Saat pertama kali merasa jatuh cinta pada seseorang, rasanya gelisah berbunga-bunga. Gelisah jika lama tak bersua, dan berbunga-bunga meski hanya melihatnya balasan chat kita pada dia. Sebisa mungkin akan meluangkan waktu meski sekejap saja bertatap muka.
Aaah... Jika boleh, aku ingin merasakannya kembali. Menyenangkan dan menenangkan. Bukan berarti tak bersyukur dengan hubungan yang sedang aku jalani hingga sekarang ini. Tentu saja sangat menyenangkan. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur hingga saat ini. Mungkin benar jika Tuhan menentukan jodoh sesuai dengan kebutuhan, bukan kesenangan.
Setiap hubungan memiliki polanya masing-masing. Nggak akan ada hubungan yang bida sama sesuai teori yang ada. Pahit manisnya hanya si pelaku yang tahu kebenarannya.
Beberapa waktu yang lalu aku sempat ingin mengakhiri hubungan. Sebenarnya lucu juga jika diingat. Alasannya karena si doi jarang menghubungi padahal online di media sosial dan aku merasa diabaikan. Buah pikirannya makin nggak karuan, aku kepikiran dia punya yang lain dan chat sama yang lain itu.
Sama sekali tanpa dasar dan bikin ngakak kalau diingat.
Kenyataannya pada saat itu dia memang sedang bekerja di sebuah tempat baru yang aku belum tahu. Ya, karena aku sedang ada tugas dari kampus yang harus berjauhan. Nggak jauh-jauh amat sih sebenarnya, paling habis waktu satu jam untuk sampai ke tujuan.
Tapi, dari yang awalnya setiap minggu bertemu jadi nggak ketemu selama empat puluh hari adalah hal yang sangat menguras tenaga sekaligus pikiran. Merasa diabaikan, khawatir diduakan, takut kehilangan dan lain sebagainya. Sebenarnya ini lebay dan dibuat-buat, ya aku sendiri yang buat.
Pikiranku sendiri yang bikin lebay dong. Haha
Daaaan
Selepas aku pulang dari tugas kampus itu aku putusin buat investigasi dong. Seriusan mau memastikan apa yang terjadi pada dirinya hingga aku diabaikan begitu saja. Saat ada waktu bertemu, aku puas-puasin nanya dan kepo sekaligus jahilin dia. Aku buka smartphone dia (tentu dengan seijinnya) dan mencari-cari apa yang aku cari.
Apakah ketemu?
Ketemu dong, tapi nggak sesuai ekpektasi. Nggak ada bukti dia berpaling. Nggak ada bukti dia mendua. Isi chatnya biasa saja.
Bahkan, sekarang dia jadi lebih care. Buatku, dia jadi lebih hangat dan manja. Mentang-mentang tempat kerjanya dekat tempat tinggalku, maunya sering ketemu. Lebih sering chat meskipun nggak penting. Dan artinya lebih sering ribut karena salah ketik atau salah pilih diksi.
Menyebalkan tapi aku suka. Nggak mungkin juga kan bisa putus karena hal sesepele itu. So, I enjoy it. Menikmati drama-drama sok cemburu biar diperhatiin. Trust me, it works.
Tapi tergantung pasanganmu juga, sih. Balik lagi ke statemen diatas, setiap pasangan memiliki pola hubungannya masing-masing.
Fase jenuh dalam hubungan akan selalu ada. Kadang kita nggak tahu asalnya darimana. Tahu-tahu ada aja masalahnya. Wajar aja kok, dan nggak bisa dijadiin alasan buat mengakhiri hubungan sebelum tabayyun atau minta kejelasan.
Tapi nih ya, balik lagi ke statemen awal bahwa setiap pasangan memiliki pola hubungannya masing-masing.



