• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


POV 1

Bencana yang disebut covid-19 telah berhasil mengubah kehidupan masyarakat hampir secara total. Meskipun sudah banyak himbauan sebelum virus ini benar-benar sampai ke Indonesia, nyatanya tak banyak yang mengalami panic action ketika tamu tak diundang ini benar-benar datang. Justru banyak yang mendadak menjadi pakar kesehatan hingga pakar spiritual di media sosial. Pandemi ini benar-benar ajaib.

Memang tak elak akan banyak terjadi perdebatan, apalagi Indonesia yang masyarakatnya terkenal bebal dan segan menalar ke dalam. Tapi untuk kali ini, apakah tidak bisa meninggalkan ego masing-masing demi keselamatan bersama?

Pemerintah sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran virus ini agar tak merenggut banyak nyawa lagi. Tapi apalah artinya pemerintah yang hanya menyeru tanpa digugu oleh masyarakatnya. Bahkan semakin banyak yang seakan sengaja menentang dan menantang maut dengan dalil ketuhanan. Ah, lucunya Negeri ini.

Sehari yang lalu, justru muncul ajakan untuk bergotong royong bersatu padu mengeratkan genggaman tangan demi pengadaan spot cuci tangan di seluruh kota. Tujuannya sih untuk membantu para pekerja lepas yang mau tak mau harus tetap bekerja di tengah pandemik ini. Terkesan baik dan memikirkan sesama, tapi bagaimana jika salah satu atau bahkan beberapa dari spot tersebut justru menjadi media penyebaran yang lebi masif?. Jangan dibayangkan ya, menyedihkan.

Himbauan tentang social distancing yang belakangan dialihkan ke phisycal distancing menjadi pilihan untuk siapapun yang merasa perlu menjaga diri dari virus yang bisa bertahan selama tiga jam di udara ini. Zaman makin berkembang dan kehidupan sosial bisa berjalan via daring. Sekolah diliburkan, segala kegiatan berjalan via media yang kian berkembang pesat. Life must go on. Tetap #DiRumahAja dan kehidupan akan tetap berjalan dengan baik.

Virus lama bernama hoax pun kian menyebar. Tetap hati-hati dan jangan sampai termakan oleh hoax yang dibuat sendiri. bukannya meredakan, justru menambah kasus baru. Seperti video merokok yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bahkan mengikutsertakan anak-anak. Narasinya pun seakan paling kuat dan kebal, padahal bebal. Atau hoax tentang menambahkan pil amoxicillin pada bak penampungan air yang katanya bisa menangkal virus corona. Ya Ampun, kenapa makin aneh saja masyarakat kita ini.

Tentang pandemi ini, serahkan pada siapapun yang kompeten dan berwenang mengatur. Jalankan tugas kita sebagai warga masyarakat yang baik untuk tetap menjaga kondusifitas wilayah masing-masing. Tak perlu banyak bacot tak penting, apalagi menyerang pihak lain demi kepuasan dan kepentingan pribadi. Ini wabah, ini musibah, siapapun memiliki kemungkinan terserang jika tak aman.

POV 2  


Sekolah-sekolah diliburkan demi tak menambah banyak korban. Tugas sekolah berubah menjadi tugas orang tua. Entah sudah berapa banyak keluhan yang tersebar di media sosial tentang kesusahan orang tua membantu anaknya mengerjakan soal yang diberikan pihak sekolah. Tak jarang pula muncul makian dan hinaan yang mungkin jika didengar para SJW (Social Justice Warrior) bisa dipidanakan. Sungguh ngeri dan mencekam. Orang tua sudah lelah bekerja untuk anaknya, ditambah lagi memikirkan turunnya pendapatan dan masih harus menemani anaknya belajar. Huft, terbayang betapa lelahnya.

Di beberapa belahan bumi yang lain, ada kaum rendahan yang menggantungkan hidupnya pada apa yang dikerjakan hari ini. Tak ada tanggungan besar dalam hidupnya kecuali apa yang harus dimakan hari ini. Corona? Covid-19? Pandemi? Tak ada artinya bagi mereka. Bekerja adalah hal yang wajib dan tak boleh ditinggal, apapun alasannya. Interaksi mereka ada yang terbatas adapula yang tanpa batasan. Sebatas ke sawah, sebatas ke ladang, sebatas ke rumah majikan atau tanpa batas melanglang buana tak tentu arah mencari barang bekas atau menunggu pelanggan di pinggir jalan.

Hidup mereka tak kompleks, sangat monoton, tapi tak banyak pilihan yang dimiliki. Mengikuti himbauan #DiRumahAja artinya mereka akan kelaparan. Memang aman dari virus kejam itu, tapi penyakit lain akan datang merusak kehidupan mereka.

Sementara corona menjadi sorotan, penyakit lain tak diindahkan. Korban Demam Berdarah Dengue tak bisa disepelekan. Desinfektan disebarkan, tapi voging ditinggalkan. Aman dari virus tapi nyamuk makin gencar menyerang.  

Pusat perbelanjaan banyak yang libur, its ok untuk yang sempat merasakan panic buying kemarin. Persediaan lengkap dan aman untuk beberapa hari ke depan. Lagi-lagi fulus yang berbicara, hanya orang kaya yang bisa melakukannya. Mereka yang bekerja dengan hasil pas-pasan hanya bisa makan yang ada. Jika garam habis dan tak ada tempat membeli. Lauk hambarpun tetap jadi kudapan lezat di mata mereka.

Gaya hidup sehat, air bersih, masker, cuci tangan sesering mungkin hanya informasi yang sekilas lewat di telinga mereka. Mereka begitu percaya bahwa dunia masih baik-baik saja. Sebentar lagi pandemi akan hilang dan kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti kemarin dan hari ini, karena setiap hari adalah sama bagi mereka.

Disclaimer


Dua POV diatas adalah hasil pengamatanku selama dua minggu. di tengah pandemi global ini, ternyata banyak hal unik yang terjadi. Bukan bermaksud membuat lelucon, tapi sekedar berbagi tentang apa yang aku rasakan. Dua sisi kehidupan berbeda membuat siapapun jengah, lebih jengah lagi jika ada di posisiku saat ini yang ada diantara mereka. Niat hati menjadi seperti yang diatas tapi apa daya tangan tak sampai, tapi untuk hidup seperti POV kedua rasanya mentalku belum siap menjalaninya.

Hidup di antara dua kubu rasanya cukup menyesakkan, berjalan ke 1 sisi aku dihadapkan pada solusi untu tetap di rumah dan bekerja sepanjang waktu. Pekerjaan selesai dan dapur tetap ngebul, nafsu makan tetap terjaga, gizi dan nutrisi tetap aman terkendali. Di sisi yang lain, tak akan ada sendawa setelah makan jika tak bekerja hari ini. Bahkan jikapun bekerja, belum tentu juga porsi makannya akan sama.

Memang tidak mudah menjalani hidup di tengah pandemik ini. merasa sudah baik-baik saja, ternyata diburu kepanikan yang sebenarnya tak perlu ada. Insecurity yang meningkat drastis membuat siapapun cenderung acuh pada sesama. Tapi bukan itu intinya, yang penting adalah saling menjaga. Menerima apa yang dianjurkan oleh pemegang kuasa, berusaha melakukan yang terbaik dimulai dari diri sendiri untuk orang lain di luar sana. tetap berbuat baik pada sesama meskipun tak ada jabat tangan, gantikan dengan senyuman tulus untuk saling menguatkan.

Tetap menjaga lisan dan jari agar tak mudah terprovokasi dan tanpa sadar menjadi provokator di sirkel baru. Tetap stay #DiRumahAja dan menjaga kewarasan dengan asupan informasi daring bermanfaat serta menjaga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup. Tetap rajin cuci tangan, gunakan masker jika terpaksa keluar dan jaga jarak minimal 1 meter dengan orang yang terindikasi flu atau sejenisnya.

Mohon maaf jika ada salah kata. Terimakasih sudah membaca.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


Yuhuuu, akhirnya pengen nulis lagi. Ya, aku nulis pas pengen aja. Gak mau dipaksa-paksa, jadi jangan kaget kalo sewaktu-waktu aku jadi rajin nulis. Haha

Beberapa hari ini aku lagi banyakin merenung. Nggak jelas banget ini sih, asli. Rasanya banyal kerjaan banget padahal nggak. 

Coba deh, kalo dirinci dengan benar kegiatanku cuma gitu-gitu aja; ngajar les dan main sosmed. Tapi kok aku ngerasanya sibik banget. What's wrong with me? 

It's ok. Sampai di titik ini aku merasa bersyukur sekali bisa sadar dan nggak nambah waktu lagi buat merenung tanpa kepastian. Akhirnya aku putuskan buat memulai rentetan kegiatan dari satu titik lubang. 

Lubang yang aku maksud adalah lubang gigi. Yes, gigiku berlubang. Hampir habis dan serem banget lihatnya. Mau nggak mau harus dicabut dan kalo mau nanti bisa dibuatkan gigi palsu. 

Aku pilih memulai dari sini karena aku TRAUMA sama sakit gigi banget. Dan fyi, aku mulai sadar bahwa mulai saat ini hingga beberapa waktu ke depan yang tak bisa ditentukan, aku akan punya banyak kegiatan aka. sibuk. Bulan depan, mau kkn dan tahun depan harus ngejar wisuda. 

Satu titik yang kelihatan kecil banget ini, aku yakin suatu saat bakal minta jatahnya buat diperhatiin. Apalagi udah musim hujan kaya gini, rawan banget kambuh karena suhu dingin. Ampun banget nggak mau lagi deh. Amit-amit. 

Daan, sebelum beneran minta jatahnya, aku siap-siap dulu buar cabut itu lubang sampai ke akar-akarnya. Biar lancar segala urusanku ke depannya gitu deh. 

Setiap orang sepertinya punya titik tertentu yang bisa banget bikin drop. Ada yang masalah tulang, otot atau lainnya. Kalau aku biasanya migrain dan sakit gigi yang alhamdulillah keduanya udah akur sama badan. 

Dulu, aku nggak peduli banget sama badanku. Sejalannya aja, nggak mikir sakit kemudian atau pusing kemudian. Meskipun pada akhirnya aku juga ngerasa salah karena nggak perhatian sama diri sendiri. Menyesal kemudian saat sudah sakit. 

Saat ini, dengan keadaan gusi yang masih belum pulih dan gigi yang masih perlu perawatan, aku semakin sadar bahwa kesehatan perlu sekali untuk diperhatikan. Beruntung sekali kalian yang hidup di lingkungan sadar kebersihan, kalian patut bersyukur. 

Jujur saja, di usia yang harusnya sudah bisa menabung untuk masa depan seperti saat ini. Aku masih kesulitan mengatur keuangan. Aku sering sakit dan dokter langgananku adalah yang terbilang cukup mahal. Ya gimana, cocoknya disitu. Kalo di tempat lain nggak mau sembuh, kalo di situ baru daftar aja rasanya udah enakan. Sayang banget tuh duit sebenarnya, tapi gimana lagi dong kalo namanya butuh kan nggak bisa dihadang juga. 

Dari itu, jadi mikir : kalo misalnya aku sehat dan cukup ke dokter buat check up aja pasti nggak sedrama ini. Tapi alhamdulillah masih bisa bersyukur karena setiap ada keluhan juga saat ada uang. 


Yah, jadi ngelantur. Selamat ngeblog! 
Share
Tweet
Pin
Share
39 komentar


Aku suka sehat. Kayanya bukan aku aja sih, semua orang juga pengennya sehat sehat terus. Tapi aku tuh kayaknya beda deh sama kalian. Aku banyakan nganggur, gak banyak gerak kecuali jempol tangan (IYKWIM) hehe.

Bener banget kalo ada yang bilang bahwa gerak tubuh akan membuat tubuh lebih sehat. Otot gak kaku dan lebih luwes menjalani keseharian. Gak ada lagi yang namanya sakit walau sedikit gerak. Kaya udah berumur aja, ganti posisi dari duduk ke berdiri aja tulang rasanya bunyi dan otot rasanya kaku banget, hiks.

Aku baru aja ngalamin, jadi kali ini aku mau share pengalamanku merasa segar dan sehat selama sebulan dan merasa kaku seminggu ini.


Lebaran Jadi Banyak Gerak


Lebaran memang jadi salah satu momen terbaik untuk berkunjung dan bersilaturahim ke sanak saudara. Sebagai junior, sudah sepantasnya mendatangi para senior yang dekat maupun jauh. Kalau sudah begini, mau gak mau harus menyiapkan fisim yang kuat setidaknya dibantu dengan suplemen.

Nah, lebaran kemarin aku tuh mendadak jadi aktif dan gak seperti lebaran biasanya. Padahal dompet juga kering banget tapi fisikku rasanya mendukung banget buat kemana-mana. Makan apa aja juga oke, ga ada efek pusing atau mual kaya biasanya. Paling ngantuk aja kalo udah waktunya tidur siang.

Setelaha aku ingat-ingat lagi, ternyata kuncinya ada di aktifitasku sebelum lebaran. Ya, waktu masih bulan puasa kemarin jadwal les di rumah jadi lebih longgar dan jadwal bangun pagi jadi lebih teratur. Aku jadi jarang tidur pagi dan lebih rutin jogging 2-3 minggu sekali. Dan ternyata hasilnya memuaskan sekali dan terasa banget manfaatnya sebulan ini.

Aku jadi lebih fresh, badan kerasa enteng gak mudah capek dan bawaannya positif terus. Alhamdulillah, aku suka dan bisa jadiin pelajaran.

Aku Mulai Drop


Sampai akhirnya seminggu yang lalu aku telat makan dan berasa males banget. Rasanya langsung aneh banget di badan. Badan pegel-pegel dan otot rasanya kaku. Padahal aku gak kemana-mana lho, cuma di rumah aja dan emang sih aku jarang olahraga akhir akhir ini. Peregangan terakhir aja udah lupa kapan, dan alasannya emang klasik banget. MALES. huhu

Nah, kemaren juga saat perjalanan pulang aku sengaja gak pake jaket (jangan ditiru ya). Emang sih ga dingin dan aku males banget ambil jaket di bawah jok. Akhirnya perjalanan selama 40 menit aku jalani tanpa perlindungan jaket. Sampai di rumah ga begitu kerasa dan esok harinya baru deh kerasa badan panas dingin.

Seharian mager kaya ngga ada kerjaan. Berasa manja tapi ga ada yang manjain, hehe. Dan baru sadar kalo olah tubuh emang penting banget. Ya emang sekedar jogging, lari-lari beberapa menit tapi manfaatnya besar banget!


Detox Bawang Merah


Karena sudah banyak aktifitas yang menanti, ya meskipun ga keliatan sibuk karena cuma dikerjain dari rumah dan bahkan dari tempat tidur, rasanya aku harus lekas sehat. SEGERA. Sempat mikir mau ke klinik langganan yang emang udah klop banget sama aku. Ya gimana ga klop, baru pulang periksa bahkan belum minum obatnya aja udah enakan. Tapi emang dasarnya klinik swasta, jadi lebih mahal apalagi aku belum punya kartu BPJS.

Akhirnya aku pilih opsi obat rumahan dulu karena emang udah agak mendingan dan butuh pemulihan aja. Tapi takut juga sih kalk besok panas lagi. Hm... Coba dulu aja sih. Ga ada salahnya juga.

Obat ini biasanya aku pakai saat sakit atau meriang juga. Bahannya gampang banget ditemuin di dapur bu ibu ya... Apa sih? Bawang Merah. 

Ya, aku cuma pakai bawang merah. Dulu aku cuma browsing gitu sih di google, dan aku cobain. Eh, ternyata emang manjur. Untuk manfaatnya kalian bisa lihat disini atau disini. Aku suka pakai bahan ini saat menjelang tidur, karena aku pernah baca pakainya harus sekitar 8 jam. Jadi sepertinya waktu malam adala waktu yang pas untuk mengaplikasikannya.

Dan cara membuatnya yang sederhana juga sangat bersahabat untuk badan yang lagi lemes-lemesnya. Cekidot...

Alat yang dibutuhkan :
*Talenan
*Pisau
*Cawan/Mangkuk Kecil
*Lakban
*Gunting
*Kaos Kaki


Cara membuat
*Bersihkan kaki dengan air bersih, keringkan.
*Kupas dan iris tipis bawang merah
*Siapkan lakban kira-kira sepanjang putaran alas-telapak kaki, biarkan terbuka. Tempelkan irisan bawang di lakban secukupnya. Kira-kira lebar seukuran telapak kaki.
*Tempelkan lakban ke kaki. Bawang di bagian tengah berada di telapak kaki dan bagian pinggir direkatkan. Jika masih ada bawang yang menonjol, tambahkan lakban agar semua bawang tertutup.
*Tutup dengan kaos kaki dan selamat tidur.


Sebenarnya ada beberapa alat lain selain lakban yang bisa digunakan untuk mengunci irisan bawang, misalnya handuk, plastik atau langsung ditempelkan pada kaos kaki. Tapi bagiku, lakban jauh lebih aman karena saat bangun malam dan ingin ke kamar mandi telalak kaki jadi lebih aman karena lakban lebih ramah dengan air. Bisa diatur bagaimana meminimalisir interaksi kaki dengan air.


Nah, itu tadi pengalamanku saat sehat dan sakit dan bagaimana aku menanganinya secara pribadi. Semoga bermanfaat.

Happy Blogging!!!

Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar

Sejak mulai peduli dengan kesehatan, Air Putih adalah saran utama yang diberikan dokter kepada pasiennya, termasuk aku. Karena sering merasa tidak cocok dengan minuman manis kecuali teh dan sirop akhirnya aku lebih menyukai air putih daripada harus membeli teh ataupun sirop, kecuali saat di tempat makan. Konsekuensinya, harus rajin nggodog banyu atau isi ulang galon. sejak di rumah (aku ngekos), aku terbiasa minum air putih banyak meskipun aku tau pada akhirnya akan sering buang air kecil. Tapi sedikit Air Putih saja tak pernah cukup untuk membahasahi kerongkonganku, minimal satu gelas.

Kebiasaan ini terbawa hingga aku di kos dan sempat sakit karena kurangnya pasokan air putih. Ada galon besar tapi pihak kos tak memberikan subsidi pada kami yang bisa dibilang tidak akan kuat membawa air sebanyak sembilan belas liter di galon tersebut. Kami pernah memilih mengisi ulang air galon dengan merk ternama tapi rasanya cukup berat di kantong mengingat air isi ulang yang lain sudah cukup untuk membantu kami tak kekeringan.

Dan akhirnya kusempatkan membeli galon yang lebih kecil dengan ukuran sepuluh liter, masih berat sih, tapi lumayan lah untuk mengurangi beban hidup hehe. Selain itu juga ada kran di bagian bawah yang mudah digunakan untuk menuang air, jadi tak perlu angkat berat dulu kalo mau minum.


Sejak saat itu, aku jadi semakin rajin mengkonsumsi Air Putih. Bahkan sempat membuat program minum Air Putih dua liter sehari, meskipun sering gagal tapi setidaknya sudah ada perbaikan hehe. Waktu itu aku sedang menjalankan aksi sehat keiling kos tiap pagi dan sore jadi sok sehat gitu. padahal cuma bentar, haha.

Daaan, sekarang kebiasaan itu mulai luntur. Apalagi setelah mulai bekerja, jarang minum karena malas ke kamar mandi. Tapi di rumah selalu tersedia air minum galon yang selalu diisi ulang setiap kali habis. Hanya perlu sms dan setengah jam kemudian galon berisi air sudah tersedia di rumah.
Meskipun begitu, saat dirumah aku tetap berusaha minum sebanyak mungkin Air Putih. Botol tupperware ukuran dua liter selalu tersedia di rumah dan aku yang lebih banyak menghabiskannya meskipun jarang mengisinya, haha curang ya. Ada yang punya cerita tentang Air Putih sepertiku? share yuk....



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Assalamualaikum...

Bagi sebagian orang yang memberlakukan gaya hidup sehat, infused water atau air infus bukanlah hal yang baru lagi. Air yang dibubuhi irisan buah dan bahan herbal ini diklaim memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Selain itu, kemudahan dalam membuat dan meraciknya pun turut memberi daya tarik tersendiri.

Metode infused water bukan datang dari Indonesia, trend ini mulai banyak didengungkan setelah seorang blogger luar negeri mengunggah tentang infused water berdasarkan pengalaman pribadinya. Dengan segudang manfaat yang ditawarkan, tentu saja banyak peminat yang mengikuti gaya hidup sehat yang mudah ini. Berikut beberapa manfaat infused water bagi kesehatan:

Memberi Sensasi Rasa Yang Unik Pada Air Mineral
Infused water, yang merupakan campuran air putih (mineral) dengan irisan buah tentu akan memiliki rasa yang khas dibandingkan dengan air mineral yang murni. Hal ini menjadi keuntungan bagi yang tidak suka dengan rasa air putih yang cenderung hambar dan tidak berasa. Sensasi rasa buah yang muncul dalam infused water dapat menjadi pilihan lain bagi yang tidak suka air putih dibandingkan harus meminum kopi, teh maupun minuman berperasa yang lain.


Membantu Proses Detoksifikasi
Beberapa jenis buah seperti lemon dan jeruk nipis diyakini mampu membantu proses pengeluaran racun dalam tubuh yang disebut dengan detoks. Campuran air dan buah dalam infused water dapat membantu mengopitimalkan proses detoksifikasi dibandingkan dengan hanya mengkonsumsi buah dan sayur secara langsung. Adapun pengeluaran racun dapat melalui urin, veses maupun keringat.

Melancarkan Pencernaan
Buah dan sayur memang menjadi andalan ketika terjadi masalah dalam pencernaan. Infused water dapat menjadi opsi yang tepat untuk Anda yang tidak punya banyak waktu untuk mengkonsumsi sayur dan buah. Meskipun begitu, masih sangat disarankan untuk tetap mengkonsumsi sayur dan buah secara langsung untuk hasil yang lebih maksimal.

Menyegarkan Dan Menjaga Daya Tahan Tubuh
Kandungan infused water yang merupakan kombinasi antara rasa buah dan bahan herbal mampu memberikan kesegaran yang ekstra dibanding meminum air putih biasa. Selain itu, kandungan antosianin dari pigmen buah pun mampu menjaga daya tahan tubuh.

Menurunkan Berat Badan Dan Antiaging
Selain beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh diatas, infused water juga mampu menjadi pilihan untuk menjalankan diet dan mencegah penuaan dini. Manfaat ini bisa didapatkan dengan memilih buah jenis tertentu untuk mendapatkan hasil maksimal. Namun demikian, mengkonsumsi buah dengan infused water dengan tujuan diet dan antiaging tentu harus dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat melalui olahraga dan mengatur pola makan yang seimbang.

Cara Meracik Infused Water
Untuk membuat infused water sebenarnya sangat mudah dan tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga. Hanya saja sangat perlu diperhatikan kebersihan, baik kebersihan buah maupun kebersihan wadah air yang akan digunakan.

Infused water dengan segudang manfaat yang dimiliki bukan berarti tidak bisa menjadi racun yang memakan tubuh kita jika tidak menjaga kebersihan selama proses pembuatannya. Adapun yang perlu disiapkan dalam membuat infused water adalah sebagai beriku:
  • Wadah air minum, bisa berupa botol atau gelas. Upayakan menggunakan wadah memiliki tutup dan tahan suhu dingin. Botol semacam ini dapat ditemukan di toko online maupun offline dengan harga terjangkau, sekitar enam puluh ribuan.


Sumber : Tokopedia.com

  • Buah yang telah dicuci bersih. Bisa satu jenis maupun lebih sesuai kebutuhan dan keinginan.
  • Air mineral.


Cara Membuat
  • Cuci bersih dan pastikan wadah telah steril.
  • Iris tipis buah-buahan yang akan digunakan, untuk beberapa bahan juga perlu dikupas agar tidak menimbulkan rasa pahit seperti jeruk. Tambahkan bahan herbal maupun bahan lain jika diinginkan.
  • Masukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan. Tekan-tekan dengan sendok hingga sarinya keluar dan sedikit hancur (opsional), atau bisa dibiarkan saja.
  • Tambahkan air ke dalam wadah, simpan di lemari pendingin minimal dua jam dan maksimal dua belas jam. Ada banyak versi tentang waktu penyimpanan infused water, ada yang dua belas jam, dua hari bahkan ada yang satu minggu. Tapi untuk keamanan, aku lebih suka menikmati infused water yang disimpan maksimal dua belas jam saja.


Mudah, bukan?

That’s so simple, Mas Mbak. Gak perlu dibikin ribet ah. Sehat itu pilihan kok hehe.

Semoga bermanfaat dan tunggu ceritaku tentang infused water pertama yang kubuat. That was an awkward moment, and I stop cunsuming it for several time to take my tongue rest haha. Maklum, lidah ndesoooo :D


See yaaaaaa
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Polusi udara tak lagi bisa dihindari, sejauh ini yang bisa dilakukan adalah mencegah dampak polusi yang semakin meningkat. Atau paling tidak mencegah diri kita agar tidak tercemar oleh limbah udara yang mematikan tersebut. salah satunya dengan memberi perlindungan pada organ tubuh terluar yang terpapar oleh polusi secara langsung, dalam hal ini adalah hidung dan mulut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengenakan masker atau bandana untuk menekan masuknya polusi udara ke dalam tubuh secara langsung.

Terlebih lagi pada musim kemarau yang sering diiringi angin kencang bersama debu yang tak terelakkan. Penutup hidung dan mulut sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang banyak beraktifitas di luar ruangan, terlebih lagi pengendara sepeda motor yang selalu berinteraksi dengan gas emisi berbahaya hasil kerja kendaraan yang mereka tumpangi sendiri.

Buff atau bandana yang sering dipakai para pengendara motor adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan dan tidak boleh ketinggalan. Selain karena fungsinya sebagai penghalau polusi, buff juga diklaim lebih ramah lingkungan dibanding masker sekali pakai yang biasa dibuang setelah tak layak pakai.

Harganya pun cukup terjangkau untuk ukuran barang yang bisa dipakai long last time, sekitar 30-60ribu di online shop yang banyak saya temui. Motifnya pun beragam dan ada yang bisa custom juga. Tinggal pilih aja kan.
beragam pilihan motif buff

Lain halnya dengan masker sekali pakai atau masker yang biasanya dipakai oleh dokter di rumah sakit. Harganya murah, sekitar seribu-1.500 tergantung dari ukurannya. Ada dua jenis masker jenis ini, yaitu yang menggunakan tali dan karet. Saya pribadi lebih suka yang tali karena lebih mudah dipakai saat mengenakan jilbab, jadi tinggal ikat saja di belakang kepala. Done.


Ada pula jenis masker yang berbahan kain, hampir sama dengan buff namun berbentuk masker. Kebanyakan menggunakan tali sebagai aplikator dan didesain dengan aneka bentuk yang menarik sehingga lebih bagus dan terkesan lucu saat dikenakan.


Untuk masker jenis yang terakhir dan buff atau bandana, sebenarnya sangat recommended untuk dipakai karena berbahan kain dan bisa dipakai berkali-kali sehingga ramah lingkungan. Namun bagi saya pribadi lebih nyaman mengenakan masker sekali pakai, meskipun kadang saya pakai berkali-kali :D. Satu-satunya alasan yang utama adalah karena saya tidak tahan pada aroma detergen atau sabun cuci yang sering melekat di kain tersebut. sedikit lebay, tapi inilah adanya hehe. Pernah suatu waktu saya mengakali dengan menyemprotkan minyak wangi ke benda tersebut, yang terjadi justru saya semakin tak berdaya menahan aroma harumnya. 

Well, orang dengan penyakit migrain lebih sensitif terhadap bau dibandingkan orang lain pada umumnya. Jadi, harap maklum. Bisa jadi kamu lebih nyaman dengan masker berbahan kain tersebut.


Nah, bagi kamu yang bingung mau pakai buff, masker berbahan kain atau masker sekali pakai, mungkin ulasan diatas bisa dijadikan bahan pertimbangan. Terimakasih sudah membaca.

Happy blogging
Share
Tweet
Pin
Share
18 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates