• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya

Ngomongin masa depan sambil ngopi yuk :)
Setiap kali mendengar tiga huruf yang merupakan akronim dari Kantor Urusan Agama, KUA, hal yang pertama kali difikirkan adalah perkawinan. Ya, instansi ini memang lebih banyak mengurusi soal perkawinan dibanding yang lainnya. Sehingga image masyarakat terhadap KUA lebih kepada badan pemerintah yang “suka nikahin orang”.

Well.. well... gak ada yang salah sih dengan pandangan seperti itu. Toh pada kenyataannya, urusan yang lebih sering ditangani KUA adalah Perkawinan. Apalagi kalo lagi musim nikahan, pas tanggal bagus, pas hari bagus, duuhh... sampe capek tuh penghulunya kesana kesini buat nikahin orang.

Ngomongin penghulu jadi inget sama sinetron bulan puasa kemaren. Penghulu ganteng yang diperanin sama Ali Syakieb dan Kantini yang diperanin sama mbak Bella. Katanya sih mau ada serial lanjutannya tapi entah kapan. Kalo di sinetronnya, penghulunya sendiri belum nikah tapi udah pengalaman nikahin banyak pasangan. Haha, gak mupeng apa ya?

Ok, back to the main topic.

Tiga minggu yang lalu, aku bersama tim PPL-ku mendapat kesempatan untuk observasi di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jepara. Meskipun sudah mendapatkan materi yang cukup banyak di kelas, nyatanya kami masih butuh bukti konkret tentang hal-hal yang sebenarnya terjadi di lapangan. Di KUA, masyarakat tidak hanya dapat mengurusi soal perkawinan. Namun dapat pula mengurus tentang Akta Ikrar Wakaf, WAZIS (Wakaf, Zakat Infaq & Shadaqah), Bimbingan Keluarga Sakinah, Bimbingan Haji, Kemasjidan dan sebagainya.

Selain itu, di KUA juga terdapat Kursus Calon Pengantin (SUSCATIN) untuk calon pengantin yang baru mendaftar loh. Jadi, setelah Kedua calon mempelai melakukan pendaftaran nikah keduanya akan diberikan bimbingan mengenai hak dan kewajiban suami istri dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia rumah tangga. Terbilang cukup umum dan sudah mainstream, tapi menurutku hal ini cukup penting. Bisa sebagai pengingat bagi yang sudah tau dan sebagai ilmu baru bagi yang belum tau.

Loh, memangnya ada yang mau nikah tapi belum tau hak dan kewajibannya?

Jawabnya, ada. Dan BANYAK!

Tidak semua calon mempelai adalah orang yang sudah siap untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri. Ada banyak hal yang kadang membuat mereka sedikit terpaksa untuk menjalankannya dengan ilmu dan pengetahuan yang bisa dibilang minim. Disinilah, kursus calon pengantin yang diberikan penyuluh diharapkan dapat berguna bagi kedua calon mempelai.

di KUA juga terdapat BP4 (Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan) yang lebih banyak melakukan penyuluhan terhadap pasangan pengantin yang memiliki masalah. Kursus calon pengantin yang aku tulis barusan juga ditangani sama Badan ini.

Dan satu lagi, PNS yang memiliki permasalahan yang kemungkinan tidak bisa dipecahkan dan akan dilanjutkan ke Pengadilan harus melalui Badan ini terlebih dahulu. Kenapa? Ya biar gak bercerai. Siapa tahu bisa dirukunin lagi. Kalo non PNS juga bisa melalui BP4, tapi memang jarang yang menyadari adanya badan pemerintah ini sehingga sedikit sekali yang datang untuk meminta bimbingan dan memilih langsung mengajukan di pengadilan agama.

Biarpun begitu, Petugas KUA hanya manusia biasa yang memang tak sempurna. Keberadaan badan seperti BP4 hanya sebagai usaha agar terwujud keluarga Indonesi yang bahagia dan sejahtera. Dan dalam realitanya, kita sendiri yang menentukan laju hidup yang akan dijalani. Entah memilih untuk segera menikah tanpa pertimbangan matang dengan berbagai resiko yang ada atau memilih untuk menyiapkan semuanya sejak awal.

Lagi-lagi, KUA memang selalu jadi sorotan. Sering diomongin, dianggap sebagai destinasi menuju kebahagiaan. Apalagi sama anak-anak muda tuh, sukanya ngegombal mau ngajak ke KUA lah, apa lah, padahal uang jajan aja masih nyadong. Meskipun nikah di KUA tidak dikenai biaya, tapi hidup setelah akad juga butuh biaya kan?

Siapin diri aja deh, kalo udah waktunya juga bakalan sampe sana :)


“Jodoh pasti bertemu”, kata bang Afgan.
Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar
Yeay, akhirnya bisa ngeblog lagi. 
lalalalalala

Efek lama gak nulis, jadi ribet nih mau ngungkapin perasaan, ceileeehhh... :D

Jadi sore ini adalah hari pertama saya masuk di kamar kos, setelah sekian lama saya tidak terpisah dengan orang tua. Ya sekitar tiga tahun sejak saya kuliah di kampus ini. Dan sejak saat itu saya sangat jarang meningalkan rumah, maksimal tiga hari. Itu pun masih dalam jangkauan dalam kota. Keputuan untuk tinggal di tempat kost adalah keputusan saya sendiri dan hasil negosiasi dengan orang tua, terutama ibu.

Sejak sekitar satu tahun yang lalu keinginan ini muncul hingga terjadi banyak penolakan dengan segudang alasan. Hingga akhirnya pintu hati ibu saya terbuka dan rela untuk melepaskan anak perempuan satu-satunya.

Ya, belum genap satu jam saya masuk ke kamar dengan cat hijau muda dengan sebuah cermin dan lemari dua pintu di dalamnya. Ukurannya sekitar 3 meter persegi, Cukup nyaman untuk ditempati dua orang meskipun sekarang masih sendirian.  Dua lubang ventilasi terdapat di dua sisi kanan dan kiri, meskipun sepertinya tidak begitu berguna karena tidak berhadapan dengan udara di luar ruangan. Sisi kanan dan kiri diapit oleh dua ruangan kamar lain. It’s mean kamar ini tidak kedap suara.

Sengaja saya mengetuk dindingnya, mungkin saja terbuat dari triplek atau semacamnya. Ternyata benar-benar tembok dari susunan bata, semoga tidak pengap nantinya. Oh ya, ada juga satu jendela di bagian (sebut saja) belakang. Tapi lagi-lagi tak berhubungan dengan dunia luar, hanya menyambung pandangan ke ruangan sebelah yang terdapat deretan kamar lain.

Cukup nyaman untuk saya yang memang agak susah beradaptasi. selama tidak bising dan mampu memberikan kenyamanan, it's ok. Namun sayangnya cukup jauh dari penjual makanan siap saji yang rasanya cocok di lidah. Semoga saya betah disini. 

Ohya, Sebulan terakhir, saya sedang menjalani Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di dua instansi milik pemerintah yang cukup penting. Keduanya berkaitan lansgung dengan kelangsungan hidup manusia dan keluarga. Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan, tapi entah kapan. Semoga tak lama lagi dan tentunya di blog ini. Jangan penasaran ya, hehe.



Sampai jumpa, happy blogging :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ▼  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ▼  Agustus 2016 (2)
      • KUA, Gak Cuma Nikahin Orang Aja
      • Kos Baru Ogut
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates