• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Tahun 2020 menjadi tahun yang cukup mengesankan. Emm,,  sepertinya bukan hanya cukup, tapi sangat mengesankan. Banyak hal yang aku pikir mustahil terjadi, ternyata terjadi di waktu yang tak disangka sama sekali. Ada juga hal yang aku pikir tidak akan aku dapatkan dalam waktu dekat, ternyata wow..  amazing parah. 

Begitulah, Tuhan maha baik kepada setiap makhluknya. Banyak sekali ucap syukur yang aku elukan tahun ini. Bukan berarti tahun sebelumnya Tuhan tidak baik padaku, tapi kesadaranku atas nikmat Tuhan serasa tumbuh lebat tahun ini. 

Namun sayangnya, blog ini kosong selama lebih dari satu tahun. Sedih banget rasanya, banyak hal terjadi namun tak ada dokumentasi baik gambar maupun tulisan. Padahal nih ya, awal mula aku ngeblog tujuannya untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari agar suatu saat bisa dikenang tanpa harus repot bercerita kembali sampai mulut berbusa. 

Kesibukan yang membuat badan bergerak banyak, otak terlalu banyak berpikir dan waktu yang terasa berlalu sangat cepat. Ketiga hal tersebutlah yang selama ini menjadi alasan untuk menunda menulis. Padahal gaya tulisanku nggak kaku-kaku banget, santai dan tidak terpaku pada EYD. Tapi ya gitu, masih aja beralasan. 

Tulisan ini memang sedikit menghakimi diriku sebagai owner sekaligus author satu-satunya di blog ini. Aku yang dulu katanya suka menulis, ujung-ujungnya menyerah dengan alasan klasik; sibuk. 

Ataukah sebenarnya aku tidak suka menulis? Hm... Perlu diselidiki lebih lanjut nih. 

Sebagai ritual penebusan dosa, mungkin aku akan kembali menulis terhitung sejak tulisan ini dipublish. Kembali aktif mengomel, curhat, mengulas atau bahkan berkomentar tentang topik tertentu. 

Ah,  sepertinya hanya bualan. Masih kemungkinan. Sepertinya tidak begitu ikhlas. 

Akupun sebenarnya masih ragu, tapi apapun itu, aku akan mencobanya sebisaku. Mungkin dimulai dengan menulis hal-hal yang sempat terlewat satu tahun belakangan, menulis resep temuan terbaru yang endul atau mengulas tentang para youtuber yang sering aku tonton. 

Sepertinya cukup sekian dulu. Mohon maaf jika terkesan seperti menghakimi diri sendiri, tapi jika tak begini, bisa-bisa aku lupa caranya menulis lagi. Terimakasih sudah berkunjung. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Waktu terus berlalu, tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan


Tak tahu kenapa, rasanya lagu ini mewakili perasaanku saat ini. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, tahu-tahu sudah ada di penghujung batas semester. 365x banyak tahun yang sangat mengesankan. Sayangnya banyak momen yang terlewat karena tak didokumentasikan. Duh, sayang sekali ya.
Lama nggak ngeblog rasanya pikiran blank, nggak punya gairah menulis. Mood jelek banget tiap berhadapan dengan ide. Rasanya ingin menulis tapi bingung mau memulai darimana. Well, maafkan jika tulisan kali ini acakadut.

Sebenarnya kali ini aku mau membahas tentang Quarter Life Crisis, fase hidup paling wow yang pernah aku alami. Wow banget sampai aku sempat berujar, "gapapa lah kejadian sekarang pas masih muda dan belum menikah, setidaknya bebanku nggak berat-berat banget.

Tapi rasanya tulisan ini akan panjang dan terbagi menjadi berberapa part. 

Fase Pause dalam hidup

Sebagai manusia yang tak lagi bisa dikatakan remaja, menghadapi tanggung jawab rasanya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi buatku yang belajar tanggung jawab secara otodidak dan nyaris tanpa dampingan. Bagiku, what people around me said, nggak menggambarkan diri mereka yang sebenarnya nggak lebih baik daripada aku. So,  apa yang membuatku harus percaya pada ucapan mereka? 

Time flies, dan aku akhirnya lebih percaya pada ucapan orang-orang yang menurutku lebih layak digugu lan ditiru. Bukan teman, bukan saudara, tapi ucapannya relate untuk kehidupanku. Dan setidaknya aku tak tahu apakah dia hanya omdo atau benar-benar menerapkannya dalam hidup. I don't care, yang penting aku hanya mencari bagian positif dari orang-orang tersebut.

Semakin kesini rasanya semakin mudah bertemu dengan banyak orang. Relasi pertemanan menjadi salah satu modal utama. Hubungan dengan keluarga menjadi hal sekunder yang nggak penting-penting amat. Waktu itu, belum terbersit untuk mengiyakan ungkapan "Keluarga adalah segalanya". Jahat ya, hehe... tapi ya memang begitu adanya. Tapi percayalah, ini bukan akhir. Ini hanya proses menuju pendewasaan dan pemicu kesadaran menjadi manusia yang seutuhnya ; makhluk sosial.

Setelah melewati fase enak-enak dengan banyak hal yang aku inginkan, akupun jenuh. Ya, jenuh sejenuh jenuhnya. Rasanya ingin berubah haluan tapi tak tahu harus bagaimana. Mendadak banyak masalah muncul, entah darimana asalnya yang pasti mereka ini mainnya keroyokan. Gak sportif banget. Kalau diingat lagi rasanya seperti jadi gula yang diperebutkan banyak semut. Gatal.

Dari sini, tanpa aku sadari ternyata banyak sekali kegiatanku yang terhenti sejenak sebelum waktunya selesai. Beberapa aku lakukan secara sengaja, dan selebihnya terjadi karena tragedi. Nih ya aku kasih uraiannya di bawah:


1.  Kuliah molor sampai 14 semester. 

Awalnya aku pikir biasa aja. Tak ada yang perlu disesali, dan memang aku nggak menyesal. kenapa?

Ya karena di waktu yang molor ini bukan berarti aku nggak dapat apa-apa. Banyak hal positif yang aku dapatkan. Lebih banyaknya berupa pengalaman sih, jadi ya wajar kalau orang lain melihatnya gitu-gitu aja. Padahal diri ini banyak upgrade-nya. 

Waktu terus berjalan, proses belajar pun masih berlanjut tapi dunia pendidikan formal terhenti sekian tahun. Meskipun pada akhirnya berjalan normal kembali dan lancar hingga akhir, fase ini cukup bikin deg-degan sih. tekanan dari berbagai pihak tanpa memberi solusi membuatku terpojok tapi perlahan bisa berdiri tegap lagi. Semoga lancar hingga waktunya wisuda bulan depan. 

2. Patah hati. 

Fase ini cukup wkwk sih. Iya, wkwk kalau diingat lagi, tapi sedihnya ga ketulungan waktu lagi ngerasain fase itu. Rasanya seperti nggak ada gunanya lagi hidupku ini. Ingin pergi ke ujung dunia lalu menghilang agar tak ada lagi rasa penyesalan yang berkepanjangan. Haduh, ini kalo diterusin bisa gila nih. Malu banget. 

Anyway, fase patah hati sebenarnya perlu banget. Ya memang rasanya ngilu, tapi efeknya bagus untuk pendewasaan diri. Tentu saja dengan catatan asupan energi positif harus selalu terpenuhi. Tidak harus keluar rumah, bisa kok lakukan hal-hal positif dari rumah. Kalo aku dulu suka nonton drakor, baca-baca wattpad atau nontonin video random di youtube.

Di fase ini, hidupku sempat terhenti sejenak. Memang aneh sih, gegara patah hati aja bisa sampe nge-pause-in hidup orang. Kurang lebih sebulan aku terkungkung di kehidupan yang toxic ini. Sampai akhirnya aku bisa keluar dengan tenang. Next aku akan ceritain gimana aku keluar dari goa gelap ini.


3. Bokek

Ya, bokek sebokek-bokeknya. Nggak ada uang, Nggak ada semangat hidup, ga ada teman berbagi. Yang ada cuma angan-angan tentang masa depan dan penyesalan tentang masa lalu. 

Menyesal sekali kenapa aku nggak nabung, menyesal kenapa nggak punya simpanan daa lain sebagainya. Tapi dari sini mulai bisa berpikir logis untuk masa depan yang lebih baik. Emang bener ya, pengalaman itu guru terbaik.

Nah, di fase bokek ini juga hidupku rasanya berhenti. Nggak bisa kemana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain. Fix, pause lumayan lama. Tapi waktu akhirnya menjawab segalanya dengan sangat bijak. Semua masalah teratasi di waktu yang tepat.

Waktunya Play Lagi!

Begitulah hidup, tak ada yang benar-benar sempurna. Sesempurna apapun penampakannya, pasti ada sisi buruknya. Setiap orang pasti punya sisi kelemahan masing-masing, tergantung orangnya saja, mau memilih menampakkan atau menyembunyikan saja. Yang pasti keduanya punya konsekuensi masing-masing.

Dari ketiga hal yang membuat hidupku berhenti sejenak di atas, kini semuanya sudah berjalan normal kembali. Efek dari hal tersebut tentunya banyak sekali, mulai dari stress sampai badan kurus kering hehe.

Apapun itu, kini hidup sudah kembali normal dan masih banyak ide yang harus dieksekusi, masih ada laporan yang harus dikerjakan, dan masih banyak cinta yang harus di sebarluaskan.

Teruntuk kalian yang sedang mengalami fase pause dalam hidup, never give up!, hidup akan berjalan dengan baik lagi seperti sedia kala. Cukup sabar saja dan rasakan berkah Tuhan ada dimana-mana.
Terimakasih sudah membaca. Tunggu tulisan lanjutannya ya.




Share
Tweet
Pin
Share
19 komentar

POV 1

Bencana yang disebut covid-19 telah berhasil mengubah kehidupan masyarakat hampir secara total. Meskipun sudah banyak himbauan sebelum virus ini benar-benar sampai ke Indonesia, nyatanya tak banyak yang mengalami panic action ketika tamu tak diundang ini benar-benar datang. Justru banyak yang mendadak menjadi pakar kesehatan hingga pakar spiritual di media sosial. Pandemi ini benar-benar ajaib.

Memang tak elak akan banyak terjadi perdebatan, apalagi Indonesia yang masyarakatnya terkenal bebal dan segan menalar ke dalam. Tapi untuk kali ini, apakah tidak bisa meninggalkan ego masing-masing demi keselamatan bersama?

Pemerintah sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran virus ini agar tak merenggut banyak nyawa lagi. Tapi apalah artinya pemerintah yang hanya menyeru tanpa digugu oleh masyarakatnya. Bahkan semakin banyak yang seakan sengaja menentang dan menantang maut dengan dalil ketuhanan. Ah, lucunya Negeri ini.

Sehari yang lalu, justru muncul ajakan untuk bergotong royong bersatu padu mengeratkan genggaman tangan demi pengadaan spot cuci tangan di seluruh kota. Tujuannya sih untuk membantu para pekerja lepas yang mau tak mau harus tetap bekerja di tengah pandemik ini. Terkesan baik dan memikirkan sesama, tapi bagaimana jika salah satu atau bahkan beberapa dari spot tersebut justru menjadi media penyebaran yang lebi masif?. Jangan dibayangkan ya, menyedihkan.

Himbauan tentang social distancing yang belakangan dialihkan ke phisycal distancing menjadi pilihan untuk siapapun yang merasa perlu menjaga diri dari virus yang bisa bertahan selama tiga jam di udara ini. Zaman makin berkembang dan kehidupan sosial bisa berjalan via daring. Sekolah diliburkan, segala kegiatan berjalan via media yang kian berkembang pesat. Life must go on. Tetap #DiRumahAja dan kehidupan akan tetap berjalan dengan baik.

Virus lama bernama hoax pun kian menyebar. Tetap hati-hati dan jangan sampai termakan oleh hoax yang dibuat sendiri. bukannya meredakan, justru menambah kasus baru. Seperti video merokok yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bahkan mengikutsertakan anak-anak. Narasinya pun seakan paling kuat dan kebal, padahal bebal. Atau hoax tentang menambahkan pil amoxicillin pada bak penampungan air yang katanya bisa menangkal virus corona. Ya Ampun, kenapa makin aneh saja masyarakat kita ini.

Tentang pandemi ini, serahkan pada siapapun yang kompeten dan berwenang mengatur. Jalankan tugas kita sebagai warga masyarakat yang baik untuk tetap menjaga kondusifitas wilayah masing-masing. Tak perlu banyak bacot tak penting, apalagi menyerang pihak lain demi kepuasan dan kepentingan pribadi. Ini wabah, ini musibah, siapapun memiliki kemungkinan terserang jika tak aman.

POV 2  


Sekolah-sekolah diliburkan demi tak menambah banyak korban. Tugas sekolah berubah menjadi tugas orang tua. Entah sudah berapa banyak keluhan yang tersebar di media sosial tentang kesusahan orang tua membantu anaknya mengerjakan soal yang diberikan pihak sekolah. Tak jarang pula muncul makian dan hinaan yang mungkin jika didengar para SJW (Social Justice Warrior) bisa dipidanakan. Sungguh ngeri dan mencekam. Orang tua sudah lelah bekerja untuk anaknya, ditambah lagi memikirkan turunnya pendapatan dan masih harus menemani anaknya belajar. Huft, terbayang betapa lelahnya.

Di beberapa belahan bumi yang lain, ada kaum rendahan yang menggantungkan hidupnya pada apa yang dikerjakan hari ini. Tak ada tanggungan besar dalam hidupnya kecuali apa yang harus dimakan hari ini. Corona? Covid-19? Pandemi? Tak ada artinya bagi mereka. Bekerja adalah hal yang wajib dan tak boleh ditinggal, apapun alasannya. Interaksi mereka ada yang terbatas adapula yang tanpa batasan. Sebatas ke sawah, sebatas ke ladang, sebatas ke rumah majikan atau tanpa batas melanglang buana tak tentu arah mencari barang bekas atau menunggu pelanggan di pinggir jalan.

Hidup mereka tak kompleks, sangat monoton, tapi tak banyak pilihan yang dimiliki. Mengikuti himbauan #DiRumahAja artinya mereka akan kelaparan. Memang aman dari virus kejam itu, tapi penyakit lain akan datang merusak kehidupan mereka.

Sementara corona menjadi sorotan, penyakit lain tak diindahkan. Korban Demam Berdarah Dengue tak bisa disepelekan. Desinfektan disebarkan, tapi voging ditinggalkan. Aman dari virus tapi nyamuk makin gencar menyerang.  

Pusat perbelanjaan banyak yang libur, its ok untuk yang sempat merasakan panic buying kemarin. Persediaan lengkap dan aman untuk beberapa hari ke depan. Lagi-lagi fulus yang berbicara, hanya orang kaya yang bisa melakukannya. Mereka yang bekerja dengan hasil pas-pasan hanya bisa makan yang ada. Jika garam habis dan tak ada tempat membeli. Lauk hambarpun tetap jadi kudapan lezat di mata mereka.

Gaya hidup sehat, air bersih, masker, cuci tangan sesering mungkin hanya informasi yang sekilas lewat di telinga mereka. Mereka begitu percaya bahwa dunia masih baik-baik saja. Sebentar lagi pandemi akan hilang dan kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti kemarin dan hari ini, karena setiap hari adalah sama bagi mereka.

Disclaimer


Dua POV diatas adalah hasil pengamatanku selama dua minggu. di tengah pandemi global ini, ternyata banyak hal unik yang terjadi. Bukan bermaksud membuat lelucon, tapi sekedar berbagi tentang apa yang aku rasakan. Dua sisi kehidupan berbeda membuat siapapun jengah, lebih jengah lagi jika ada di posisiku saat ini yang ada diantara mereka. Niat hati menjadi seperti yang diatas tapi apa daya tangan tak sampai, tapi untuk hidup seperti POV kedua rasanya mentalku belum siap menjalaninya.

Hidup di antara dua kubu rasanya cukup menyesakkan, berjalan ke 1 sisi aku dihadapkan pada solusi untu tetap di rumah dan bekerja sepanjang waktu. Pekerjaan selesai dan dapur tetap ngebul, nafsu makan tetap terjaga, gizi dan nutrisi tetap aman terkendali. Di sisi yang lain, tak akan ada sendawa setelah makan jika tak bekerja hari ini. Bahkan jikapun bekerja, belum tentu juga porsi makannya akan sama.

Memang tidak mudah menjalani hidup di tengah pandemik ini. merasa sudah baik-baik saja, ternyata diburu kepanikan yang sebenarnya tak perlu ada. Insecurity yang meningkat drastis membuat siapapun cenderung acuh pada sesama. Tapi bukan itu intinya, yang penting adalah saling menjaga. Menerima apa yang dianjurkan oleh pemegang kuasa, berusaha melakukan yang terbaik dimulai dari diri sendiri untuk orang lain di luar sana. tetap berbuat baik pada sesama meskipun tak ada jabat tangan, gantikan dengan senyuman tulus untuk saling menguatkan.

Tetap menjaga lisan dan jari agar tak mudah terprovokasi dan tanpa sadar menjadi provokator di sirkel baru. Tetap stay #DiRumahAja dan menjaga kewarasan dengan asupan informasi daring bermanfaat serta menjaga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup. Tetap rajin cuci tangan, gunakan masker jika terpaksa keluar dan jaga jarak minimal 1 meter dengan orang yang terindikasi flu atau sejenisnya.

Mohon maaf jika ada salah kata. Terimakasih sudah membaca.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ▼  2020 (3)
    • ▼  November 2020 (1)
      • WELCOME BACK, haiulya!
    • ►  September 2020 (1)
      • FASE PAUSE DALAM HIDUP
    • ►  Maret 2020 (1)
      • Ragam Rasa Covid-19
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates