Lebaran Tiba, What Do You Think?
Entah sejak kapan lebaran menjadi identik dengan baju baru, dan entah sejak kapan pula aku tidak peduli dengan hal tersebut. Yang pasti, hingga sekarang keduanya berjalan bersama meski berbeda.
Ya, sejak kecil hingga sekarang aku memang termasuk bagian dari kaum yang jarang 'nyandang' atau membeli pakaian baru. Bahkan pernah dalam setahun aku hanya membeli pakaian sebanyak dua kali. Dan apakah aku lantas kehabisan pakaian? Tidak, aku masih berpakaian. Ya meskipun itu- itu saja, tapi justru menambah semangat kreatifitas untuk memadu padankan pakaian yang ada. Sangat menyenangkan.
Seperti Ramadhan edisi sebelumnya, properti baru menjadi topik yang wajib dibicarakan, bahkan kalau bisa diadakan. Aku sebut properti karena ini bukan hanya soal pakaian. Tapi apapun yang menjadi objek pandangan. Seakan harus baru, minimal baru beli meski bukan baru dibuat. 😂
Alasannya klasik dan lucu, tapi sudah mendarah daging. Biasanya dijawab dengan pertanyaan balik 'masa lebaran gordennya/kursinya/bajunya/temboknya/rambutnya/dsbnya sama kaya biasanya, GANTI DONG!'. Halah, mbok ya mikir, itu hati sudah diupgrade belom? Kalo sudah, darimana muncul pikiran semacam itu?, C'mon lah.
Hal semacam ini sudah biasa aku dengar di sekitarku. Meski berbeda pendapat, aku tak punya banyak nyali untuk mendebat mereka yang ujungnya pasti aku kalah juga. Ya, paling bisanya cuma nulis argumen di blog atau ngetweet sendiri, haha.
Jujur, aku bukan orang yang terlalu bersuka cita menyambut Lebaran. Biasa saja, Flat. Bahagia mungkin hanya di hari pertama dan kedua, saat berkumpul dengan keluarga. Momen yang dirindukan oleh siapapun. Selebihnya biasa saja, seperti hari biasanya.
Gini amat ya aku. hehe
Meski begitu, keasikan seluruh member keluarga menyambut lebaran kadang sudah cukup mampu menjadi penyemangat harique. Dari berburu baju baru berset-set meski dengan kualitas standar (gapapa yang penting baru) hingga berburu snack yang hanya ada di rumah saat lebaran saja. Ceritanya untuk hidangan tamu, tapi kenyataannya menjadi santapan orang rumah saat lebaran sudah usai dan para tamu sudah tak lagi berdatangan.
Begitulah, lebaran di mataku. Memakai baju baru di hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sesuai jumlah yang dimiliki. Bahkan kadang dipakai lebih dari sekali agar tetap dibilang baru. Sayangnya aku tak suka pakai baju baru, kadang sengaja kupakai lebih dulu sebelum lebaran. wkwk
Untuk yang jomblo kaya aku ini, yang bikin males adalah kekepoan sedulur semua. Sudah pasti muncul berbagai pertanyaan dari para sesepuh yang sudah mendahului ke pelaminan. Ya, pertanyaan keramat yang tak perlu kutulis disini. Seakan mereka sudah 'savage' hingga berani menanyakan hal yang mutlak menjadi hak Tuhan untuk menentukan.
Well, ini hanya sebagian. Hingga saat ini, lebaran masih begini-begini saja di mataku.
Sekian
Happy Blogging!
Ya, sejak kecil hingga sekarang aku memang termasuk bagian dari kaum yang jarang 'nyandang' atau membeli pakaian baru. Bahkan pernah dalam setahun aku hanya membeli pakaian sebanyak dua kali. Dan apakah aku lantas kehabisan pakaian? Tidak, aku masih berpakaian. Ya meskipun itu- itu saja, tapi justru menambah semangat kreatifitas untuk memadu padankan pakaian yang ada. Sangat menyenangkan.
Seperti Ramadhan edisi sebelumnya, properti baru menjadi topik yang wajib dibicarakan, bahkan kalau bisa diadakan. Aku sebut properti karena ini bukan hanya soal pakaian. Tapi apapun yang menjadi objek pandangan. Seakan harus baru, minimal baru beli meski bukan baru dibuat. 😂
Alasannya klasik dan lucu, tapi sudah mendarah daging. Biasanya dijawab dengan pertanyaan balik 'masa lebaran gordennya/kursinya/bajunya/temboknya/rambutnya/dsbnya sama kaya biasanya, GANTI DONG!'. Halah, mbok ya mikir, itu hati sudah diupgrade belom? Kalo sudah, darimana muncul pikiran semacam itu?, C'mon lah.
Hal semacam ini sudah biasa aku dengar di sekitarku. Meski berbeda pendapat, aku tak punya banyak nyali untuk mendebat mereka yang ujungnya pasti aku kalah juga. Ya, paling bisanya cuma nulis argumen di blog atau ngetweet sendiri, haha.
Jujur, aku bukan orang yang terlalu bersuka cita menyambut Lebaran. Biasa saja, Flat. Bahagia mungkin hanya di hari pertama dan kedua, saat berkumpul dengan keluarga. Momen yang dirindukan oleh siapapun. Selebihnya biasa saja, seperti hari biasanya.
Gini amat ya aku. hehe
Meski begitu, keasikan seluruh member keluarga menyambut lebaran kadang sudah cukup mampu menjadi penyemangat harique. Dari berburu baju baru berset-set meski dengan kualitas standar (gapapa yang penting baru) hingga berburu snack yang hanya ada di rumah saat lebaran saja. Ceritanya untuk hidangan tamu, tapi kenyataannya menjadi santapan orang rumah saat lebaran sudah usai dan para tamu sudah tak lagi berdatangan.
Begitulah, lebaran di mataku. Memakai baju baru di hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sesuai jumlah yang dimiliki. Bahkan kadang dipakai lebih dari sekali agar tetap dibilang baru. Sayangnya aku tak suka pakai baju baru, kadang sengaja kupakai lebih dulu sebelum lebaran. wkwk
Untuk yang jomblo kaya aku ini, yang bikin males adalah kekepoan sedulur semua. Sudah pasti muncul berbagai pertanyaan dari para sesepuh yang sudah mendahului ke pelaminan. Ya, pertanyaan keramat yang tak perlu kutulis disini. Seakan mereka sudah 'savage' hingga berani menanyakan hal yang mutlak menjadi hak Tuhan untuk menentukan.
Well, ini hanya sebagian. Hingga saat ini, lebaran masih begini-begini saja di mataku.
Sekian
Happy Blogging!

37 komentar
H - 8 lebaran, aku juga belum punya baju lebaran. Entah beli entah tidak masih belum tau juga. Yang penting anak-anak dulu, bukannya membiasakan mereka membeli baju baru saat lebaran, tapi cuma menambah jumlah pakaian yang pantas dipakai ketika banyak tamu...
BalasHapusIya yah mba. Tujuannya memang harus spesifik, biarpun beli di hari lebaran tapi tak melulu jadi atribut khusus lebaran.
HapusKutemani aku pun flat hahaha. Tapi paling senengnya krn banyak kue dan makanan saat lebaran.Sejak kecil ortu jg gak membiasakan beli baju baru saat lebaran. Yg penting bersyukur aja dan merenungi perbuatan yg kmrn2, khususnya saat puasa, moga terbawa sampai ketemu puasa lagi yg baik2 :D
BalasHapusWah iya. Harusnya memang begitu, esensinya.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusSekarang fokus lebih ke baju anak sih. Cuma alhamdulillah anak aku ga ngotot minta baju lebaran. Yang ga bisa nahan itu pas kayak gini. Model baru banyak dan di bombardir ama diskon
BalasHapusHehe, dimana-mana diskon bertebaran. Harus kuat iman.
HapusHahaha ya ampun lika liku lebaran dan segala pertanyaanya, aku juga nggak suka.beli baju lebaran gitu2 sih tapi alhamdulillah suka diheliin, dan harus aku tinjau dulu suka atau enggak soalnya mubadzir kalo dipakai beberapa kali aja
BalasHapusAku sih mau mau aja. Kalo ga cocok bisa pake buat photoshoot baju-baju unik. Muehehe
HapusGapapa kok jomblo yang penting bisa menghargai diri sendiri dan kehidupan. Lebaran jangan sampai gini-gini aja. Harus dibikin spesial karena saat itu kita kembali ke fitrah
BalasHapusHehe
HapusYa mba
Betewe, tiga tahun terakhir ini justru menjadi lebaran yang tidak semeriah dulu. Aku tidak pulang kampung, ya meski ada beberapa anggota keluarga yang justru malah main ke Jogja. Tapi, feteplah suasana di kanpung itu cukup memberikan kenangan indah bagiku. Bahkan, selama hampir tiga tahun, aku belum menginjak kampung sama sekali. Meskipun, cukup banyak liburan yang ada.
BalasHapusYa ampun, tiga tahun ga pulang kampung? Betah amiiirr
Hapusjustru, saya tidak hobi mengganti perabotan gara2 lebaran.. saya ingin melewatkan lebaran dengan property yang sudah ada atau jika harus berganti itu karena fungsinya sudah tidak optimal.. saya ingin melihat bahwa waktu ini harus dihargai dan saya senang untuk menghitung berapa kali lebaran saya telah lewati dengan perabotan/property ini, kemudian saya berpikir betapa waktu ini terus mengejar saya...
BalasHapusWah... Dalem banget niiih
HapusAku udah lama gak ditanya kapan nikah sih. Beli baju atau lainnya juga gak nunggu lebaran. Yg penting sih kebutuhan harian sama ke depan setelah lebaran tercukupi. Habisnya kan libur panjang yg artinya gak ada pemasukan
BalasHapusHueheheh keren nih
HapusAku selalu iri dengan anak kecil yang hari-harinya adalah kesenangan dan petualangan yang baru. Ketika menjadi dewasa kita kehilangan keceriaan itu, semua pun menjadi biasa-biasa saja. Seperti bagaimana kita menghadapi Ramadhan dan Lebaran ini.
BalasHapusIya ya mba. Anak kecil emang selalu bikin iri.
HapusIyaa,
BalasHapusaku juga beberapa kali menunjukkan diri melalui twitter.
karena kalau fb, ada keluarga yang punya...hiihii...kalo sharing atau mengeluhkan sesuatu, takut jadi bahan omongan.
Thanks to twitter.
Dan lebaran.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita sepanjang Ramadan dan menjaga (keistiqomahan) kita setelahnya.
Aamiin.
Iyaaaa.. Twitter memang banyak usernya tapi sedikit yang dekat dengan kita. Aman deh.
HapusAamiin
Aku juga termasuk orang yang jarang pakai baju baru pas lebaran. Selain karena malu kayak anak-anak, uangnya juga dibelanjain buat keperluan lain. Hihihi.
BalasHapusYang penting bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, yaa :)
Iyaaa
HapusKalau ada rezeki, bulan puasa beli baju online, sering ada diskon. tapi langsung dipakai, jadi tetap tidak punya baju baru di hari lebaran. Wkwkwk....
BalasHapusKalau ada yg tanyain pertanyaan tabu itu... jawab saja masih menunggu seleksi bakal calon suami. "Bantuin memilih dooong..." wkwkwk
Wah..
HapusPerlu tim seleksi niih
Saat lebaran tiba kalo aq seneng banget soalnya suami libur panjang, hehe. Bisa main ke rumah saudara jauh juga. Mudik dan sebagainya. Buat yang single memang jadi kekesalan tersendiri sih ya. Tapi sama aja kalo udah nikah juga bakal ditanya kapan punya anak? Kapan tambah anak? Kapan mantu, dan seterusnya. Hehe
BalasHapusCie yang udah bersuami. Ehem
Hapushahaha aku ya jarang banget beli baju nih, bajunya itu2 aja :D
BalasHapusenaknya kl liburan kayak Lebaran nih, keluarga pada kumpul ya, jd rumah rame :D
Iyaa rame buanget
HapusLebaran bagi kebanyakan orang memang adalah hari yg baru sehingga memaksimalkan beli dan menggunakan barang baru. Alu sendiri ga terlalu ngeyel mau beli baju lebaran, kalau ada uangnya beli, kalau masih dibutuhkan utk alokasi yg lain, pakai baju lama pun tak apa.
BalasHapusKaya lagu mba... Hehe
HapusKaya lagu mba... Hehe
HapusLebaran,hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Mereka pasti senang bisa punya baju baru atau mendapat angpau. Sedangkan untuk orang dewasa memang terlihat biasa aja, ya...
BalasHapusIya mba. Aku juga dulu gitu sih rasanya. Hehe
HapusIya mba. Aku juga dulu gitu sih rasanya. Hehe
HapusSetelah punya anak aku malah terobsesi baju lebaran untuk anak2ku sedangkan aku sendiri ya itu2 saja. Lebih suka mix and match aja baju lama.
BalasHapusSekarang mah udah jarang mikirin baju baru hehe. Lebih banyak mikirin kiamul lail #ehhh
BalasHapusUdah selesai bacanya?
Komentar yuk, siapa tau isi hati kita sama :)