• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Jika dulu aku pernah membahas tentang kopi sebagai skincare disini, sekarang aku akan bercerita tentang kopi pekat yang membuatku patah hati beberapa hari yang lalu.

Sebelumnya, ijinkan kuceritakan bahwa aku suka kopi. Suka banget sih enggak, ya suka aja. Tapi tetap membatasi diri untuk nggak mengonsumsi berlebihan karena riwayat penyakit lambung yang pernah aku alami beberapa bulan yang lalu. Takut kambuh, takut sakit, tapu aku pengen kopi. Hehe

Jadi waktu itu kedua temanku sedang asik meminum kopi masing-masing, aku yang melihat mereka pun akhirnya tergoda untuk ikut berpartisipasi meramaikan malam kopi kala itu. Dengan kopi yang aku pesan pada seorang teman dengan varian arabika, akhirnya jadilah kopiku. Kopi pekat dengan gula cukup banyak. Tentu saja manis, tapi bubuk kopinya banyak.

Seperti biasanya, saat sedang ingin pasti akan lupa dengan resikonya. Kala itu aku dengan nikmatnya menyeruput kopiku. Seruput demi seruput hingga seruputan terakhir. Nikmat, enak dan pastinya puas.

Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian ada yang aneh dengan perutku. Muncul perasaan seperti ingin buang air, tapi mual, tapi lemas. Lalu tiba-tiba jantungku berdegup cukup kencang. Aku langsung berpikir bahwa ini adalah efek dari kopi tadi.

Tak berselang lama, setelah kuoles perutku dengan minyak angin, aku berhasil mengeluarkan semua isi perutku. Termasuk tumis ayam terenak yang aku makan sebelumnya. Aah, sayang sekali.

Kenapa harus keluar semua, padahal baru saja kenyang. Padahal baru saja makan enak. Apalagi setelah semua isi perut keluar, aku jadi malas makan karena serba nggak enak. Aku makin sedih setiap ingat tumis ayamku. :(

Saat lemas dan tak berdaya, syukurlah ada yang bisa kujadikan tempat bermanja. Lalu berakhir dengan kiriman nasi goreng ayam favoritku. Enaknya....

Aku nggak tahu apa yang terjadi saat itu, yang pasti aku bersyukur bahwa semua bisa keluar dengan segera sehingga keadaanku segera membaik. Tapi tetap saja aku sebal karena harus merelakan tumis ayamku. Huft.

Sejak saat itu, aku jadi enggan menikmati kopi saja tanpa campuran bahan lain. Sebagai penawar, aku tetap menikmati kopi dengan campuran susu berlebihan. Ya, berlebihan sekali karena kebanyakan. Yang penting cukup untuk mengobati rasa pengen minum kopi.

Yang penting kan ada kopinya, hehe.
Share
Tweet
Pin
Share
13 komentar


Roti Maryam 5 Ribuan Di Jepara - Berbicara tentang makanan tentu tak akan ada yang menolak. Sebesar apapun niatnya untuk menjaga asupan makan dan berat badan, jika berhadapan dengan makanan pasti akan tetap dilahap juga. Apalagi untukku yang bertubuh ramping, seakan tak ada lagi yang aku takutkan. Mau makan, ya tinggal makan aja. Ditawarin makan, ya hayuk aja. Apalagi ditraktir, langsung maju di barusan terdepan. 

Beberapa waktu lalu aku tak sengaja melihat post di instagram tentang Roti Khas India, yaitu roti canai. Setelah aku pelajari lebih dalam ternyata roti canai atau yang biasa disebut roti cane adalah nama lain dari roti Maryam, Roti Prata atau Roti Paratha. Makanan ini menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga ke Indonesia. Bahannya sama, bentuknya pun sama. Bulat, pipih dan berlemak. Di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Roti Maryam.

Sejujurnya, aku belum pernah makan Roti Maryam. Silakan ketawa, tapi seingatku memang aku belum pernah beli dan makan Roti Maryam. Sampai akhirnya ada salah seorang teman yang ternyata membuat Roti Maryam ini (ia menyebutnya roti cane) dan menjualnya secara online. Akhirnya minggu lalu aku berhasil mendapatkannya setelah berminggu minggu sabar menunggu waktu yang tepat.

 Roti Cane yang dijual ada beberapa varian rasa dan harga. Berikut rinciannya:

Untuk yg mateng isi 2 biji @10.000 saja dengan pilihan Topping
1. Milk messes
2. Milk grated chocolate
3. Milk chocolate slices
Roti Cane Ukuran Kecil

Untuk yg mateng isi 2 @12.000 dengan pilihan Topping
1. Milk messes chocochips
2. Milk messes grated chocolate
3. Milk messes chocolate slices

Untuk yg Big isi 2 @22.000 dengan taste pilihan Topping milk messes chocochips dan milk messes chocolate slices

Selain itu, juga menyediakan Roti Cane Mentah dengan rincian sebagai berikut:

Cane kecil isi 4 @15.000
Cane big isi 3 @22.000

Roti Cane ini, menurut penjualnya memang sudah dimodifikasi sesuai lidah orang Indonesia. Jadi rasanya tak begitu aneh saat aku makan. Toppingnya juga banyak jadi enak dan bikin ketagihan. Beda dengan roti lain yang suka pelit topping.

Toppingnya sampai tumpah, saking banyaknya
Untuk area Jepara, Roti Cane Neea ini bisa dipesan secara Online dan diambil di rumah. Untuk area Jepara kota bisa menyesuaikan dengan orderan lain yang bersamaan. Untuk pemesanan dan informasi lebih lanjut bisa hubungi kontak WA 0857-2727-7697.
Terimakasih, selamat makan siang dan Happy Blogging!

Share
Tweet
Pin
Share
28 komentar
Ikanasap

Sejak kedua temanku mulai bekerja di luar rumah dan aku yang menjadi penjaga rumah, aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Imbasnya, jadi semakin banyak waktu untuk makan saat tak ada yang dilakukan. Heheu.

Bahkan, beberapa minggu lalu berat badanku sempat naik. Ya, karena aku banyak makan. Bentar-bentar, makan. Dikit-dikit, makan. Dan entah kenapa aku jadi doyanan makanan apapun, apakah aku sudah menjadi omnivora? Apapun itu, aku tetap senang karena masih bisa makan dengan lahap. Dan itu artinya aku masih diberi kesehatan oleh yang maha kuasa.

Kegiatan yang monoton membuatku mudah bosan dan merasa waktu berjalan cepat sekali. Alhasil, aku jadi mudah lapar. Sedikit "wagu" tapi emang gitu koook, aku jadi sering laper akhir-akhir ini. Sayangnya, mulutku jadi makin manja karena harus milih-milih makanan. Sayangnya lagi, aku turutin semuanya. Lha kok jadi banyak sayangnya, jangan baper ya.

Banyak Pilihan Lauk

Sebenarnya, di sekitar sini banyak sekali penjual sayur. Dari yang mangkal pagi-pagi sampai yang keliling di siang hari. Dari yang masih mentah sampai yang sudah matang dan tinggal makan aja. Jadi, menu makanan adalah hal yang cukup mudah dipenuhi. Yang penting bisa masak dan tau caranya.
Yaaah, Gosong deh

Tapi, sekarang hal semacam itu sepertinya tak sulit lagi ya. Semua informasi sudah bisa diakses melalui genggaman tangan. Apapun bisa didapatkan melalui smartphone. Tapi skill tetaplah skill, apapun resepnya, kalau memang tangannya kurang terampil rasanya akan tetap pas pasan. Seperti di post aku sebelumnya,......

Akhirnya aku jadi sering memilih masakan yang enak namun simple. Lebih bagus lagi jika gizinya lengkap. Salah satu masakan simple pilihanku adalah olahan ikan asap. Selain karena aku lebih suka ikan (dibanding ayam), harganya juga lebih murah dan bisa dibeli satuan. Selain itu, ikan asap juga lebih awet dan tidak berbau amis seperti ikan segar. Maafkan tukang masak pemula yang masih sungkan dengan bau amis ini. 😂


Balada Ikan Asap

Ikan asap yang harganya lebih murah dan jauh dari amis ini banyak sekali pilihannya. Bahkan di Jepara banyak sekali sentra pusat produksi ikan asap. Kalau mau yang terbukti segar ya bisa langsung datang ke lokasinya. Biasanya aku cari di daerah Demaan, kec. Jepara. Atau saat pulang ke rumah bisa pesan ke pamanku yang berjualan ikan asap keliling. Beliau mengambil langsung dari para pengasap (eh, bener ga sih ini nyebutnya) di desa. 

Jika tidak bisa mendapatkan yang segar langsung dari pengasappun sebenarnya tak perlu khawatir. Karena konsep pengasapan ikan memang diatur sedemikian rupa agar ikan tetap bisa dimakan dalam waktu yang cukup lama. Mengulur waktu, istilahnya. Tentunya dengan citarasa yang berbeda dan lebih menggoda. 

Tentang harga, harga dari pengasap memang jauh jauh jauh lebih murah dibandingkan setelah dijual di warung. Apalagi di warung dekat kota seperti tempat tempat tinggalku. Harga yang dibandrol pun tergantung ukuran dan jenis ikan yang digunakan. Mulai dari 2.500-8.000 rupiah per biji untuk di sekitar kota sudah terbilang murah. Tapi di kampungku, aku bisa mendapatkan 4 biji ikan asap dalam satu bungkus dengan harga 6.500 rupiah. Beda tempat, beda harga, beda pula jenisnya. 

Olahan Ikan Asap Andalanque
Aku sudah pernah bilang kan kalau aku tak bisa masak enak. Semuanya masih dalam tahap coba-coba yang banyak gagalnya. Oleh karena itu, aku jadi jarang masak karena takut gak enak. Ahaha, alasannya gak masuk akal ya. Tapi begitulah adanya. 

Tapi (lagi), aku tetap berusaha memasak untuk makan. Tak sehat juga kalau jajan terus-terusan. Masakan pilihanku tentu yang simpel, mudah dan dengan bumbu yang tak terlalu banyak. Ya, paling tumisan yang bumbunya cuma cabe, bawang merah dan bawang putih yang diiris tipis lalu ditambah garam dan gula. Selain itu, sambal juga menjadi pilihan lain yang menjadi pelarianku. Sambal apapun, sambal tomat, sambal terasi, sambal kecap atau sambal plelek. Sesuai dengan bumbu yang tersedia  di dapur.

Yang menjadi salah satu andalanku adalah Sambal Kecap. Bahannya mudah didapat, tak perlu nguleg dan bisa dikombinasikan dengan lauk apapun. Kali ini aku akan berbagi Resep Ikan Asap Sambal Kecap plus Tempe Bakar yang selalu jadi pilihanku saat lapar dan malas memasak macam-macam.

Bahan-bahan:
1 potong/ekor ikan asap
½ papan tempe, potong agak besar
3 siung bawang merah
3 buah cabai
garam secukupnya
lada bubuk secukupnya
kecap secukupnya

Cara Membuat:
1. Hangatkan Ikan Asap di atas panggangan (aku potong dua karena untuk dua kali makan).
2. Panggang Tempe di atas panggangan setengah matang. 
3. Iris tipis cabai dan bawang merah, masukkan dalam mangkok tambahkan garam, lada dan kecap secukupnya. Aduk hingga rata.
4. Tuangkan bumbu diatas Ikan Asap dan Tempe Bakar secukupnya. Selesai.








Wew, simpel banget kan? Emang iya. Ini adalah menu andalanku saat sedang malas memasak berat. Asal ada persediaan Ikan Asap, hayuk aja masak kaya gini. Simpel dan enak. 


Ini resep Ikan Asap Andalanku. Kamu?

Share
Tweet
Pin
Share
42 komentar
Bagi sebagian orang, sarapan adalah hal yang wajib dilakukan. Sayangnya aku jarang sekali bisa merasakan sarapan pagi. Biasanya karena bangun kesiangan atau memang tidak ada selera makan. Padahal aku punya riwayat sakit maag dan pernah merasakan maag akut tapi kadang masih tak sadar juga. Maafkan aku, tubuhku.

Tapi, kadang aku jadi manusia yang sering lapar jug lho. Dikit-dikit laper, dikit-dikit pengen makan dan sulit sekali menghindari keinginan untuk tidak makan. Hasilnya, aku makan terus dan berat badanku bertambah. Yang paling penting, pipiku jadi tak tirus lagi dan leherku berundak.

Pilihan Menu Sarapan

Pola hidup yang selalu berubah membuatku moody, eh apa kebalik ya. Karena aku moody jadi pola hidupku selalu berubah?. Intinya keseharianku tidak pernah monoton, selaly berganti dan berubah setiap hari.

Mulai dari jam bangun tidur, kegiatan setelah bangun, jadwal bersih-bersih rumah, menu sarapan, waktu sarapan, jadwal mandi bahkan hingga jadwal tidur malam. Bagiku ini menyenangkan, tidak melakukan hal yang sama setiap hari.

Dan tentang menu sarapan, aku lebih suka menu sarapan simpel. Saking simpelnya, aku pernah sarapan hanya dengan nasi putih saja. Bukan tak ada lauk, tapi males masak. Mungkin yang melihat akan mengasihaniku, hehe, tapi aku gapapa kok. Tetep enak, tetep kenyang. Itu kan yang penting?

Makan nasi dan tempe sudah menjadi menu terbaik untuk sarapan. Ya, daripada sarapan sama mie instan, masih mending sama nasi. Makan apa saja asal halal dan tak perlu keluar rumah.

Saat tak malas keluar rumah, biasanya saat sedang manja dan rindu masakan warung, jadi makin bingung. Mau makan apa? Lontong Pecel, Lontong Gudeg, Bubur Ayam, semuanya ada. Hmm....


Kehabisan Bubur Ayam

Kejadiannya hari Jumat kemarin, lagi pengen banget makan bubur ayam. Berangkat jam 07.30, berharap jalan belum terlalu ramai dan masih kebagian bubur ayam. Ternyata aku salah, hari Jumat kan hari senam di kantor kecamatan yang memang dekat dengan tempat penjual bubur ayam. Pasti buburnya diserbu peserta senam deh tadi pagi.


It's ok lah, gak kebagian bubur ayam. Tapi selain bubur ayam, ada juga susu kedelai yang dijual di tempat tersebut. Ya udah deh, akhirnya aku beli susu kedelai panasnya aja. Lumayan buat asupan sehat pagi-pagi. Saat perjalanan pulang, aku seperti masih belum puas dan ingin sarapan dengan menu selain bubur. Tapi apa?

Setelah berpikir sambil mengendarai sepeda motor kesayangan, akhirnya teringat dengan angkringan yang buka sejak pagi. Aku sebut angkringan karena makanannya banyak yang sudah terbungkus lengkap dengan beragam gorengan. Ada pula nasi hangat dengan berbagai pilihan lauk yang bisa diambil sendiri sesuai selera atau 'pukwe' 

Sip. Oke. Akhirnya aku kesana. Agak muter tapi anggap saja jalan-jalan pagi. Dan, yeay... lontong pecelnya masih ada. Pesen, bayar, pulang. cuma 4ribuan untuk satu porsi. Lumayan lah, rasanya juga enak. Dan pastinya mengenyangkan. Apalagi ditambah dengan susu kedelai yang aku beli tadi. Makin mak nyus dan bikin mood jadi bagus seharian. Ini penampakan lontong pecelnya, lumayan lah buat porsi cewek.


Dan ini penampakan susu kedelainya, dituang di mug pun masih ada lebihnya.


Sarapan seru dan murah pagi ini cuma 7.500 Rupiah, lho. Ya kalo misal mau ngajakin pasangan tinggal dikalikan dua kali dan ditambah sedikit buat jajannya. Hehe


Susu Kedelai 3.500an
Lokasi : Bubur Ayam samping Kecamatan Tahunan, Buka sampai jam 9 pagi atau jika telah habis.

Lontong Pecel 4.000an
Lokasi : Warung Angkringan sebelah Utara SPBU Mojo Batealit (Kiri Jalan), Buka seharian. Lontong hanya ada pagi hari.


Nah itu tadi kisah hunting sarapanku Jumat kemarin. Seru, murah dan kenyang.



Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
37 komentar



Makan makan.... siapa yang ga mau sih? Apalagi kalo tinggal makan, gratis pula! hehe


Kalau urusan makanan memang jarang sekali yang mengelak, apalagi mengelak. Kecuali cuma basa-basi. Ujungnya juga pasti mau. 😂 Beda lagi dengan masak, gak semuanya mau meski semuanya bisa.

Tapi aku gak bisa masak ....
Sst, bilang saja belum bisa. Ini hanya soal waktu.

Ya, soal masak memang agak tak enak dibicarakan. Apalagi untuk yang masih amatir seperti saya. Punya keinginan untuk masak, tapi apa daya selalu gak enak. Bukannya gak bisa, aku bisa kok!. Aku tau resepnya, bumbunya, cara bikinnya. Toh semuanya gampang dicari dan dipelajari baik di buku resep maupun di media online. Tapi ..... lagi-lagi ini soal rasa, meski sudah sesuai anjuran yang ada di buku, hasilnya jauh dari yang diharapkan.

Keasinan
Kurang Sedap
Kepedesan
Kebanyakan micin
Dan masih banyak lagi


Rasanya sulit sekali memasak masakan yang enak, bagiku, kecuali telur dadar. Bahkan masak tumis tempe saja aku masih belum bisa. Mungkin lebih tepatnya aku tidak memiliki skill perkiraan bumbu yang mumpuni. Anggap saja masih amatir. Maklumlah, aku belum dituntut untuk memasak, hanya secukup memasak untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain (yang aku sayangi, eh).

Sejak kecil aku memang tidak diajari masak secara spesifik, sebatas membantu masak tanpa ada ketertarikan berlebih. Bahkan aku baru bisa membedakan ketumbar dan merica baru setahunan ini, haha parah banget yak. Sampai akhirnya aku hidup di kosan yang menuntut untuk bisa masak. Ya, minimal aku bisa makan sendiri lah. 

Berkali-kali masak hasilnya tetap sama, jadi kok masakannya tapi gak enak. Seperti ada saja yang kurang. Ya, aku hanya kurang jam terbang. Tapi aku yakin aku tak sendiri, tentu banyak perempuan lain di luar sana yang senasib denganku. Mungkin juga lebih parah. 

Meskipun aku tak bisa masak enak, syukur alhamdulillah aku tak pernah kelaparan. Setidaknya aku bisa memasak masakan simpel yang tak perlu pertimbangan bumbu yang berlebihan. Cukup garam, lada dan penyedap saja sudah cukup. Apalagi kalau bukan telur dadar. 😋

Aku sempat meresah pada ibu tentang keadaanku ini, dan ternyata beliaupun dulu sama sepertiku. Dan solusinya adalah buku resep dan kebiasaan. Nyatanya sekarang, masakan ibuku enak, selalu enak. 

Percayalah, suatu saat aku akan bisa masak enak. Doakan ya...

Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sudah hampir dua bulan aku tak mendapat ajakan piknik. Meskipun jarang di rumah, dolanku tetap ke tempat yang dekat-dekat saja, kalau tidak dekat dari rumah ya dekat dari tempat kerja. Selain itu juga maksimal hanya dua jam aku menghabiskan waktu bersama mereka dengan perjalanan melalui daerah kota yang meskipun sejuk tapi kurang menyegarkan.

Ya, bagiku piknik adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk melepas kelelahan selama bekerja dengan suasana yang berbeda. Meskipun aku anak desa, tapi pemandangan hijau ala persawahan masih menjadi hal yang mengagumkan bagiku. Maklum saja, rumahku berhadapan langsung dengan jalan raya kampung, jadi mau tidak mau aku harus merasakan kebisingan yang lebih dibanding warga kampung lainnya. Beda tipis dengan suasana kota, anggap saja sebelas dua belas.

Hampir setiap minggu selalu ada yang mengajakku piknik. Yang ke sana lah, ke situ lah. Meskipun sudah pernah dikunjungi, rasanya tak pernah bosan untuk sekedar kembali lagi selama cuaca dan keadaan dompet tak menghalangi hehe. Namun, sekira dua bulan ini ada yang berkurang dari kegiatanku yang sebelumnya. Tak ada ajakan piknik. Sekalinya ada, sudah ada agenda lain yang belakangan diketahui ternyata dicancel. Sekali dayung, dua acara terlewati, hiks.


Tamu Tak Diundang


Dua minggu yang lalu saat sedang bersantai, rumahku didatangi dua tamu tak diundang. Sepupuku dari negeri seberang (halah) sedang ingin mengunjungi simbahnya yang sedang sakit. Setelah berbincang cukup lama akhirnya muncullah ide untuk mengajak mereka menikmati es kelapa muda di depan rumah. Rumahku dikelilingi oleh beberapa pohon kelapa yang memang selalu berbuah.

Setelah mereka (berdua) bersusah payah nyonggek (baca-memetik) kelapa, aku siapkan es dan segala alat lainnya. Selesai digepuk, kami langsung mengeksekusi dengan mengambil isi buah kelapa dengan tutup botol bekas. Tak lupa pula dicampurkan dengan sirop, gula, garam dan beberapa butir nasi agar lebih mantab rasanya. Hasilnya tak jauh beda dengan penjual es kelapa muda di pasaran, hehe.



Kami lanjutkan dengan menikmati minuman seadanya ini bersama tahu pong sambil berbincang ngalor ngidul, dari hal penting hingga tak penting. Ternyata piknik bisa dinikmati dengan semudah ini. Tak perlu jauh-jauh ke tempat rekreasi dengan suguhan pemandangan nun jauh disana, depan rumah pun bisa jadi tempat penghibur lara.

Piknik dadakan kamipun terpaksa diakhiri karena hujan segera turun dan makanan kami pun sudah habis, semoga suatu saat bisa terulang lagi bersama anggota keluarga atau teman lain yang berkunjung ke rumah. Semoga timingnya tepat saat buah kelapanay belum beranjak tua hehe.

Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang piknik di sekitar rumah? share yuk...

Share
Tweet
Pin
Share
30 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates