Saya (masih) Anak Kos
Hari ini genap satu bulan saya
menempati kamar kos yang cukup jauh dari rumah. Sebenarnya keputusan ini sudah
sangat telat bagi saya yang notabene-nya telah menginjak semester akhir. But, bukan itu poinnya. Ada hal lain
yang saya pertimbangkan dari keputusan besar setelah bertahun-tahu terpendam.
Ya, terpendam karena sejak semester awal sudah memohon dan meminta kepada ibu
saya untuk mengijinkan anaknya hidup mandiri dan tak lagi tinggal di rumah.
Sebenarnya cerita hari pertama di
kos sudah ditulis disini, tapi entah kenapa saya masih ingin menuliskannya
kembali.
Beberapa teman menanyakan tentang
alasan saya memilih tidak lagi berangkat kuliah dari rumah, padahal tiga tahun
berlalu dan semua terlihat baik-baik saja. Dan akhirnya saya pun banyak
berspekulasi yang membuat mereka semakin heboh saja. Daripada saya jawab
serius, saya jawab saja “karena takut
dilamar”, hehe.
Sebulan terakhir saya sudah
pulang tiga kali, “hah, apa-apaan?”. Ya kan namanya juga anak baru, kangen
orang tua, pasti. Tapi selain itu, saya juga perlu riwa-riwi mengambil barang-barang kebutuhan yang saya perlukan. Mau
gak mau harus pulang dong. Paling lama hanya satu hari dua malam di rumah.
Sudah fair dong ya.
Sampai detik ini, saya sudah
merasa nyaman tinggal di kos dengan suasana yang masih sepi karena belum masuk
masa perkuliahan. saya lebih menyukai suasana yang sepi, hening dan tidak
bising, tanpa gangguan lebih tepatnya. Seperti saat saya menulis post ini. Saat
dimana tetangga kamar saya sedang beraktifitas di luar dan hanya saya di dalam
kamar yang bersebelahan dengan penghuni kamar yang memiliki daya verbal luar
biasa. Saya gak bilang cerewet lo ya, peace.
Kembali lagi ke soal keputusan
menjadi anak kos. Sebagai mahasiswa hukum, sejujurnya saya tidak begitu tertarik
untuk memiliki karir di dunia perhukuman. Bukan bermaksud menyia-nyiakan ilmu
yang telah didapatkan ya, tapi setau saya ilmu bisa dimanfaatkan dalam berbagai
bentuk. Tidak harus di bidang yang telah ditentukan. Dan saya lebih tertarik
untuk menjadi entrepreneur atau wirausaha atau apalah bahasanya.
Di zaman yang serba digital,
tentunya bisnis tak ketinggalan dengan kedigital-an dunia. Saya pun memaksa
merangsek untuk masuk ke dunia bisnis beserta digitalisasinya. Dukungan orang
tua menjadi salah satu penyemangat saya, meskipun kadang mereka sangsi. Tapi
dengan berbagai upaya, akhirnya mereka yakin kembali.
Dan sekarang, saya memutuskan
untuk kembali memulai, oh bukan, meneruskan apa yang pernah saya bangun dan
sempat jatuh. Saya kembali mantap untuk memulai usaha meskipun harus tidak
tinggal di rumah.
Loh, kan bisa buka usaha di rumah
saja?
Iya sih, tapi gimana ya. Kalo
saya kasih jawaban nanti dikira alasan. Kalo gak dijawab jadi salah juga.
Jadi gini, sebagai seorang
introvert, saya lebih senang mengatur kehidupan saya sendiri. Tidak suka
diatur-atur, tidak suka diganggu. Padahal sebagai tanpa diatur orang lain pun
saya cukup kualahan mengatur jadwal sendiri hehe. Dengan lokasi yang dekat
dengan kampus, harapan saya sih, kegiatan saya yang tadinya harus di skip
dengan agenda naik turun bis saat pulang dan berangkat ngampus bisa diconvert
ke kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Jika perjalanan yang biasa saya
tempuh adalah empat puluh lima menit pulang pergi, tentunya sudah bisa
digunakan untuk banyak hal lain, bukan?
Emang usahanya apa sih? Sampe segitunya?
Emm,,, nanti dulu deh. Belum
pengen ngasih tau, nanti dikira ngiklan lagi :D.
Trus, mau sampe kapan ngekosnya?
Belum tau. Yang pasti selama saya
merasa nyaman dan tenang, saya akan tetap disini. Mungkin sampai ada yang
melamar saya, cieee. Bukan berarti saya tega sama ibuk karena membiarkan beliau
di rumah hanya dengan adik laki-laki saya loh ya. Semua atas persetujuan beliau
yang bahkan telah menyarankan saya untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan tempat
kos (meskipun saya masih mikir soal keinginan bekerja). Gak peduli mau
mahasiswa atau sudah sarjana, saya masih anak kos.
Saya masih dalam tahap belajar
untuk menjadi mandiri dan tidak membebani orang lain. Apapun yang saya lakukan
adalah apa yang saya inginkan dengan tidak menjadi benalu dalam kehidupan orang
lain. Jika terlihat baik dan positif, maka akan saya lakukan. Jika terlihat tak
mungkin, biarkan waktu yang menjawabnya.
Jika ada potensi dalam dirimu dan ingin kau pecahkan, pecahkan!
Jika kau tak mampu, berusahalah dan biarkan waktu yang membantumu memecahkannnya.

5 komentar
Saya punya teman yang introvert, benar-benar unik orangnya. Cewek yang lebih banyak diam dan menutup mulut, tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar, dan muncul pun seketika tanpa janji. Entahlah, dia benar-benar menikmati segala hal yang dia lakukan.
BalasHapusBegitulah, tak banyak yang bisa memahami manusia unik seperti demikian. :)
HapusBegitulah, tak ada yang bisa
BalasHapusSaya juga anak kost mbak, tapi kalau saya lebih betah di kost sih dari rumah, lebih nyaman dan damai di kost soalnya, tapi seminggu sekali pulang, takut dicoret namanya dari KK kalo jarang pulang, Hahaha
BalasHapusSaya juga anak kost, baru jadi anak kost. Dulu waktu kuliah saya ngga diizinkan ngekos karena masih ada saudara di tempat saya merantau. Setelah jadi anak kost, saya jadi belajar mandiri. Yang dulu kalau di rumah, apa" serba sama ibu, sekarang harus berpikir mandiri, apa" harus dikerjakan sendiri, hehe..
BalasHapusSalam kenal ya mbak, hati" jaga barang"nya di kosan, karena kita nggak pernah tahu kan kiri kanan atas bawah kita gimana, hehe..
Udah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)