• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya

Instagram, siapa yang tak tahu aplikasi satu ini? People zaman now sudah pasti tahu dan punya aplikasi ini di smartphonenya. Meskipun tak dipungkiri juga banyak people zaman old yang juga tak ketinggalan untuk memiliki setidaknya satu akun di platform bergengsi ini.

Aku mengenal instagram sekitar dua tahun lalu saat pertama kali memiliki smarthphone berbasis android. Karena sedang asik-asiknya punya hp android, aku yang memang tak bisa diam ini pun memanfaatkannya untuk hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang tidak ada gunanya. Ya, meskipun akhirnya kandas dan pupus di tengah jalan.

Semakin hari, inovasi yang diberikan pihak instagram pun semakin banyak dan diterima dengan baik oleh para penggunanya. Salah satunya adalah instastory yang menurutku sangat membuang banyak waktu dan kuota (tentu saja).
Bagaimana tidak?
Saat masih awal-awal menggunakan instagram, aku sering sekali khilaf scroll apapun yang ada di feed hingga jauh ke akun yang mungkin sebenarnya tidak aku butuhkan. Hal ini saja sudah membuang banyak waktu, apa sih yang kita lihat disana?

Kecuali jika kita memang butuh untuk riset atau untuk hal penting lainnya, hal ini hanya membuang waktu saja. Hehe ketimbang hanya scroll mendingan baca buku kali ya, nambah wawasan.

Dan sekarang, instastory yang hanya berisi cuplikan kegiatan baik berupa foto maupun short video seakan telah menjadi hal wajib yang harus dilakukan setiap hari. Tentang kita dimana, sedang apa, dengan siapa, dan sebagainya.

Sejauh ini aku tak pernah memebedakan orang, entah artis atau bukan semuanya sama di sosial media. Semuanya bersifat hiburan. Bedanya adalah jika para artis melakukan live dan mengunggah story mereka di media sosial sebagai bagian dari pekerjaan, dan kita sebagai orang biasa hanya menikmatinya tanpa sadar telah menjadi korban kekhilafan kita sendiri.

Hal lain yang menjadi ironi adalah merebaknya suasana ala ala artis di dunia nyata. Kali ini bukan artis sebagai pelakunya ya. Mungkin hanya follower yang hobi stalking akun idolanya saja. Mulai bermunculan kegiatan-kegiatan yang terinspirasi dari para idola, dari yang baby shower, perayaan mau lepas masa lajang, sampai yang suka sewa studio foto tiap minggu.
 -bersambung



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi sebagian wanita, make up adalah hal yang terpisahkan dari setiap helaan nafas. Baik wanita dewasa maupun yang baru menginjak dewasa, bahkan yang sok sok udah dewasa. Baik yang sudah bisa dan pandai bersolek maupun yang masih amatiran (sepertiku). Wajarkah? Tentu saja sangat wajar. Bukankah wanita memang tercipta untuk segala keindahan tersebut?. 

Pikiran asal-asalanku mengatakan tentu sangat wajar, lha kalo wanita gak pake make up kasian yang jualan bedak donk, bangkrut lah mereka!.

Aku adalah salah satu pengagum kecantikan yang tidak bisa mengaplikasikan, eh maksudku belum bisa. Berkali-kali aku menengok video tutorial make up di youtube demi dapat bermake up dan terlihat cantik, tapi nyatanya masih saja nihil. Aku tak bisa berdandan.

Biasanya aku hanya menggunakan pelembab, bedak dan lipstik untuk menyapu wajahku agar tak terlihat kuyu. Begitu saja setiap hari, ke kampus, ke tempat kerja, ke tempat hang out dan ke tempat-tempat lainnya. Sangat simple dan murah. Untungnya kulit wajahku bukan tipe yang rewel sering jerawatan maupun perlu perawatan ekstra, sangat menguntungkan bagiku yang agak malas melakukan perawatan rutin.

Musim Nikahan


Dalam penanggalan jawa, bulan safar diyakini sebagai bulan yang baik untuk menyelenggarakan hajatan maupun kegiatan tertentu. Salah satunya adalah hajat pernikahan yang saat ini bisa dibilang sedang musim di kotaku, Jepara. Dimana-mana selalu ada tenda biru ala nikahan. Apalagi di sosial media, timeline hampir penuh dengan foto-foto pernikahan dengan berbagai caption, status whatsapp dan dp bbm pun tak berbeda, isinya NIKAHAN semua. 

Bukannya baper, aku justru tergoda melihat dan mengamati riasan makeup para pengantin yang silih berganti menghantui timelineku. Semuanya cantik. Yaiya, namanya juga dirias pasti cantik. Kecuali kalo yang merias adalah mantannya calon suami, bisa jadi badut deh tuh pengantin perempuan. Setiap ada yang menikah, salah satu yang menjadi topik khas ibu-ibu adalah ngantene mangklingi ora?.

Ada keyakinan terselubung bahwa wanita yang suka berhias aka. Bermake up tidak akan mangklingi saat menjadi pengantin, pun sebaliknya. Mangklingi disini maksudnya adalah perbedaan yang mencolok dari pra dan pasca riasan. Ada yang wajahnya berubah menjadi cantik dan mempesona bak bidadari, adapula yang terkesan cantik namun biasa saja, tidak ada yang menarik. Aku tak tau apa yang ada dibalik semuanya, tapi yang pasti hal seperti itu ada di dunia ini. 


Tutorial Make Up dari Youtube


Berawal dari ketidaksengajaan saat mengecek perkembangan channel youtube yang berujung pada sebuah video tutorial make up yang aku lupa milik siapa. Aku bersama salah seorang teman kerja yang ekspert di bidang make up sepakat untuk membuat video dengan make konten make up. Setelah negosiasi yang cukup alot akhirnya aku yang menjadi objek eksperimen make up yang pertama kalinya ini. Agak takut sih, tapi penasaran juga gimana mukaku setelah dimake up nanti. Peralatan yang digunakan cukup sederhana dan seadanya. Bermodal kamera handphone dan tripod kami membuat video di jam istirahat kerja. 

Dengan memanfaatkan salah satu sudut di tempat kerja, video pun direkam dengan konsep seadanya. Harap maklum karena masih pemula, semuanya serba sederhana dan apa adanya. tentang hasil, wow... sungguh di luar ekspektasi. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Lihat saja hasilnya.


 Video lengkapnya mari kita tonton di sini


Sejak saat itu aku seperti ketagihan berdandan. Tapi apalah dayaku yang hanya punya bedak, lipstik dan maskara. Harus sabar menunggu hari gajian untuk bisa sedikit bereksperimen, setidaknya aku bisa terlihat lebih cantik saat di kamera, huaahahaa. Dan sekarang hanya cukup menerima apa yang dengan modal dan make up seadanya sambil belajar dari para beauty blogger dan beauty vlogger di luar sana. 

Sekian celotehku yang tak penting tentang make up kali ini. semoga ke depannya lebih oke, tapi jangan pangling ya kalau suatu saat bertemu aku dan keliatan beda, haha. Kamu punya cerita tentang makeup? Share yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
17 komentar




Hari ini adalah hari ke 59 aku bekerja di sebuah pabrik, eh perusahaan, eh apa ya enaknya kalo mau nyebut. Emm... okelah, aku akan menyebutnya sebagai tempat produksi mebel dan furniture rumahan milik salah seorang teman. Hal yang cukup baru untukku, mengenal hal-hal berkaitan dengan dunia mebel dan furniture (adalah yang sulit untuk membedakan istilah mebel dan furniture, selanjutnya aku akan menyebut keduanya saja. Biar fair.) yang seharusnya sudah menjadi makananku sejak kecil.
Jepara yang memiliki julukan kota ukir memang memiliki banyak aset perajin furniture dan pemahat yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Banyak sentra perajin yang tersebar di seluruh wilayah Jepara. Tak terhitung jumlah perajin dan pemahat kayu yang ada di seluruh Jepara. Dan semuanya baru kusadari keberadaannya belum lama ini.

Kemana aja mbak?

Huhu, maafkan keculunanku di kampung sendiri. Maklumlah, aku tinggal di desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan pekerja di dunia mebel dan furniture. Ya, hanya pekerja. Berangkat pagi pulang sore dan semuanya berkutat dengan kayu. Dulunya, kupikir tak ada yang istimewa dari  semua pekerjaan tersebut. Sama saja seperti pekerjaan lainnya, memproduksi barang dan memenuhi pesanan.
Pertanyaan baru pun timbul, siapa yang memesan? Kok pesan terus? Kehidupan para tukang meskipun sederhana tapi tak pernah sepi dari pekerjaan. Adaaaaa saja yang dikerjakan. Lepas dari satu brak (sebutan untuk pabrik rumahan) bisa pindah ke brak yang lain. Yang namanya rejeki pasti gak kemana, sesederhana itu.

Baca juga : Piknik Depan Rumah 

Jepara sudah menjadi pusat produksi mebel dan furniture sejak lama. Dan kebutuhan akan perabotan rumah tangga tentu tidak akan bisa dihilangkan. Mau jadi apa kalau rumah tanpa isi? Mirip gudang kali ya, hehe. Meskipun banyak produk perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari non kayu dengan harga yang jauh lebih murah, bagi orang berduit, kualitas terbaik tentu menjadi prioritas utama.
Di hari ke 59 aku menjadi karyawan ini, sedikit banyak aku mulai tahu betapa indahnya kotaku. Jika setahun lalu aku disibukkan dengan menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman pegiat jalan-jalan, sepertinya tahun ini atau hingga seterusnya aku akan lebih banyak berurusan dengan penjualan dan produk perlengkapan rumah tangga berbahan kayu dan sejenisnya.

Mendapat Tawaran Kerja

Hari pertama bekerja, aku masih sangat gugup. Dunia mebel dan furniture adalah hal yang baru bagiku, sangat baru. Bahkan jenis produk dan berbagai rinciannya pun aku sama sekali tak tahu. Semuanya benar-benar dimulai dari nol. Harap maklum sekali karena aku bekerja bukan hasil dari pencarian di grup lowongan kerja yang banyak tersebar di sosial media maupun dari hasil broadcast di aplikasi  chat.
(Mungkin) seperti halnya para pekerja baru lainnya, aku sama sekali tak tahu istilah-istilah yang digunakan. Jenis barang, bahan hingga sebutan untuk proses pengerjaan pun sama sekali aku tak tahu. Haha, lucu sih tapi bagaimana lagi. Semua yang tahu berawal dari ketidahuan kan?, *alibi. Seiring berjalannya waktu, semua bisa teratasi dan banyak sekali ilmu yang kudapatkan meskipun belum seberapa. Alhamdulillah.

Aku mendapatkan tawaran kerja langsung dari salah seorang teman yang merupakan owner sebuah online shop yang bergerak di bidang mebel dan furniture yang sedang mencari admin sekaligus sekretaris di warehousenya. Karena sedang vacum kuliah dan memang sedang mencari tambahan pemasukan, tanpa pikir panjang akupun langsung mengiyakan. Selain itu, sebenarnya aku juga ingin belajar tentang dunia mebel dan furniture yang membuat Jepara terkenal di dunia.
Siapa tau kan ya, suatu saat aku bisa mengikuti jejak Pak Bos menjadi pengusaha mebel furniture dan memiliki banyak karyawan, hehe. Terlalu muluk-muluk, berlebihan dan lebay (halah), tapi tak ada salahnya berdoa yang baik-baik. Mohon aminkan.

Berapa Gajinya?

Dua kata ini adalah salah satu hal yang menurutku sangat tidak etis untuk diungkapkan dan sangat tidak wajib dijawab. Tapi bagi sebagian orang, bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan dari uang. Sejak awal bekerja, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan gaji, sedikit terlihat munafik tapi aku punya alasan untuk tetap mempertahankan statementku ini.
Selain bekerja untuk mendapatkan uang, aku juga punya keinginan untuk bisa belajar sambil bekerja. Mempelajari hal-hal baru yang (sangat) mungkin tidak bisa kudapatkan jika aku bekerja di tempat lain, bahkan jika aku sudah sarjana sekalipun. Bisa belajar ilmu marketing secara langsung dengan pelaku usaha yang sudah berpengalaman sekaligus belajar tentang mebel dan furniture sejak dari masih berbentuk potongan kayu hingga proses pengiriman dan sampai kepada pelanggan. Semuanya paket komplit dibungkus dalam sebuah bingkai pekerjaan berlabel karyawan.


Tidak ada yang patut dibanggakan, bahkan beberapa pihak menolak keputusanku bekerja sebelum lulus kuliah. Tapi dengan tidak mengurangi ras hormat kepada seluruh saudara dan teman, aku katakan pada mereka bahwa aku ingin belajar. Dimana lagi bisa belajar dan dibayar?

Sepertinya curhatku sudah terlalu panjang, terimakasih sudah membaca cerita pengalamanku selama 59 hari bekerja. Yuk share ceritamu juga!
Share
Tweet
Pin
Share
21 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ▼  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ▼  November 2017 (3)
      • Curhat Penikmat Sosial Media
      • Antara Aku, Make Up Dan Video Tutorial
      • Kisahku; Aku Belajar dan Aku Dibayar
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates