Hari ini adalah hari ke 59 aku bekerja di sebuah pabrik, eh perusahaan, eh apa ya enaknya kalo mau nyebut. Emm... okelah, aku akan menyebutnya sebagai tempat produksi mebel dan furniture rumahan milik salah seorang teman. Hal yang cukup baru untukku, mengenal hal-hal berkaitan dengan dunia mebel dan furniture (adalah yang sulit untuk membedakan istilah mebel dan furniture, selanjutnya aku akan menyebut keduanya saja. Biar fair.) yang seharusnya sudah menjadi makananku sejak kecil.
Jepara yang memiliki julukan kota
ukir memang memiliki banyak aset perajin furniture dan pemahat yang tak perlu
diragukan lagi kualitasnya. Banyak sentra perajin yang tersebar di seluruh
wilayah Jepara. Tak terhitung jumlah perajin dan pemahat kayu yang ada di
seluruh Jepara. Dan semuanya baru kusadari
keberadaannya belum lama ini.
Kemana aja mbak?
Huhu, maafkan keculunanku di
kampung sendiri. Maklumlah, aku tinggal di desa yang mayoritas penduduknya
adalah petani dan pekerja di dunia mebel dan furniture. Ya, hanya pekerja.
Berangkat pagi pulang sore dan semuanya berkutat dengan kayu. Dulunya, kupikir
tak ada yang istimewa dari semua
pekerjaan tersebut. Sama saja seperti pekerjaan lainnya, memproduksi barang dan
memenuhi pesanan.
Pertanyaan baru pun timbul, siapa
yang memesan? Kok pesan terus? Kehidupan para tukang meskipun sederhana tapi
tak pernah sepi dari pekerjaan. Adaaaaa saja yang dikerjakan. Lepas dari satu brak (sebutan untuk pabrik rumahan) bisa
pindah ke brak yang lain. Yang namanya rejeki pasti gak kemana, sesederhana
itu.
Baca juga : Piknik Depan Rumah
Baca juga : Piknik Depan Rumah
Jepara sudah menjadi pusat
produksi mebel dan furniture sejak lama. Dan kebutuhan akan perabotan rumah
tangga tentu tidak akan bisa dihilangkan. Mau jadi apa kalau rumah tanpa isi?
Mirip gudang kali ya, hehe. Meskipun banyak produk perlengkapan rumah tangga
yang terbuat dari non kayu dengan harga yang jauh lebih murah, bagi orang berduit, kualitas terbaik tentu menjadi
prioritas utama.
Di hari ke 59 aku menjadi
karyawan ini, sedikit banyak aku mulai tahu betapa indahnya kotaku. Jika
setahun lalu aku disibukkan dengan menghabiskan banyak waktu bersama
teman-teman pegiat jalan-jalan, sepertinya tahun ini atau hingga seterusnya aku
akan lebih banyak berurusan dengan penjualan dan produk perlengkapan rumah
tangga berbahan kayu dan sejenisnya.
Mendapat Tawaran Kerja
Hari pertama bekerja, aku masih
sangat gugup. Dunia mebel dan furniture adalah hal yang baru bagiku, sangat
baru. Bahkan jenis produk dan berbagai rinciannya pun aku sama sekali tak tahu.
Semuanya benar-benar dimulai dari nol. Harap maklum sekali karena aku bekerja
bukan hasil dari pencarian di grup lowongan kerja yang banyak tersebar di
sosial media maupun dari hasil broadcast di aplikasi chat.
(Mungkin) seperti halnya para
pekerja baru lainnya, aku sama sekali tak tahu istilah-istilah yang digunakan. Jenis
barang, bahan hingga sebutan untuk proses pengerjaan pun sama sekali aku tak
tahu. Haha, lucu sih tapi bagaimana lagi. Semua yang tahu berawal dari
ketidahuan kan?, *alibi. Seiring berjalannya waktu, semua bisa teratasi dan
banyak sekali ilmu yang kudapatkan meskipun belum seberapa. Alhamdulillah.
Aku mendapatkan tawaran kerja
langsung dari salah seorang teman yang merupakan owner sebuah online shop yang
bergerak di bidang mebel dan furniture yang sedang mencari admin sekaligus
sekretaris di warehousenya. Karena sedang
vacum kuliah dan memang sedang
mencari tambahan pemasukan, tanpa pikir panjang akupun langsung mengiyakan. Selain
itu, sebenarnya aku juga ingin belajar tentang dunia mebel dan furniture yang
membuat Jepara terkenal di dunia.
Siapa tau kan ya, suatu saat aku
bisa mengikuti jejak Pak Bos menjadi pengusaha mebel furniture dan memiliki
banyak karyawan, hehe. Terlalu muluk-muluk, berlebihan dan lebay (halah), tapi tak ada salahnya berdoa yang baik-baik. Mohon aminkan.
Berapa Gajinya?
Dua kata ini adalah salah satu
hal yang menurutku sangat tidak etis untuk diungkapkan dan sangat tidak wajib
dijawab. Tapi bagi sebagian orang, bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan
dari uang. Sejak awal bekerja, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan gaji,
sedikit terlihat munafik tapi aku punya alasan untuk tetap mempertahankan statementku ini.
Selain bekerja untuk mendapatkan
uang, aku juga punya keinginan untuk bisa belajar sambil bekerja. Mempelajari hal-hal
baru yang (sangat) mungkin tidak bisa kudapatkan jika aku bekerja di tempat
lain, bahkan jika aku sudah sarjana sekalipun. Bisa belajar ilmu marketing secara langsung dengan pelaku
usaha yang sudah berpengalaman sekaligus belajar tentang mebel dan furniture
sejak dari masih berbentuk potongan kayu hingga proses pengiriman dan sampai
kepada pelanggan. Semuanya paket komplit dibungkus dalam sebuah bingkai
pekerjaan berlabel karyawan.
Tidak ada yang patut dibanggakan,
bahkan beberapa pihak menolak keputusanku bekerja sebelum lulus kuliah. Tapi dengan
tidak mengurangi ras hormat kepada seluruh saudara dan teman, aku katakan pada
mereka bahwa aku ingin belajar. Dimana lagi bisa belajar dan dibayar?
Sepertinya curhatku sudah terlalu
panjang, terimakasih sudah membaca cerita pengalamanku selama 59 hari bekerja.
Yuk share ceritamu juga!













































