kala itu aku dengan nikmatnya menyeruput kopiku. Seruput demi seruput hingga seruputan terakhir. Nikmat, enak dan pastinya puas.

Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian ada yang aneh dengan perutku. Muncul perasaan seperti ingin buang air, tapi mual, tapi lemas. Lalu tiba-tiba jantungku berdegup cukup kencang. Aku langsung berpikir bahwa ini adalah efek dari kopi tadi.

Tak berselang lama, setelah kuoles perutku dengan minyak angin, aku berhasil mengeluarkan semua isi perutku. Termasuk tumis ayam terenak yang aku makan sebelumnya. Aah, sayang sekali.

Kenapa harus keluar semua, padahal baru saja kenyang. Padahal baru saja makan enak. Apalagi setelah semua isi perut keluar, aku jadi malas makan karena serba nggak enak. Aku makin sedih setiap ingat tumis ayamku. :(

Saat lemas dan tak berdaya, syukurlah ada yang bisa kujadikan tempat bermanja. Lalu berakhir dengan kiriman nasi goreng ayam favoritku. Enaknya....

Aku nggak tahu apa yang terjadi saat itu, yang pasti aku bersyukur bahwa semua bisa keluar dengan segera sehingga keadaanku segera membaik. Tapi tetap saja aku sebal karena harus merelakan tumis ayamku. Huft.

Sejak saat itu, aku jadi enggan menikmati kopi saja tanpa campuran bahan lain. Sebagai penawar, aku tetap menikmati kopi dengan campuran susu berlebihan. Ya, berlebihan sekali karena kebanyakan. Yang penting cukup untuk mengobati rasa pengen minum kopi.

Yang penting kan ada kopinya, hehe.
Share
Tweet
Pin
Share
13 komentar

Sejak kecil sampai umur 19, aku terkungkung oleh lingkungan yang monoton. Sumpek tapi tak berani bergerak. Takut pecah, takut jatuh, takut mbrojol. Halah.

Satu-satunya solusi, KELUAR!!!

Waktu berlalu, aku masih keluar meski tetap masuk juga. Bolak balik. Bertemu banyak orang yang tak dikenal. Nggak berharap bisa kenal, mengenali dan dikenali. Bertemu orang lain adalah anugerah. Sesiumpel itu.

Sampai akhirnya bertemu dengan orang-orang asing dengan beragam bentuk dan rupa. Mengenal dan dikenal oleh mereka, seperti masuk ke dunia baru. Meskipun tak bisa sepenuhnya ikut arus yang mereka bawa, aku beranikan diri untuk tetap aktif dan stay cool di hadapan mereka.

Di balik itu semua, kadang aku berpikir apakah aku bisa seperti ini untuk waktu yang lama. Karena pikirku, mau tak mau, aku harus merelakan ini semua suatu saat nanti. Saat waktunya tiba. Aku akan menjadi a good wife for my husband, a good mother for my kids. I wanna always be there, next to them.

Aku sempat menikmati hidup sebagai bagian dari beberapa komunitas. Waktu yang tepat membuatku berada dalam situasi yang tepat. Tapi, time flies, aku nggak selamanya ada disana. Lambat laun aku harus memutuskan untuk fokus pada hal-hal yang harus aku fokuskan. Aku harus mencapai beberapa goals yang sempat aku lewatkan.

Terlalu banyak hal baik yang aku dapatkan dari berkomunitas. Hampir semuanya nggak aku dapatkan di rumah, di kampus dan di media sosial. There are too many things make me so excited, begitu banyak jenis manusia di dunia ini. Dan untuk menghadapinya, diam adalah sikap tak terpuji yang harus dihindari.

Aku Tereliminasi

Seleksi alam, mereka menyebutnya demikian. Ya, aku setuju. Alamlah yang mengatur segala pergerakan. Satu persatu hal menjadi berubah, tak seperti dulu. Karena satu dan lain hal, komunitas menjadi orientasi yang berbeda dari yang seharusnya. Semakin kompleks.

Wajar, wajar sekali. Roda hidup yang berputar membuat siapapun harus menyadari bahwa tugas kita tak hanya satu. Masih banyak lagi dan akan terus bertambah lagi. Membuat orang-orang bersemangat maju dan berkembang. Sayangnya, manusia hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya. Ketika maju, pasti ada yang tercecer.

Kali ini skala prioritas yang berbicara, mana yang lebih penting dan lebih menguntungkan tentu akan jadi pilihan. Belum lagi soal waktu dan kesehatan, tak semua orang mendapatkan jatah enak.

Jika Boleh

Aku ingin kembali menjadi aku seperti tiga tahun lalu. Aku yang punya banyak waktu dan bersua dengan siapapun yang aku mau. Bertemu banyak orang dengan ambisi dan niat baik yang menggebu.

Baiqlaah, waktu berkata tidak dan keadaan sudah ada di posisi terbaiknya. Akan kunikmati posisiku sekarang dengan sebaik-baiknya. Well, kalau kamu masih punya kesempatan dan hatimu berkata 'ingin lakukan', lakukan!.

Karena waktu dan kesempatan belum tentu terulang. Karena tak semuanya bisa sepertimu.

Berkomunitas itu menyenangkan. Ayo keluar!, jangan berdiam saja di kamar.

Sekian
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hidup ini tak pernah lepas dari segala masalah. Entah kecil atau besar selalu saja ada masalah. Aku lupa kapan pertama kali menghadapi masalah, dan kapan terakhir kali aku keluar dari masalah. Masalahnya, aku sendiri kadang alpa tentang apakah aku sudah keluar dari masalah atau justru membuat lubang masalah yang baru.

Saking akrabnya dengan masalah, aku jadi semakin congkak dan merasa sangat mampu keluar dari sebuah masalah. "Ini semua hanya tentang waktu", ucapku berkali-kali pada diriku sendiri setiap kali merasa tak berdamai dengan masalah. 

Toh  menurutku segala yang terjadi adalah bagian dari rantai kehidupan. Satu hal terjadi karena hal lain telah terjadi, begitu terus berulang-ulang. Saling tumpang tindih seperti kartu domino yang jatuh setelah kartu sebelumnya mengenainya. Lambat laun akupun tak menganggapnya sebagai masalah, tapi sebagai teman akrab yang mengajarkan banyak hal baru. I love it. 


Membahas masalah, tentu cocoknya membahas kegagalan. Biasanya masalah menimbulkan kegagalan. Masalahnya beragam dan bentuk kegagalannyapun beragam. Kalian tahu sendiri lah ya, sebagai makhluk hidup yang normal pasti pernah mengalami dua hal ini. 

Sebenarnya tak mau membahas tentang kegagalan terlalu dalam karena aku sendiri sudah tak percaya dengan konsep kegagalan. Why?, karena "kegagalan adalan keberhasilan yang tertunda". Anjay banget nggak sih jawabanku, klasik. 

Awal ke-nggak percayaanku pada konsep kegagalan adalah setelah aku merenung dan menyadari bahwa semua yang terjadi saat ini selalu berhubungan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, it is true. Yaaaa, meskipun kadang harus melewati beberapa fase kegagalan dulu. 

Salah satunya adalah saat dimana aku sadar bahwa di usia sekarang, aku baru tahu bahwa ilmu parenting itu ada. Bahwa jadi orang tua ada ilmunya, meskipun nggak ada sekolahnya. Aaaak, aku kudet banget dong, ya ampun. 

Di fase ini aku sadar kenapa sampai saat ini aku belum diijinkan menikah. Mungkin aku dikasih jalan dulu buat belajar tentang ilmu ini sebelum praktek. 

Dan aku jadi ingat kejadian saat aku hendak menikah tapi nggak jadi. Horror tapi pengen ngakak sih kalo ingat ini. Bisa bayangin nggak sih gimana aku yang waktu itu masih 18 tahun, baru tahu cinta doang terus mau nikah. Mau kuapain anakku nanti. Hiks. 

Sejak kapan aku sadar? 

Baru aja kok, baru aja kemaren. Pas lagi down banget dan tiba-tiba ke flashback gitu aja. Bahkan sampai bikin kepala pusing dan nggak enak badan. Sumpah aku mendingan sakit badan daripada sakit pikiran. Menyiksa. 

Waktu itu kepalaku serasa nggak berhenti berpikir dan selalu kepikiran hal-hal yang bikin aku sampai di titik ini sekarang. Sampai akhirnya aku bisa tenang dan bisa berpikir jernih kembali dan menyimpulkan bahwa aku sebenarnya nggak pernah gagal. Aku hanya ditempatkan di tempat yang nggak aku inginkan oleh Tuhan untuk sebuah tujuan yang Beliau rahasiakan. 

Sekian. 






Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar


Saat pertama kali merasa jatuh cinta pada seseorang, rasanya gelisah berbunga-bunga. Gelisah jika lama tak bersua, dan berbunga-bunga meski hanya melihatnya balasan chat kita pada dia. Sebisa mungkin akan meluangkan waktu meski sekejap saja bertatap muka.

Aaah... Jika boleh, aku ingin merasakannya kembali. Menyenangkan dan menenangkan. Bukan berarti tak bersyukur dengan hubungan yang sedang aku jalani hingga sekarang ini. Tentu saja sangat menyenangkan. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur hingga saat ini. Mungkin benar jika Tuhan menentukan jodoh sesuai dengan kebutuhan, bukan kesenangan.

Setiap hubungan memiliki polanya masing-masing. Nggak akan ada hubungan yang bida sama sesuai teori yang ada. Pahit manisnya hanya si pelaku yang tahu kebenarannya.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat ingin mengakhiri hubungan. Sebenarnya lucu juga jika diingat. Alasannya karena si doi jarang menghubungi padahal online di media sosial dan aku merasa diabaikan. Buah pikirannya makin nggak karuan, aku kepikiran dia punya yang lain dan chat sama yang lain itu.

Sama sekali tanpa dasar dan bikin ngakak kalau diingat.

Kenyataannya pada saat itu dia memang sedang bekerja di sebuah tempat baru yang aku belum tahu. Ya, karena aku sedang ada tugas dari kampus yang harus berjauhan. Nggak jauh-jauh amat sih sebenarnya, paling habis waktu satu jam untuk sampai ke tujuan.

Tapi, dari yang awalnya setiap minggu bertemu jadi nggak ketemu selama empat puluh hari adalah hal yang sangat menguras tenaga sekaligus pikiran. Merasa diabaikan, khawatir diduakan, takut kehilangan dan lain sebagainya. Sebenarnya ini lebay dan dibuat-buat, ya aku sendiri yang buat.

Pikiranku sendiri yang bikin lebay dong. Haha

Daaaan
Selepas aku pulang dari tugas kampus itu aku putusin buat investigasi dong. Seriusan mau memastikan apa yang terjadi pada dirinya hingga aku diabaikan begitu saja. Saat ada waktu bertemu, aku puas-puasin nanya dan kepo sekaligus jahilin dia. Aku buka smartphone dia (tentu dengan seijinnya) dan mencari-cari apa yang aku cari.

Apakah ketemu?
Ketemu dong, tapi nggak sesuai ekpektasi. Nggak ada bukti dia berpaling. Nggak ada bukti dia mendua. Isi chatnya biasa saja.

Bahkan, sekarang dia jadi lebih care. Buatku, dia jadi lebih hangat dan manja. Mentang-mentang tempat kerjanya dekat tempat tinggalku, maunya sering ketemu. Lebih sering chat meskipun nggak penting. Dan artinya lebih sering ribut karena salah ketik atau salah pilih diksi.


Menyebalkan tapi aku suka. Nggak mungkin juga kan bisa putus karena hal sesepele itu. So, I enjoy it. Menikmati drama-drama sok cemburu biar diperhatiin. Trust me, it works.

Tapi tergantung pasanganmu juga, sih. Balik lagi ke statemen diatas, setiap pasangan memiliki pola hubungannya masing-masing.

Fase jenuh dalam hubungan akan selalu ada. Kadang kita nggak tahu asalnya darimana. Tahu-tahu ada aja masalahnya. Wajar aja kok, dan nggak bisa dijadiin alasan buat mengakhiri hubungan sebelum tabayyun atau minta kejelasan.

Tapi nih ya, balik lagi ke statemen awal bahwa setiap pasangan memiliki pola hubungannya masing-masing. 
Share
Tweet
Pin
Share
30 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates