• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Tahun 2020 menjadi tahun yang cukup mengesankan. Emm,,  sepertinya bukan hanya cukup, tapi sangat mengesankan. Banyak hal yang aku pikir mustahil terjadi, ternyata terjadi di waktu yang tak disangka sama sekali. Ada juga hal yang aku pikir tidak akan aku dapatkan dalam waktu dekat, ternyata wow..  amazing parah. 

Begitulah, Tuhan maha baik kepada setiap makhluknya. Banyak sekali ucap syukur yang aku elukan tahun ini. Bukan berarti tahun sebelumnya Tuhan tidak baik padaku, tapi kesadaranku atas nikmat Tuhan serasa tumbuh lebat tahun ini. 

Namun sayangnya, blog ini kosong selama lebih dari satu tahun. Sedih banget rasanya, banyak hal terjadi namun tak ada dokumentasi baik gambar maupun tulisan. Padahal nih ya, awal mula aku ngeblog tujuannya untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari agar suatu saat bisa dikenang tanpa harus repot bercerita kembali sampai mulut berbusa. 

Kesibukan yang membuat badan bergerak banyak, otak terlalu banyak berpikir dan waktu yang terasa berlalu sangat cepat. Ketiga hal tersebutlah yang selama ini menjadi alasan untuk menunda menulis. Padahal gaya tulisanku nggak kaku-kaku banget, santai dan tidak terpaku pada EYD. Tapi ya gitu, masih aja beralasan. 

Tulisan ini memang sedikit menghakimi diriku sebagai owner sekaligus author satu-satunya di blog ini. Aku yang dulu katanya suka menulis, ujung-ujungnya menyerah dengan alasan klasik; sibuk. 

Ataukah sebenarnya aku tidak suka menulis? Hm... Perlu diselidiki lebih lanjut nih. 

Sebagai ritual penebusan dosa, mungkin aku akan kembali menulis terhitung sejak tulisan ini dipublish. Kembali aktif mengomel, curhat, mengulas atau bahkan berkomentar tentang topik tertentu. 

Ah,  sepertinya hanya bualan. Masih kemungkinan. Sepertinya tidak begitu ikhlas. 

Akupun sebenarnya masih ragu, tapi apapun itu, aku akan mencobanya sebisaku. Mungkin dimulai dengan menulis hal-hal yang sempat terlewat satu tahun belakangan, menulis resep temuan terbaru yang endul atau mengulas tentang para youtuber yang sering aku tonton. 

Sepertinya cukup sekian dulu. Mohon maaf jika terkesan seperti menghakimi diri sendiri, tapi jika tak begini, bisa-bisa aku lupa caranya menulis lagi. Terimakasih sudah berkunjung. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Waktu terus berlalu, tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Tak tahu kenapa, rasanya lagu ini mewakili perasaanku saat ini. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, tahu-tahu sudah ada di penghujung batas semester. 365x banyak tahun yang sangat mengesankan. Sayangnya banyak momen yang terlewat karena tak didokumentasikan. Duh, sayang sekali ya.
Lama nggak ngeblog rasanya pikiran blank, nggak punya gairah menulis. Mood jelek banget tiap berhadapan dengan ide. Rasanya ingin menulis tapi bingung mau memulai darimana. Well, maafkan jika tulisan kali ini acakadut.

Sebenarnya kali ini aku mau membahas tentang Quarter Life Crisis, fase hidup paling wow yang pernah aku alami. Wow banget sampai aku sempat berujar, "gapapa lah kejadian sekarang pas masih muda dan belum menikah, setidaknya bebanku nggak berat-berat banget.

Tapi rasanya tulisan ini akan panjang dan terbagi menjadi berberapa part. 

Fase Pause dalam hidup

Sebagai manusia yang tak lagi bisa dikatakan remaja, menghadapi tanggung jawab rasanya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi buatku yang belajar tanggung jawab secara otodidak dan nyaris tanpa dampingan. Bagiku, what people around me said, nggak menggambarkan diri mereka yang sebenarnya nggak lebih baik daripada aku. So,  apa yang membuatku harus percaya pada ucapan mereka? 

Time flies, dan aku akhirnya lebih percaya pada ucapan orang-orang yang menurutku lebih layak digugu lan ditiru. Bukan teman, bukan saudara, tapi ucapannya relate untuk kehidupanku. Dan setidaknya aku tak tahu apakah dia hanya omdo atau benar-benar menerapkannya dalam hidup. I don't care, yang penting aku hanya mencari bagian positif dari orang-orang tersebut.

Semakin kesini rasanya semakin mudah bertemu dengan banyak orang. Relasi pertemanan menjadi salah satu modal utama. Hubungan dengan keluarga menjadi hal sekunder yang nggak penting-penting amat. Waktu itu, belum terbersit untuk mengiyakan ungkapan "Keluarga adalah segalanya". Jahat ya, hehe... tapi ya memang begitu adanya. Tapi percayalah, ini bukan akhir. Ini hanya proses menuju pendewasaan dan pemicu kesadaran menjadi manusia yang seutuhnya ; makhluk sosial.

Setelah melewati fase enak-enak dengan banyak hal yang aku inginkan, akupun jenuh. Ya, jenuh sejenuh jenuhnya. Rasanya ingin berubah haluan tapi tak tahu harus bagaimana. Mendadak banyak masalah muncul, entah darimana asalnya yang pasti mereka ini mainnya keroyokan. Gak sportif banget. Kalau diingat lagi rasanya seperti jadi gula yang diperebutkan banyak semut. Gatal.

Dari sini, tanpa aku sadari ternyata banyak sekali kegiatanku yang terhenti sejenak sebelum waktunya selesai. Beberapa aku lakukan secara sengaja, dan selebihnya terjadi karena tragedi. Nih ya aku kasih uraiannya di bawah:


1.  Kuliah molor sampai 14 semester. 

Awalnya aku pikir biasa aja. Tak ada yang perlu disesali, dan memang aku nggak menyesal. kenapa?

Ya karena di waktu yang molor ini bukan berarti aku nggak dapat apa-apa. Banyak hal positif yang aku dapatkan. Lebih banyaknya berupa pengalaman sih, jadi ya wajar kalau orang lain melihatnya gitu-gitu aja. Padahal diri ini banyak upgrade-nya. 

Waktu terus berjalan, proses belajar pun masih berlanjut tapi dunia pendidikan formal terhenti sekian tahun. Meskipun pada akhirnya berjalan normal kembali dan lancar hingga akhir, fase ini cukup bikin deg-degan sih. tekanan dari berbagai pihak tanpa memberi solusi membuatku terpojok tapi perlahan bisa berdiri tegap lagi. Semoga lancar hingga waktunya wisuda bulan depan. 

2. Patah hati. 

Fase ini cukup wkwk sih. Iya, wkwk kalau diingat lagi, tapi sedihnya ga ketulungan waktu lagi ngerasain fase itu. Rasanya seperti nggak ada gunanya lagi hidupku ini. Ingin pergi ke ujung dunia lalu menghilang agar tak ada lagi rasa penyesalan yang berkepanjangan. Haduh, ini kalo diterusin bisa gila nih. Malu banget. 

Anyway, fase patah hati sebenarnya perlu banget. Ya memang rasanya ngilu, tapi efeknya bagus untuk pendewasaan diri. Tentu saja dengan catatan asupan energi positif harus selalu terpenuhi. Tidak harus keluar rumah, bisa kok lakukan hal-hal positif dari rumah. Kalo aku dulu suka nonton drakor, baca-baca wattpad atau nontonin video random di youtube.

Di fase ini, hidupku sempat terhenti sejenak. Memang aneh sih, gegara patah hati aja bisa sampe nge-pause-in hidup orang. Kurang lebih sebulan aku terkungkung di kehidupan yang toxic ini. Sampai akhirnya aku bisa keluar dengan tenang. Next aku akan ceritain gimana aku keluar dari goa gelap ini.


3. Bokek

Ya, bokek sebokek-bokeknya. Nggak ada uang, Nggak ada semangat hidup, ga ada teman berbagi. Yang ada cuma angan-angan tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu. 

Menyesal sekali kenapa aku nggak nabung, menyesal kenapa nggak punya simpanan daa lain sebagainya. Tapi dari sini mulai bisa berpikir logis untuk masa depan yang lebih baik. Emang bener ya, pengalaman itu guru terbaik.

Nah, di fase bokek ini juga hidupku rasanya berhenti. Nggak bisa kemana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain. Fix, pause lumayan lama. Tapi waktu akhirnya menjawab segalanya dengan sangat bijak. Semua masalah teratasi di waktu yang tepat.

Waktunya Play Lagi!

Begitulah hidup, tak ada yang benar-benar sempurna. Sesempurna apapun penampakannya, pasti ada sisi buruknya. Setiap orang pasti punya sisi kelemahan masing-masing, tergantung orangnya saja, mau memilih menampakkan atau menyembunyikan saja. Yang pasti keduanya punya konsekuensi masing-masing.

Dari ketiga hal yang membuat hidupku berhenti sejenak di atas, kini semuanya sudah berjalan normal kembali. Efek dari hal tersebut tentunya banyak sekali, mulai dari stress sampai badan kurus kering hehe.

Apapun itu, kini hidup sudah kembali normal dan masih banyak ide yang harus dieksekusi, masih ada laporan yang harus dikerjakan, dan masih banyak cinta yang harus di sebarluaskan.

Teruntuk kalian yang sedang mengalami fase pause dalam hidup, never give up!, hidup akan berjalan dengan baik lagi seperti sedia kala. Cukup sabar saja dan rasakan berkah Tuhan ada dimana-mana.
Terimakasih sudah membaca. Tunggu tulisan lanjutannya ya.




Share
Tweet
Pin
Share
19 komentar

Sejak kecil sampai umur 19, aku terkungkung oleh lingkungan yang monoton. Sumpek tapi tak berani bergerak. Takut pecah, takut jatuh, takut mbrojol. Halah.

Satu-satunya solusi, KELUAR!!!

Waktu berlalu, aku masih keluar meski tetap masuk juga. Bolak balik. Bertemu banyak orang yang tak dikenal. Nggak berharap bisa kenal, mengenali dan dikenali. Bertemu orang lain adalah anugerah. Sesiumpel itu.

Sampai akhirnya bertemu dengan orang-orang asing dengan beragam bentuk dan rupa. Mengenal dan dikenal oleh mereka, seperti masuk ke dunia baru. Meskipun tak bisa sepenuhnya ikut arus yang mereka bawa, aku beranikan diri untuk tetap aktif dan stay cool di hadapan mereka.

Di balik itu semua, kadang aku berpikir apakah aku bisa seperti ini untuk waktu yang lama. Karena pikirku, mau tak mau, aku harus merelakan ini semua suatu saat nanti. Saat waktunya tiba. Aku akan menjadi a good wife for my husband, a good mother for my kids. I wanna always be there, next to them.

Aku sempat menikmati hidup sebagai bagian dari beberapa komunitas. Waktu yang tepat membuatku berada dalam situasi yang tepat. Tapi, time flies, aku nggak selamanya ada disana. Lambat laun aku harus memutuskan untuk fokus pada hal-hal yang harus aku fokuskan. Aku harus mencapai beberapa goals yang sempat aku lewatkan.

Terlalu banyak hal baik yang aku dapatkan dari berkomunitas. Hampir semuanya nggak aku dapatkan di rumah, di kampus dan di media sosial. There are too many things make me so excited, begitu banyak jenis manusia di dunia ini. Dan untuk menghadapinya, diam adalah sikap tak terpuji yang harus dihindari.

Aku Tereliminasi

Seleksi alam, mereka menyebutnya demikian. Ya, aku setuju. Alamlah yang mengatur segala pergerakan. Satu persatu hal menjadi berubah, tak seperti dulu. Karena satu dan lain hal, komunitas menjadi orientasi yang berbeda dari yang seharusnya. Semakin kompleks.

Wajar, wajar sekali. Roda hidup yang berputar membuat siapapun harus menyadari bahwa tugas kita tak hanya satu. Masih banyak lagi dan akan terus bertambah lagi. Membuat orang-orang bersemangat maju dan berkembang. Sayangnya, manusia hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya. Ketika maju, pasti ada yang tercecer.

Kali ini skala prioritas yang berbicara, mana yang lebih penting dan lebih menguntungkan tentu akan jadi pilihan. Belum lagi soal waktu dan kesehatan, tak semua orang mendapatkan jatah enak.

Jika Boleh

Aku ingin kembali menjadi aku seperti tiga tahun lalu. Aku yang punya banyak waktu dan bersua dengan siapapun yang aku mau. Bertemu banyak orang dengan ambisi dan niat baik yang menggebu.

Baiqlaah, waktu berkata tidak dan keadaan sudah ada di posisi terbaiknya. Akan kunikmati posisiku sekarang dengan sebaik-baiknya. Well, kalau kamu masih punya kesempatan dan hatimu berkata 'ingin lakukan', lakukan!.

Karena waktu dan kesempatan belum tentu terulang. Karena tak semuanya bisa sepertimu.

Berkomunitas itu menyenangkan. Ayo keluar!, jangan berdiam saja di kamar.

Sekian
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hidup ini tak pernah lepas dari segala masalah. Entah kecil atau besar selalu saja ada masalah. Aku lupa kapan pertama kali menghadapi masalah, dan kapan terakhir kali aku keluar dari masalah. Masalahnya, aku sendiri kadang alpa tentang apakah aku sudah keluar dari masalah atau justru membuat lubang masalah yang baru.

Saking akrabnya dengan masalah, aku jadi semakin congkak dan merasa sangat mampu keluar dari sebuah masalah. "Ini semua hanya tentang waktu", ucapku berkali-kali pada diriku sendiri setiap kali merasa tak berdamai dengan masalah. 

Toh  menurutku segala yang terjadi adalah bagian dari rantai kehidupan. Satu hal terjadi karena hal lain telah terjadi, begitu terus berulang-ulang. Saling tumpang tindih seperti kartu domino yang jatuh setelah kartu sebelumnya mengenainya. Lambat laun akupun tak menganggapnya sebagai masalah, tapi sebagai teman akrab yang mengajarkan banyak hal baru. I love it. 


Membahas masalah, tentu cocoknya membahas kegagalan. Biasanya masalah menimbulkan kegagalan. Masalahnya beragam dan bentuk kegagalannyapun beragam. Kalian tahu sendiri lah ya, sebagai makhluk hidup yang normal pasti pernah mengalami dua hal ini. 

Sebenarnya tak mau membahas tentang kegagalan terlalu dalam karena aku sendiri sudah tak percaya dengan konsep kegagalan. Why?, karena "kegagalan adalan keberhasilan yang tertunda". Anjay banget nggak sih jawabanku, klasik. 

Awal ke-nggak percayaanku pada konsep kegagalan adalah setelah aku merenung dan menyadari bahwa semua yang terjadi saat ini selalu berhubungan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, it is true. Yaaaa, meskipun kadang harus melewati beberapa fase kegagalan dulu. 

Salah satunya adalah saat dimana aku sadar bahwa di usia sekarang, aku baru tahu bahwa ilmu parenting itu ada. Bahwa jadi orang tua ada ilmunya, meskipun nggak ada sekolahnya. Aaaak, aku kudet banget dong, ya ampun. 

Di fase ini aku sadar kenapa sampai saat ini aku belum diijinkan menikah. Mungkin aku dikasih jalan dulu buat belajar tentang ilmu ini sebelum praktek. 

Dan aku jadi ingat kejadian saat aku hendak menikah tapi nggak jadi. Horror tapi pengen ngakak sih kalo ingat ini. Bisa bayangin nggak sih gimana aku yang waktu itu masih 18 tahun, baru tahu cinta doang terus mau nikah. Mau kuapain anakku nanti. Hiks. 

Sejak kapan aku sadar? 

Baru aja kok, baru aja kemaren. Pas lagi down banget dan tiba-tiba ke flashback gitu aja. Bahkan sampai bikin kepala pusing dan nggak enak badan. Sumpah aku mendingan sakit badan daripada sakit pikiran. Menyiksa. 

Waktu itu kepalaku serasa nggak berhenti berpikir dan selalu kepikiran hal-hal yang bikin aku sampai di titik ini sekarang. Sampai akhirnya aku bisa tenang dan bisa berpikir jernih kembali dan menyimpulkan bahwa aku sebenarnya nggak pernah gagal. Aku hanya ditempatkan di tempat yang nggak aku inginkan oleh Tuhan untuk sebuah tujuan yang Beliau rahasiakan. 

Sekian. 






Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar


Bulan ini aku kembali disibukkan dengan urusan akademik yang sudah sekian lama aku tinggalkan. Em, maksudku aku hentikan sejenak. Banyak hal yang aku lakukan selama tidak mengikuti kegiatan akademik. Dari bekerja dengan orang lain hingga mencoba peruntungan di dunia bisnis.

Meskipun bukan hal yang baru lagi untukku, tapi kegiatan bisnis memang selalu memusingkan. Apalagi di proses mengawali. Seakan memulai hidup baru yang harus sangat tertatih-tatih dan penuh ketabahan. Tapi tentu saja bisa dibaca keberhasilannya jika ditekuni dengan kesungguhan. Ironisnya, aku sering berhenti di tahap tertatih-tatih dan tak sabar menunggu hingga waktunya bangkit tiba. Sedih sekali jika mengingat masa-masa itu.

Dan saat ini, meskipun sedang vakum berpromosi secara langsung. Aku sedang menyiapkan amunisi sekuat mungkin untuk melanjutkan usaha yang telah aku rintis sejak tiga tahun lalu. Sempat berhenti lalu lanjut kembali, berhenti lagi dan berlanjut lagi. Hal biasa bagi pengusaha yang sering disebut dengan pasang surut.

Sebagai pelaku, kadang aku tak menyadari tentang teori pasang surut ini. Baru sadar kemudian setelah yang surut telah pasang kembali. Bahkan tak jarang aku menyalahkan diri sendiri saat sedang jatuh dan terpuruk dan menganggap apa yang terjadi adalah akibat dosa besarku selama ini. Drama banget aku tuuuh.

Entah sudah berapa jenis usaha yang pernah aku coba geluti. Ya, aku coba menggeluti tapi kadang usahanya yang nggak mau bergelut denganku. Aku merasa diPHP oleh keinginanku sendiri. Betapa sedihnya aku mengingat kejadian-kejadian memilukan tersebut. Seakan ada saja hal-hal yang tak mengenakkan yang membuat aku berhenti melanjutkan usaha.


Kalian pasti kepo kan, apa saja usaha yang pernah aku geluti hingga jadi selebay itu?!


Sebagai makhluk online, aku cenderung lebih banyak memulai usaha melalui online. Beberapa kali membuka usaha, hampir semuanya aku mulai secara online. Beberapa kali aku diinterogasi beberapa teman dan mereka cenderung tak percaya dan mengabaikan pernyataanku. Nyatanya, memulai usaha secara online di era digital seperti ini bukanlah hal yang tabu dan sulit untuk dilakukan.
Semudah seperti menulis status dan membalas pesan singkat. Ya, semudah itu. Apalagi bisa memberi nilai ekonomis. Menggiurkan, bukan?

Salah satu usaha yang aku geluti sejak 2015 yaitu usaha Kain Tenun Khas Troso, Jepara. Awalnya aku masih meraba-raba sistem kerja bisnis online yang kebetulan saat itu sedang aku gandrungi. Bermodal keberanian dan kenalan beberapa teman, aku memulai dengan tanpa modal uang sepeserpun. Dalam waktu tiga bulan aku berhasil melayani beberapa pembelian, salah satunya dikirim ke Bali dengan omzet mencapai lima juta per bulan.

Setelah itu, karena satu dan lain hal, aku memutuskan berhenti dan kembali fokus kuliah. Ternyata jalan menuju wisuda tak semulus paha kita masing-masing. Ada saja tanjakan dan turunan serta polisi tidur yang menghalangi. Harus ekstra hati-hati dan siapkan mental tambahan.

Dua tahun berlalu, aku kembali dipertemukan dengan jalan usaha yang sama. Tetap bergelut dengan kain tenun khas Jepara. Kali ini aku kembali mendapatkan banyak kenalan. Alhamdulillah, silaturrahim selalu membawa rejeki berlimpah. Aku banyak belajar dari mereka, baik secara langsung maupun tidak. Baik secara personal maupun kelompok. Dalam waktu dua bulan, aku lebih banyak belajar dari rumah, mengamati pergolakan media pemasaran yang digunakan para pendahulu yang telah menggapai kesuksesan.

Sambil belajar, aku kembali memantapkan diri untuk bergelut dengan usaha Kain Tenun Khas Troso melalui instagram. dengan modal bismillah dan doa restu orang tua, usahaku tak sia-sia, aku mendapatkan pembeli pertama di minggu kedua setelah akun online shopku aktif. Betapa senangnya kala itu, hehe.

Waktu berjalan dan aku semakin gigih berjuang, Alhamdulillah di bulan ke empat aku bisa menjadi eksportir kain tenun ke Kanada. Waah, senangnya lagi. Semakin bersemangat dan merasa yakin bahwa ini adalah duniaku. Haha, pedenya aku.

Saat ini, aku sedang merencanakan membuat website untuk meningkatkan penjualan agar lebih baik dan semoga bisa berkembang lebih pesat seperti sebelumnya. Syukur-syukur bisa membantu lebih banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan. Ini merupakan salah satu resolusi Bisnis di tahun 2019 yang aku miliki.

Hingga saat ini, aku semakin keenakan dengan usaha online bahkan tak terpikir membuka usaha secara offline karena waktu dan tempat yang terbatas. Lagipula, zaman sekarang seakan sudah disedikan lahan usaha yang siapapun bisa memulainya darimana saja, dunia online. Sejujurnya memang lebih mudah untuk membuka usaha di era digital ini dengan segala kelebihannya.

 Yuk, berwirausaha. Happy blogging. J

Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar


Berhubungan dengan banyak orang artinya siap menerima semua keadaan. Sangat kompleks, bahkan terlalu kompleks. Ya, karena rasanya akan sangat keterlaluan jika belum terbiasa. Terasa seperti duri yang menancap secara sengaja. Sengaja karena keputusan untuk berbaur dengan banyak orang adalah dari kita.

Aku sendiri, di usia yang sudah tak lagi muda ini mungkin memang sudah waktunya keluar. Keluar dari zona nyaman atau dari lingkaran pertemanan yang terkesan monoton. Bukan berarti keluar sepenuhnya, tapi keluar untuk menemukan hal baru dari orang-orang baru.

Bagi beberapa orang, di usia produktif bekerja seperti ini akan diisi dengan kegiatan yang diimpikan siapapun; bekerja. Ya, sebuah kegiatan yang pernah diimpikan siapapun dan dikeluhkan oleh siapapun yang sedang menjalaninya.

Wajar dan proporsional, nggak jarang aku dengar keluhan tentang pekerjaan yang sedang digeluti. Entah tentang jobdesk, gaji maupun partner yang mendampingi. Bisaaaaa banget jadi bahan keluhan, ya, bisa aja. Namanya juga manusia yang sering cari-cari kesalahan sendiri.

Dulu aku mikirnya kerja hanya akan sibuk dan ribet dengan jobdesk dan segala hal yang perlu dilakukan. Ini perspektif yang aku bayangkan jauuuh sebelum aku pengen kerja. Lihat di tv kayaknya cuma gitu-gitu aja, ngeluh sekenanya karena banyak kerjaan atau karena capek selama di perjalanan.

KENYATAANNYA


Selain menghadapi pekerjaan, dunia kerja juga mengharuskan kita bertemu dengan banyak orang yang tentunya dari latar belakang berbeda. Hal yang sama sekali nggak terbayang saat masih kecil. Dan inilah saatnya kita merasakan.

Dan alibi niat kerja yang sungguh-sungguh seringkali mematahkan ego. Merasa butuh uang hingga membiarkan diri berlarut-larut dalam posisi yang tak nyaman. Ini sih namanya mematahkan ego dan menumbuhkan ego lain, ya.

Karena bagaimanapun kondisinya, perasaan selalu menjadi bagian paling sensitif untuk tersentuh. Entah dengan sentuhan yang lembut ataupun kasar, sama pekanya. Tak jarang pula yang masih memendam rasa hingga berakhirnya masa kerja.

And then, let me tell what I think

Bekerja artinya kita dibayar karena kita mengerjakan jobdesk yang sesuai dengan kesepakatan awal, atau sebut saja sesuai kontrak. Meskipun banyak juga lho yang nggak ada kontrak dan cuma kerja aja di tempatnya. Nggak ngerti sampai dimana batas dia harus bekerja yang bisa jadi menguntungkan atau merugikan salah satu pihak.

Belum lagi ditambah dengan perlakuan yang diterima, kadang menyenangkan kadang tidak. Pun tentunya kita juga pernah ada di posisi yang melakukan kegiatan baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan orang lain.

Memang harus super siap dengan segala keadaan yang ada. Mulai dari gaji yang tak sesuai porsi kerja (entah lebih atau kurang), pandangan orang-orang baru tentang kita yang sejak lama sudah seperti ini, hingga kebaperan-kebaperan lain yang hanya membuat kerja tak maksimal dan cenderung berdampak negatif.

Bahkan aku sering iri pada orang-orang yang dengan mudahnya tak menghiraukan omongan orang. Semudah itu melupakan sesuatu yang harusnya meninggalkan bekas luka mendalam.

Jika sudah siap dengan dunia kerja, hadapi saja apa yang ada. Jangan percaya begitu saja dengan spoiler yang aku tulis disini. Bisa jadi nggak berlaku untukmu dan kepribadianmu, lho. Nyatanya banyak kan yang masih bertahan di satu tempat kerja bertahun-tahun lamanya. Mungkin kamu salah satunya, atau yang sedang berniat menjadi salah satu dari mereka.

Yang pasti, apapun bentuk dan tujuannya, bekerja adalah sebuah keniscayaan bagi siapapun yang mampu. Tapi, sampai kapan akan menggantungkan harga diri pada orang lain?

Terimakasih sudah membaca, Happy Blogging!




Share
Tweet
Pin
Share
34 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates