• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya

7 Manfaat Minyak Zaitun Untuk Kecantikan

Minyak Zaitun merupakan salah satu bagian wajib dalam serial drama kecantikan saya, ceileh. Ya, saya selalu menyediakan Minyak Zaitun dalam pouch make up saya. Meskipun tidak setiap hari dipakai, tapi setidaknya dia selalu ada setiap kali saya membutuhkannya. Pertama kali saya membelinya secara tidak sengaja di sebuah bazar, harganya cukup murah. 10ribuan kalo gak salah.

Sejak saat itu saya selalu menyediakannya di rumah. Jika ada yang punya pengalaman meminumnya, saya belum pernah mencoba karena merasa belum perlu dan cukup dioles di area kulit saja sudah cukup. Manfaat yang saya dapatkan pun tak sedikit, meskipun kadang saya menjadikan Minyak Zaitun sebagai pilihan terakhir ketika malas membuat masker dari bahan alami lainnya seperti kopi, putih telur maupun jeruk nipis. 

Saya sering menggunakan Minyak Zaitun untuk masker di malam hari sebeum tidur. Penggunaannya cukup mudah dan tidak terlalu kotor dibandingkan bahan lain yang sering saya gunakan. Cukup mengoleskannya di wajah dan membiarkannya semalaman lalu dibilas keesokan harinya. Berbeda dengan bahan lain yang harus nunggu kering baru bisa dibilas dan HARUS dibilas. Kan gak lucu kalo tidur sambil pake masker kopi atau putih telur. Bau dan nyeremin euy...

Oh ya, Minyak Zaitun punya banyak sekali manfaat untuk kecantikan lho. Yakali saya cuma pakai doang tapi gak ada manfaatnya. Berikut 7 manfaat yang saya rasakan selama pemakaiannya:

1. Melembabkan kulit wajah
2. Menjaga kesehatan kulit 
3. Menyegarkan kulit wajah
4. Mengurangi Minyak pada wajah
5. Mencerahkan kulit wajah
6. Mengangkat sel kulit mati
7. Menghilangkan kantung mata
7 Manfaat Minyak Zaitun Untuk Kecantikan
Minyak Zaitun yang saya pakai
Nah itu tadi manfaat Minyak Zaitun untuk kulit wajah yang saya rasakan selama ini. Dan untuk penggunaannya sangat mudah sekali. Biasanya langsung saya ambil cairannya lewat lubang botol dengan ujung jari lalu dioleskan ke seluruh wajah. Mudah sekali, bukan?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Instagram, siapa yang tak tahu aplikasi satu ini? People zaman now sudah pasti tahu dan punya aplikasi ini di smartphonenya. Meskipun tak dipungkiri juga banyak people zaman old yang juga tak ketinggalan untuk memiliki setidaknya satu akun di platform bergengsi ini.

Aku mengenal instagram sekitar dua tahun lalu saat pertama kali memiliki smarthphone berbasis android. Karena sedang asik-asiknya punya hp android, aku yang memang tak bisa diam ini pun memanfaatkannya untuk hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang tidak ada gunanya. Ya, meskipun akhirnya kandas dan pupus di tengah jalan.

Semakin hari, inovasi yang diberikan pihak instagram pun semakin banyak dan diterima dengan baik oleh para penggunanya. Salah satunya adalah instastory yang menurutku sangat membuang banyak waktu dan kuota (tentu saja).
Bagaimana tidak?
Saat masih awal-awal menggunakan instagram, aku sering sekali khilaf scroll apapun yang ada di feed hingga jauh ke akun yang mungkin sebenarnya tidak aku butuhkan. Hal ini saja sudah membuang banyak waktu, apa sih yang kita lihat disana?

Kecuali jika kita memang butuh untuk riset atau untuk hal penting lainnya, hal ini hanya membuang waktu saja. Hehe ketimbang hanya scroll mendingan baca buku kali ya, nambah wawasan.

Dan sekarang, instastory yang hanya berisi cuplikan kegiatan baik berupa foto maupun short video seakan telah menjadi hal wajib yang harus dilakukan setiap hari. Tentang kita dimana, sedang apa, dengan siapa, dan sebagainya.

Sejauh ini aku tak pernah memebedakan orang, entah artis atau bukan semuanya sama di sosial media. Semuanya bersifat hiburan. Bedanya adalah jika para artis melakukan live dan mengunggah story mereka di media sosial sebagai bagian dari pekerjaan, dan kita sebagai orang biasa hanya menikmatinya tanpa sadar telah menjadi korban kekhilafan kita sendiri.

Hal lain yang menjadi ironi adalah merebaknya suasana ala ala artis di dunia nyata. Kali ini bukan artis sebagai pelakunya ya. Mungkin hanya follower yang hobi stalking akun idolanya saja. Mulai bermunculan kegiatan-kegiatan yang terinspirasi dari para idola, dari yang baby shower, perayaan mau lepas masa lajang, sampai yang suka sewa studio foto tiap minggu.
 -bersambung



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi sebagian wanita, make up adalah hal yang terpisahkan dari setiap helaan nafas. Baik wanita dewasa maupun yang baru menginjak dewasa, bahkan yang sok sok udah dewasa. Baik yang sudah bisa dan pandai bersolek maupun yang masih amatiran (sepertiku). Wajarkah? Tentu saja sangat wajar. Bukankah wanita memang tercipta untuk segala keindahan tersebut?. 

Pikiran asal-asalanku mengatakan tentu sangat wajar, lha kalo wanita gak pake make up kasian yang jualan bedak donk, bangkrut lah mereka!.

Aku adalah salah satu pengagum kecantikan yang tidak bisa mengaplikasikan, eh maksudku belum bisa. Berkali-kali aku menengok video tutorial make up di youtube demi dapat bermake up dan terlihat cantik, tapi nyatanya masih saja nihil. Aku tak bisa berdandan.

Biasanya aku hanya menggunakan pelembab, bedak dan lipstik untuk menyapu wajahku agar tak terlihat kuyu. Begitu saja setiap hari, ke kampus, ke tempat kerja, ke tempat hang out dan ke tempat-tempat lainnya. Sangat simple dan murah. Untungnya kulit wajahku bukan tipe yang rewel sering jerawatan maupun perlu perawatan ekstra, sangat menguntungkan bagiku yang agak malas melakukan perawatan rutin.

Musim Nikahan


Dalam penanggalan jawa, bulan safar diyakini sebagai bulan yang baik untuk menyelenggarakan hajatan maupun kegiatan tertentu. Salah satunya adalah hajat pernikahan yang saat ini bisa dibilang sedang musim di kotaku, Jepara. Dimana-mana selalu ada tenda biru ala nikahan. Apalagi di sosial media, timeline hampir penuh dengan foto-foto pernikahan dengan berbagai caption, status whatsapp dan dp bbm pun tak berbeda, isinya NIKAHAN semua. 

Bukannya baper, aku justru tergoda melihat dan mengamati riasan makeup para pengantin yang silih berganti menghantui timelineku. Semuanya cantik. Yaiya, namanya juga dirias pasti cantik. Kecuali kalo yang merias adalah mantannya calon suami, bisa jadi badut deh tuh pengantin perempuan. Setiap ada yang menikah, salah satu yang menjadi topik khas ibu-ibu adalah ngantene mangklingi ora?.

Ada keyakinan terselubung bahwa wanita yang suka berhias aka. Bermake up tidak akan mangklingi saat menjadi pengantin, pun sebaliknya. Mangklingi disini maksudnya adalah perbedaan yang mencolok dari pra dan pasca riasan. Ada yang wajahnya berubah menjadi cantik dan mempesona bak bidadari, adapula yang terkesan cantik namun biasa saja, tidak ada yang menarik. Aku tak tau apa yang ada dibalik semuanya, tapi yang pasti hal seperti itu ada di dunia ini. 


Tutorial Make Up dari Youtube


Berawal dari ketidaksengajaan saat mengecek perkembangan channel youtube yang berujung pada sebuah video tutorial make up yang aku lupa milik siapa. Aku bersama salah seorang teman kerja yang ekspert di bidang make up sepakat untuk membuat video dengan make konten make up. Setelah negosiasi yang cukup alot akhirnya aku yang menjadi objek eksperimen make up yang pertama kalinya ini. Agak takut sih, tapi penasaran juga gimana mukaku setelah dimake up nanti. Peralatan yang digunakan cukup sederhana dan seadanya. Bermodal kamera handphone dan tripod kami membuat video di jam istirahat kerja. 

Dengan memanfaatkan salah satu sudut di tempat kerja, video pun direkam dengan konsep seadanya. Harap maklum karena masih pemula, semuanya serba sederhana dan apa adanya. tentang hasil, wow... sungguh di luar ekspektasi. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Lihat saja hasilnya.


 Video lengkapnya mari kita tonton di sini


Sejak saat itu aku seperti ketagihan berdandan. Tapi apalah dayaku yang hanya punya bedak, lipstik dan maskara. Harus sabar menunggu hari gajian untuk bisa sedikit bereksperimen, setidaknya aku bisa terlihat lebih cantik saat di kamera, huaahahaa. Dan sekarang hanya cukup menerima apa yang dengan modal dan make up seadanya sambil belajar dari para beauty blogger dan beauty vlogger di luar sana. 

Sekian celotehku yang tak penting tentang make up kali ini. semoga ke depannya lebih oke, tapi jangan pangling ya kalau suatu saat bertemu aku dan keliatan beda, haha. Kamu punya cerita tentang makeup? Share yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
17 komentar




Hari ini adalah hari ke 59 aku bekerja di sebuah pabrik, eh perusahaan, eh apa ya enaknya kalo mau nyebut. Emm... okelah, aku akan menyebutnya sebagai tempat produksi mebel dan furniture rumahan milik salah seorang teman. Hal yang cukup baru untukku, mengenal hal-hal berkaitan dengan dunia mebel dan furniture (adalah yang sulit untuk membedakan istilah mebel dan furniture, selanjutnya aku akan menyebut keduanya saja. Biar fair.) yang seharusnya sudah menjadi makananku sejak kecil.
Jepara yang memiliki julukan kota ukir memang memiliki banyak aset perajin furniture dan pemahat yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Banyak sentra perajin yang tersebar di seluruh wilayah Jepara. Tak terhitung jumlah perajin dan pemahat kayu yang ada di seluruh Jepara. Dan semuanya baru kusadari keberadaannya belum lama ini.

Kemana aja mbak?

Huhu, maafkan keculunanku di kampung sendiri. Maklumlah, aku tinggal di desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan pekerja di dunia mebel dan furniture. Ya, hanya pekerja. Berangkat pagi pulang sore dan semuanya berkutat dengan kayu. Dulunya, kupikir tak ada yang istimewa dari  semua pekerjaan tersebut. Sama saja seperti pekerjaan lainnya, memproduksi barang dan memenuhi pesanan.
Pertanyaan baru pun timbul, siapa yang memesan? Kok pesan terus? Kehidupan para tukang meskipun sederhana tapi tak pernah sepi dari pekerjaan. Adaaaaa saja yang dikerjakan. Lepas dari satu brak (sebutan untuk pabrik rumahan) bisa pindah ke brak yang lain. Yang namanya rejeki pasti gak kemana, sesederhana itu.

Baca juga : Piknik Depan Rumah 

Jepara sudah menjadi pusat produksi mebel dan furniture sejak lama. Dan kebutuhan akan perabotan rumah tangga tentu tidak akan bisa dihilangkan. Mau jadi apa kalau rumah tanpa isi? Mirip gudang kali ya, hehe. Meskipun banyak produk perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari non kayu dengan harga yang jauh lebih murah, bagi orang berduit, kualitas terbaik tentu menjadi prioritas utama.
Di hari ke 59 aku menjadi karyawan ini, sedikit banyak aku mulai tahu betapa indahnya kotaku. Jika setahun lalu aku disibukkan dengan menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman pegiat jalan-jalan, sepertinya tahun ini atau hingga seterusnya aku akan lebih banyak berurusan dengan penjualan dan produk perlengkapan rumah tangga berbahan kayu dan sejenisnya.

Mendapat Tawaran Kerja

Hari pertama bekerja, aku masih sangat gugup. Dunia mebel dan furniture adalah hal yang baru bagiku, sangat baru. Bahkan jenis produk dan berbagai rinciannya pun aku sama sekali tak tahu. Semuanya benar-benar dimulai dari nol. Harap maklum sekali karena aku bekerja bukan hasil dari pencarian di grup lowongan kerja yang banyak tersebar di sosial media maupun dari hasil broadcast di aplikasi  chat.
(Mungkin) seperti halnya para pekerja baru lainnya, aku sama sekali tak tahu istilah-istilah yang digunakan. Jenis barang, bahan hingga sebutan untuk proses pengerjaan pun sama sekali aku tak tahu. Haha, lucu sih tapi bagaimana lagi. Semua yang tahu berawal dari ketidahuan kan?, *alibi. Seiring berjalannya waktu, semua bisa teratasi dan banyak sekali ilmu yang kudapatkan meskipun belum seberapa. Alhamdulillah.

Aku mendapatkan tawaran kerja langsung dari salah seorang teman yang merupakan owner sebuah online shop yang bergerak di bidang mebel dan furniture yang sedang mencari admin sekaligus sekretaris di warehousenya. Karena sedang vacum kuliah dan memang sedang mencari tambahan pemasukan, tanpa pikir panjang akupun langsung mengiyakan. Selain itu, sebenarnya aku juga ingin belajar tentang dunia mebel dan furniture yang membuat Jepara terkenal di dunia.
Siapa tau kan ya, suatu saat aku bisa mengikuti jejak Pak Bos menjadi pengusaha mebel furniture dan memiliki banyak karyawan, hehe. Terlalu muluk-muluk, berlebihan dan lebay (halah), tapi tak ada salahnya berdoa yang baik-baik. Mohon aminkan.

Berapa Gajinya?

Dua kata ini adalah salah satu hal yang menurutku sangat tidak etis untuk diungkapkan dan sangat tidak wajib dijawab. Tapi bagi sebagian orang, bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan dari uang. Sejak awal bekerja, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan gaji, sedikit terlihat munafik tapi aku punya alasan untuk tetap mempertahankan statementku ini.
Selain bekerja untuk mendapatkan uang, aku juga punya keinginan untuk bisa belajar sambil bekerja. Mempelajari hal-hal baru yang (sangat) mungkin tidak bisa kudapatkan jika aku bekerja di tempat lain, bahkan jika aku sudah sarjana sekalipun. Bisa belajar ilmu marketing secara langsung dengan pelaku usaha yang sudah berpengalaman sekaligus belajar tentang mebel dan furniture sejak dari masih berbentuk potongan kayu hingga proses pengiriman dan sampai kepada pelanggan. Semuanya paket komplit dibungkus dalam sebuah bingkai pekerjaan berlabel karyawan.


Tidak ada yang patut dibanggakan, bahkan beberapa pihak menolak keputusanku bekerja sebelum lulus kuliah. Tapi dengan tidak mengurangi ras hormat kepada seluruh saudara dan teman, aku katakan pada mereka bahwa aku ingin belajar. Dimana lagi bisa belajar dan dibayar?

Sepertinya curhatku sudah terlalu panjang, terimakasih sudah membaca cerita pengalamanku selama 59 hari bekerja. Yuk share ceritamu juga!
Share
Tweet
Pin
Share
21 komentar


Sudah hampir dua bulan aku tak mendapat ajakan piknik. Meskipun jarang di rumah, dolanku tetap ke tempat yang dekat-dekat saja, kalau tidak dekat dari rumah ya dekat dari tempat kerja. Selain itu juga maksimal hanya dua jam aku menghabiskan waktu bersama mereka dengan perjalanan melalui daerah kota yang meskipun sejuk tapi kurang menyegarkan.

Ya, bagiku piknik adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk melepas kelelahan selama bekerja dengan suasana yang berbeda. Meskipun aku anak desa, tapi pemandangan hijau ala persawahan masih menjadi hal yang mengagumkan bagiku. Maklum saja, rumahku berhadapan langsung dengan jalan raya kampung, jadi mau tidak mau aku harus merasakan kebisingan yang lebih dibanding warga kampung lainnya. Beda tipis dengan suasana kota, anggap saja sebelas dua belas.

Hampir setiap minggu selalu ada yang mengajakku piknik. Yang ke sana lah, ke situ lah. Meskipun sudah pernah dikunjungi, rasanya tak pernah bosan untuk sekedar kembali lagi selama cuaca dan keadaan dompet tak menghalangi hehe. Namun, sekira dua bulan ini ada yang berkurang dari kegiatanku yang sebelumnya. Tak ada ajakan piknik. Sekalinya ada, sudah ada agenda lain yang belakangan diketahui ternyata dicancel. Sekali dayung, dua acara terlewati, hiks.


Tamu Tak Diundang


Dua minggu yang lalu saat sedang bersantai, rumahku didatangi dua tamu tak diundang. Sepupuku dari negeri seberang (halah) sedang ingin mengunjungi simbahnya yang sedang sakit. Setelah berbincang cukup lama akhirnya muncullah ide untuk mengajak mereka menikmati es kelapa muda di depan rumah. Rumahku dikelilingi oleh beberapa pohon kelapa yang memang selalu berbuah.

Setelah mereka (berdua) bersusah payah nyonggek (baca-memetik) kelapa, aku siapkan es dan segala alat lainnya. Selesai digepuk, kami langsung mengeksekusi dengan mengambil isi buah kelapa dengan tutup botol bekas. Tak lupa pula dicampurkan dengan sirop, gula, garam dan beberapa butir nasi agar lebih mantab rasanya. Hasilnya tak jauh beda dengan penjual es kelapa muda di pasaran, hehe.



Kami lanjutkan dengan menikmati minuman seadanya ini bersama tahu pong sambil berbincang ngalor ngidul, dari hal penting hingga tak penting. Ternyata piknik bisa dinikmati dengan semudah ini. Tak perlu jauh-jauh ke tempat rekreasi dengan suguhan pemandangan nun jauh disana, depan rumah pun bisa jadi tempat penghibur lara.

Piknik dadakan kamipun terpaksa diakhiri karena hujan segera turun dan makanan kami pun sudah habis, semoga suatu saat bisa terulang lagi bersama anggota keluarga atau teman lain yang berkunjung ke rumah. Semoga timingnya tepat saat buah kelapanay belum beranjak tua hehe.

Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang piknik di sekitar rumah? share yuk...

Share
Tweet
Pin
Share
30 komentar

Halo hai, lama gak ngeblog rasanya susah mau nulis lagi. Biasa lah namanya juga labil hehe.
oke, lupakan tentang kelabilanku dan mari kita mulai bahasan kali ini. Kali ini aku mau share Tips biar bibir tetap lembut dan kering meskipun banyak aktifitas di luar ruangan. Tau sendiri lah gimana cuaca sekarang yang lagi hot in buanget. 

Yang paling penting dan utama adalah air putih. Ya, kamu harus banyakin minum air putih. Bukan dalam hal ini aja sih, seluruh aspek yang berkaitan dnegan tubuh manusia biasanya akan dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi air putih atau air mineral. So, aku gak masukan air putih dalam jajaran tips kali ini.

menurut pengalamanku, ada lima hal yang bisa kamu lakuin biar bibir tetap lembut dan gak kering. check this out:
1. Madu.

Siapa yang gak tau tentang khasiat madu yang bejibun? salah satunya bisa untuk melembabkan bibir kering loh. caranya, oleskan madu secukupnya pada bibir kamu sebelum tidur. pijat perlahan beberapa saat dan biarkan semalaman. Usahakan untuk rutin ya, biar hasilnya maksimal.
Kalo aku sendiri sih, karena memang banyakan di dalam rumah jadi seringnya aku olesin aja kalo lagi pengen. Gak perlu nunggu pas mau tidur aja, hehe.
2. Minyak Zaitun

Kandungan vitamin dalam minyak zaitun juga dipercaya mampu menutrisi bibir kering loh. Bisa diaplikasikan sendiri ataupun dengan campuran bahan lain seperti madu ataupun gula pasir. Cara pengaplikasiannya musah banget, tuangkan minyak zaitun ke wadah secukupnya lalu oleskan pada bibir, pijat sebentar dan biarkan hingga mengering atau hilang dengan sendirinya. 
Kalo aku sih biasanya dari botol kecil seukuran minyak angin langsung ditetesin ke jari gitu. Jadi gak perlu makan banyak wadah buat naroh minyak zaitunnya.
3. Gula Pasir

Gula pasir atau gula putih juga bisa buat perawatan bibir kering loh. Tapi berbeda dengan madu dan minyak zaitun, gula pasir harus punya tandem. Gak bisa jalan sendiri. Kalo sendiri jadinya dimakan gak dipake perawatan wkwk.
Caranya ambil satu sendok teh gula pasir dan 4 tetes madu atau minyak zaitun. aduk hingga rata dan membentuk scrub. Jangan encer banget ya. Lalu oleskan pada bibir dan pijat ringan bersama butiran-butiran gula. Lakukan sekira  menit lalu bilas dengan air hangat.

Kamu bisa pakai takaran secukupnya, gak harus 4 tetes. Tergantung tetesannya juga kali ya, gede apa ngga haha. Yang penting bisa jadi scrub dan ga mubadzir nantinya.
4. Bubuk Kopi

Tauu gak sih, bubuk kopi selain bisa dibikin kopi juga bisa dipakai sebagai scrub bibir. Caranya gampang banget. Campur bubuk kopi dengan sedikit air, sedikiiiit saja, jangan terlalu encer nanti malah jadi wedang kopi hehe. Setelah itu oleskan pada bibir dan pijat perlahan sekira 5-10 menit lalu bilas dengan air hangat.
Pastikan campurannya pas untuk ukuran scrub ya, kira-kira kayak lulur badan yang biasa kita pakai. Gak encer dan gak kental banget. 

5. Pasta Gigi

Pernah gak bibir kamu gak sengaja kena pasta gigi pas lagi sikat gigi? rasanya gimana? adem kan? seger-seger gimana gitu ya.
Ternyata pasta gigi bisa untuk mengatasi bibir kering loh. Caranya mudah, oleskan pasta  gigi pada bibir dan ratakan. Tunggu sebentar lalu bilas.
Ohya, kalo merasa pasta gigi terlalu panas jika dioleskan di bibir secara langsung bisa juga kamu akalin dengan menggosok area bibir dengan pasta gigi disaat menggosok gigi. Sebenarnya aku gak recommend pakai pasta gigi sih, karena kurang alami dan panas juga kan. tapi bisa lah dipake kalo lagi buru-buru dan gak punya banyak waktu. 

Nah, itu dia 5 tips dari aku biar bibir kamu gak kering lagi. Semuanya berdasar pengalaman aku karena memang tipe bibirku mudah kering *curhat. Selamat mencoba. jangan sungkan bertanya ataupun berkomentar ya. see ya


Share
Tweet
Pin
Share
16 komentar

Hape, salah satu jenis gawai yang paling mudah dibawa kemanapun. Tinggal selipin di saku aja udah oke, lagi main di air? tenang!, ada kok waterproof case buat Hape. So simple dan sangat fleksibel dibawa kemanapun. Dan..... siapa sih yang gak punya? anak kecil aja hapenya udah Iphone, minimal Oppo lah yang standarnya udah lumayan. Mahasiswa semacam aku ini malah tertinggal jauh dari mereka.

Sejak pertama memiliki Hape, mungkin baru beberapa kali ganti dan baru sekali ini seriusin, eh maksudnya benar-benar terpakai sesuai fungsinya. Dulu pas masih muda dan (sedikit) alay, hape yang kupunya hanya terpakai sebatas untuk sms dan bermain facebook saja. Duh, masalaluku :(.
Akhir 2015, aku membeli Hape Samsung Galaxy Vplus yang saat itu sudah cukup bagus menurutku. Kan dulu belum ada hape dengan kamera yang selfie expert dan perfect selfie kaya sekarang, jadi yaaa... lebih prefer ke kegunaannya aja. Pertama kali menggunakannya aku langsung membeli Hard case yang berbentuk seperti dompet atas saran ibu. Safety banget, gak takut jatuh ataupun lecet. Namun kurang nyaman digenggam karena bentuknya jadi terkesan besar dan gak muat di tangan kecilku.

Setelah itu, aku beralih ke pilihan kedua, soft case, tidak mengurangi kenyamanan tapi justru licin saat digenggam. Tuh kan, gak enak lagi. Dan akhirnya aku putuskan untuk mencari info tentang Garskin yang biasa kulihat di instagram. Setelah menemukan beberapa info tentang bahan dan kelebihannya, akhirnya aku putuskan untuk memesannya di salah satu penjual di Jepara.
Sistemnya harus preorder karena menyesuaikan motif yang dipesan dengan tipe hape yang digunakan. Pertama kali aku pakai motif batik, klasik memang, tapi aku suka. Saat dipasang memang agak sulit. Jika tidak yakin bisa, sebaiknya minta tolong kepada penjualnya untuk memasang demi menghindari kegagalan dan kesalahan fatal.


Setelah terpasang, taraaaaaaaaaaa.... Hapeku jadi makin oke deh. Genggamannya pun nyaman, tidak licin. Dan bagi aku yang, syukurnya, jarang sekali menjatuhkan Hape cukup nyaman dan aman. Sekedar cerita aku punya teman yang kalo pegang Hape tuh sering banget jatuh, entah kesenggol, kena apa atau apa, akhirnya dia memutuskan menggunakan case berbentuk dompet untuk menghindari benturan lebih keras.

Intinya, Garskin bukan sekedar untuk melindungi casing, tapi juga untuk menyamankan pengguna saat menggenggam Hape. Cocok digunakan oleh yang suka lucu-lucuan karena bisa custom motif maupun tulisan yang disuka. Kalo kamu suka teledor atau sering menjatuhkan HHape kamu tanpa sengaja, lebih baik berikan perlindungan tambahan seperti hard case atau apapun yang menurut kamu bisa melindungi Hape kamu. Oh ya, Garskin buat netbook atau laptop juga ada lhoh. Bikin makin kece dan semangat ngerjain tugas nih.

So, kalo menurut aku sih Garskin itu cukup penting bagi yang gak suka hard case, karena selain bikin Hape jadi lucu dan unik, juga bisa lebih jadi lebih nyaman saat digenggam.


Sekian dulu ceritaku tentang Pengalamanku menggunakan Garskin.
Kamu punya cerita tentang hape dan garskin juga? share yuk....
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Maret 2017, tepatnya hari Kamis di akhir bulan, 18 hari setelah pertama kali ke Gardu Pandang Jehan atau sekitar satu minggu setelah Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doyan Dolan, aku kembali ke Gardu Pandang Jehan lagi. Kali ini hanya berjumlah empat orang dan ironisnya, semuanya laki-laki kecuali aku. Awalnya karena memang sedang tidak ada kegiatan karena les libur akhirnya aku putuskan mengikuti mereka saat ada yang membuat ajakan kesana di Personal Message BBM.

Kami berangkat melalui jalan utama dari arah Jepara kota, mellaui Kembang dan jalur menuju Air Terjun Songgolangit dan berbelok ke arah Jehan di pertigaan sebelum Air Terjun. Sesampainya disana, aku sedikit kaget dengan perubahan yang cukup cepat dan drastis. Jika dulu hanya ada sekitar empat Gardu Pandang berbentuk persegi dengan tangga mnuju keatas, kali ini sudah bertambah dengan sebuah miniatur kapal dengan ujung lancip berbendera merah putih.
Gardu berbentuk Kapal

keep safety ya...

aman kok, jangan takut.

harus ada yang berkorban buat foto, nih hehe


tetap gahol donk...
Warung warung kecil yang dulu hanya beralas tikar dan beratap terpal kini sudah memiliki tempat yang lebih baik. Meski masih beratap terpal, setidaknya para penjual bisa menyimpan dagangannya di dalam lemari yang sekaligus menjadi meja tempat makan para pembeli. Mereka pun menyediakan kursi di kanan kiri meja dan beberapa warung bahkan menyediakan hiburan musik yang khas Jepara banget.


Hujan deras banget sampe gelap di bawah

Kami tiba disana pada siang hari disambut dengan hujan deras tepat setelah kami tiba diatas. wow, segarnyaaa. Sejenak menikmati camilan yang kami bawa dari bawah ternyata tak membuat perut kenyang, setelah hujan reda kami pun berjalan menuju salah satu warung. Kamipun memesan mie instan sebagai satu-satunya menu yang cukup mengenyangkan dibandingkan yang lain. Selesai makan, kami baru berkeliling dan berfoto bersama.

Di beberapa spot foto memang sudah cukup aman untuk dinaiki bersama-sama, namun tetap harus menjaga keselamatan diri sendiri mengingat di bawah beberapa Gardu Pandang terdapat jurang yang mungkin akan membuatmu tegang. Bagi yang takut ketinggian sebaiknya tidak perlu naik ke Gardu Pandang yang cukup tinggi ya, atau jika kamu bersama teman atau pacar sebaiknya mintalah bantuan agar lebih aman.



Seperti itulah cerita Piknikku ke Gardu Pandang Jehan Bagian 2. Kamu punya cerita tentang Gardu Pandang Jehan juga?, share yuk...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Maret 2017, salah satu komunitas di Jepara mengadakan Camping Ceria di Pulau Panjang Jepara. Kebetulan aku sedang free dan memang ingin piknik, maka segera kuiyakan saat ada ajakan mengikuti. Dengan menaiki perahu milik salah satu anggota komunitas, kami pun menyeberang ke Pulau Panjang. Karena sejak siang hujan turun dengan derasnya, maka jadwal kamipun molor cukup lama menunggu hujan kembali reda. Sekira pukul 16.30, hujan sudah mulai reda dan kekhawatiran kami tentang batalnya acara kami pelahan luntur. Dengan menaiki perahu milik salah satu anggota komunitas, kami pun menyeberang ke Pulau Panjang.

Kami tiba disana menjelang matahari tenggelam dengan sambutan pasir yang basah akibat hujan yang hampir seharian mengguyur mereka. Matahari sudah tak lagi nampak karena tersapu mendung yang menambah gelap suasana. Syukurlah kami sudah sampai di Pulau Panjang dengan selamat.
Setelah para Punggawa (baca-anggota pria) memeriksa lokasi yang akan kami gunakan untuk mendirikan tenda, kamipun bergegas kesana sambil membawa perlengkapan yang kami bawa dari rumah. Kompor dua tungku, gas elpiji, panci besar dan alat camping lainnya kami bawa ke tenda besar yang ternyata sudah siap. Memang agak alay ya, camping kok bawa kompor dua tungku, hehe.
Yah, daripada sewa kompor portabel dan harus ngantri masak mendingan bawa aja yag ada. Toh gak ada yang dirugikan kalau alat ini dibawa, peralatan ini milik salah satu anggota yang memang tinggal sendirian di rumahnya. Dan tidak perlu banyak tenaga untuk membawanya sampai ke perahu karena tempat parkir perahunya ada di belakang rumah. Enak, bukan?

Lanjut ke Pulau Panjang, sejak magrib hingga menjelang pukul 20.00, gerimis yang turun tak kunjung reda. Kami banyak menghabiskan waktu di dalam tenda masing-masing. Kami membawa empat tenda, dua tenda untuk pria, satu untuk wanita satu tenda untuk peralatan kami.

Menjelang malam, kami memutuskan untuk makan malam bersama. Di luar ekspekstasi, ternyata panci besar yang tadi kami bawa berisi ayam yang sudah diungkep lengkap dengan bumbu khasnya. Nasi hangat juga telah tersedia disana, tak ketinggalan pula sambal kecap yang menemani ayam nikmat kami. Wah, ini sih piknik paling mewah sejauh pengalamanku.

Tidak ada acara khusus yang kami rencanakan. Tujuan kami semata-mata untuk Camping melepas penat setelah sekian hari berkutat dengan kegiatan harian. Sehingga kami hanya bersantai, ibarat kata hanya berpindah tempat tidur saja hehe. Selesai makan malam, aku dan teman wanita lain memutuskan untuk mengambil camilan dan kembali ke tenda sambil menunggu gerimis sedikit reda. Lama mengobrol, kamipun dilanda kantuk hingga masing-masing dari kami tertidur dengan sendirinya.

Aku terbangun saat waktu menunjukkan pukul 23.00 ketika gerimis sudah reda dan keadaan terlihat sepi. Ternyata teman-teman yang lain sedang memancing di dermaga Pulau Panjang. Aku menyusul sambil berbincaang dengan mereka di bawah payung langit malam yang temaram, duh.

Selepas ngobrol ngalor ngidul, sebagian dari kami menghidupkan api unggun. Sayangnya upaya mereka selalu gagal, Pertamax yang disiramkan ke kayu basah tak mampu membuatnya menyala meski dengan segala upaya. Untunglah ada bantuan dari nelayan yang singgah di Pulau Panjang, kami meminta sedikit solar untuk membantu perapian kami. Syukurlah bisa berhasil dan cukup untuk menghangatkan tubuh kami yang kedinginan sejak sore.

Menjelang Pukul dua dini hari, satu persatu dari kami kembali tidur dan bangun saat matahari agak meninggi. Setelah membersihkan diri dan berkeliling tenda, kami sarapan dengan nasi dan ayam sisa semalam ditemani mie instan goreng yang sungguh lezatnya. Dengan diiringi canda tawa, kami makan dengan lahapnya. Berbagi nasi, lauk dan kebahagiaan bersama. Selepas kenyang, kami pun membersihkan sampah yang ada di sepanjang garis pantai bagian depan dari Pulau Panjang. Ini salah satu agenda yang kami rencanakan sejak awal.


Selepas itu, Aku bersama seorang teman, mbak Ida,menyusul teman kami yang datang dengan rombongan lain, Opal. Kami mengajaknya berkeliling sambil mencari beberapa spot foto yang bagus. dan ini beberapa hasilnya. Gak bagus-bagus amat sih, hehe.




Kemudian kami berkeliling santai bersama-sama. Suasana pagi di sana masih segar, apalagi belum banyak pengunjung yang datang. Sayangnya sampah yang tercecer masih banyak dan tak ada petugas yang membersihkannya. Well, sebaiknya jangan menambah sampah di sana ya, Gais.

Setelah asik berfoto, kami dilanda lelah dan akhirnya hanya duduk-duduk di belakang tenda. Menjelang siang, kamipun berkemas dan pulang dengan hati yang gembira.

Komunitas Doyan Dolan merupakan komunitas dengan anggota yang tidak terlalu banyak namun bisa dikatakan cukup solid dalam hal pertemanan. Pertamaali mengikuti #Piknikfolkom saat di Kedung Paso bersama KPP Pratama Jepara. Setelah itu, setiap kali mereka mengadakan kegiatan aku selalu diajak, salah satunya adalah acara Camping Ceria di Pulau Panjang ini.

Sekian ceritaku tentang Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doyan Dolan. Kapan-kapan aku post lagi eksklusif tentang Pulau Panjang. Punya cerita tentang Pulau Panjang? Share yuk....


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kota Jepara dengan segala kelebihannya di pusat kota tak menyurutkan langkah kaki para pemuda untuk sekedar mlipir ke pedesaan. Selain karena aku anak desa, rasanya udara di perkotaan sudah jauh berbeda dengan di pedesaan yang meskipun tak sesejuk dan seasi dulu, setidaknya masih bisa disebut asri dan sejuk. 

Tahun ini, 2017, menjadi tahun yang asik bagiku. Banyak sekali hal baru yang kutemui, sampai nggak kober nulis di blog, (alibi). Akhirnya berhasil meluangkan waktu ubek ubek galeri cek stok foto, kira-kira apa saja yang bisa jadi konten blog, dan taraaaaaaaa, banyak banget lho ternyata sampe ngingetin kalo aku lama gak bersyukur diberi nikmat sebanyak ini sama Tuhan :).

Foto pertama yang kutemui adalah saat pertama kali ke Gardu Pandang dukuh Sikunir desa Jehan kecamatan Keling. Letaknya cukup jauh dari pusat kota jepara, jauh banget malahan.Saat pertama kali kesana, wisata yang ditawarkan masih seger-segernya. Baru sekitar dua mingguan di push ke media sosial dan langsung banjir pengunjung. Waktu itu wisata Gardu Pandang belum sebanyak sekarang, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata tersebut.

Kami bersama teman-teman Forum Lintas Komunitas (FOLKOM) yang berasal dari beberapa komunitas di Jepara berangkat pada hari Minggu, 12 Maret sekira pukul 09.00 dengan lebih kurang 20 sepeda motor. Kami juga sempat bertemu dengan beberapa rombongan lain yang juga menuju kesana. Rencananya kami akan mengadakan aksi pungut sampah disana.

Setibanya di sana, kami harus membayar tiket masuk seharga lima riburupiah perorang dan parkir dengan harga yang sama per sepeda motor. Sepeda motor yang kami bawa hanya bisa sampai di tempat parkir dan kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter dengan tiga pilihan jalur. Jalur pertama sedikit memutar, sempit dan agak curam, jalur kedua menanjak tinggi namun lebih cepat dan jalur ketiga lebih jauh tapi dengan jalanan yang mudah dan cukup lebar.

Akhirnya kami memilih jalur kedua. Dan benar, jalanannya menanjak dan sempit serta melewati Pohon Pinus di kanan dan kiri kami dengan jarak yang hanya sekitar setengah meter. sesampainya di atas, kami disuguhi hamparan tanah yang lapang serta terkesan miring. Ada beberapa warung kecil yang menjajakan makanan ringan bagi pengunjung yang datang kesana.




Teman-teman penggagas acara ini ternyata sudah berkoordinasi dengan kepala desa terkait kegiatan ini, ada juga dari Dewan Lingkungan Hidup yang membantu kami menyediakan kebutuhan untuk aksi kami. Setelah berdiskusi sejenak dan mengambil foto bersama, kamipun memunguti sampah yang ada disana. Meskipun baru saja dibuka,sampah yang tercecer sudah tak lagi sedikit karena memang belum disediakan tempat sampah.




Setelah melakukan aksi pungut sampah, kami beristirahat di salah satu warung. Aku takjub dengan jumlah pengunjung yang kulihat, banyak sekali. Ada pula ibu-ibu dan bapak-bapak setempat yang juga ada disana. setelah kutelisik ternyata banyak dari mereka yang hanya penasaran dengan apa yang ada disana. Wajar sih, depan rumahnya mendadak ramai oeh wisatawan yang sebelumnya tidak ada sama sekali.

Disana disediakan beberapa Gardu yang menempel pada pohon dengan tangga di bagian bagian bawah sebagai jalan untuk naik. Adapula yang dibuat diatas tanah -tidak menempel di pohon- sehingga bisa muat lebih banyak orang. Tapi harus tetap menjaga keamanan ya, gak boleh selfie dengan gaya ekstrem.

Oh ya, karena di atas hanya ada hamparan tanah lapang yang jarang terdapat pohon maka sudah dapat dipastikan bahwa sinar matahari akan memancar langsung ke tubuh kita. Pengalaman pertamaku kesana membuat wajahku belang sebatas jilbab yang kupakai. Sebaiknya gunakan sunblock atau pelindung wajah saat ke Gardu Pandang Jehan ya...

Sekian dulu kisah piknik ke gardu pandang part satu. nantikan selanjutnya di part 2. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ▼  2017 (13)
    • ▼  Desember 2017 (1)
      • 7 Manfaat Minyak Zaitun Untuk Kecantikan
    • ►  November 2017 (3)
      • Curhat Penikmat Sosial Media
      • Antara Aku, Make Up Dan Video Tutorial
      • Kisahku; Aku Belajar dan Aku Dibayar
    • ►  Oktober 2017 (3)
      • Menikmati Sensasi Piknik Di Depan Rumah
      • 5 Tips Agar Bibir Tidak Kering
      • Garskin Hape, Penting Gak Sih?
    • ►  September 2017 (3)
      • Gardu Pandang Jehan Part II
      • Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doya...
      • GARDU PANDANG JEHAN PART I
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates