• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya



Saat pertama kali merasa jatuh cinta pada seseorang, rasanya gelisah berbunga-bunga. Gelisah jika lama tak bersua, dan berbunga-bunga meski hanya melihatnya balasan chat kita pada dia. Sebisa mungkin akan meluangkan waktu meski sekejap saja bertatap muka.

Aaah... Jika boleh, aku ingin merasakannya kembali. Menyenangkan dan menenangkan. Bukan berarti tak bersyukur dengan hubungan yang sedang aku jalani hingga sekarang ini. Tentu saja sangat menyenangkan. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur hingga saat ini. Mungkin benar jika Tuhan menentukan jodoh sesuai dengan kebutuhan, bukan kesenangan.

Setiap hubungan memiliki polanya masing-masing. Nggak akan ada hubungan yang bida sama sesuai teori yang ada. Pahit manisnya hanya si pelaku yang tahu kebenarannya.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat ingin mengakhiri hubungan. Sebenarnya lucu juga jika diingat. Alasannya karena si doi jarang menghubungi padahal online di media sosial dan aku merasa diabaikan. Buah pikirannya makin nggak karuan, aku kepikiran dia punya yang lain dan chat sama yang lain itu.

Sama sekali tanpa dasar dan bikin ngakak kalau diingat.

Kenyataannya pada saat itu dia memang sedang bekerja di sebuah tempat baru yang aku belum tahu. Ya, karena aku sedang ada tugas dari kampus yang harus berjauhan. Nggak jauh-jauh amat sih sebenarnya, paling habis waktu satu jam untuk sampai ke tujuan.

Tapi, dari yang awalnya setiap minggu bertemu jadi nggak ketemu selama empat puluh hari adalah hal yang sangat menguras tenaga sekaligus pikiran. Merasa diabaikan, khawatir diduakan, takut kehilangan dan lain sebagainya. Sebenarnya ini lebay dan dibuat-buat, ya aku sendiri yang buat.

Pikiranku sendiri yang bikin lebay dong. Haha

Daaaan
Selepas aku pulang dari tugas kampus itu aku putusin buat investigasi dong. Seriusan mau memastikan apa yang terjadi pada dirinya hingga aku diabaikan begitu saja. Saat ada waktu bertemu, aku puas-puasin nanya dan kepo sekaligus jahilin dia. Aku buka smartphone dia (tentu dengan seijinnya) dan mencari-cari apa yang aku cari.

Apakah ketemu?
Ketemu dong, tapi nggak sesuai ekpektasi. Nggak ada bukti dia berpaling. Nggak ada bukti dia mendua. Isi chatnya biasa saja.

Bahkan, sekarang dia jadi lebih care. Buatku, dia jadi lebih hangat dan manja. Mentang-mentang tempat kerjanya dekat tempat tinggalku, maunya sering ketemu. Lebih sering chat meskipun nggak penting. Dan artinya lebih sering ribut karena salah ketik atau salah pilih diksi.


Menyebalkan tapi aku suka. Nggak mungkin juga kan bisa putus karena hal sesepele itu. So, I enjoy it. Menikmati drama-drama sok cemburu biar diperhatiin. Trust me, it works.

Tapi tergantung pasanganmu juga, sih. Balik lagi ke statemen diatas, setiap pasangan memiliki pola hubungannya masing-masing.

Fase jenuh dalam hubungan akan selalu ada. Kadang kita nggak tahu asalnya darimana. Tahu-tahu ada aja masalahnya. Wajar aja kok, dan nggak bisa dijadiin alasan buat mengakhiri hubungan sebelum tabayyun atau minta kejelasan.

Tapi nih ya, balik lagi ke statemen awal bahwa setiap pasangan memiliki pola hubungannya masing-masing. 
Share
Tweet
Pin
Share
30 komentar

Tentang Pacaran - Pacaran atau nggak pacaran itu pilihan masing-masing, siapapun boleh pacaran asalkan dengan sesama single atau dengan pasangan sahnya yang masih ingin menyebut dirinya pacaran. Ih, kompleks banget ya penjelasanku.

Well, memang ribet karena aku juga dibikin pusing sama kenyataan di media sosial yang satu sisi bilang nggak boleh pacaran karena bla bla bla dan di sisi lain bilangnya pacaran aja biar kenal sama calon pasangan seumur hidupnya.

Apakah Aku Pro Pacaran?

Aku sendiri, jujur saja pernah ada di dua posisi tersebut. Entah itu jalan yang benar dan sekarang aku kembali tersesat atau sebaliknya, aku pernah tersesat lalu kembali ke jalan yang benar. Aku tak mau memikirkannya lebih jauh. Capek buuuk, mikir terus. Jalanin aja hidup seenak mungkin, hempaskan halu yang bertubi-tubi. :)

Oke, sampai disini sebut saja aku pelaku pacaran. Bukan berarti nggak mendukung yang anti pacaran tapi ini hak kalian sendiri untuk menentukan pilihan. Segala hal pasti ada resikonya, termasuk pacaran. Selama kalian yakin bisa menghadapi kenyataan dan segala resiko dalam proses pacaran artinya kamu boleh dan siap untuk pacaran.

Sebenarnya sih, pacaran itu hal yang kompleks untuk dibicarakan. Bahkan anak kecil yang cuma modal rasa suka terus nembak lalu diterima juga nyebutnya pacaran, kan?. Meskipun aku can't relate banget karena aku polos banget waktu kecil, sih. Nggak pernah punya pengalaman pacaran di usia dini. Tapi percaya aja lah karena aku lihat sendiri salah satu murid les yang mengaku sudah berpacaran padahal baru kelas 5, hmm. Juga beragam fakta di sosial media yang justru kerap jadi guyonan kaum dewasa.

Padahal nih ya, aku tuh cuma mau membahas tentang pacaran yang dijalankan dua insan di umur yang bisa dibilang matang. Tapi bisa aja kan artikelku ini dikaitkan dengan pola pacaran abg yang sedang merasakan cinta monyet. Semoga tetap bisa relate karena masih dalam satu topik, PACARAN.

It's ok, seenggaknya kalian sudah tahu maksudku.

Aku nggak akan menjelaskan tentang definisi pacaran karena pasti akan lebih kompleks lagi.

Btw, ini tulisan atau perumahan kok banyak kompleksnya dari tadi???

Pola pacaran setiap pasangan selalu berbeda satu sama lain. Nggak bisa dipukul rata. Karena setiap orang punya karakternya masing-masing dan tentu saja berpengaruh pada pola hubungannya. Pola hubungan juga dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing pasangan, usia hingga tujuan yang berbeda-beda. Beda pasangan, beda cara mengungkapkan perasaan, beda cara nge-treat pasangan dan tentu saja beda cara pandang terhadap hubungan.

Namun beberapa poin ini mungkin bisa dijadikan landasan hukum ketika memutuskan untuk berpacaran.  Jika dirasa nggak bisa memenuhi, please.. mendingan kamu jomblo aja. Semuanya based on my story, sebisa mungkin nggak mau dibuat-buat karena ini blog personal, ehe~.

Komitmen

Memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis artinya siap menerima banyak hal baru. Menerima dan menjalankan segala yang ada di depan mata dengan lapang dada.

Pacaran artinya siap menjalankan komitmen yang telah dibuat bersama. Baik langsung maupun tidak langsung. Yang tujuan utamanya tentu demi keberlangsungan hubungan dalam jangka panjang dan dalam kebahagiaan yang mendalam.

Siapapun dan dari latar belakang apapun pasangan, cintailah dia sepenuhnya. Bukan karena apapun yang ada di belakangnya. Dan tanamkan pada diri bahwa hal itu sebenarnya nggak penting sama sekali. Anggap saja bonus dari betapa tulusnya cintamu selama ini. Dan tak ada alasan untuk memilih tempat lain untuk melabuhkan pandanganmu pada yang lain hanya karena keadaanya yang nggak sama dengan yang sedang kamu suka.

Jika sudah yakin dengan pasangan, komitmen bukan hal yang sulit, kok. Tapi lagi-lagi ini tentang sifat bawaan juga, sih. Well, nggak semua orang punya skill setia sekuat baja. Lhah, baja aja kalo sering ditempa bakalan bengkok juga kan ya....?!

Komitmen itu intinya melaksanakan janji yang telah dibuat dengan pasangan maupun diri sendiri ketika memulai sebuah hubungan. Yang pasti, pasangan yang dimaksud disini hanya 1 laki-laki dan 1 perempuan, nggak ada yang lain.

Aku sendiri agak insecure sih sama Mas A, hmm... mungkin demikian juga dengan Mas A padaku. Wajar saja karena kita nggak setiap hari bertemu dan kemungkinan dia bertemu orang lain jauh lebih banyak. Aku sendiri benci pada perasaan ini karena aku pernah percaya banget sama mas A. Dan hanya karena aku pernah lihat chat dia dengan perempuan lain, sejak saat itu aku jadi mulai insecure. Ih, sebel. Padahal maunya secure-secure aja, kalem, santai, woles. Tapi pikiran parno muncul terus dan datang seenaknya. Bikin hidup nggak tenang dan pengen makan orang. Oh, ternyata posesifku separah itu.

Jika sudah seperti ini, waktunya mengeluarkan amunisi kedua.

Komunikasi

Dalam setiap hubungan, baik formal maupun non formal, penting atau nggak penting, komunikasi harus selalu dipentingkan, lho. Apapun bentuk komunikasinya, usahakan agar semua pihak tahu apa yang diinginkan pihak lain.

Nggak harus setiap waktu juga untuk berkabar, tapi usahakan untuk tidak kehilangan kabar dari pasangan. Minimal sekali dalam satu hari, usahakan ada komunikasi dengan pasangan.

Untuk hubungan dalam ranah usia muda, mungkin banyak ditemui jawaban 'jalani saja dulu, kalau cocok ya lanjut kalau nggak ya gimana lagi?'. Ambigu, percuma menjalin komunikasi sebagus apapun tapi tujuannya nggak jelas. Kasian waktumu terbuang percuma, Gais. Saranku, lebih baik menjomblo saja daripada harus merasakan sakitnya patah hati terencana.

Untuk hal yang lebih serius, komunikasi dengan pasangan tentang tujuan hubungan ke depan, apakah akan sekedar getting happy atau akan bermuara pada jenjang pernikahan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Meskipun 90% akan mendapatkan jawaban 'yes' untuk pertanyaan 'will you marry me?', tapi tetap banyak juga yang masih belum siap dan mendapatkan jawaban tragis. Saranku, sebelum melamar dengan gaya seperti itu sebaiknya dikomunikasikan saja dulu. Berdua. Biarkan dunia tahu setelahnya saat semua sudah tiba pada waktunya.

Setiap pasangan tentu memiliki pola komunikasi yang berbeda. Hal ini tergantung pada sifat dan watak kedua belah pihak. Dan tentunya sesuai kesepakatan bersama.

Komunikasi yang dibangun dengan baik akan membuat hubungan terasa jelas dan terarah. Meskipun kadang terlihat nggak penting seperti menanyakan kabar, keadaan, kegiatan maupun hal lainnya yang terlihat menjemukan, tapi bagi sebagian orang hal itu terbilang penting, lho. Apalagi untuk pasangan yang lagi hangat-hangatnya. Ya nggak sih?

Realistis


Cinta kadang membuat siapapun berfikir tak realistis, cenderung mengada-ada dan aneh. Seaneh mau mau aja diatur pasangan yang baru kenal beberapa bulan. Padahal selama ini kamu hidup dengan dirimu sendiri dan so far, sangat baik-baik saja.

Seaneh tiba-tiba mau membelikan make up pacarnya, mengantarkannya kemanapun tujuannya serta berbagai hal absurd lainnya. Bahkan kadang ada yang mengalahkan egonya demi kesenangan pasangannya. Sempat sweet di masanya.

Tapi akan ada waktunya hal-hal seperti itu rasanya

Uuh, sweet memang. Tetapi apakah tidak terlalu berlebihan dalam memberikan segala waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk orang lain yang ((iya sih kita sayang)) bukan siapa-siapa.

Menjadi Diri Sendiri

Sampai poin ke empat ini sebenarnya sudah cukup bingung apa yang akan ditulis. Karena saking banyaknya yang sudah aku tulis diatas.  Hehehe

Selain itu, karena poin ini juga sudah tercakup dalam poin-poin sebelumnya. Pada intinya, pacaran hanyalah satu step hubungan untuk saling mengenal lebih dalam tentang pasangan. Pola, jenis, bentuk dan karakter hubungan selalu berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lain.

Karena masih bersifat penjajakan, sebaiknya tak perlu larut terlalu dalam. Tetaplah menjadi diri sendiri dan tetap mencintai diri sendiri. Tak perlu menyediakan segala kelebihanmu demi menyenangkan pasangan.

Jadilah pasangan yang menyenangkan, tak perlu jadi seperti yang diinginkan. Ini cinta, bukan trik sulap.

Sekian, happy blogging. 


Share
Tweet
Pin
Share
61 komentar


Hai... Aku Ulya!

Kegiatan harian memang mengasikkan, apalagi jika dibayar dan sesuai dengan passion yang memang diimpikan. Setiap orang tentu memiliki aktivitas yang berbeda, bukan?. Meskipun judul profesinya sama, tentu yang dilakukan akan berbeda masing-masing orang. Adapun orang lain hanya punya mata dan mulut yang bisa digunakan untuk mengamati dan mengomentari, bahkan kadang nyinyir.

Kita sendiri sebagai pelaku cukup menjalankan kegiatan kita saja. Usahakan dilakukan dengan ikhlas, sabar dan tawakkal meskipun banyak aral melintang.

Seperti halnya aku yang setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengutak-atik sosial media sambil menunggu kedatangan peri-peri kecil yang kadang jadi moodboster dan inspirasi tersendiri. Tak bisa dibilang nganggur, apalagi sibuk. Karena memang semua kegiatan aku lakukan dari dalam rumah. Bahkan banyak pula yang meragukan jika aku bekerja karena memang sering selo dan paling bisa diajak meet up dan jalan kemana aja.

Mulai Suntuk

Meskipun sesuai passion, kegiatan yang monoton tentu akan menyebabkan kebosanan. Bosan yang masih dalam taraf ringan mungkin masih bisa diredam dengan bermain game, bermain bersama anak-anak atau berwisata ke negeri sosial media. Bosan yang menumpuk dan beranak pinak pun kadang jadi sebab pekerjaan tak selesai dengan baik, keprofesional-an menurun dan akibatnya rejeki seakan menyempit padahal memang kerja kita yang kurang bagus.

Nah, bosan yang menumpuk seperti ini biasanya berujung suntuk. Aku nyerah deh kalo udah suntuk, biasanya ada aja masalah eksternal yang ikut nimbrung dan bikin tambah runyam. Pasrah, dan lari keluar rumah. Seperti yang aku alami minggu lalu. Awal bulan yang entah kenapa jadi suntuk karena beberapa minggu (baca : weekend ) lebih banyak di dalam rumah. Beberapa hari kerja sempat keluar sih, tapi kan judulnya ada kepentingan, bukan jalan-jalan!

Ritual Melepas Suntuk Ala Aku

Karena weekend lalu aku harus pulang ke rumah, padahal lagi pengen pengennya jalan-jalan. Seingatku, tiga minggu yang lalu aku keluar bersama seorang teman. Itupun sebentar dan banyak makannya, huhu. Akhirnya aku bela-belain minta diajak jalan-jalan sama doi. setelah negosiasi panjang lebar sampai bela-belain bangun pagi dan nelponin dia biar segera bangun juga, akhirnya kita punya waktu buat keluar setelah sekian lama ((SEKIAN LAMA)). 

Kami berdua pergi jalan-jalan tak leih dari 2 jam. Itupun ditambah mampir ke kantor BPJS Ketenagakerjaan dan sarapan. Jadi kurang lebih waktu yang digunakan untuk jalan-jalan setelah terima bersih adalah hanya 1 jam. Apa saja yang kami lakukan dengan waktu sesingkat itu?

Ke Pantai!

Ya, Pantai adalah salah satu tempat favoritku. Tak banyak yang kami lakukan disana, bahkan memegang airnya pun tidak sama sekali. Bahkan dia tak turun dari motor. Ha? Kok bisa?
Melepas suntuk semudah melakukan hal yang aku inginkan. Bahasa simpelnya adalah selama keinginanku terturuti aku akan bahagia. Simpel kan? Masih mau bilang kalo cewek sulit dimengerti? Haha.

Sesampainya di pantai aku hanya duduk di tempat duduk yang paling dekat dengan pantai, diam, memandang sekitar. Mengambil beberapa foto sekitar kemudian pindah lokasi. Mengulangi hal yang sama kembali. Dengan sedikit bumbu obrolan hangat yang tak lebih dari 10 menit tentang keadaan di daerah pesisir sedikit menambah wawasan baru dan yang terpenting menambah intensitas komunikasi hingga jadi lebih baik.

Kami pulang sekira pukul 9:30 karena hendak mampir ke Kantor BPJS Ketenagakerjaan dan warung makan untuk sarapan. Selain itu juga karena jam 10:15 biasanya sudah ada peri-peri keci yang datang untuk belajar. Setelah satu persatu terlewati, kami pun pulang kerumah bertepatan dengan datangnya salah satu murid luar biasa yang selalu datang setiap hari bersama sang ibu. Sunguh waktu yang tepat dan meyenangkan hari itu. 

Terimakasih sudah menjadi partner yang hebat, mengerti aku dan kebutuhanku (lebih tepatnya keinginan sih).

Alhamdulillah, begini enaknya tinggal di kota dengan banyak pilihan pantai yang bisa dikunjungi. KAlo kamu, suntuknya dibuang kemana nih? Share yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
27 komentar


Pacaran itu gak ada dalam buku manapun, kecuali novel fiksi atau novel non fiksi yang berawal dari novel fiksi yang dibaca sebelumnya. Maksudku gaya pacaran real yang diadaptasi dari bacaan fiksi gitu lhoh. Ribet yaa...

Iya. Ribet. Sama dengan pacaran itu sendiri. Apalagi untuk yang belum benar-benar siap menjalin hubungan dengan orang lain yang belum dikenal atau sudah dikenal namun dengan kedekatan yang berbeda. Menurutku, ini hanya tentang status sosial di zaman yang sudah sangat lazim menghina jomblo. Atau alibi pemenuhan perhatian dan kasih sayang yang seperti mereka bayangkan selama ini.

Sebenarnya, daripada bahas pacaran mendingan bahas nikah. Lebih jelas dan terarah. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur ingin membahasnya.

Pada masa awal, pacaran akan terasa indah. Selalu berkabar, rajin nanyain pasangan, telponan tiap hari sampe kuping panas. Ya begitulah, namanya juga masih seger-segernya. Makin lama, karena kebanyakan yang pacaran adalah anak muda yang masih labil, makin berkurang deh keseruan di awal masa pacaran.

Apalagi kalo nggak ada tujuan serius sampai ke jenjang menikah, atau salah satu dari mereka adalah player, ya sudah pasti terbaca endingnya.

Para pelaku pacaran bukannya tidak tahu akibat dan resiko berpacaran, tapi ya lagi-lagi ini tentang status sosial. Akan terlihat wah jika mereka berpacaran, setidaknya ada nama yang bisa ditambahkan di bio sosial media dengan bubuhan emotikon love 😂.

Gaya pacaran anak muda lebih menjurus ke hal-hal yang have fun ala anak muda. Jalan bareng, makan bareng, belanja bareng dan lain-lain yang cenderung konsumtif. Padahal kebanyakan dari mereka belum produktif menghasilkan uang sendiri. Anehnya, mereka selalu bisa meluangkan waktu dan uangnya untuk hal itu.

Gaya pacaran anak muda tuh gak jauh beda, rata-rata hampir sama dengan pola yang juga sama.
➡KENALAN-PDKT-JADIAN-TAUBELANGNYA-MARAHAN-PUTUS
➡LIAT AVA CANTIK - DI DM - DAPAT KONTAKNYA - DIPUJI-PUJI KECANTIKANNYA (PADAHAL BIASA AJA) - PDKT - MAKIN DIPEPET - JADIAN DI HP - KETEMUAN - TERNYATA GAK SESUAI FOTO AVA - PUTUS
➡DIKENALIN TEMEN - PDKT - NEMBAK - JADIAN - DIMAKAN TEMEN - PUTUS

Masih banyak lagi teorinya sih, tapi gak mau nulis semua. Nanti aku dikira pakar dunia percintaan, eh dunia pacaran. Aku disini bedain pacaran sama percintaan ya Gais... Karena menurutku emang beda, beda banget. Pacaran, bahkan menikah ga musti pake cinta. Dan cinta pun ga musti berakhir dengan pacaran atau meniqah.

Jangan Pacaran, BERAT!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates