• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Tahun 2020 menjadi tahun yang cukup mengesankan. Emm,,  sepertinya bukan hanya cukup, tapi sangat mengesankan. Banyak hal yang aku pikir mustahil terjadi, ternyata terjadi di waktu yang tak disangka sama sekali. Ada juga hal yang aku pikir tidak akan aku dapatkan dalam waktu dekat, ternyata wow..  amazing parah. 

Begitulah, Tuhan maha baik kepada setiap makhluknya. Banyak sekali ucap syukur yang aku elukan tahun ini. Bukan berarti tahun sebelumnya Tuhan tidak baik padaku, tapi kesadaranku atas nikmat Tuhan serasa tumbuh lebat tahun ini. 

Namun sayangnya, blog ini kosong selama lebih dari satu tahun. Sedih banget rasanya, banyak hal terjadi namun tak ada dokumentasi baik gambar maupun tulisan. Padahal nih ya, awal mula aku ngeblog tujuannya untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari agar suatu saat bisa dikenang tanpa harus repot bercerita kembali sampai mulut berbusa. 

Kesibukan yang membuat badan bergerak banyak, otak terlalu banyak berpikir dan waktu yang terasa berlalu sangat cepat. Ketiga hal tersebutlah yang selama ini menjadi alasan untuk menunda menulis. Padahal gaya tulisanku nggak kaku-kaku banget, santai dan tidak terpaku pada EYD. Tapi ya gitu, masih aja beralasan. 

Tulisan ini memang sedikit menghakimi diriku sebagai owner sekaligus author satu-satunya di blog ini. Aku yang dulu katanya suka menulis, ujung-ujungnya menyerah dengan alasan klasik; sibuk. 

Ataukah sebenarnya aku tidak suka menulis? Hm... Perlu diselidiki lebih lanjut nih. 

Sebagai ritual penebusan dosa, mungkin aku akan kembali menulis terhitung sejak tulisan ini dipublish. Kembali aktif mengomel, curhat, mengulas atau bahkan berkomentar tentang topik tertentu. 

Ah,  sepertinya hanya bualan. Masih kemungkinan. Sepertinya tidak begitu ikhlas. 

Akupun sebenarnya masih ragu, tapi apapun itu, aku akan mencobanya sebisaku. Mungkin dimulai dengan menulis hal-hal yang sempat terlewat satu tahun belakangan, menulis resep temuan terbaru yang endul atau mengulas tentang para youtuber yang sering aku tonton. 

Sepertinya cukup sekian dulu. Mohon maaf jika terkesan seperti menghakimi diri sendiri, tapi jika tak begini, bisa-bisa aku lupa caranya menulis lagi. Terimakasih sudah berkunjung. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Waktu terus berlalu, tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Tak tahu kenapa, rasanya lagu ini mewakili perasaanku saat ini. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, tahu-tahu sudah ada di penghujung batas semester. 365x banyak tahun yang sangat mengesankan. Sayangnya banyak momen yang terlewat karena tak didokumentasikan. Duh, sayang sekali ya.
Lama nggak ngeblog rasanya pikiran blank, nggak punya gairah menulis. Mood jelek banget tiap berhadapan dengan ide. Rasanya ingin menulis tapi bingung mau memulai darimana. Well, maafkan jika tulisan kali ini acakadut.

Sebenarnya kali ini aku mau membahas tentang Quarter Life Crisis, fase hidup paling wow yang pernah aku alami. Wow banget sampai aku sempat berujar, "gapapa lah kejadian sekarang pas masih muda dan belum menikah, setidaknya bebanku nggak berat-berat banget.

Tapi rasanya tulisan ini akan panjang dan terbagi menjadi berberapa part. 

Fase Pause dalam hidup

Sebagai manusia yang tak lagi bisa dikatakan remaja, menghadapi tanggung jawab rasanya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi buatku yang belajar tanggung jawab secara otodidak dan nyaris tanpa dampingan. Bagiku, what people around me said, nggak menggambarkan diri mereka yang sebenarnya nggak lebih baik daripada aku. So,  apa yang membuatku harus percaya pada ucapan mereka? 

Time flies, dan aku akhirnya lebih percaya pada ucapan orang-orang yang menurutku lebih layak digugu lan ditiru. Bukan teman, bukan saudara, tapi ucapannya relate untuk kehidupanku. Dan setidaknya aku tak tahu apakah dia hanya omdo atau benar-benar menerapkannya dalam hidup. I don't care, yang penting aku hanya mencari bagian positif dari orang-orang tersebut.

Semakin kesini rasanya semakin mudah bertemu dengan banyak orang. Relasi pertemanan menjadi salah satu modal utama. Hubungan dengan keluarga menjadi hal sekunder yang nggak penting-penting amat. Waktu itu, belum terbersit untuk mengiyakan ungkapan "Keluarga adalah segalanya". Jahat ya, hehe... tapi ya memang begitu adanya. Tapi percayalah, ini bukan akhir. Ini hanya proses menuju pendewasaan dan pemicu kesadaran menjadi manusia yang seutuhnya ; makhluk sosial.

Setelah melewati fase enak-enak dengan banyak hal yang aku inginkan, akupun jenuh. Ya, jenuh sejenuh jenuhnya. Rasanya ingin berubah haluan tapi tak tahu harus bagaimana. Mendadak banyak masalah muncul, entah darimana asalnya yang pasti mereka ini mainnya keroyokan. Gak sportif banget. Kalau diingat lagi rasanya seperti jadi gula yang diperebutkan banyak semut. Gatal.

Dari sini, tanpa aku sadari ternyata banyak sekali kegiatanku yang terhenti sejenak sebelum waktunya selesai. Beberapa aku lakukan secara sengaja, dan selebihnya terjadi karena tragedi. Nih ya aku kasih uraiannya di bawah:


1.  Kuliah molor sampai 14 semester. 

Awalnya aku pikir biasa aja. Tak ada yang perlu disesali, dan memang aku nggak menyesal. kenapa?

Ya karena di waktu yang molor ini bukan berarti aku nggak dapat apa-apa. Banyak hal positif yang aku dapatkan. Lebih banyaknya berupa pengalaman sih, jadi ya wajar kalau orang lain melihatnya gitu-gitu aja. Padahal diri ini banyak upgrade-nya. 

Waktu terus berjalan, proses belajar pun masih berlanjut tapi dunia pendidikan formal terhenti sekian tahun. Meskipun pada akhirnya berjalan normal kembali dan lancar hingga akhir, fase ini cukup bikin deg-degan sih. tekanan dari berbagai pihak tanpa memberi solusi membuatku terpojok tapi perlahan bisa berdiri tegap lagi. Semoga lancar hingga waktunya wisuda bulan depan. 

2. Patah hati. 

Fase ini cukup wkwk sih. Iya, wkwk kalau diingat lagi, tapi sedihnya ga ketulungan waktu lagi ngerasain fase itu. Rasanya seperti nggak ada gunanya lagi hidupku ini. Ingin pergi ke ujung dunia lalu menghilang agar tak ada lagi rasa penyesalan yang berkepanjangan. Haduh, ini kalo diterusin bisa gila nih. Malu banget. 

Anyway, fase patah hati sebenarnya perlu banget. Ya memang rasanya ngilu, tapi efeknya bagus untuk pendewasaan diri. Tentu saja dengan catatan asupan energi positif harus selalu terpenuhi. Tidak harus keluar rumah, bisa kok lakukan hal-hal positif dari rumah. Kalo aku dulu suka nonton drakor, baca-baca wattpad atau nontonin video random di youtube.

Di fase ini, hidupku sempat terhenti sejenak. Memang aneh sih, gegara patah hati aja bisa sampe nge-pause-in hidup orang. Kurang lebih sebulan aku terkungkung di kehidupan yang toxic ini. Sampai akhirnya aku bisa keluar dengan tenang. Next aku akan ceritain gimana aku keluar dari goa gelap ini.


3. Bokek

Ya, bokek sebokek-bokeknya. Nggak ada uang, Nggak ada semangat hidup, ga ada teman berbagi. Yang ada cuma angan-angan tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu. 

Menyesal sekali kenapa aku nggak nabung, menyesal kenapa nggak punya simpanan daa lain sebagainya. Tapi dari sini mulai bisa berpikir logis untuk masa depan yang lebih baik. Emang bener ya, pengalaman itu guru terbaik.

Nah, di fase bokek ini juga hidupku rasanya berhenti. Nggak bisa kemana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain. Fix, pause lumayan lama. Tapi waktu akhirnya menjawab segalanya dengan sangat bijak. Semua masalah teratasi di waktu yang tepat.

Waktunya Play Lagi!

Begitulah hidup, tak ada yang benar-benar sempurna. Sesempurna apapun penampakannya, pasti ada sisi buruknya. Setiap orang pasti punya sisi kelemahan masing-masing, tergantung orangnya saja, mau memilih menampakkan atau menyembunyikan saja. Yang pasti keduanya punya konsekuensi masing-masing.

Dari ketiga hal yang membuat hidupku berhenti sejenak di atas, kini semuanya sudah berjalan normal kembali. Efek dari hal tersebut tentunya banyak sekali, mulai dari stress sampai badan kurus kering hehe.

Apapun itu, kini hidup sudah kembali normal dan masih banyak ide yang harus dieksekusi, masih ada laporan yang harus dikerjakan, dan masih banyak cinta yang harus di sebarluaskan.

Teruntuk kalian yang sedang mengalami fase pause dalam hidup, never give up!, hidup akan berjalan dengan baik lagi seperti sedia kala. Cukup sabar saja dan rasakan berkah Tuhan ada dimana-mana.
Terimakasih sudah membaca. Tunggu tulisan lanjutannya ya.




Share
Tweet
Pin
Share
19 komentar

Sejak kecil sampai umur 19, aku terkungkung oleh lingkungan yang monoton. Sumpek tapi tak berani bergerak. Takut pecah, takut jatuh, takut mbrojol. Halah.

Satu-satunya solusi, KELUAR!!!

Waktu berlalu, aku masih keluar meski tetap masuk juga. Bolak balik. Bertemu banyak orang yang tak dikenal. Nggak berharap bisa kenal, mengenali dan dikenali. Bertemu orang lain adalah anugerah. Sesiumpel itu.

Sampai akhirnya bertemu dengan orang-orang asing dengan beragam bentuk dan rupa. Mengenal dan dikenal oleh mereka, seperti masuk ke dunia baru. Meskipun tak bisa sepenuhnya ikut arus yang mereka bawa, aku beranikan diri untuk tetap aktif dan stay cool di hadapan mereka.

Di balik itu semua, kadang aku berpikir apakah aku bisa seperti ini untuk waktu yang lama. Karena pikirku, mau tak mau, aku harus merelakan ini semua suatu saat nanti. Saat waktunya tiba. Aku akan menjadi a good wife for my husband, a good mother for my kids. I wanna always be there, next to them.

Aku sempat menikmati hidup sebagai bagian dari beberapa komunitas. Waktu yang tepat membuatku berada dalam situasi yang tepat. Tapi, time flies, aku nggak selamanya ada disana. Lambat laun aku harus memutuskan untuk fokus pada hal-hal yang harus aku fokuskan. Aku harus mencapai beberapa goals yang sempat aku lewatkan.

Terlalu banyak hal baik yang aku dapatkan dari berkomunitas. Hampir semuanya nggak aku dapatkan di rumah, di kampus dan di media sosial. There are too many things make me so excited, begitu banyak jenis manusia di dunia ini. Dan untuk menghadapinya, diam adalah sikap tak terpuji yang harus dihindari.

Aku Tereliminasi

Seleksi alam, mereka menyebutnya demikian. Ya, aku setuju. Alamlah yang mengatur segala pergerakan. Satu persatu hal menjadi berubah, tak seperti dulu. Karena satu dan lain hal, komunitas menjadi orientasi yang berbeda dari yang seharusnya. Semakin kompleks.

Wajar, wajar sekali. Roda hidup yang berputar membuat siapapun harus menyadari bahwa tugas kita tak hanya satu. Masih banyak lagi dan akan terus bertambah lagi. Membuat orang-orang bersemangat maju dan berkembang. Sayangnya, manusia hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya. Ketika maju, pasti ada yang tercecer.

Kali ini skala prioritas yang berbicara, mana yang lebih penting dan lebih menguntungkan tentu akan jadi pilihan. Belum lagi soal waktu dan kesehatan, tak semua orang mendapatkan jatah enak.

Jika Boleh

Aku ingin kembali menjadi aku seperti tiga tahun lalu. Aku yang punya banyak waktu dan bersua dengan siapapun yang aku mau. Bertemu banyak orang dengan ambisi dan niat baik yang menggebu.

Baiqlaah, waktu berkata tidak dan keadaan sudah ada di posisi terbaiknya. Akan kunikmati posisiku sekarang dengan sebaik-baiknya. Well, kalau kamu masih punya kesempatan dan hatimu berkata 'ingin lakukan', lakukan!.

Karena waktu dan kesempatan belum tentu terulang. Karena tak semuanya bisa sepertimu.

Berkomunitas itu menyenangkan. Ayo keluar!, jangan berdiam saja di kamar.

Sekian
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hidup ini tak pernah lepas dari segala masalah. Entah kecil atau besar selalu saja ada masalah. Aku lupa kapan pertama kali menghadapi masalah, dan kapan terakhir kali aku keluar dari masalah. Masalahnya, aku sendiri kadang alpa tentang apakah aku sudah keluar dari masalah atau justru membuat lubang masalah yang baru.

Saking akrabnya dengan masalah, aku jadi semakin congkak dan merasa sangat mampu keluar dari sebuah masalah. "Ini semua hanya tentang waktu", ucapku berkali-kali pada diriku sendiri setiap kali merasa tak berdamai dengan masalah. 

Toh  menurutku segala yang terjadi adalah bagian dari rantai kehidupan. Satu hal terjadi karena hal lain telah terjadi, begitu terus berulang-ulang. Saling tumpang tindih seperti kartu domino yang jatuh setelah kartu sebelumnya mengenainya. Lambat laun akupun tak menganggapnya sebagai masalah, tapi sebagai teman akrab yang mengajarkan banyak hal baru. I love it. 


Membahas masalah, tentu cocoknya membahas kegagalan. Biasanya masalah menimbulkan kegagalan. Masalahnya beragam dan bentuk kegagalannyapun beragam. Kalian tahu sendiri lah ya, sebagai makhluk hidup yang normal pasti pernah mengalami dua hal ini. 

Sebenarnya tak mau membahas tentang kegagalan terlalu dalam karena aku sendiri sudah tak percaya dengan konsep kegagalan. Why?, karena "kegagalan adalan keberhasilan yang tertunda". Anjay banget nggak sih jawabanku, klasik. 

Awal ke-nggak percayaanku pada konsep kegagalan adalah setelah aku merenung dan menyadari bahwa semua yang terjadi saat ini selalu berhubungan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, it is true. Yaaaa, meskipun kadang harus melewati beberapa fase kegagalan dulu. 

Salah satunya adalah saat dimana aku sadar bahwa di usia sekarang, aku baru tahu bahwa ilmu parenting itu ada. Bahwa jadi orang tua ada ilmunya, meskipun nggak ada sekolahnya. Aaaak, aku kudet banget dong, ya ampun. 

Di fase ini aku sadar kenapa sampai saat ini aku belum diijinkan menikah. Mungkin aku dikasih jalan dulu buat belajar tentang ilmu ini sebelum praktek. 

Dan aku jadi ingat kejadian saat aku hendak menikah tapi nggak jadi. Horror tapi pengen ngakak sih kalo ingat ini. Bisa bayangin nggak sih gimana aku yang waktu itu masih 18 tahun, baru tahu cinta doang terus mau nikah. Mau kuapain anakku nanti. Hiks. 

Sejak kapan aku sadar? 

Baru aja kok, baru aja kemaren. Pas lagi down banget dan tiba-tiba ke flashback gitu aja. Bahkan sampai bikin kepala pusing dan nggak enak badan. Sumpah aku mendingan sakit badan daripada sakit pikiran. Menyiksa. 

Waktu itu kepalaku serasa nggak berhenti berpikir dan selalu kepikiran hal-hal yang bikin aku sampai di titik ini sekarang. Sampai akhirnya aku bisa tenang dan bisa berpikir jernih kembali dan menyimpulkan bahwa aku sebenarnya nggak pernah gagal. Aku hanya ditempatkan di tempat yang nggak aku inginkan oleh Tuhan untuk sebuah tujuan yang Beliau rahasiakan. 

Sekian. 






Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar


Bulan ini aku kembali disibukkan dengan urusan akademik yang sudah sekian lama aku tinggalkan. Em, maksudku aku hentikan sejenak. Banyak hal yang aku lakukan selama tidak mengikuti kegiatan akademik. Dari bekerja dengan orang lain hingga mencoba peruntungan di dunia bisnis.

Meskipun bukan hal yang baru lagi untukku, tapi kegiatan bisnis memang selalu memusingkan. Apalagi di proses mengawali. Seakan memulai hidup baru yang harus sangat tertatih-tatih dan penuh ketabahan. Tapi tentu saja bisa dibaca keberhasilannya jika ditekuni dengan kesungguhan. Ironisnya, aku sering berhenti di tahap tertatih-tatih dan tak sabar menunggu hingga waktunya bangkit tiba. Sedih sekali jika mengingat masa-masa itu.

Dan saat ini, meskipun sedang vakum berpromosi secara langsung. Aku sedang menyiapkan amunisi sekuat mungkin untuk melanjutkan usaha yang telah aku rintis sejak tiga tahun lalu. Sempat berhenti lalu lanjut kembali, berhenti lagi dan berlanjut lagi. Hal biasa bagi pengusaha yang sering disebut dengan pasang surut.

Sebagai pelaku, kadang aku tak menyadari tentang teori pasang surut ini. Baru sadar kemudian setelah yang surut telah pasang kembali. Bahkan tak jarang aku menyalahkan diri sendiri saat sedang jatuh dan terpuruk dan menganggap apa yang terjadi adalah akibat dosa besarku selama ini. Drama banget aku tuuuh.

Entah sudah berapa jenis usaha yang pernah aku coba geluti. Ya, aku coba menggeluti tapi kadang usahanya yang nggak mau bergelut denganku. Aku merasa diPHP oleh keinginanku sendiri. Betapa sedihnya aku mengingat kejadian-kejadian memilukan tersebut. Seakan ada saja hal-hal yang tak mengenakkan yang membuat aku berhenti melanjutkan usaha.


Kalian pasti kepo kan, apa saja usaha yang pernah aku geluti hingga jadi selebay itu?!


Sebagai makhluk online, aku cenderung lebih banyak memulai usaha melalui online. Beberapa kali membuka usaha, hampir semuanya aku mulai secara online. Beberapa kali aku diinterogasi beberapa teman dan mereka cenderung tak percaya dan mengabaikan pernyataanku. Nyatanya, memulai usaha secara online di era digital seperti ini bukanlah hal yang tabu dan sulit untuk dilakukan.
Semudah seperti menulis status dan membalas pesan singkat. Ya, semudah itu. Apalagi bisa memberi nilai ekonomis. Menggiurkan, bukan?

Salah satu usaha yang aku geluti sejak 2015 yaitu usaha Kain Tenun Khas Troso, Jepara. Awalnya aku masih meraba-raba sistem kerja bisnis online yang kebetulan saat itu sedang aku gandrungi. Bermodal keberanian dan kenalan beberapa teman, aku memulai dengan tanpa modal uang sepeserpun. Dalam waktu tiga bulan aku berhasil melayani beberapa pembelian, salah satunya dikirim ke Bali dengan omzet mencapai lima juta per bulan.

Setelah itu, karena satu dan lain hal, aku memutuskan berhenti dan kembali fokus kuliah. Ternyata jalan menuju wisuda tak semulus paha kita masing-masing. Ada saja tanjakan dan turunan serta polisi tidur yang menghalangi. Harus ekstra hati-hati dan siapkan mental tambahan.

Dua tahun berlalu, aku kembali dipertemukan dengan jalan usaha yang sama. Tetap bergelut dengan kain tenun khas Jepara. Kali ini aku kembali mendapatkan banyak kenalan. Alhamdulillah, silaturrahim selalu membawa rejeki berlimpah. Aku banyak belajar dari mereka, baik secara langsung maupun tidak. Baik secara personal maupun kelompok. Dalam waktu dua bulan, aku lebih banyak belajar dari rumah, mengamati pergolakan media pemasaran yang digunakan para pendahulu yang telah menggapai kesuksesan.

Sambil belajar, aku kembali memantapkan diri untuk bergelut dengan usaha Kain Tenun Khas Troso melalui instagram. dengan modal bismillah dan doa restu orang tua, usahaku tak sia-sia, aku mendapatkan pembeli pertama di minggu kedua setelah akun online shopku aktif. Betapa senangnya kala itu, hehe.

Waktu berjalan dan aku semakin gigih berjuang, Alhamdulillah di bulan ke empat aku bisa menjadi eksportir kain tenun ke Kanada. Waah, senangnya lagi. Semakin bersemangat dan merasa yakin bahwa ini adalah duniaku. Haha, pedenya aku.

Saat ini, aku sedang merencanakan membuat website untuk meningkatkan penjualan agar lebih baik dan semoga bisa berkembang lebih pesat seperti sebelumnya. Syukur-syukur bisa membantu lebih banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan. Ini merupakan salah satu resolusi Bisnis di tahun 2019 yang aku miliki.

Hingga saat ini, aku semakin keenakan dengan usaha online bahkan tak terpikir membuka usaha secara offline karena waktu dan tempat yang terbatas. Lagipula, zaman sekarang seakan sudah disedikan lahan usaha yang siapapun bisa memulainya darimana saja, dunia online. Sejujurnya memang lebih mudah untuk membuka usaha di era digital ini dengan segala kelebihannya.

 Yuk, berwirausaha. Happy blogging. J

Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar


Berhubungan dengan banyak orang artinya siap menerima semua keadaan. Sangat kompleks, bahkan terlalu kompleks. Ya, karena rasanya akan sangat keterlaluan jika belum terbiasa. Terasa seperti duri yang menancap secara sengaja. Sengaja karena keputusan untuk berbaur dengan banyak orang adalah dari kita.

Aku sendiri, di usia yang sudah tak lagi muda ini mungkin memang sudah waktunya keluar. Keluar dari zona nyaman atau dari lingkaran pertemanan yang terkesan monoton. Bukan berarti keluar sepenuhnya, tapi keluar untuk menemukan hal baru dari orang-orang baru.

Bagi beberapa orang, di usia produktif bekerja seperti ini akan diisi dengan kegiatan yang diimpikan siapapun; bekerja. Ya, sebuah kegiatan yang pernah diimpikan siapapun dan dikeluhkan oleh siapapun yang sedang menjalaninya.

Wajar dan proporsional, nggak jarang aku dengar keluhan tentang pekerjaan yang sedang digeluti. Entah tentang jobdesk, gaji maupun partner yang mendampingi. Bisaaaaa banget jadi bahan keluhan, ya, bisa aja. Namanya juga manusia yang sering cari-cari kesalahan sendiri.

Dulu aku mikirnya kerja hanya akan sibuk dan ribet dengan jobdesk dan segala hal yang perlu dilakukan. Ini perspektif yang aku bayangkan jauuuh sebelum aku pengen kerja. Lihat di tv kayaknya cuma gitu-gitu aja, ngeluh sekenanya karena banyak kerjaan atau karena capek selama di perjalanan.

KENYATAANNYA


Selain menghadapi pekerjaan, dunia kerja juga mengharuskan kita bertemu dengan banyak orang yang tentunya dari latar belakang berbeda. Hal yang sama sekali nggak terbayang saat masih kecil. Dan inilah saatnya kita merasakan.

Dan alibi niat kerja yang sungguh-sungguh seringkali mematahkan ego. Merasa butuh uang hingga membiarkan diri berlarut-larut dalam posisi yang tak nyaman. Ini sih namanya mematahkan ego dan menumbuhkan ego lain, ya.

Karena bagaimanapun kondisinya, perasaan selalu menjadi bagian paling sensitif untuk tersentuh. Entah dengan sentuhan yang lembut ataupun kasar, sama pekanya. Tak jarang pula yang masih memendam rasa hingga berakhirnya masa kerja.

And then, let me tell what I think

Bekerja artinya kita dibayar karena kita mengerjakan jobdesk yang sesuai dengan kesepakatan awal, atau sebut saja sesuai kontrak. Meskipun banyak juga lho yang nggak ada kontrak dan cuma kerja aja di tempatnya. Nggak ngerti sampai dimana batas dia harus bekerja yang bisa jadi menguntungkan atau merugikan salah satu pihak.

Belum lagi ditambah dengan perlakuan yang diterima, kadang menyenangkan kadang tidak. Pun tentunya kita juga pernah ada di posisi yang melakukan kegiatan baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan orang lain.

Memang harus super siap dengan segala keadaan yang ada. Mulai dari gaji yang tak sesuai porsi kerja (entah lebih atau kurang), pandangan orang-orang baru tentang kita yang sejak lama sudah seperti ini, hingga kebaperan-kebaperan lain yang hanya membuat kerja tak maksimal dan cenderung berdampak negatif.

Bahkan aku sering iri pada orang-orang yang dengan mudahnya tak menghiraukan omongan orang. Semudah itu melupakan sesuatu yang harusnya meninggalkan bekas luka mendalam.

Jika sudah siap dengan dunia kerja, hadapi saja apa yang ada. Jangan percaya begitu saja dengan spoiler yang aku tulis disini. Bisa jadi nggak berlaku untukmu dan kepribadianmu, lho. Nyatanya banyak kan yang masih bertahan di satu tempat kerja bertahun-tahun lamanya. Mungkin kamu salah satunya, atau yang sedang berniat menjadi salah satu dari mereka.

Yang pasti, apapun bentuk dan tujuannya, bekerja adalah sebuah keniscayaan bagi siapapun yang mampu. Tapi, sampai kapan akan menggantungkan harga diri pada orang lain?

Terimakasih sudah membaca, Happy Blogging!




Share
Tweet
Pin
Share
34 komentar


Ada yang pernah ingin segera menjadi dewasa di masa kecilnya?. Jika iya, tosss!, kita sama. Dan aku yakin banget banyak juga manusia di luar sana yang sama kaya kita. Lalu, bagaimana kesannya setelah menjadi dewasa? Apakah sama dengan ekspektasi di masa kecil dulu?

Lalu, adakah yang pernah ingin kembali ke masa kanak-kanak? Dimana kegiatan kita setiap hari hanya bermain dan tertawa lepas, sesekali menangis untuk hal-hal sepele yang sebenarnya tak bisa diobati dengan tangisan. Aku juga yakin pasti ada karena nggak jarang aku lihat banyak status berkeliaran tentang hal tersebut.

Lalu, apakah sebenarnya posisi kita yang salah? Atau ini hanya tentang persepsi kita saja yang kurang tepat?

Dalam bahasa Jawa, ada istilah "sawang sinawang". Sebuah keadaan dimana kita melihat kehidupan orang lain seakan lebih indah, lebih bahagia, lebih sempurna dan lebih segalanya. Seakan hidup kita terasa begitu jauh di bawah mereka. Padahal, bisa jadi oranh yang kita jadikan objek perbandingan, nggak lebih bahagia dari kita.

Aku pernah ada di fase tersebut. Fase dimana aku merasa terpuruk dan iri pada nasib orang lain yang terlihat lebih bahagia. Tapi itu dulu, dulu banget saat aku belum mengenal dunia luar dengan segala macamnya.

Setelah keluar dari rumah dan bertemu banyak orang hebat dari berbagai latar belakang berbeda, mataku akhirnya terbuka bahwa hidupku nggak seterpuruk itu. Masih banyak yang bisa disyukuri tanpa harus banyak mengeluh.

Apalagi setelah menemukan orang yang bisa menerima apa adanya. Duh, indahnya. Meskipun nggak berani mengklaim kami akan menjadi keluarga, setidaknya aku menemukan titik bahagia yang mungkin orang lain di luar sana belum menemukannya.

Begitulah hidup. Jika dituruti maunya, maka tak akan ada habisnya. Jalani saja apa yang ada. Selalu bersyukur pada Yang Kuasa.

Share
Tweet
Pin
Share
35 komentar


Yuhuuu, akhirnya pengen nulis lagi. Ya, aku nulis pas pengen aja. Gak mau dipaksa-paksa, jadi jangan kaget kalo sewaktu-waktu aku jadi rajin nulis. Haha

Beberapa hari ini aku lagi banyakin merenung. Nggak jelas banget ini sih, asli. Rasanya banyal kerjaan banget padahal nggak. 

Coba deh, kalo dirinci dengan benar kegiatanku cuma gitu-gitu aja; ngajar les dan main sosmed. Tapi kok aku ngerasanya sibik banget. What's wrong with me? 

It's ok. Sampai di titik ini aku merasa bersyukur sekali bisa sadar dan nggak nambah waktu lagi buat merenung tanpa kepastian. Akhirnya aku putuskan buat memulai rentetan kegiatan dari satu titik lubang. 

Lubang yang aku maksud adalah lubang gigi. Yes, gigiku berlubang. Hampir habis dan serem banget lihatnya. Mau nggak mau harus dicabut dan kalo mau nanti bisa dibuatkan gigi palsu. 

Aku pilih memulai dari sini karena aku TRAUMA sama sakit gigi banget. Dan fyi, aku mulai sadar bahwa mulai saat ini hingga beberapa waktu ke depan yang tak bisa ditentukan, aku akan punya banyak kegiatan aka. sibuk. Bulan depan, mau kkn dan tahun depan harus ngejar wisuda. 

Satu titik yang kelihatan kecil banget ini, aku yakin suatu saat bakal minta jatahnya buat diperhatiin. Apalagi udah musim hujan kaya gini, rawan banget kambuh karena suhu dingin. Ampun banget nggak mau lagi deh. Amit-amit. 

Daan, sebelum beneran minta jatahnya, aku siap-siap dulu buar cabut itu lubang sampai ke akar-akarnya. Biar lancar segala urusanku ke depannya gitu deh. 

Setiap orang sepertinya punya titik tertentu yang bisa banget bikin drop. Ada yang masalah tulang, otot atau lainnya. Kalau aku biasanya migrain dan sakit gigi yang alhamdulillah keduanya udah akur sama badan. 

Dulu, aku nggak peduli banget sama badanku. Sejalannya aja, nggak mikir sakit kemudian atau pusing kemudian. Meskipun pada akhirnya aku juga ngerasa salah karena nggak perhatian sama diri sendiri. Menyesal kemudian saat sudah sakit. 

Saat ini, dengan keadaan gusi yang masih belum pulih dan gigi yang masih perlu perawatan, aku semakin sadar bahwa kesehatan perlu sekali untuk diperhatikan. Beruntung sekali kalian yang hidup di lingkungan sadar kebersihan, kalian patut bersyukur. 

Jujur saja, di usia yang harusnya sudah bisa menabung untuk masa depan seperti saat ini. Aku masih kesulitan mengatur keuangan. Aku sering sakit dan dokter langgananku adalah yang terbilang cukup mahal. Ya gimana, cocoknya disitu. Kalo di tempat lain nggak mau sembuh, kalo di situ baru daftar aja rasanya udah enakan. Sayang banget tuh duit sebenarnya, tapi gimana lagi dong kalo namanya butuh kan nggak bisa dihadang juga. 

Dari itu, jadi mikir : kalo misalnya aku sehat dan cukup ke dokter buat check up aja pasti nggak sedrama ini. Tapi alhamdulillah masih bisa bersyukur karena setiap ada keluhan juga saat ada uang. 


Yah, jadi ngelantur. Selamat ngeblog! 
Share
Tweet
Pin
Share
39 komentar


Hai... Aku Ulya!

Kegiatan harian memang mengasikkan, apalagi jika dibayar dan sesuai dengan passion yang memang diimpikan. Setiap orang tentu memiliki aktivitas yang berbeda, bukan?. Meskipun judul profesinya sama, tentu yang dilakukan akan berbeda masing-masing orang. Adapun orang lain hanya punya mata dan mulut yang bisa digunakan untuk mengamati dan mengomentari, bahkan kadang nyinyir.

Kita sendiri sebagai pelaku cukup menjalankan kegiatan kita saja. Usahakan dilakukan dengan ikhlas, sabar dan tawakkal meskipun banyak aral melintang.

Seperti halnya aku yang setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengutak-atik sosial media sambil menunggu kedatangan peri-peri kecil yang kadang jadi moodboster dan inspirasi tersendiri. Tak bisa dibilang nganggur, apalagi sibuk. Karena memang semua kegiatan aku lakukan dari dalam rumah. Bahkan banyak pula yang meragukan jika aku bekerja karena memang sering selo dan paling bisa diajak meet up dan jalan kemana aja.

Mulai Suntuk

Meskipun sesuai passion, kegiatan yang monoton tentu akan menyebabkan kebosanan. Bosan yang masih dalam taraf ringan mungkin masih bisa diredam dengan bermain game, bermain bersama anak-anak atau berwisata ke negeri sosial media. Bosan yang menumpuk dan beranak pinak pun kadang jadi sebab pekerjaan tak selesai dengan baik, keprofesional-an menurun dan akibatnya rejeki seakan menyempit padahal memang kerja kita yang kurang bagus.

Nah, bosan yang menumpuk seperti ini biasanya berujung suntuk. Aku nyerah deh kalo udah suntuk, biasanya ada aja masalah eksternal yang ikut nimbrung dan bikin tambah runyam. Pasrah, dan lari keluar rumah. Seperti yang aku alami minggu lalu. Awal bulan yang entah kenapa jadi suntuk karena beberapa minggu (baca : weekend ) lebih banyak di dalam rumah. Beberapa hari kerja sempat keluar sih, tapi kan judulnya ada kepentingan, bukan jalan-jalan!

Ritual Melepas Suntuk Ala Aku

Karena weekend lalu aku harus pulang ke rumah, padahal lagi pengen pengennya jalan-jalan. Seingatku, tiga minggu yang lalu aku keluar bersama seorang teman. Itupun sebentar dan banyak makannya, huhu. Akhirnya aku bela-belain minta diajak jalan-jalan sama doi. setelah negosiasi panjang lebar sampai bela-belain bangun pagi dan nelponin dia biar segera bangun juga, akhirnya kita punya waktu buat keluar setelah sekian lama ((SEKIAN LAMA)). 

Kami berdua pergi jalan-jalan tak leih dari 2 jam. Itupun ditambah mampir ke kantor BPJS Ketenagakerjaan dan sarapan. Jadi kurang lebih waktu yang digunakan untuk jalan-jalan setelah terima bersih adalah hanya 1 jam. Apa saja yang kami lakukan dengan waktu sesingkat itu?

Ke Pantai!

Ya, Pantai adalah salah satu tempat favoritku. Tak banyak yang kami lakukan disana, bahkan memegang airnya pun tidak sama sekali. Bahkan dia tak turun dari motor. Ha? Kok bisa?
Melepas suntuk semudah melakukan hal yang aku inginkan. Bahasa simpelnya adalah selama keinginanku terturuti aku akan bahagia. Simpel kan? Masih mau bilang kalo cewek sulit dimengerti? Haha.

Sesampainya di pantai aku hanya duduk di tempat duduk yang paling dekat dengan pantai, diam, memandang sekitar. Mengambil beberapa foto sekitar kemudian pindah lokasi. Mengulangi hal yang sama kembali. Dengan sedikit bumbu obrolan hangat yang tak lebih dari 10 menit tentang keadaan di daerah pesisir sedikit menambah wawasan baru dan yang terpenting menambah intensitas komunikasi hingga jadi lebih baik.

Kami pulang sekira pukul 9:30 karena hendak mampir ke Kantor BPJS Ketenagakerjaan dan warung makan untuk sarapan. Selain itu juga karena jam 10:15 biasanya sudah ada peri-peri keci yang datang untuk belajar. Setelah satu persatu terlewati, kami pun pulang kerumah bertepatan dengan datangnya salah satu murid luar biasa yang selalu datang setiap hari bersama sang ibu. Sunguh waktu yang tepat dan meyenangkan hari itu. 

Terimakasih sudah menjadi partner yang hebat, mengerti aku dan kebutuhanku (lebih tepatnya keinginan sih).

Alhamdulillah, begini enaknya tinggal di kota dengan banyak pilihan pantai yang bisa dikunjungi. KAlo kamu, suntuknya dibuang kemana nih? Share yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
27 komentar

Sebuah tulisan klarifikasi pada diri sendiri atas kesalahan besar telah membiarkan blog berdebu dan bikin bersin siapapun yang berkunjung.
Halo, mohon maaf semua jika akhir-akhir ini jadi  jadi males nulis. Pakai mohon maaf segala kaya ada aja yang mau buka blognya yah. Huhu

Awal ngeblog memang aku benar-benar ingin memiliki semacam buku harian online. Karena tak mungkin diceritakan sekedar di media sosial; twitter harus nge-thread, instagram pasti pada malas membaca, dan di facebook aku terlalu malu karena banyak teman dekat yang jadi teman disana. 

Akhirnya, jadilah blog ini.


Dengan niat dan tekad menulis setiap hari, akhirnya aku memberanikan diri untuk membeli domain. Alasannya sih agar lebih rajin dan semangat menulis. Kenyataannya? Hehe, bisa dilihat di daftar tulisanku yang bagai kanguru. Meloncat-loncat.

Semakin kesini, ternyata kegiatan semakin banyak. Kadang malah jadi kompleks banget. Ujung-ujungnya ya tidak jadi menulis. Belum lagi ditambah rasa malas yang sering hinggap meski tak tahu darimana asalnya.

Soal ide, sebenarnya sih tumpah-tumpah banget. Sayangnya, kadang aku lupa take moments karena saking asiknya melakukan hal yang sebenarnya bisa dibagikan. Akhirnya memutuskan untuk tak jadi dibagikan karena tak ada gambar pendukung.

Soal gadget, ready semua kok. Smartphone, netbook, kuota internet pun selalu ada.

Atau mungkin sudah merasa tak penting berbagi cerita ya. Sudah ada tempat berbagi yang lain. Pacar, mungkin!

Ah, nggak juga. Aku memang tak lagi jomblo tapi aku jarang sekali bercerita sama doiku. Kalau memadu cinta, sering.

Lalu apa ya masalahnya?

Em, mungkin karena kegiatanku yang monoton ya. Bayangkan saja. Bangun tidur, main gadget, jam 10 sudah ngajar les, jam 12 ngantuk, tidur. Jam 2 siang ngajar les lagi sampai jam 8 malam. Meskipun cuma ngajar les, rasanya sudah seperti ikutan sekolah. Pusing juga mikirin tugas. Apalagi murid lesnya variatif. Dari kelas 1-5 SD. Sekolahnya beda. Pelajarannnya beda. Semakin mengurangi minat mikir buat nulis lagi.

Hmmm.. Alasan aja. Lha wong tulisan curhat kaya gini aja nyatanya bisa jadi. Bisa dibaca meskipun nggak enak-enak banget bacanya. Kenapa ga bikin tulisan yang natural kaya gini aja Ulya?!.

Hehe
Hehe
Hehe

Iya juga sih ya.

Jadi aku harus bagaimana nih?

Ya nulis aja lah. Sayang banget kan kalo kosong blognya. Soal seo-seo an itu belakangan aja mikirnya. Jalani saja dulu. Toh dulu tujuanmu ngeblog cuma buat berbagi cerita kan?


*hening*


Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar
Tahun 2016 menjadi tahun yang cukup berkesan buatku. Banyak hal tak terduga yang aku alami pada tahun tersebut. Senang, sedih, bahagia dan mengharukan seakan bertumpuk di tahun tersebut. Sayangnya tak ada kenanganku bersama doi yang sekarang menemaniku. Kami mengarunginya setelah tahun tersebut.

Baru dua tahun mentas dari usia 20 ternyata menjadi lecutan tersendiri. Banyak hal yang mungkin bagi orang lain bisa dilakukan di usia sebelum 20, baru aku lakukan di tahun tersebut. Tapi tak jarang pula yang justru mendapatkannya diatas usia 25 atau malah lebih. Dududu, telat sih, tapi gapapa daripada nggak sama sekali hehe. 

Salah satunya adalah kesempatan untuk mengenal berbagai komunitas yang ada di Jepara melalui Folkom atau Forum Lintas Komunitas Jepara. Forum ini berawal dari sebuah ide untuk mengadakan kegiatan di alam terbuka bersama para pegiat komunitas di Jepara. Kebetulan saat itu aku ditunjuk menjadi narahubung. Sebuah kesempatan pertama yang menurutku tak begitu spesial. Aku anggap seperti piknik biasa yang hanya diikuti beberapa orang saja.


Ternyata aku salah, Jumlah peserta yang sekedar bertanya maupun mengkonfirmasi keikutsertaannya sangat melebihi ekspektasi. Sangat jauh dari dugaan awal dengan jumlah komunitas yang sangat jauh dari perkiraaan. Sejak saat itu aku percaya bahwa di Jepara banyak sekali komunitasnya, hanya saja belum terendus media #halah.

Sejak saat itu, aku jadi lebih sering mengikuti kegiatan di luar rumah yang berhubungan dengan banyak orang. Banyak pengalaman yang aku dapatkan, jauh dari yang pernah aku bayangkan. Ada beberapa kisah jalan-jalan yang akhirnya aku tulis disini. Semuanya berawal dari kegiatan ini. Kadang aku merasa tak yakin dengan keadaanku sekarang karena tak pernah terbayang sebelumnya aku akan memiliki teman sebanyak ini.

Sayangnya, aku tak begitu mengenal mereka. Saking banyaknya. Biasanya aku hanya mengenali wajah dan asal komunitasnya, sangat sulit untuk mengenali lebih jauh. Ingatanku cukup sulit untuk mengingat nama orang baru Hehe. Biasanya hanya aku simpan nomor handphonenya sesuai yang tercantum di daftar hadir untuk menambah daftar kontak. Siapa tahu suatu saat akan membutuhkan bantuan atau informasi dari mereka. Anggap saja untuk membangun jaringan. 


Begitulah kira-kira kisah kenangan yang tak akan aku lupakan. Sebuah titik masa yang mengubah aku yang dulunya pendiam dan tak begitu dikenal menjadi sok femes dan sok akrab dengan siapapun. 

Ini kisahku, mana kisahmu?
#DAFTARODOP6
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi sebagian orang, sarapan adalah hal yang wajib dilakukan. Sayangnya aku jarang sekali bisa merasakan sarapan pagi. Biasanya karena bangun kesiangan atau memang tidak ada selera makan. Padahal aku punya riwayat sakit maag dan pernah merasakan maag akut tapi kadang masih tak sadar juga. Maafkan aku, tubuhku.

Tapi, kadang aku jadi manusia yang sering lapar jug lho. Dikit-dikit laper, dikit-dikit pengen makan dan sulit sekali menghindari keinginan untuk tidak makan. Hasilnya, aku makan terus dan berat badanku bertambah. Yang paling penting, pipiku jadi tak tirus lagi dan leherku berundak.

Pilihan Menu Sarapan

Pola hidup yang selalu berubah membuatku moody, eh apa kebalik ya. Karena aku moody jadi pola hidupku selalu berubah?. Intinya keseharianku tidak pernah monoton, selaly berganti dan berubah setiap hari.

Mulai dari jam bangun tidur, kegiatan setelah bangun, jadwal bersih-bersih rumah, menu sarapan, waktu sarapan, jadwal mandi bahkan hingga jadwal tidur malam. Bagiku ini menyenangkan, tidak melakukan hal yang sama setiap hari.

Dan tentang menu sarapan, aku lebih suka menu sarapan simpel. Saking simpelnya, aku pernah sarapan hanya dengan nasi putih saja. Bukan tak ada lauk, tapi males masak. Mungkin yang melihat akan mengasihaniku, hehe, tapi aku gapapa kok. Tetep enak, tetep kenyang. Itu kan yang penting?

Makan nasi dan tempe sudah menjadi menu terbaik untuk sarapan. Ya, daripada sarapan sama mie instan, masih mending sama nasi. Makan apa saja asal halal dan tak perlu keluar rumah.

Saat tak malas keluar rumah, biasanya saat sedang manja dan rindu masakan warung, jadi makin bingung. Mau makan apa? Lontong Pecel, Lontong Gudeg, Bubur Ayam, semuanya ada. Hmm....


Kehabisan Bubur Ayam

Kejadiannya hari Jumat kemarin, lagi pengen banget makan bubur ayam. Berangkat jam 07.30, berharap jalan belum terlalu ramai dan masih kebagian bubur ayam. Ternyata aku salah, hari Jumat kan hari senam di kantor kecamatan yang memang dekat dengan tempat penjual bubur ayam. Pasti buburnya diserbu peserta senam deh tadi pagi.


It's ok lah, gak kebagian bubur ayam. Tapi selain bubur ayam, ada juga susu kedelai yang dijual di tempat tersebut. Ya udah deh, akhirnya aku beli susu kedelai panasnya aja. Lumayan buat asupan sehat pagi-pagi. Saat perjalanan pulang, aku seperti masih belum puas dan ingin sarapan dengan menu selain bubur. Tapi apa?

Setelah berpikir sambil mengendarai sepeda motor kesayangan, akhirnya teringat dengan angkringan yang buka sejak pagi. Aku sebut angkringan karena makanannya banyak yang sudah terbungkus lengkap dengan beragam gorengan. Ada pula nasi hangat dengan berbagai pilihan lauk yang bisa diambil sendiri sesuai selera atau 'pukwe' 

Sip. Oke. Akhirnya aku kesana. Agak muter tapi anggap saja jalan-jalan pagi. Dan, yeay... lontong pecelnya masih ada. Pesen, bayar, pulang. cuma 4ribuan untuk satu porsi. Lumayan lah, rasanya juga enak. Dan pastinya mengenyangkan. Apalagi ditambah dengan susu kedelai yang aku beli tadi. Makin mak nyus dan bikin mood jadi bagus seharian. Ini penampakan lontong pecelnya, lumayan lah buat porsi cewek.


Dan ini penampakan susu kedelainya, dituang di mug pun masih ada lebihnya.


Sarapan seru dan murah pagi ini cuma 7.500 Rupiah, lho. Ya kalo misal mau ngajakin pasangan tinggal dikalikan dua kali dan ditambah sedikit buat jajannya. Hehe


Susu Kedelai 3.500an
Lokasi : Bubur Ayam samping Kecamatan Tahunan, Buka sampai jam 9 pagi atau jika telah habis.

Lontong Pecel 4.000an
Lokasi : Warung Angkringan sebelah Utara SPBU Mojo Batealit (Kiri Jalan), Buka seharian. Lontong hanya ada pagi hari.


Nah itu tadi kisah hunting sarapanku Jumat kemarin. Seru, murah dan kenyang.



Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
37 komentar
Aku suka pantai dan apapun yang berhubungan dengan pesisir. Anginnya, lengket keringatnya, ombaknya, ikannya bahkan orang-orangnya pun aku suka. Ya, aku punya beberapa teman yang tinggal di dekat pantai dan berprofesi sebagai nelayan. Tubuh mereka bagus, kekar dan eksotis. Aku suka.

Meskipun begitu, aku sendiri belum khatam mengitari seluruh pantai yang ada di kotaku, Jepara. Bahkan aku belum pernah ke Karimun Jawa. Maafkan aku yang sekarang  menjadi sok sibuk dan tak punya banyak di luar rumah. Hehe...

Bukannya menghindari dunia luar, tapi aktifitasku mengharuskanku ada di rumah selama seharian dan baru bisa keluar saat malam sudah larut atau pagi sekali. Harap maklum. Tapi jiwa jalan-jalanku masih tetap terjaga dan semakin bergejolak jika terangsang oleh gambar pemandangan memukau di luar sana. Huh, dasar kalian racuuun!. 😂


Pengen ke Sumba
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRvzB8OgmwYusWtoKtF8UGWn_2Flcm7SY3LxkDECE5Gl6qjRoFv

Beberapa hari yang lalu saat sedang menunggu anak-anak belajar, aku tak sengaja menemukan gambar bagus di instagram. Aku terpana dan terpukau oleh indahnya, maklum aku sudah lama tak bersua dengan angin pantai. Tiba-tiba perasaanku tersambar dan semakin penasaran dimana letak pantai tersebut. 
Nah... setelah dicari ternyata ketemu juga, pantai tersebut ada di Pulau Sumba di Selatan Nusa Tenggara Timur. Sayangnya tak dijelaskan apa nama pantainya. ;(

"Lha kok jauh banget", pikirku. 
Sempat ragu dan menutup paksa aplikasinya yang aku kira akan menutup rasa penasaranku juga. Eh ternyata malah semakin kepo dan semakin mencari tahu tentang Sumba. Seperti ada banyak hal tesembunyi yang harus aku gali dan temukan informasinya dan segera Jalan-jalan ke Sumba.

Pulau Tercantik Di Dunia

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ8ZBnNnyQpSQ_rQ2PX5xRhQSCCGA7d2fah_liGxlWk4szDuAFUIQ

Setelah aku cari informasi tentang Sumba, ternyata aku memang tak salah pilih mencintai pada pandangan pertama. Nyatanya memang Sumba tercatat sebagai salah satu Pulau Tercantik di Dunia versi Majalah Focus, Jerman. Wow, seperti apa sih keindahannya? Jadi semakin kepo.

Kali ini kita membahas Pulau Sumba, termasuk pantai-pantai cantik dan ribuan kekayaan alam, flora dan fauna di dalamnya secara global. Dan memang layak untuk mendapatkan predikat Pulau Tercantik. Di Nusa Tenggara Timur, jumlah kunjungan turisnya memang belum sebanyak pulau Komodo yang menjadi ciri khas provinsi tersebut.


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQvZFLxrZVXcuAAPN8d9bIAkGVvF4TkNBJYhHTbdCVJzH45BjY-

Namun dengan predikat baru yang dimilikinya, aku yakin kalo kesana nanti gak akan kesepian. Pasti banyak pengunjung yang sudah merencanakan datang kesana sejak sekarang, atau sedang mencari informasi tentang Pulau Sumba seperti aku.



Bertemu Pilihan Teman Berlibur

Setelah mencari banyak informasi tentang Sumba, akhirnya aku juga nemuin perusahaan travel terpercaya yang bisa aku jadikan pilihan saat berlibur ke Sumba nanti, Amabel Travel. Dengan berbagai pilihan paket wisata yang disediakan, rasanya akan banyak kisah indah yang kudapatkan saat berkunjung kesana. 

Aku juga sempat menghubungi admin dan bertanya-tanya tentang Trip ke Pulau Sumba. Dan ternyata pelayanannya sangat ramah serta tak mengajak kita untuk bosan bertanya. Dan harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau untuk kantong para muda mudi seperti kita. 



Sepertinya ini akan menjadi awal perjalanan panjangku berkeliling Indonesia. Meskipun agak jauh tapi lumayan lah buat pemanasan. Huhu.... Ayo keliling Indonesia!
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar



Apa yang kalian pikirkan saat telah lulus dari dunia pendidikan?. Sebut saja s1, s2 atau SMA.

Mungkin bagi lulusan S2 akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan melihat jenjang pendidikan yang ditempuh sudah oke dan banyak sekali lowongan yang bisa menampung mereka. Bagi lulusan S2 mungkin lebih sedikit sulit, jika tidak dibarengi dengan ikhtiar kuat dan kualifikasi yang mumpuni tentu akan terasa berat dalam menjalani kehidupan di dunia kerja. 

Nah, untuk yang lulusan SMA atau sederajat nih. Kalo menurutku sih lebih mending dibanding yang lulusan SMP. Meskipun banyak penyedia lowongan kerja yang masih menyamakan kedudukan keduanya. Tapi yang namanya rejeki pasti tak akan kemana. 

Jadi pekerja adalah pilihan. Menurutku, setial hal yang dilakukan dan bisa menghasilkan uang adalah sebuah bentuk nyata dari kata 'BEKERJA'. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan pendapat orang lain, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Beberapa orang telah memiliki pekerjaan impian sejak masuk ke perguruan tinggi, atau sekolah menengah atas atau bahkan di tingkat pendidikan yang lebih rendah. Semuanya tergantung pada pola pikir dan ajaran keluarga yang didapatkannya sejak kecil. Tak jarang diantara mereka yang memperjuangkan impiannya mati-matian demi sebuah harapan besar.

Beberapa orang lain justru lebih acuh pada pekerjaan impian. Lebih suka menjalani hidup dengan santai dan mengikuti arus. Kemana takdir memanggil, ia akan datang. Kurang lebih begitu. Termasuk jika ia pernah memiliki pekerjaan impian lalu memilih berjalan mengikuti kemana arah angin membimbingnya.

Mengangur? BIG NO!!!


Sebesar apapun keinginanmu untuk bekerja, bersyukurlah jika bisa mewujudkannya dengan jalan yang biasa, maksudku tanpa hambatan dan perjuangan yang berlebihan. KARENA, di luar sana banyak yang masih kebingungan melabuhkan dirinya pada satu pekerjaan impian. Ya, lagi-lagi ini tentang takdir.

Apalagi jika dibarengi gengsi yang sebesar gunung, wah... bisa nganggur kamu. Hm.. maaf jika ini terkesan berlebihan, tapi begitulah kenyaataan yang ada. Banyak tawaran pekerjaan tapi tak semuanya membutuhkan skill dan title yang kamu miliki. Kalaupun ada, biasanya sudah disusupi orang dalam. Dan kamu hanya bisa memilih untuk pulang untuk membuat surat lamaran baru esok hari.

Jika memang niat bekerja, jalani saja apa yang ada di depan mata. Bukan soal berapa rupiah atau berapa lama kamu bisa bertahan, tapi ini tentang pengalaman. You need it, Trust Me!

Atau
Jika memang tidak punya niat bekerja sama sekali artinya ini tipe yang lebih suka membuka lapangan kerja. Setidaknya untuk dirinya sendiri. "Lha, emang bisa bikin lapangan kerja?, so so an banget lah baru lulus udah mau jadi bos."

Please abaikan kalimat julit kaya gitu. Banyak kok yang baru lulus dan sudah punya usaha, bahkan yang belum luluspun banyak. Dan kebanyakan jenis usahanya ngga nyambung dengan jurusan yang diambil saat kuliah. Dan satu hal lagi yang cukup penting diketahui adalah bahwa memulai usaha itu gak harus langsung besar, bisa kok dimulai dari yang kecil-kecilan. Apa aja? Ini aku beri beberapa contohnya:

1. Jual Gorengan
Sebenernya ini bukan duniaku, hehe. Aku ga bisa masak dan bikin cemilan enak. Jadi maaf kalo saran ini ga berdasarkan pengalamanku. Tapi siapa sih yang ga suka gorengan? Biarpun lagi batuk atau kena penyakit lain yang dilarang makan gorengan pasti tetep dimakan. Hehe

Menurutku, jualan gorengan tuh ga ada matinya. Bahkan peluang berkembangnya sangat besar. Bisa merambah ke jualan nasi bungkus semacam 'angkringan' yang berjualan semalaman. Bisa juga membuka banyak cabang di berbagai tempat. Wah, kalo gini sih bisa kasih kerjaan ke orang lain juga. 

Modalnya juga lumayan gampang, yang penting tau resepnya dan telaten menjalani usahanya insya Allah akan menuai hasil baiknya.

Eits, meskipun disini aku tulis jualan gorengan aja kalian juga bisa kok buka usaha dengan berjualan barang lainnya. Ya kan ini berdasarkan apa yang aku lihat aja. Banyak anak muda dan masih aku kenal yang memilih berjualan gorengan, nasi bungkus, roti bakar dan lain sebagainya.

2. Membuka Jasa Les 
Jasa di bidang pendidikan adalah salah satu hal yang akan terus dicari. Nah, peluang ini bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha. Modalnya yang cukup ringan dan mudah tentu menjadi kelebihan tersendiri bagi siapapun yang ingin bergelut di bidang pendidikan.

Hanya dengan modal ilmu yang dimiliki dan ruang tamu di rumah saja sudah cukup untuk membuka jasa les. Ditambah dengan promosi melalui media sosial serta brosur sederhana untuk media informasi sepertinya sudah cukup. Setelah ada beberapa murid tentu akan semakin berkembang informasi dari mulut ke mulut yang justru semakin membantu tersebar luasnya usaha les yang kamu punya.

Hanya sekedar info tambahan bahwa beberapa orang tua ada yang sangat selektif memilih tempat belajar tambahan untuk anaknya. Bahkan tak jarang dari mereka mengharuskan anaknya diajar oleh lulusan S1 Pendidikan. Wow, amazing!. It's okelah kalo memang kamu memiliki kualifikasi yang mumpuni. Kalo ngga????

Em, jangan khawatir deh.. kamu yang lulusan non pendidikan atau bahkan hanya lulusan SMA bisa kok membuka jasa les untuk anak. Ya memang bukan les privat atau les pelajaran sekolah, tapi Les Baca Anak Hebat atau biasa disingkat AHE. 

Syarat yang diperlukan cukup mudah dan simpel. Cukup mendaftar di websitenya atau kepada konsultan terdekat lalu mengikuti pelatihan mengajar dan sudah bisa membuka unit resmi di rumah. Siapapun bisa mendaftar dan membuka les baca di rumah baik ibu rumah tangga adik-adik yang baru lulus SMA atau para calon ibu muda sepertiku hehe. Yang penting di area yang akan didaftarkan belum terdapat unit resminya. Nah, kamu bisa cek area kamu di webnya langsung tuh. Atau kamu bisa cek di media sosialnya disini.

3. Jadi Freelancer
Sebenarnya aku juga belum tau definisi freelancer yang sebenarnya. Yang pasti kerja jadi freelancer itu lumayan enak dibanding yang lainnya. Gak ada jam kerja khusus dan gak ada kerjaan khusus. Semuanya seperti berjalan apa adanya. Yaa... namanya juga pekerja lepas, bebas.

Wah, freelancer gak bisa jadi kerjaan utama dong? Paling honornya kecil!

Eh, jangan salah, coba aja deh baca cerita teman-teman yang memilih menjadi freelancer pasti bikin kamu kepincut pengen seperti mereka. Apalagi kalau kamu tipe yang gak suka kerja rutin setiap hari. Kalo masih kepo dengan jenis kerjaan ini kamu bisa dapat info lainnya disini.


Nah, itu tadi beberapa pilihan Pekerjaan untuk kamu yang belum diterima bekerja setelah lulus. Jangan putus asa, kamu bisa kok buat pekerjaanmu sendiri. Dari ketiga jenis kerjaan itu, sebenarnya banyak aku ambil dari pengalamanku sebagai penjual kain tenun, pengajar les, blogger dan vlogger yang masih terus belajar sampai sekarang.

So, jangan pernah memilih untuk menganggur. Bekerjalah, berusahalah semampumu. Mungkin tak ada yang tau hasilnya, tapi kamu yang merasakannya.

Sekian, selamat membaca dan happy blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
49 komentar





 Tiga Pasang Sepatu dan Dua Pasang Sendalku | Ada yang mengatakan bahwa sepatu (atau sebut saja aksesoris kaki) merupakan salah satu fashion icon yang cukup penting untuk diperhatikan. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa sepatu adalah bagian yang berbeda dengan tren fashion. Ya, memang letaknya cuma di kaki, ga begitu diperhatikan orang. Hei... kok cuma sih?. Bayangin kalo kita cuma nyeker tanpa alas kaki, bisa melepuh deh kulit kakinya. Ya kali wajahnya mulus tapi kakinya buduk. Ckck


Entah sepatu, sendal ataupun lainnya, bagiku cukup penting sih. Aku memang tipe yang ga kuat panas ataupun dingin, termasuk tekanan dari kerikil-kerikil kecil. Menyiksa. Aku tak suka. Kecuali di tempat-tempat yang memang lazim tak beralas kaki, misalnya di pematang sawah. Meski sekarang sudah ada sepatu booth, rasanya lebih nikmat saat merasakan pijatan lumpur sawah yang lembut di kaki. Sayang sendalnya juga sih kalo kena lumpur. Hehe

Nah, aku sendiri bukan tipe pengoleksi alas kaki baik sepatu maupun sendal. Ya.. seperlunya aja sih, gak usah banyak-banyak apalagi mahal. Pokoknya seperlunya dan secukupnya aja. Kita mau kemana, ada yang dipakai untuk melindungi kaki kita tanpa harus bingung mau beli baru demi kepuasan diri. Toh cuma di kaki, eh.

Kegiatanku sebagai pengangguran ya paling gitu-gitu aja sih. Tak terlalu sering tapi bisa dibagi ke beberapa bagian, seperti acara formal, non formal dan semi formal. Dan aku punya item sepatu untuk masing-masing acara tersebut. Berapa jumlahnya? Ya kali banyak-banyak. Satu aja kok.

Lho? masak ga ganti-ganti?
Emang kenapa kalo gak ganti? Kan sudah kubilang jarang dipakai juga. Kalopun orangnya sama di acara yang berbeda, paling juga orang yang lihat sudah lupa. Wong cuma di kaki aja kok, hehe.

Ya udah ya udah, emang apa aja sih?

1. Sepatu Lari


Ini sepatuku yang paling baru, hehe. Murahan banget, maksudku harganya murah. Ada sih merknya tapi entah ori atau kw aku juga gak ngeh. Yang penting nyaman aja dipakai. Ukurannya kegedean 1 nomor sih sebenernya, tapi cukup pas kalo buat lari. Soalnya waktu nyobain yang satu nomor di bawahnya agak ketat gitu. Jadi ya sudahlah....

Sepatu ini dipake cuma 3 kali seminggu, itupun kalo lagi rajin jogging. Saat menulis ini malah udah semingguan gak kepake karena sering bangun kesiangan dan udah lemes saat mau jogging sore. *alesan*

Sejak beli hingga sekarang belom pernah kucuci karena memang belum pernah kotor banget. Paling bagian bawahnya aja yang aku sikat dengan pasta gigi agar tetap putih kinclong seperti gigi di iklannya. Huhu

2. Sepatu Ket

Aku gak tau gimana ejaan yang benar, ket atau cat atau cet. Ah sudahlah, maksudnya yang itu. Tau kan maksudku?
Kalau biasanya yang disebut sepatu ket adalah yang memiliki tali di bagian atas dan datar di bagian bawahnya, punyaku ini tanpa tali. Ada sih tali, tapi udah nempel gitu jadi gak perlu diikat secara manual. Entah masih termasuk kawanan sepatu ket atau nggak aku pasrah aja.

Sepatu ini casual banget. Aku suka pake kemana-mana. Biarpun bagian dalamnya udah buluk dan jelek, yang penting gak bau hehe.

Sepatu ini sudah setahun lebih menemaniku, aku beli di toko sepatu pinggir jalan dengan harga enam puluh ribu saja. Murah kan?, dan sampai sekarang aku belum berniat menggantinya. Bentuknya yang unik, simpel dan tak perlu mengikat tali seperti sepatu lainnya membuat aku mudah memakainya. Apalagi jika bepergian ke tempat ramai yang gak mungkin bisa jongkok barang sebentar untuk mengencangkan ikatan talinya.

3. Sepatu Flat

Sepatu ini sedikit lebih tua dari sepatu lariku. Harganya dua kali lebih murah dari kakaknya adiknya, maksudku harga sepatu lari tadi dibagi dua. Memang agak kebesaran karena ukuran standarnya besar, tapi mau gimana lagi. Itu sudah ukuran terkecil di tokonya. Warnanya manis dan modelnya elegan membuatku kepincut saat itu. Sampai saat ini masih sering kupakai dan rencananya akan kupakai saat lebaran nanti.

Warna dusty pink yang dimilikinya membuat warna kulit kakiku yang agak gelap terlihat lebih cerah. Entah karena khayalanku saja atau teorinya memang seperti itu, aku tak tau persis. Yang pasti sepatu ini berhasil menambah rasa percaya diriku saat menghadiri acara formal maupun semi formal.

4. Sendal Gunung
Bukan foto asli nih, tapi mirip sih modelnya. 

Sandal gunung ini kubeli setahun yang lalu. Terlalu besar dan agak berat jadi jarang kupakai. Tapi aku suka modelnya yang tak pasaran, meskipun sering dibilang kebo sapi karena warna masing-masing sisi yang berbeda. Satu sisi berwarna merah dan satu sisi lainnya berwarna hitam. Dulu saat masih sering jalan-jalan di alam sih sering dipakai, sekarang sudah berganti jalan-jalan di dunia maya jadi jarang dipakai, deh.

Sendal ini kubeli dari salah satu produsen di Jawa Barat, kalo gak salah Bandung. Harganya lumayan karena modelnya custom. Selain nyaman saat dipakai, modelnya yang tak pasaran juga menambah kePDanku hehe.

5. Sendal Jepit Butut

Nah, ini nih bagian yang penting gak penting. Aku anggap penting karena paling sering dipakai kemana saja. Ya kali mau ke warung pakai sepatu lari? Enaknya kan pakai yang tinggal 'mblusuk' aja to?

Tapi ya gak penting juga dilihat dari bentuk dan buluknya. Sendal ini paling sering dipakai tapi paling jarang dibersihkan hehe. Yang penting selalu ada saat dibutuhkan.





Nah, itu tadi koleksi alas kakiku alas kakiku. Em, bukan koleksi sih kan soalnya cuma itu-itu aja hehe. Kalau kalian punya koleksi sepatu apa aja sih?, pasti banyak ya... Share yuk!

Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates