• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya



Pacaran itu gak ada dalam buku manapun, kecuali novel fiksi atau novel non fiksi yang berawal dari novel fiksi yang dibaca sebelumnya. Maksudku gaya pacaran real yang diadaptasi dari bacaan fiksi gitu lhoh. Ribet yaa...

Iya. Ribet. Sama dengan pacaran itu sendiri. Apalagi untuk yang belum benar-benar siap menjalin hubungan dengan orang lain yang belum dikenal atau sudah dikenal namun dengan kedekatan yang berbeda. Menurutku, ini hanya tentang status sosial di zaman yang sudah sangat lazim menghina jomblo. Atau alibi pemenuhan perhatian dan kasih sayang yang seperti mereka bayangkan selama ini.

Sebenarnya, daripada bahas pacaran mendingan bahas nikah. Lebih jelas dan terarah. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur ingin membahasnya.

Pada masa awal, pacaran akan terasa indah. Selalu berkabar, rajin nanyain pasangan, telponan tiap hari sampe kuping panas. Ya begitulah, namanya juga masih seger-segernya. Makin lama, karena kebanyakan yang pacaran adalah anak muda yang masih labil, makin berkurang deh keseruan di awal masa pacaran.

Apalagi kalo nggak ada tujuan serius sampai ke jenjang menikah, atau salah satu dari mereka adalah player, ya sudah pasti terbaca endingnya.

Para pelaku pacaran bukannya tidak tahu akibat dan resiko berpacaran, tapi ya lagi-lagi ini tentang status sosial. Akan terlihat wah jika mereka berpacaran, setidaknya ada nama yang bisa ditambahkan di bio sosial media dengan bubuhan emotikon love 😂.

Gaya pacaran anak muda lebih menjurus ke hal-hal yang have fun ala anak muda. Jalan bareng, makan bareng, belanja bareng dan lain-lain yang cenderung konsumtif. Padahal kebanyakan dari mereka belum produktif menghasilkan uang sendiri. Anehnya, mereka selalu bisa meluangkan waktu dan uangnya untuk hal itu.

Gaya pacaran anak muda tuh gak jauh beda, rata-rata hampir sama dengan pola yang juga sama.
➡KENALAN-PDKT-JADIAN-TAUBELANGNYA-MARAHAN-PUTUS
➡LIAT AVA CANTIK - DI DM - DAPAT KONTAKNYA - DIPUJI-PUJI KECANTIKANNYA (PADAHAL BIASA AJA) - PDKT - MAKIN DIPEPET - JADIAN DI HP - KETEMUAN - TERNYATA GAK SESUAI FOTO AVA - PUTUS
➡DIKENALIN TEMEN - PDKT - NEMBAK - JADIAN - DIMAKAN TEMEN - PUTUS

Masih banyak lagi teorinya sih, tapi gak mau nulis semua. Nanti aku dikira pakar dunia percintaan, eh dunia pacaran. Aku disini bedain pacaran sama percintaan ya Gais... Karena menurutku emang beda, beda banget. Pacaran, bahkan menikah ga musti pake cinta. Dan cinta pun ga musti berakhir dengan pacaran atau meniqah.

Jangan Pacaran, BERAT!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar





 Tiga Pasang Sepatu dan Dua Pasang Sendalku | Ada yang mengatakan bahwa sepatu (atau sebut saja aksesoris kaki) merupakan salah satu fashion icon yang cukup penting untuk diperhatikan. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa sepatu adalah bagian yang berbeda dengan tren fashion. Ya, memang letaknya cuma di kaki, ga begitu diperhatikan orang. Hei... kok cuma sih?. Bayangin kalo kita cuma nyeker tanpa alas kaki, bisa melepuh deh kulit kakinya. Ya kali wajahnya mulus tapi kakinya buduk. Ckck


Entah sepatu, sendal ataupun lainnya, bagiku cukup penting sih. Aku memang tipe yang ga kuat panas ataupun dingin, termasuk tekanan dari kerikil-kerikil kecil. Menyiksa. Aku tak suka. Kecuali di tempat-tempat yang memang lazim tak beralas kaki, misalnya di pematang sawah. Meski sekarang sudah ada sepatu booth, rasanya lebih nikmat saat merasakan pijatan lumpur sawah yang lembut di kaki. Sayang sendalnya juga sih kalo kena lumpur. Hehe

Nah, aku sendiri bukan tipe pengoleksi alas kaki baik sepatu maupun sendal. Ya.. seperlunya aja sih, gak usah banyak-banyak apalagi mahal. Pokoknya seperlunya dan secukupnya aja. Kita mau kemana, ada yang dipakai untuk melindungi kaki kita tanpa harus bingung mau beli baru demi kepuasan diri. Toh cuma di kaki, eh.

Kegiatanku sebagai pengangguran ya paling gitu-gitu aja sih. Tak terlalu sering tapi bisa dibagi ke beberapa bagian, seperti acara formal, non formal dan semi formal. Dan aku punya item sepatu untuk masing-masing acara tersebut. Berapa jumlahnya? Ya kali banyak-banyak. Satu aja kok.

Lho? masak ga ganti-ganti?
Emang kenapa kalo gak ganti? Kan sudah kubilang jarang dipakai juga. Kalopun orangnya sama di acara yang berbeda, paling juga orang yang lihat sudah lupa. Wong cuma di kaki aja kok, hehe.

Ya udah ya udah, emang apa aja sih?

1. Sepatu Lari


Ini sepatuku yang paling baru, hehe. Murahan banget, maksudku harganya murah. Ada sih merknya tapi entah ori atau kw aku juga gak ngeh. Yang penting nyaman aja dipakai. Ukurannya kegedean 1 nomor sih sebenernya, tapi cukup pas kalo buat lari. Soalnya waktu nyobain yang satu nomor di bawahnya agak ketat gitu. Jadi ya sudahlah....

Sepatu ini dipake cuma 3 kali seminggu, itupun kalo lagi rajin jogging. Saat menulis ini malah udah semingguan gak kepake karena sering bangun kesiangan dan udah lemes saat mau jogging sore. *alesan*

Sejak beli hingga sekarang belom pernah kucuci karena memang belum pernah kotor banget. Paling bagian bawahnya aja yang aku sikat dengan pasta gigi agar tetap putih kinclong seperti gigi di iklannya. Huhu

2. Sepatu Ket

Aku gak tau gimana ejaan yang benar, ket atau cat atau cet. Ah sudahlah, maksudnya yang itu. Tau kan maksudku?
Kalau biasanya yang disebut sepatu ket adalah yang memiliki tali di bagian atas dan datar di bagian bawahnya, punyaku ini tanpa tali. Ada sih tali, tapi udah nempel gitu jadi gak perlu diikat secara manual. Entah masih termasuk kawanan sepatu ket atau nggak aku pasrah aja.

Sepatu ini casual banget. Aku suka pake kemana-mana. Biarpun bagian dalamnya udah buluk dan jelek, yang penting gak bau hehe.

Sepatu ini sudah setahun lebih menemaniku, aku beli di toko sepatu pinggir jalan dengan harga enam puluh ribu saja. Murah kan?, dan sampai sekarang aku belum berniat menggantinya. Bentuknya yang unik, simpel dan tak perlu mengikat tali seperti sepatu lainnya membuat aku mudah memakainya. Apalagi jika bepergian ke tempat ramai yang gak mungkin bisa jongkok barang sebentar untuk mengencangkan ikatan talinya.

3. Sepatu Flat

Sepatu ini sedikit lebih tua dari sepatu lariku. Harganya dua kali lebih murah dari kakaknya adiknya, maksudku harga sepatu lari tadi dibagi dua. Memang agak kebesaran karena ukuran standarnya besar, tapi mau gimana lagi. Itu sudah ukuran terkecil di tokonya. Warnanya manis dan modelnya elegan membuatku kepincut saat itu. Sampai saat ini masih sering kupakai dan rencananya akan kupakai saat lebaran nanti.

Warna dusty pink yang dimilikinya membuat warna kulit kakiku yang agak gelap terlihat lebih cerah. Entah karena khayalanku saja atau teorinya memang seperti itu, aku tak tau persis. Yang pasti sepatu ini berhasil menambah rasa percaya diriku saat menghadiri acara formal maupun semi formal.

4. Sendal Gunung
Bukan foto asli nih, tapi mirip sih modelnya. 

Sandal gunung ini kubeli setahun yang lalu. Terlalu besar dan agak berat jadi jarang kupakai. Tapi aku suka modelnya yang tak pasaran, meskipun sering dibilang kebo sapi karena warna masing-masing sisi yang berbeda. Satu sisi berwarna merah dan satu sisi lainnya berwarna hitam. Dulu saat masih sering jalan-jalan di alam sih sering dipakai, sekarang sudah berganti jalan-jalan di dunia maya jadi jarang dipakai, deh.

Sendal ini kubeli dari salah satu produsen di Jawa Barat, kalo gak salah Bandung. Harganya lumayan karena modelnya custom. Selain nyaman saat dipakai, modelnya yang tak pasaran juga menambah kePDanku hehe.

5. Sendal Jepit Butut

Nah, ini nih bagian yang penting gak penting. Aku anggap penting karena paling sering dipakai kemana saja. Ya kali mau ke warung pakai sepatu lari? Enaknya kan pakai yang tinggal 'mblusuk' aja to?

Tapi ya gak penting juga dilihat dari bentuk dan buluknya. Sendal ini paling sering dipakai tapi paling jarang dibersihkan hehe. Yang penting selalu ada saat dibutuhkan.





Nah, itu tadi koleksi alas kakiku alas kakiku. Em, bukan koleksi sih kan soalnya cuma itu-itu aja hehe. Kalau kalian punya koleksi sepatu apa aja sih?, pasti banyak ya... Share yuk!

Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar

Entah sejak kapan lebaran menjadi identik dengan baju baru, dan entah sejak kapan pula aku tidak peduli dengan hal tersebut. Yang pasti, hingga sekarang keduanya berjalan bersama meski berbeda.

Ya, sejak kecil hingga sekarang aku memang termasuk bagian dari kaum yang jarang 'nyandang' atau membeli pakaian baru. Bahkan pernah dalam setahun aku hanya membeli pakaian sebanyak dua kali. Dan apakah aku lantas kehabisan pakaian? Tidak, aku masih berpakaian. Ya meskipun itu- itu saja, tapi justru menambah semangat kreatifitas untuk memadu padankan pakaian yang ada. Sangat menyenangkan.


Seperti Ramadhan edisi sebelumnya, properti baru menjadi topik yang wajib dibicarakan, bahkan kalau bisa diadakan. Aku sebut properti karena ini bukan hanya soal pakaian. Tapi apapun yang menjadi objek pandangan. Seakan harus baru, minimal baru beli meski bukan baru dibuat. 😂

Alasannya klasik dan lucu, tapi sudah mendarah daging. Biasanya dijawab dengan pertanyaan balik 'masa lebaran gordennya/kursinya/bajunya/temboknya/rambutnya/dsbnya sama kaya biasanya, GANTI DONG!'. Halah, mbok ya mikir, itu hati sudah diupgrade belom? Kalo sudah, darimana muncul pikiran semacam itu?, C'mon lah.

Hal semacam ini sudah biasa aku dengar di sekitarku. Meski berbeda pendapat, aku tak punya banyak nyali untuk mendebat mereka yang ujungnya pasti aku kalah juga. Ya, paling bisanya cuma nulis argumen di blog atau ngetweet sendiri, haha.


Jujur, aku bukan orang yang terlalu bersuka cita menyambut Lebaran. Biasa saja, Flat. Bahagia mungkin hanya di hari pertama dan kedua, saat berkumpul dengan keluarga. Momen yang dirindukan oleh siapapun. Selebihnya biasa saja, seperti hari biasanya.
Gini amat ya aku. hehe

Meski begitu, keasikan seluruh member keluarga menyambut lebaran kadang sudah cukup mampu menjadi penyemangat harique. Dari berburu baju baru berset-set meski dengan kualitas standar (gapapa yang penting baru) hingga berburu snack yang hanya ada di rumah saat lebaran saja. Ceritanya untuk hidangan tamu, tapi kenyataannya menjadi santapan orang rumah saat lebaran sudah usai dan para tamu sudah tak lagi berdatangan.

Begitulah, lebaran di mataku. Memakai baju baru di hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sesuai jumlah yang dimiliki. Bahkan kadang dipakai lebih dari sekali agar tetap dibilang baru. Sayangnya aku tak suka pakai baju baru, kadang sengaja kupakai lebih dulu sebelum lebaran. wkwk

Untuk yang jomblo kaya aku ini, yang bikin males adalah kekepoan sedulur semua. Sudah pasti muncul berbagai pertanyaan dari para sesepuh yang sudah mendahului ke pelaminan. Ya, pertanyaan keramat yang tak perlu kutulis disini. Seakan mereka sudah 'savage' hingga berani menanyakan hal yang mutlak menjadi hak Tuhan untuk menentukan.


Well, ini hanya sebagian. Hingga saat ini, lebaran masih begini-begini saja di mataku.

Sekian
Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
37 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ▼  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ▼  Juni 2018 (3)
      • Jangan Pacaran, Berat!
      • Tiga Pasang Sepatu dan Dua Pasang Sendalku
      • Lebaran Tiba, What Do You Think?
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates