Refleksi Sawang Sinawang Yang Gagal
Setelah kemarin membahas tentang sawang sinawang, aku pikir aku akan lebih tenang saat ini. Ternyata tidak. Tiba-tiba aku merasa terpuruk sekali. Hal yang dulu sering aku alami dan sangat aku hindari, kini terjadi kembali.
Aku sadar sekali aku bukan orang yang konsisten menjaga komitmen. Sering terbawa suasana dan cenderung nggak peduli dengan pembukuan. Entah kenapa rasanya menyedihkan, ingin kusudahi tapi seakan aku sendiri yang tak membuat celah untuk mengakhirinya.
Aku yakin bukan aku saja yang mengalami hal ini. Untuk ke sekian kalinya, akupun iri pada orang-orang yang bisa hidup tenang dengan keadaan finansial seadanya, secukupnya. Atau mungkin aku orang luar yang memang tidak harus aku ketahui sehingga semuanya tampak baik-baik saja.
Apalagi melihat anak muda yang seumuran atau bahkan usianya jauh di bawahku yang terlihat begitu nyaman dengan hidupnya. Seakan dia memiliki segala keberuntungan yang aku inginkan. Tak jarang pula aku bertanya, "kenapa dia yang mendapatkannya?, apakah Tuhan tak tahu aku juga menginginkannya?".
Sangat ambigu, tapi wajar sekali, bukan? Anggap saja anak kecil yang ingin mendapatkan balon seperti yang dimiliki temannya, tapi stoknya sudah habis. Seakan dunia terasa sangat-sangat tidak adil.
Aku selalu percaya bahwa segala sesuatu pun selalu ada jalinannya. Maksudku mata rantai. Apa yang terjadi saat ini pasti ada sebabnya di waktu lampau, entah jauh maupun dekat. Pun dengan imbasnya nanti di masa yang akan datang.
Apa yang terjadi padaku saat ini tentunya karena aku tak konsisten dan menganggap sejua bisa dikerjakan nanti saja. Akhirnya semuanya stuck, bahkan aku semakin terpuruk dari waktu ke waktu. Sayangnya aku nggak belajar dari masa lalu. Ya, aku pernah ada di fase ini beberapa waktu yang lalu.
Baiklah, aku terima saja nasibku saat ini sebagai waktu untuk belajar kembali. Pastinya untuk ikhlas dan lebih konsisten dalam segala hal apapun. Untuk lebih gigih dalam memerjuangkan harapan dan keinginan. Dan untuk bersyukur bahwa tak semua orang mendapatkan kesempatan belajar berkali-kali seperti aku.
Anggap saja aku belum naik kelas, jadi harus belajar lebih banyak lagi. :)

31 komentar
Entah kenapa aku bisa relate diriku dengan tulisan ini. Kadang suka berpikir kalau aku pantas atas sesuatu kemudian kenyataannya ternyata nggak. :)
BalasHapusYah bener, setuju poin "Dan untuk bersyukur bahwa tak semua orang mendapatkan kesempatan belajar berkali-kali seperti aku", anggap saja kita berlian yang harus ditempa keras sebelum berkilau maksimal.
Salam kenal ya.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusIntinya adalah kita diharuskan bersyukur untuk tiap detik yang kita jalani, apapun keadaannya dan bagaimanapun kondisi kita dahulu dan saat ini ya harus bersyukur, gak boleh mengeluh.
BalasHapusTerus semangat yaaa mba, tidak ada yang sia-sia asal kuta terus berusaha. Percaya saja kedepan pasti bisa lebih baik.
BalasHapusGapapa kok, adalah hal yang biasa jika merasa seperti itu, semua juga pernah merasakannya.
BalasHapusHanya saja, cuman ada beberapa orang yang berani jujur mengakuinya.
Semangaaatt :)
memang yah kak kalau soal konsisten itu butuh effrt yang luar biasa, bicara soal konsisten bicara soal diri sendiri. Semangat yah kak, aku pun sedang membiasakan untuk lebih komitmen/konisten
BalasHapusKatanya kalo kita terus berpikir posutif maka kebahagiaan akan datang dengan sendiru mba hehe akupub masuh mebcoba hal itu. Terlebih aku sbg istru dan ibu maka menjaga tetap bahagia itu penting agar suami dan anak tertularu terus :)
BalasHapusMemang tampaknya rumput tetangga selalu lebih hijau. Ahhhh.. kalo mikirin itu melulu, gak mup on donk.. Sudahlah hadapi saja apa yang ada hari ini, kerjakan dengan sebaik-baiknya (do the best). Dengan harapan esok akan lebih baik. Kalo pun doa belum dikabulkan sekarang, setidaknya sudah dalam genggaman Tuhan, tinggal nunggu saat yang tepat dikabulkan. Itu kalo saya yang mengalami :) Semangatttt, mbaaa :)
BalasHapusrumput tetangga emang seringkali keliatan lebih menarik dan hijau mba tapi belum tentu ketika kita miliki rumput hijau itu kita mampu mengurusnya mba tetep semangat ya mba bersyukur adalah cara paling indah loh
BalasHapusFokus dan konsisten memang diperlukan, nggak perlu sedih, yang penting tetap #SemangatCiee menjalaninya 😘
BalasHapusOrang yang bisa belajar dari masa lalu adalah orang yang beruntung. Tidak semua orang bisa menerima kekurangan diri dengan ikhlas. Keep spirit dan yakin akan masa depan yang lebih baik
BalasHapusSatu tips ya Mbak...selain lihat ke kiri kanan dan ke atas. kita juga musti lihat ke bawah. Ke orang-orang yang tidak seberuntung kita. Untuk berbagai hal ini maksudnya.
BalasHapusJadi dari situ timbul rasa syukur yang membuat kita jadi menghargai pencapaian diri:)
Semangat! Perjalananmu masih panjang. Jatuh bangun itu hal biasa, terus berjuang hingga mencapai tujuan.. :)
BalasHapusHehehe aku juga suka gtu mbaaaakk, keblusuk berulang2, melakukan kesalahan yg sama duh...
BalasHapusTapi gpp yuk semangat bangkit lagiii, smapai berhasil :D
Sawang sinawang hihihi. Aku jg sering merasa "kok si A enak ya hidupnya" begini begitu haha. Ini emang jebakan betmen sih ya, bikin kita jauh dr bersyukur, eh tapi gpp kan kalau kita liat org yg lbh sukses buat motivasi? :D
HapusSemangat Mbaak... apa pun yang ada pada diri kita sekaran adalah yang terbaik dan harus disyukuri hehehe..
BalasHapusJadi ikutan deh.
BalasHapusKalau sedang dibawah dan merasa super lelah saya juga sering mempertanyakan, kenapa aku. Apa kurangku. Kenapa dia. Apa kelebihannya dibanding aku. Aku juga pantas mendapatkannya.
Tapi ya balik lagi. Syukuri apa yang ada..
Semangat mbak! What doesn't kill you make you stronger. Yang penting kita bisa balik lagi dan tetap berjuang.
BalasHapus*pukpuk.. tetap semangat ya mbak sayang 😘 berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan hidup dengan harapan agar lebih baik dari sebelumnya
BalasHapusaku juga masih suka iri dengan kehidupan teman-teman sekitar yang kayaknya santai banget sementara aku harus selalu mikir kalau mau belanja apa-apa. tapi kadang yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya dan aku meyakinkan diri kalau rezeki tiap orang itu beda-beda
BalasHapusHai Kak Ulyaaaa. Sepertinya sedang sedikit berat ya ka, semoga selalu dilimpahi kebahagiaan dan dikurangi overthinkingnya, hmm, teh hangat atau mie rebus mungkin bisa bantu ka? Refleksi diri perlu sih ya ka, namun tetep harus jangan compare berlebihan yah hihi kakak bisa kok luph luph
BalasHapussawang sinawang itu sebenarnya menunjukkan bahwa manusia tidak akan puas akan dirinya sendiri.. untuk itulah perlu dipupuk rasa pengendalian diri dan rasa bersyukur yang tinggi mba..
BalasHapusmungkin sekalian belajar ikhlas mba
banyak bersyukur atas apa yang udah kita dapet. karena belum tentu orang lain bisa kayak kita. begitu juga sebaliknya. jadi kalo aku mulai berhenti buat banding2in sama hidup orang lain. semangat ulya!
BalasHapusTerkadang kita melihat sisi terbaik kehidupan seseorang, kemudian membandingkannya sisi terburuk dalam hidup kita. Mari, mensyukuri hal yang dimiliki dan terus semangat ya!
BalasHapusPeluk Ulya erat erat. Muachhhh...
BalasHapusAda kalanya hidup memang gitu kok. Eh boleh aku rekomendasiin buku Quantum Ikhlas? Itu buku yang aku baca ketika aku gagal insem kesekian. Sometimes emang ga mudah kok.
Semakin bertambah usia dan bertambahnya pengetahuan, kita akan lebih bisa mengendalikan sawang sinawang, tidak apa-apa, selalu ada proses, nikmati saja, saat muncul sawang sinawang, saya selalu ingat bahwa saya pun punya sesuatu yang mungkin orang lain inginkan
BalasHapusBener byk ustadz bilang, memulai sesuatu itu lebih mudah ketimbang istiqomahnya. Tapi dengan banyaknya doa dan dukungan di komentar2 ini, semoga bisa bikin ulya makin semangat utk istiqomah ya. Pasti bisa..
BalasHapusDulu waktu masih abg smp.mahasiswa aku pernah di posisi ini. Namun, seiring bertambah dewasa, aku semakin mencintai kehidupanku saat ini, mensyukuri apa yang aku miliki tanpa merasa kok dia bisa begini, punya itu, dll. Jadi, nikmati aja masa2 kini sambil terus berbenah diri.
BalasHapusMemang dalam hidup ini semuanya sawang-sinawang, ya. Kuncinya harus belajar banyak-banyak bersyukur. Kalau enggak, anggapan Tuhan enggak adil bisa berbahaya..
BalasHapusKenyataan memang tidak sealu seperti yang diinginkan ul, aku juga pernah merasa kayak gitu.
BalasHapusTapi balik lagi semua ada masanya dan semua ada tempatnya masing2, bisa jadi kehidupan kita skrg, adalah yang diinginkan oleh oranglain.
Bersykkur dan selalu semangat untuk berusaha, jdai kita bisa terus kejar impian tapi tidak merasa tidak beruntung, hu um
BalasHapusUdah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)