• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya

Maret 2017, salah satu komunitas di Jepara mengadakan Camping Ceria di Pulau Panjang Jepara. Kebetulan aku sedang free dan memang ingin piknik, maka segera kuiyakan saat ada ajakan mengikuti. Dengan menaiki perahu milik salah satu anggota komunitas, kami pun menyeberang ke Pulau Panjang. Karena sejak siang hujan turun dengan derasnya, maka jadwal kamipun molor cukup lama menunggu hujan kembali reda. Sekira pukul 16.30, hujan sudah mulai reda dan kekhawatiran kami tentang batalnya acara kami pelahan luntur. Dengan menaiki perahu milik salah satu anggota komunitas, kami pun menyeberang ke Pulau Panjang.

Kami tiba disana menjelang matahari tenggelam dengan sambutan pasir yang basah akibat hujan yang hampir seharian mengguyur mereka. Matahari sudah tak lagi nampak karena tersapu mendung yang menambah gelap suasana. Syukurlah kami sudah sampai di Pulau Panjang dengan selamat.
Setelah para Punggawa (baca-anggota pria) memeriksa lokasi yang akan kami gunakan untuk mendirikan tenda, kamipun bergegas kesana sambil membawa perlengkapan yang kami bawa dari rumah. Kompor dua tungku, gas elpiji, panci besar dan alat camping lainnya kami bawa ke tenda besar yang ternyata sudah siap. Memang agak alay ya, camping kok bawa kompor dua tungku, hehe.
Yah, daripada sewa kompor portabel dan harus ngantri masak mendingan bawa aja yag ada. Toh gak ada yang dirugikan kalau alat ini dibawa, peralatan ini milik salah satu anggota yang memang tinggal sendirian di rumahnya. Dan tidak perlu banyak tenaga untuk membawanya sampai ke perahu karena tempat parkir perahunya ada di belakang rumah. Enak, bukan?

Lanjut ke Pulau Panjang, sejak magrib hingga menjelang pukul 20.00, gerimis yang turun tak kunjung reda. Kami banyak menghabiskan waktu di dalam tenda masing-masing. Kami membawa empat tenda, dua tenda untuk pria, satu untuk wanita satu tenda untuk peralatan kami.

Menjelang malam, kami memutuskan untuk makan malam bersama. Di luar ekspekstasi, ternyata panci besar yang tadi kami bawa berisi ayam yang sudah diungkep lengkap dengan bumbu khasnya. Nasi hangat juga telah tersedia disana, tak ketinggalan pula sambal kecap yang menemani ayam nikmat kami. Wah, ini sih piknik paling mewah sejauh pengalamanku.

Tidak ada acara khusus yang kami rencanakan. Tujuan kami semata-mata untuk Camping melepas penat setelah sekian hari berkutat dengan kegiatan harian. Sehingga kami hanya bersantai, ibarat kata hanya berpindah tempat tidur saja hehe. Selesai makan malam, aku dan teman wanita lain memutuskan untuk mengambil camilan dan kembali ke tenda sambil menunggu gerimis sedikit reda. Lama mengobrol, kamipun dilanda kantuk hingga masing-masing dari kami tertidur dengan sendirinya.

Aku terbangun saat waktu menunjukkan pukul 23.00 ketika gerimis sudah reda dan keadaan terlihat sepi. Ternyata teman-teman yang lain sedang memancing di dermaga Pulau Panjang. Aku menyusul sambil berbincaang dengan mereka di bawah payung langit malam yang temaram, duh.

Selepas ngobrol ngalor ngidul, sebagian dari kami menghidupkan api unggun. Sayangnya upaya mereka selalu gagal, Pertamax yang disiramkan ke kayu basah tak mampu membuatnya menyala meski dengan segala upaya. Untunglah ada bantuan dari nelayan yang singgah di Pulau Panjang, kami meminta sedikit solar untuk membantu perapian kami. Syukurlah bisa berhasil dan cukup untuk menghangatkan tubuh kami yang kedinginan sejak sore.

Menjelang Pukul dua dini hari, satu persatu dari kami kembali tidur dan bangun saat matahari agak meninggi. Setelah membersihkan diri dan berkeliling tenda, kami sarapan dengan nasi dan ayam sisa semalam ditemani mie instan goreng yang sungguh lezatnya. Dengan diiringi canda tawa, kami makan dengan lahapnya. Berbagi nasi, lauk dan kebahagiaan bersama. Selepas kenyang, kami pun membersihkan sampah yang ada di sepanjang garis pantai bagian depan dari Pulau Panjang. Ini salah satu agenda yang kami rencanakan sejak awal.


Selepas itu, Aku bersama seorang teman, mbak Ida,menyusul teman kami yang datang dengan rombongan lain, Opal. Kami mengajaknya berkeliling sambil mencari beberapa spot foto yang bagus. dan ini beberapa hasilnya. Gak bagus-bagus amat sih, hehe.




Kemudian kami berkeliling santai bersama-sama. Suasana pagi di sana masih segar, apalagi belum banyak pengunjung yang datang. Sayangnya sampah yang tercecer masih banyak dan tak ada petugas yang membersihkannya. Well, sebaiknya jangan menambah sampah di sana ya, Gais.

Setelah asik berfoto, kami dilanda lelah dan akhirnya hanya duduk-duduk di belakang tenda. Menjelang siang, kamipun berkemas dan pulang dengan hati yang gembira.

Komunitas Doyan Dolan merupakan komunitas dengan anggota yang tidak terlalu banyak namun bisa dikatakan cukup solid dalam hal pertemanan. Pertamaali mengikuti #Piknikfolkom saat di Kedung Paso bersama KPP Pratama Jepara. Setelah itu, setiap kali mereka mengadakan kegiatan aku selalu diajak, salah satunya adalah acara Camping Ceria di Pulau Panjang ini.

Sekian ceritaku tentang Camping Ceria di Pulau Panjang with Komunitas Doyan Dolan. Kapan-kapan aku post lagi eksklusif tentang Pulau Panjang. Punya cerita tentang Pulau Panjang? Share yuk....


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kota Jepara dengan segala kelebihannya di pusat kota tak menyurutkan langkah kaki para pemuda untuk sekedar mlipir ke pedesaan. Selain karena aku anak desa, rasanya udara di perkotaan sudah jauh berbeda dengan di pedesaan yang meskipun tak sesejuk dan seasi dulu, setidaknya masih bisa disebut asri dan sejuk. 

Tahun ini, 2017, menjadi tahun yang asik bagiku. Banyak sekali hal baru yang kutemui, sampai nggak kober nulis di blog, (alibi). Akhirnya berhasil meluangkan waktu ubek ubek galeri cek stok foto, kira-kira apa saja yang bisa jadi konten blog, dan taraaaaaaaa, banyak banget lho ternyata sampe ngingetin kalo aku lama gak bersyukur diberi nikmat sebanyak ini sama Tuhan :).

Foto pertama yang kutemui adalah saat pertama kali ke Gardu Pandang dukuh Sikunir desa Jehan kecamatan Keling. Letaknya cukup jauh dari pusat kota jepara, jauh banget malahan.Saat pertama kali kesana, wisata yang ditawarkan masih seger-segernya. Baru sekitar dua mingguan di push ke media sosial dan langsung banjir pengunjung. Waktu itu wisata Gardu Pandang belum sebanyak sekarang, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata tersebut.

Kami bersama teman-teman Forum Lintas Komunitas (FOLKOM) yang berasal dari beberapa komunitas di Jepara berangkat pada hari Minggu, 12 Maret sekira pukul 09.00 dengan lebih kurang 20 sepeda motor. Kami juga sempat bertemu dengan beberapa rombongan lain yang juga menuju kesana. Rencananya kami akan mengadakan aksi pungut sampah disana.

Setibanya di sana, kami harus membayar tiket masuk seharga lima riburupiah perorang dan parkir dengan harga yang sama per sepeda motor. Sepeda motor yang kami bawa hanya bisa sampai di tempat parkir dan kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter dengan tiga pilihan jalur. Jalur pertama sedikit memutar, sempit dan agak curam, jalur kedua menanjak tinggi namun lebih cepat dan jalur ketiga lebih jauh tapi dengan jalanan yang mudah dan cukup lebar.

Akhirnya kami memilih jalur kedua. Dan benar, jalanannya menanjak dan sempit serta melewati Pohon Pinus di kanan dan kiri kami dengan jarak yang hanya sekitar setengah meter. sesampainya di atas, kami disuguhi hamparan tanah yang lapang serta terkesan miring. Ada beberapa warung kecil yang menjajakan makanan ringan bagi pengunjung yang datang kesana.




Teman-teman penggagas acara ini ternyata sudah berkoordinasi dengan kepala desa terkait kegiatan ini, ada juga dari Dewan Lingkungan Hidup yang membantu kami menyediakan kebutuhan untuk aksi kami. Setelah berdiskusi sejenak dan mengambil foto bersama, kamipun memunguti sampah yang ada disana. Meskipun baru saja dibuka,sampah yang tercecer sudah tak lagi sedikit karena memang belum disediakan tempat sampah.




Setelah melakukan aksi pungut sampah, kami beristirahat di salah satu warung. Aku takjub dengan jumlah pengunjung yang kulihat, banyak sekali. Ada pula ibu-ibu dan bapak-bapak setempat yang juga ada disana. setelah kutelisik ternyata banyak dari mereka yang hanya penasaran dengan apa yang ada disana. Wajar sih, depan rumahnya mendadak ramai oeh wisatawan yang sebelumnya tidak ada sama sekali.

Disana disediakan beberapa Gardu yang menempel pada pohon dengan tangga di bagian bagian bawah sebagai jalan untuk naik. Adapula yang dibuat diatas tanah -tidak menempel di pohon- sehingga bisa muat lebih banyak orang. Tapi harus tetap menjaga keamanan ya, gak boleh selfie dengan gaya ekstrem.

Oh ya, karena di atas hanya ada hamparan tanah lapang yang jarang terdapat pohon maka sudah dapat dipastikan bahwa sinar matahari akan memancar langsung ke tubuh kita. Pengalaman pertamaku kesana membuat wajahku belang sebatas jilbab yang kupakai. Sebaiknya gunakan sunblock atau pelindung wajah saat ke Gardu Pandang Jehan ya...

Sekian dulu kisah piknik ke gardu pandang part satu. nantikan selanjutnya di part 2. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sudah lama Folkom tidak membuat kegiatan, bukannya tak ada agenda tapi beberapa pentolannya sedang disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. kali ini kebetulan bertepatan dengan bulan kemerdekaan yang biasanya banyak diramaikan dengan beragam perlombaan. kami pun tak mau ketinggalan momen dan berusaha membuat sesuatu yang berkesan bersama folkom di bulan ini.
kegiatan kali ini diadakan di Wana Wisata Akar seribu, Plajan. rencananya kami akan mengadakan beberapa perlombaan untuk memeriahkan kegiatan kali ini. setelah semua sampai di lokasi, kamipun memulai dengan diskusi tentang perlombaan yang akan kami buat. Beberapa perlengkapan sudah aku siapkan dari rumah, seperti kelereng, tali rami, pipet, karet gelang dan balon serta 40 bungkusan hadiah yang akan kami bagikan nanti.

Banyak banget hadiahnya? Buset.

Ups, iya. banyak banget. hehe, karena rencananya akan dibuat sistem pilih hadiah bagi peserta yang menang. Jadi, setiap kelompok atau individu yang menang lomba bisa memilih hadiahnya terlebih dahulu sesuai jumlah anggotanya. Nasibnya yang kalah, pilih hadiah lebih akhir. Tapi bukan berarti yang duluan lebih enak, karena semua hadiah dibungkus koran. perkiraan akan ada lima lomba dengan jumlah peserta yang belum diketahui, makanya banyak banget hadiahnya.
setelah berdiskusi, akhirnya terpilihlah lomba jalan balon sebagai lomba yang pertama. aku bingung sebut namanya, pokoknya mekanisme lombanya kayak gini:

satu kelompok yang terdiri dari 4 orang berjajar kayak anak main ular tangga, nah di belakang tiap anggota kelompok (kecuali yang paling belakang) diberi balon yang sudah ditiup maksimal. mereka harus berjalan sampai ujung garis dan kembali lagi ke garis awal tanpa menjatuhkan balonnya sama sekali.

lomba yang kedua, oper kelereng. mekanismenya seperti ini:

satu kelompok terdiri dari tiga orang. satu orang di pos pertama (garis start), satu orang di pos dua (garis tengah) dan satu lagi di garis finish. tim satu harus membawa kelereng dalam sendok tanpa jatuh menuju tim dua, selanjutnya tim dua harus membawa kelerengnya dengan aman kepada tim tiga dan tim tiga harus bisa membawa kembali kelerengnya ke garis start sebagai tanda kemenangan.
lomba ketiga, oper karet dengan pipet (sedotan). mekanismenya hampir sama dengan lomba kedua namun bedanya tim tiga tidak kembali ke garis start namun meletakkan karetnya di tempat yang sudah disediakan.

lombanya memang hanya tiga jenis, tapi keseruannya melebihi rata-rata. apalagi saat ada rombongan ibu-ibu yang bersedia mengikuti perlombaan saat kami tawari. ibu-ibu yang beragam usia ini mengikuti perlombaan dengan gembira dan menambah keseruan kami tadi.

rencananya, kami juga akan mengadakan upacara di lapangan wana wisata akar seribu ini. namun karena waktu yang sudah siang dan keadaan yang tidak memungkinkan akhirnya kami urungkan. semoga tahun depan bisa terwujud. amin.


akar seribu adalah salah satu destinasi wisata di desa wisata plajan pakisaji jepara. aku pertama kali mengunjunginya bulan juni kemarin. tempatnya asri, nyaman dan sangat sejuk. sejak saat itu, aku jadi sering kesini entah untuk kegiatan pribadi maupun acara bersama. kapan-kapan aku eksplor lebih dalam tentang tempat wisata yang unik ini ya. bye bye...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Aku mengenal kopi sejak balita. Dulu sewaktu masih diasuh simbah aku sering melihat beliau menumbuk kopi. Tak jarang pula aku mengikuti proses sejak dari panen buah kopi hingga menjadi siap saji. Enak, itu saja yang aku tau kalaitu. Karena kupikir semua kopi memang sama saja dan seperti itu semuanya.
Hingga pada akhirnya setelah menginjak dewasa aku tahu aa acara di televisi yang memahas tentang kopi. Terlihat bagaimana dunia kopi tak sesempit yang aku tahu selama ini, tak sesederhana yang aku lihat selama ini. dan sejak saat itu pula aku tahu bahwa kopi murni yang tanpa dicampuri apapun saat disangrai adalah lebih enak daripada yang tidak murni. Ckckck,,,,
Apalagi sejak saat aku mulai bertemu dengan banyak orang, most of them, menyukai kopi dan akhirnya aku lebih sering ikut minum dan kadang merasa butuh. ah,ikut-ikutan yang bikin nagih nih... hehe. Meskipun sudah berkurang karena sempat ada insiden migrain setelah ngopi dua gelas, dalam hal ini kopi asli. Semoga ndak terulang lagi, amin.
sebenarnya, selain di minum, kopi juga bisa digunakan untuk hal lain lhoh. Berdasarkan pengalaman, justru aku terbantu sekali dengan persediaan kopi di rumah. Meskipun sekarang sudah jarang minum tapi setidaknya aku tetap membutuhkannya. Lalu, apa aja sih kegunaan kopi selain untuk diseduh diminum?
Check it out:
Masker Wajah
Ladies, kamu suka pakai masker wajah? gak ada salahnya lho kamu pakai kopi untuk mengganti produk masker yang biasa kamu beli. Memang terlihat menyeramkan saat dipakai tapi hasilnya bikin tingkat kecantikanmu naik 20 persen, hehe. Masker kopi juga cocok untuk semua jenis kulit lho, aku sendiri sudah memakainya sejak sekitar tiga taun dan tak pernah ada efek samping apapun.
Masker kopi dapat memberikan efek tenang dengan aromanya yang khas. Saat diaplikasikan, akan terasa "trecep-trecep" di kulit wajah yang memberikan efek segar bahkan hingga setelah dibilas. Setelah dibilas, wajah akan terasa lembut dan kenyal serta terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Cara membuat:
Siapkan satu sendok makan kopi dalam wadah masker atau piring kecil.
seduh dengan air hingga mengental dan berbentuk seperti pasta.
Oleskan ke seluruh permukaan wajah kecuali mata, gosok-gosok sebentar selagi masih basah.
Tunggu hingga kering, lalu bilas.

Lulur Badan
Selain sebagai masker wajah, kamu juga bisa memanfaatkan kopi sebagai lulur badan. Manfaatnya banyak lho, selain bisa mencerahkan juga bisa membuang radikal bebas yang menempel di tubuh kita. Kalo aku sih lebih suka lulur kopi karena aroma khasnya dan harganya yang lebih terjangkau. Jika tidak ada kopi buatan sendiri, kamu juga bisa membeli di warung kok. Dari yang ukuran kecil harga seribu rupiah hingga yang berukuran besar. Cara membuatnya sama dengan cara membuat masker kopi , hanya saja perlu menambah sedikit ukuran sesuai yang kamu butuhkan untuk luluran.

Scrub Bibir
Selain untuk kedua hal diatas, ada satu hal lagi yang bisa dilakukan dengan kopi yaitu Scrubbing Bibir. Yups, jika biasanya scrub bibir dibuat dari gula dan madu atau minyak zaitun yang diaduk menjadi satu. Ternyata kopi juga bisa digunakan untuk scrub bibir lho. Kandungan manfaat yang ada di dalamnya mampu melembabkan bibir kering dan jika digunakan secara rutin juga bisa mengembalikan warna alami bibir.
Cara pemakaiannya, setelah kopi diseduh menjadi bentuk pasta oleskan pada bibir dan gosok perlahan hingga kamu bosan, eh, maksudnya hingga beberapa menit. Kalau aku biasanya dua menit sudah cukup. Setelah itu bilas dengan air hangat jika ada, jika tidak bisa menggunakan air biasa.

Itulah tadi beberapa kegunaan kopi selain untuk diminum. Ketiganya bisa dilakukan bersamaan ya, atau jika sedang buru-buru bisa pilih salah satu saja yang dianggap cukup penting. Kalau aku lebih prefer ke masker wajah dan lulur tangan aja, karena wajahlah yang pertama dilihat dan tanganlah yang pertama kali dijabat.
Jadi buat kamu yang gak suka minum kopi, tak ada salahnya mulai sekarang menambah daftar kopi di list belanjaan kamu. Tapi kopinya yang murni ya, bukan kopi susu ataupun yang sudah bercampur gula. Bisa dikerubung semut, hehe.
Kamu punya cerita lain tentang kopi? share yuk....
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Yang benar itu Bikin Alis apa Lukis Alis?
Em, kalo menurutku sih terserah yang ngomong aja sih ya, enaknya gimana. Kalo aku lebih enaknya bikin alis tapi lebih setuju Lukis Alis, karena kegiatannya kan Menebali Alis sehingga lebih Indah bukan membuat Alis Baru. Oke ya, suka-suka aja.
Sebenarnya aku bukan pecinta make up, suka aja nggak apalagi cintrong hehe. tapi aku suka aja kalo lihat orang dandan cantik dan macem dengan postur tubuh dan pakaian yang dikenakannya. Meskipun kadang justru kecewa juga karena yang dilihat di foto tidak sama dengan kenyataannya. Seperti pengalamanku saat kondangan di pernikahan salah orang teman. Sebelum berangkat, seperti biasa, sudah banyak foto yang tersebar. Hampir semuanya berkomentar "wah, cantik banget", karena memang si pengantin terlihat sangat cantik dibanding hari biasanya dengan make up seadanya.
Sesampainya di lokasi, aku kaget bukan kepalang karena ternnyata riasan yang tadi terlihat sangat menarik di foto jauh berbeda dengan yang sedang ada di hadapanku. Entah faktor waktu yang sudah cukup lama atau memang kualitas riasan yang tidak maksimal, alas bedak yang melapisi kulit wajah pengantin terlihat sangat tebal dan seperti topeng, ups. Maklum, aku lebih suka riasan natural daripada yang seperti itu.
Sekedar saran saja bagi para calon pengantin, selalu diskusikan dulu model riasan yang akan diaplikasikan di wajah kamu. Tidak semuanya cocok untuk diaplikasikan di wajah kamu ya, jangan sampai momen berharga yang hanya terjadi sekali seumur hidup ini menjadi rusak hanya karena riasan yang hancur berantakan. Jangan berpikir hanya untuk momen foto dari pihak rias saja, sekarang, siapapun maunya foto sama pengantin lho. Biar cepet nyusul, katanya.


Oke. Skip.
Sebenarnya bukan tentang riasan pengantin yang aku tulis, tapi tentang pengalamanku Belajar Lukis Alis. Alis sebagai bagian yang cukup penting dari wajah menjadi salah satu penentu bentuk wajah yang sangat perlu untuk diperhatikan. Lihat deh, kalo alisnya bagus pasti keliatan lebih cantik.
Sebenarnya alisku baik-baik saja, hanya sekedar ingin belajar tekniknya saja. Bersama mbak Jeti, teman kos kala itu, aku dibimbing dengan telaten. Tanpa modal, akupun meminjam pensil alisnya, hehe.

Mungkin bagi sebagian wanita, kegiatan ini adalah hal simpel yang sangat mudah dilakukan. Selain menjadi ritual wajib sebelum bepergian untuk menunjang penampilan. Tapi apalah dayaku yang pegang bedak aja cuma sehari sekali. Touch up?, hehe ngaca aja jarang apalagi buat Lukis Alis.
Dan akhirnya akupun mulai belajar, tidak seluruhnya dilukis tapi hanya bagian pangkal dan ujung saja. Lalu disapu dengan puff hingga merata dan membentuk alis yang proporsional. Dan seperti inilah hasilnya, hehe.



Setelah belajar saat itu, hanya beberapa kali kuaplikasikan di alisku. Bahkan aku sempat mendapat saran dengan menggunakan sikat bekas untuk menyapu bagian alis yang tidak rapi. Dan ternyata memang benar, sikat bekas cukup membantu merapikan alis tanpa harus menggunakan pensil alis.


Ada yang punya pengalaman unik dengan Riasan? Share yuk...
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sejak mulai peduli dengan kesehatan, Air Putih adalah saran utama yang diberikan dokter kepada pasiennya, termasuk aku. Karena sering merasa tidak cocok dengan minuman manis kecuali teh dan sirop akhirnya aku lebih menyukai air putih daripada harus membeli teh ataupun sirop, kecuali saat di tempat makan. Konsekuensinya, harus rajin nggodog banyu atau isi ulang galon. sejak di rumah (aku ngekos), aku terbiasa minum air putih banyak meskipun aku tau pada akhirnya akan sering buang air kecil. Tapi sedikit Air Putih saja tak pernah cukup untuk membahasahi kerongkonganku, minimal satu gelas.

Kebiasaan ini terbawa hingga aku di kos dan sempat sakit karena kurangnya pasokan air putih. Ada galon besar tapi pihak kos tak memberikan subsidi pada kami yang bisa dibilang tidak akan kuat membawa air sebanyak sembilan belas liter di galon tersebut. Kami pernah memilih mengisi ulang air galon dengan merk ternama tapi rasanya cukup berat di kantong mengingat air isi ulang yang lain sudah cukup untuk membantu kami tak kekeringan.

Dan akhirnya kusempatkan membeli galon yang lebih kecil dengan ukuran sepuluh liter, masih berat sih, tapi lumayan lah untuk mengurangi beban hidup hehe. Selain itu juga ada kran di bagian bawah yang mudah digunakan untuk menuang air, jadi tak perlu angkat berat dulu kalo mau minum.


Sejak saat itu, aku jadi semakin rajin mengkonsumsi Air Putih. Bahkan sempat membuat program minum Air Putih dua liter sehari, meskipun sering gagal tapi setidaknya sudah ada perbaikan hehe. Waktu itu aku sedang menjalankan aksi sehat keiling kos tiap pagi dan sore jadi sok sehat gitu. padahal cuma bentar, haha.

Daaan, sekarang kebiasaan itu mulai luntur. Apalagi setelah mulai bekerja, jarang minum karena malas ke kamar mandi. Tapi di rumah selalu tersedia air minum galon yang selalu diisi ulang setiap kali habis. Hanya perlu sms dan setengah jam kemudian galon berisi air sudah tersedia di rumah.
Meskipun begitu, saat dirumah aku tetap berusaha minum sebanyak mungkin Air Putih. Botol tupperware ukuran dua liter selalu tersedia di rumah dan aku yang lebih banyak menghabiskannya meskipun jarang mengisinya, haha curang ya. Ada yang punya cerita tentang Air Putih sepertiku? share yuk....



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Saya bukan penggemar Drama Korea, Kpop atau apalah yang sejenisnya. Bagi saya semua yang berhubungan dengan hal tersebut seakan tidak menarik dan terkesan berlebihan (baca : alay). Namun sepertinya anggapan itu perlahan luntur. Saya sudah menamatkan dua judul Drama Korea dalam waktu satu minggu. Hwaa.. efeknya parah banget, bikin nagih. Pengen lagi pengen lagi hehe.


Awalnya sih cuma iseng aja minta copy-an film apa aja dari seorang teman yang pengkoleksi film. Tanpa milih-milih lagi kaya mau beli ikan di pasar, asal dicopy aja. Dan karena suasananya cukup bagus untuk menyendiri, maka saya pun capcus mainin filmnya.

Tak disangka tak dinyana, saya pun tehanyut oleh ceritanya. Apalagi melihat para aktor yang ketjeh badai ya kan? :) siapa coba yang gak betah?. Selain para pemain, alur cerita yang bagus juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Mungkin karena saya bukan penikmat film ya, jadi masih awam tentang hal seperti ini.


Korean Drama dengan segala sisi dramatis yang ampuh menghipnotis penonton baik yang baru maupun penggemar lamanya memang tak tanggung-tanggung. Semuanya terlihat begitu sempurna, dikemas dengan apik dan profesional. Banyak adegan penting yang terlihat begitu nyata meskipun sangat sulit membayangkannya. Tidak jauh beda dengan hollywood.

Meskipun begitu, banyak pula alasan untuk tidak menontonnya. Ya, karena tidak semua orang suka menonton apalagi dengan jumlah episode yang berekor panjang. Harus nunggu weekend dulu dan menyiapkan waktu yang panjang untuk menghabiskan seluruh episodenya. Bisa sih dicicil –kaya kredit motor aja-, tapi dijamin rasanya pasti beda sama yang marathon.

Ups, sepertinya saya sudah terhipnotis dengan Drama Korea. Tapi percaya deh, bagus kok, saya aja sampe suka, atau mungkin jatuh cinta, eeaaa. Seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya, pasti sulit untuk menentukan apa yang membuatnya jatuh cinta, yakan?. Dan itu terjadi pada saya :( .
Tapi  kalo dari pengamatan awam saya, ada beberapa hal yang menurut saya menarik dan membuat saya betah untuk mengamati k-drama ini, this is it:

·         Yang pertama adalah fashion style yang dikenakan para pemain di K-Drama menurut saya sangat elegan. Cocok dijadikan inspirasi model berpakaian sehari-hari dengan sedikit sentuhan di beberapa bagian tentunya ya. Sesuaiin aja lah sama kebutuhan.
Saya suka style-nya :)


·         Kalo yang kedua saya yakin semuanya pasti sependapat sama saya hehe. Yap, pemainnya ganteng-ganteng dan cantik-cantik kan?, ada yang bilang gak?. Salah satu opsi untuk menyegarkan pikiran yang sedang galau.
Ada yang mau bilang jelek? haha

  Alur cerita yang bagus menjadi poin selanjutnya yang menurut saya cukup menarik. Endingnya susah dibaca, bahkan saya sampai skip ke episode terakhir dulu saking penasarannya. Tapi jangan ditiru ya, bikin semangat nonton jadi turun.

·         Nah, kalo yang terakhir ini yang kadang bikin ngakak. Bahasa korea yang unik (menurut saya) jadi bikin praktekin di dunia nyata. Meskipun taunya Cuma sepotong, yaudah praktekin aja. Tiap ketemu temen disapa dengan bahasa yang sebisanya dan seadanya. Tapi sisi baiknya sih jadi bikin pengen belajar bahasa korea lebih dalam lagi. Sekarang yang familiar cuma anyeonghaseo sama hamsahamida aja.


Sepertinya sih masih banyak lagi yang bikin nonton K-Drama ini makin asik. Mungkin ada yang mau nambahin? Kalo ada yang punya koleksi lama atau baru bolehlah dikasih ke saya hihi. yuk lanjut nonton... jangan lupa siapin cemilan yang banyak ya hehe.


Happy blogging :) 

Sumber gambar : google.com/loverain
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Assalamualaikum

Kembali bertemu di blog saya yang masih cupu ini. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya tentang aktivasi mobile banking di salah satu bank di Indonesia. Ternyata jauh dari pikiran buruk saya tentang kerumitannya, its so easy, Dear.

Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin mengaktifkan aplikasi mobile banking karena jumlah transaksi yang kadang cukup banyak dan membuat malas mengantre berlama-lama di atm. Apalagi bank yang saya titipin uang ini tidak memiliki jumlah atm sebnayak bank lain yang selalu ada di manapun berada. Jadi sepertinya akan lebih mudah jika transaksi dilakukan melalui satu aplikasi saja.

Setelah mencari tau tentang kelebihan, kekurangan dan cara aktivasi akun mandiri mobile di internet, akhirnya saya pun berangkat ke Kantor Mandiri KCP Jepara. Sengaja memilih waktu agak siang karena menurut prediksi saya, pada hari tersebut akan terdapat antrean cukup panjang di CS Bank tersebut.

Entah prediksi saya benar atau tidak, yang pasti pada saat saya sampai di sana dan disambut oleh satpam saya lihat semua kursi di depan CS terisi penuh. “Semoga tidak antre lama”, doa saya saat itu.
Setelah mendapatkan formulir permintaan dari petugas satpam dan dipersilakan mengisi, saya pun mengisi beberapa kolom yang tersedia. Sebenarnya saya agak malas, karena harus mengisi kolom-kolom yang tersedia sesuai dengan kartu identitas. Males ngeluarin ktp aja sih sebenernya hehe.

Formulir permintaan yang perlu saya isi sembari menunggu antrean

Setelah mengisi beberapa kolom yang bisa diisi tanpa melihat ktp, salah satu kursi terlihat kosong dan CS mempersilakan saya untuk menuju ke meja tersebut.

Setelah disambut dengan senyum dan salam serta menanyakan keperluan, akhirnya keluarlah ktp saya dari tas (tentu saja beserta buku tabungan dan kartu atm). Dan kolom yang masih kosong akhirnya dilanjutkan oleh CS tersebut hehe. Lalu saya diminta untuk menyebutkan nomor handphone yang akan didaftarkan untuk sms banking.

Loh, kok sms banking?

Iya, karena mandiri mobile nantinya berhubungan dengan nomor yang digunakan untuk sms banking dan secara otomatis akan mengaktikan sms banking. CMIIW.

Setelah menunggu aktivasi sekitar beberapa menit, gak sampe lima menit sih, saya diminta untuk memasukkan pin sms banking ke mesin atm. Setelah berhasil, selanjutnya saya diminta membuka aplikasi mandiri mobile yang sudah saya download sebelumnya.

Download dulu aplikasinya ya... (:
Saat membuka aplikasi, ternyata jaringan internet di dalam gedung bank tidak stabil. Jaringan yang awalnya 3G mendadak menjadi E. Karena saking lamanya loading aplikasi, akhirnya CS menawarkan untuk keluar demi mencari jaringan yang bagus. Meski masih belum stabil, akhirnya setelah sekitar lima menit aplikasi tersebut bisa terbuka dan saya diminta kembali untuk memasukkan username dengan kombinasi huruf dan angka sebanyak 8 digit. Dan DONE! Aplikasi mandiri mobile sudah bisa digunakan.



Sedikit Tentang Mandiri Mobile

Tentang layanan ini sebenarnya telah dijelaskan di website bank mandiri dengan cukup detail. Saya hanya akan menambahkan beberapa poin saja.

Mandiri mobile dapat digunakan di handphone blackberry, android maupun ios. Namun perhatikan dulu versi layanan handphone-nya ya, karena aplikasi ini masih belum bisa berdamai dengan android versi terbaru. Ini bocoran dari CS yang melayani saya, kabarnya ada nasabah yang tidak bisa melakukan aktivasi karena versi android di handphone-nya adalah versi yang cukup baru.

Jika handphone yang digunakan transaksi adalah handphone dual sim, maka nomor yang didaftarkan sms banking harus dipasang di slot sim 1. Dan menurut CS-nya, hanya bisa digunakan dari jaringan yang terdapat di sim yang didaftarkan tersebut atau jaringan wifi.

Untuk hal ini, saya sempat mencoba untuk membuktikan kebenarannya hehe. Taraaaa.. hasilnya, transaksi tetap bisa dilakukan meskipun jaringan internet yang saya aktifkan bersal dari sim 2. Entah karena saya beruntung atau memang demikian, Idk :)
 .
Taraaaaa.. transaksi berhasil dengan jaringan sim 2
Apa saja yang perlu disiapkan?

Untuk mengaktifkan layanan mandiri mobile ini setidaknya ada beberapa hal yang perlu disiapkan:
  • Kartu identitas, buku tabungan dan kartu ATM
  • Handphone yang support aplikasi mandiri mobile.
  • Sim card yang bisa digunakan transaksi sms banking mandiri. Menurut CS yang menangani saya, semua kartu bisa digunakan kecuali *hree.
  • Kuota data yang cukup untuk melakukan download aplikasi dan transaksi. Untuk handphone dual sim, meskipun menurut pengalaman saya tentang transaksi yang tetap bisa dilakukan dengan jaringan sim2, aplikasi harus didownload dengan menggunakan sim1.
  • Username yang terdiri dari 8 digit kombinasi huruf dan angka serta pin sms banking yang benar-benar aman.

Kurang lebih begitulah ulasan dan cerita saya tentang pengalaman melakukan aktivasi mandiri mobile. Dengan aplikasi ini, saya bisa melakukan banyak hal mulai dari cek saldo, cek mutasi, transfer uang sampai melakukan pembayaran-pembayaran bulanan.



Semoga bermanfaat
Ini ceritaku mana ceritamu?


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Hari ini genap satu bulan saya menempati kamar kos yang cukup jauh dari rumah. Sebenarnya keputusan ini sudah sangat telat bagi saya yang notabene-nya telah menginjak semester akhir. But, bukan itu poinnya. Ada hal lain yang saya pertimbangkan dari keputusan besar setelah bertahun-tahu terpendam. Ya, terpendam karena sejak semester awal sudah memohon dan meminta kepada ibu saya untuk mengijinkan anaknya hidup mandiri dan tak lagi tinggal di rumah.

Sebenarnya cerita hari pertama di kos sudah ditulis disini, tapi entah kenapa saya masih ingin menuliskannya kembali.

Beberapa teman menanyakan tentang alasan saya memilih tidak lagi berangkat kuliah dari rumah, padahal tiga tahun berlalu dan semua terlihat baik-baik saja. Dan akhirnya saya pun banyak berspekulasi yang membuat mereka semakin heboh saja. Daripada saya jawab serius, saya jawab saja “karena takut dilamar”, hehe.

Sebulan terakhir saya sudah pulang tiga kali, “hah, apa-apaan?”. Ya kan namanya juga anak baru, kangen orang tua, pasti. Tapi selain itu, saya juga perlu riwa-riwi mengambil barang-barang kebutuhan yang saya perlukan. Mau gak mau harus pulang dong. Paling lama hanya satu hari dua malam di rumah. Sudah fair dong ya.

Sampai detik ini, saya sudah merasa nyaman tinggal di kos dengan suasana yang masih sepi karena belum masuk masa perkuliahan. saya lebih menyukai suasana yang sepi, hening dan tidak bising, tanpa gangguan lebih tepatnya. Seperti saat saya menulis post ini. Saat dimana tetangga kamar saya sedang beraktifitas di luar dan hanya saya di dalam kamar yang bersebelahan dengan penghuni kamar yang memiliki daya verbal luar biasa. Saya gak bilang cerewet lo ya, peace.

Kembali lagi ke soal keputusan menjadi anak kos. Sebagai mahasiswa hukum, sejujurnya saya tidak begitu tertarik untuk memiliki karir di dunia perhukuman. Bukan bermaksud menyia-nyiakan ilmu yang telah didapatkan ya, tapi setau saya ilmu bisa dimanfaatkan dalam berbagai bentuk. Tidak harus di bidang yang telah ditentukan. Dan saya lebih tertarik untuk menjadi entrepreneur atau wirausaha atau apalah bahasanya.

Di zaman yang serba digital, tentunya bisnis tak ketinggalan dengan kedigital-an dunia. Saya pun memaksa merangsek untuk masuk ke dunia bisnis beserta digitalisasinya. Dukungan orang tua menjadi salah satu penyemangat saya, meskipun kadang mereka sangsi. Tapi dengan berbagai upaya, akhirnya mereka yakin kembali.

Dan sekarang, saya memutuskan untuk kembali memulai, oh bukan, meneruskan apa yang pernah saya bangun dan sempat jatuh. Saya kembali mantap untuk memulai usaha meskipun harus tidak tinggal di rumah.

Loh, kan bisa buka usaha di rumah saja?
Iya sih, tapi gimana ya. Kalo saya kasih jawaban nanti dikira alasan. Kalo gak dijawab jadi salah juga.
Jadi gini, sebagai seorang introvert, saya lebih senang mengatur kehidupan saya sendiri. Tidak suka diatur-atur, tidak suka diganggu. Padahal sebagai tanpa diatur orang lain pun saya cukup kualahan mengatur jadwal sendiri hehe. Dengan lokasi yang dekat dengan kampus, harapan saya sih, kegiatan saya yang tadinya harus di skip dengan agenda naik turun bis saat pulang dan berangkat ngampus bisa diconvert ke kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Jika perjalanan yang biasa saya tempuh adalah empat puluh lima menit pulang pergi, tentunya sudah bisa digunakan untuk banyak hal lain, bukan?

Emang usahanya apa sih? Sampe segitunya?
Emm,,, nanti dulu deh. Belum pengen ngasih tau, nanti dikira ngiklan lagi :D.

Trus, mau sampe kapan ngekosnya?
Belum tau. Yang pasti selama saya merasa nyaman dan tenang, saya akan tetap disini. Mungkin sampai ada yang melamar saya, cieee. Bukan berarti saya tega sama ibuk karena membiarkan beliau di rumah hanya dengan adik laki-laki saya loh ya. Semua atas persetujuan beliau yang bahkan telah menyarankan saya untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan tempat kos (meskipun saya masih mikir soal keinginan bekerja). Gak peduli mau mahasiswa atau sudah sarjana, saya masih anak kos.


Saya masih dalam tahap belajar untuk menjadi mandiri dan tidak membebani orang lain. Apapun yang saya lakukan adalah apa yang saya inginkan dengan tidak menjadi benalu dalam kehidupan orang lain. Jika terlihat baik dan positif, maka akan saya lakukan. Jika terlihat tak mungkin, biarkan waktu yang menjawabnya.

Jika ada potensi dalam dirimu dan ingin kau pecahkan, pecahkan!
Jika kau tak mampu, berusahalah dan biarkan waktu yang membantumu memecahkannnya.
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar

Assalamualaikum...

Bagi sebagian orang yang memberlakukan gaya hidup sehat, infused water atau air infus bukanlah hal yang baru lagi. Air yang dibubuhi irisan buah dan bahan herbal ini diklaim memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Selain itu, kemudahan dalam membuat dan meraciknya pun turut memberi daya tarik tersendiri.

Metode infused water bukan datang dari Indonesia, trend ini mulai banyak didengungkan setelah seorang blogger luar negeri mengunggah tentang infused water berdasarkan pengalaman pribadinya. Dengan segudang manfaat yang ditawarkan, tentu saja banyak peminat yang mengikuti gaya hidup sehat yang mudah ini. Berikut beberapa manfaat infused water bagi kesehatan:

Memberi Sensasi Rasa Yang Unik Pada Air Mineral
Infused water, yang merupakan campuran air putih (mineral) dengan irisan buah tentu akan memiliki rasa yang khas dibandingkan dengan air mineral yang murni. Hal ini menjadi keuntungan bagi yang tidak suka dengan rasa air putih yang cenderung hambar dan tidak berasa. Sensasi rasa buah yang muncul dalam infused water dapat menjadi pilihan lain bagi yang tidak suka air putih dibandingkan harus meminum kopi, teh maupun minuman berperasa yang lain.


Membantu Proses Detoksifikasi
Beberapa jenis buah seperti lemon dan jeruk nipis diyakini mampu membantu proses pengeluaran racun dalam tubuh yang disebut dengan detoks. Campuran air dan buah dalam infused water dapat membantu mengopitimalkan proses detoksifikasi dibandingkan dengan hanya mengkonsumsi buah dan sayur secara langsung. Adapun pengeluaran racun dapat melalui urin, veses maupun keringat.

Melancarkan Pencernaan
Buah dan sayur memang menjadi andalan ketika terjadi masalah dalam pencernaan. Infused water dapat menjadi opsi yang tepat untuk Anda yang tidak punya banyak waktu untuk mengkonsumsi sayur dan buah. Meskipun begitu, masih sangat disarankan untuk tetap mengkonsumsi sayur dan buah secara langsung untuk hasil yang lebih maksimal.

Menyegarkan Dan Menjaga Daya Tahan Tubuh
Kandungan infused water yang merupakan kombinasi antara rasa buah dan bahan herbal mampu memberikan kesegaran yang ekstra dibanding meminum air putih biasa. Selain itu, kandungan antosianin dari pigmen buah pun mampu menjaga daya tahan tubuh.

Menurunkan Berat Badan Dan Antiaging
Selain beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh diatas, infused water juga mampu menjadi pilihan untuk menjalankan diet dan mencegah penuaan dini. Manfaat ini bisa didapatkan dengan memilih buah jenis tertentu untuk mendapatkan hasil maksimal. Namun demikian, mengkonsumsi buah dengan infused water dengan tujuan diet dan antiaging tentu harus dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat melalui olahraga dan mengatur pola makan yang seimbang.

Cara Meracik Infused Water
Untuk membuat infused water sebenarnya sangat mudah dan tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga. Hanya saja sangat perlu diperhatikan kebersihan, baik kebersihan buah maupun kebersihan wadah air yang akan digunakan.

Infused water dengan segudang manfaat yang dimiliki bukan berarti tidak bisa menjadi racun yang memakan tubuh kita jika tidak menjaga kebersihan selama proses pembuatannya. Adapun yang perlu disiapkan dalam membuat infused water adalah sebagai beriku:
  • Wadah air minum, bisa berupa botol atau gelas. Upayakan menggunakan wadah memiliki tutup dan tahan suhu dingin. Botol semacam ini dapat ditemukan di toko online maupun offline dengan harga terjangkau, sekitar enam puluh ribuan.


Sumber : Tokopedia.com

  • Buah yang telah dicuci bersih. Bisa satu jenis maupun lebih sesuai kebutuhan dan keinginan.
  • Air mineral.


Cara Membuat
  • Cuci bersih dan pastikan wadah telah steril.
  • Iris tipis buah-buahan yang akan digunakan, untuk beberapa bahan juga perlu dikupas agar tidak menimbulkan rasa pahit seperti jeruk. Tambahkan bahan herbal maupun bahan lain jika diinginkan.
  • Masukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan. Tekan-tekan dengan sendok hingga sarinya keluar dan sedikit hancur (opsional), atau bisa dibiarkan saja.
  • Tambahkan air ke dalam wadah, simpan di lemari pendingin minimal dua jam dan maksimal dua belas jam. Ada banyak versi tentang waktu penyimpanan infused water, ada yang dua belas jam, dua hari bahkan ada yang satu minggu. Tapi untuk keamanan, aku lebih suka menikmati infused water yang disimpan maksimal dua belas jam saja.


Mudah, bukan?

That’s so simple, Mas Mbak. Gak perlu dibikin ribet ah. Sehat itu pilihan kok hehe.

Semoga bermanfaat dan tunggu ceritaku tentang infused water pertama yang kubuat. That was an awkward moment, and I stop cunsuming it for several time to take my tongue rest haha. Maklum, lidah ndesoooo :D


See yaaaaaa
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Ngomongin masa depan sambil ngopi yuk :)
Setiap kali mendengar tiga huruf yang merupakan akronim dari Kantor Urusan Agama, KUA, hal yang pertama kali difikirkan adalah perkawinan. Ya, instansi ini memang lebih banyak mengurusi soal perkawinan dibanding yang lainnya. Sehingga image masyarakat terhadap KUA lebih kepada badan pemerintah yang “suka nikahin orang”.

Well.. well... gak ada yang salah sih dengan pandangan seperti itu. Toh pada kenyataannya, urusan yang lebih sering ditangani KUA adalah Perkawinan. Apalagi kalo lagi musim nikahan, pas tanggal bagus, pas hari bagus, duuhh... sampe capek tuh penghulunya kesana kesini buat nikahin orang.

Ngomongin penghulu jadi inget sama sinetron bulan puasa kemaren. Penghulu ganteng yang diperanin sama Ali Syakieb dan Kantini yang diperanin sama mbak Bella. Katanya sih mau ada serial lanjutannya tapi entah kapan. Kalo di sinetronnya, penghulunya sendiri belum nikah tapi udah pengalaman nikahin banyak pasangan. Haha, gak mupeng apa ya?

Ok, back to the main topic.

Tiga minggu yang lalu, aku bersama tim PPL-ku mendapat kesempatan untuk observasi di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jepara. Meskipun sudah mendapatkan materi yang cukup banyak di kelas, nyatanya kami masih butuh bukti konkret tentang hal-hal yang sebenarnya terjadi di lapangan. Di KUA, masyarakat tidak hanya dapat mengurusi soal perkawinan. Namun dapat pula mengurus tentang Akta Ikrar Wakaf, WAZIS (Wakaf, Zakat Infaq & Shadaqah), Bimbingan Keluarga Sakinah, Bimbingan Haji, Kemasjidan dan sebagainya.

Selain itu, di KUA juga terdapat Kursus Calon Pengantin (SUSCATIN) untuk calon pengantin yang baru mendaftar loh. Jadi, setelah Kedua calon mempelai melakukan pendaftaran nikah keduanya akan diberikan bimbingan mengenai hak dan kewajiban suami istri dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia rumah tangga. Terbilang cukup umum dan sudah mainstream, tapi menurutku hal ini cukup penting. Bisa sebagai pengingat bagi yang sudah tau dan sebagai ilmu baru bagi yang belum tau.

Loh, memangnya ada yang mau nikah tapi belum tau hak dan kewajibannya?

Jawabnya, ada. Dan BANYAK!

Tidak semua calon mempelai adalah orang yang sudah siap untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri. Ada banyak hal yang kadang membuat mereka sedikit terpaksa untuk menjalankannya dengan ilmu dan pengetahuan yang bisa dibilang minim. Disinilah, kursus calon pengantin yang diberikan penyuluh diharapkan dapat berguna bagi kedua calon mempelai.

di KUA juga terdapat BP4 (Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan) yang lebih banyak melakukan penyuluhan terhadap pasangan pengantin yang memiliki masalah. Kursus calon pengantin yang aku tulis barusan juga ditangani sama Badan ini.

Dan satu lagi, PNS yang memiliki permasalahan yang kemungkinan tidak bisa dipecahkan dan akan dilanjutkan ke Pengadilan harus melalui Badan ini terlebih dahulu. Kenapa? Ya biar gak bercerai. Siapa tahu bisa dirukunin lagi. Kalo non PNS juga bisa melalui BP4, tapi memang jarang yang menyadari adanya badan pemerintah ini sehingga sedikit sekali yang datang untuk meminta bimbingan dan memilih langsung mengajukan di pengadilan agama.

Biarpun begitu, Petugas KUA hanya manusia biasa yang memang tak sempurna. Keberadaan badan seperti BP4 hanya sebagai usaha agar terwujud keluarga Indonesi yang bahagia dan sejahtera. Dan dalam realitanya, kita sendiri yang menentukan laju hidup yang akan dijalani. Entah memilih untuk segera menikah tanpa pertimbangan matang dengan berbagai resiko yang ada atau memilih untuk menyiapkan semuanya sejak awal.

Lagi-lagi, KUA memang selalu jadi sorotan. Sering diomongin, dianggap sebagai destinasi menuju kebahagiaan. Apalagi sama anak-anak muda tuh, sukanya ngegombal mau ngajak ke KUA lah, apa lah, padahal uang jajan aja masih nyadong. Meskipun nikah di KUA tidak dikenai biaya, tapi hidup setelah akad juga butuh biaya kan?

Siapin diri aja deh, kalo udah waktunya juga bakalan sampe sana :)


“Jodoh pasti bertemu”, kata bang Afgan.
Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar
Yeay, akhirnya bisa ngeblog lagi. 
lalalalalala

Efek lama gak nulis, jadi ribet nih mau ngungkapin perasaan, ceileeehhh... :D

Jadi sore ini adalah hari pertama saya masuk di kamar kos, setelah sekian lama saya tidak terpisah dengan orang tua. Ya sekitar tiga tahun sejak saya kuliah di kampus ini. Dan sejak saat itu saya sangat jarang meningalkan rumah, maksimal tiga hari. Itu pun masih dalam jangkauan dalam kota. Keputuan untuk tinggal di tempat kost adalah keputusan saya sendiri dan hasil negosiasi dengan orang tua, terutama ibu.

Sejak sekitar satu tahun yang lalu keinginan ini muncul hingga terjadi banyak penolakan dengan segudang alasan. Hingga akhirnya pintu hati ibu saya terbuka dan rela untuk melepaskan anak perempuan satu-satunya.

Ya, belum genap satu jam saya masuk ke kamar dengan cat hijau muda dengan sebuah cermin dan lemari dua pintu di dalamnya. Ukurannya sekitar 3 meter persegi, Cukup nyaman untuk ditempati dua orang meskipun sekarang masih sendirian.  Dua lubang ventilasi terdapat di dua sisi kanan dan kiri, meskipun sepertinya tidak begitu berguna karena tidak berhadapan dengan udara di luar ruangan. Sisi kanan dan kiri diapit oleh dua ruangan kamar lain. It’s mean kamar ini tidak kedap suara.

Sengaja saya mengetuk dindingnya, mungkin saja terbuat dari triplek atau semacamnya. Ternyata benar-benar tembok dari susunan bata, semoga tidak pengap nantinya. Oh ya, ada juga satu jendela di bagian (sebut saja) belakang. Tapi lagi-lagi tak berhubungan dengan dunia luar, hanya menyambung pandangan ke ruangan sebelah yang terdapat deretan kamar lain.

Cukup nyaman untuk saya yang memang agak susah beradaptasi. selama tidak bising dan mampu memberikan kenyamanan, it's ok. Namun sayangnya cukup jauh dari penjual makanan siap saji yang rasanya cocok di lidah. Semoga saya betah disini. 

Ohya, Sebulan terakhir, saya sedang menjalani Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di dua instansi milik pemerintah yang cukup penting. Keduanya berkaitan lansgung dengan kelangsungan hidup manusia dan keluarga. Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan, tapi entah kapan. Semoga tak lama lagi dan tentunya di blog ini. Jangan penasaran ya, hehe.



Sampai jumpa, happy blogging :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates