• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Tentang Pacaran - Pacaran atau nggak pacaran itu pilihan masing-masing, siapapun boleh pacaran asalkan dengan sesama single atau dengan pasangan sahnya yang masih ingin menyebut dirinya pacaran. Ih, kompleks banget ya penjelasanku.

Well, memang ribet karena aku juga dibikin pusing sama kenyataan di media sosial yang satu sisi bilang nggak boleh pacaran karena bla bla bla dan di sisi lain bilangnya pacaran aja biar kenal sama calon pasangan seumur hidupnya.

Apakah Aku Pro Pacaran?

Aku sendiri, jujur saja pernah ada di dua posisi tersebut. Entah itu jalan yang benar dan sekarang aku kembali tersesat atau sebaliknya, aku pernah tersesat lalu kembali ke jalan yang benar. Aku tak mau memikirkannya lebih jauh. Capek buuuk, mikir terus. Jalanin aja hidup seenak mungkin, hempaskan halu yang bertubi-tubi. :)

Oke, sampai disini sebut saja aku pelaku pacaran. Bukan berarti nggak mendukung yang anti pacaran tapi ini hak kalian sendiri untuk menentukan pilihan. Segala hal pasti ada resikonya, termasuk pacaran. Selama kalian yakin bisa menghadapi kenyataan dan segala resiko dalam proses pacaran artinya kamu boleh dan siap untuk pacaran.

Sebenarnya sih, pacaran itu hal yang kompleks untuk dibicarakan. Bahkan anak kecil yang cuma modal rasa suka terus nembak lalu diterima juga nyebutnya pacaran, kan?. Meskipun aku can't relate banget karena aku polos banget waktu kecil, sih. Nggak pernah punya pengalaman pacaran di usia dini. Tapi percaya aja lah karena aku lihat sendiri salah satu murid les yang mengaku sudah berpacaran padahal baru kelas 5, hmm. Juga beragam fakta di sosial media yang justru kerap jadi guyonan kaum dewasa.

Padahal nih ya, aku tuh cuma mau membahas tentang pacaran yang dijalankan dua insan di umur yang bisa dibilang matang. Tapi bisa aja kan artikelku ini dikaitkan dengan pola pacaran abg yang sedang merasakan cinta monyet. Semoga tetap bisa relate karena masih dalam satu topik, PACARAN.

It's ok, seenggaknya kalian sudah tahu maksudku.

Aku nggak akan menjelaskan tentang definisi pacaran karena pasti akan lebih kompleks lagi.

Btw, ini tulisan atau perumahan kok banyak kompleksnya dari tadi???

Pola pacaran setiap pasangan selalu berbeda satu sama lain. Nggak bisa dipukul rata. Karena setiap orang punya karakternya masing-masing dan tentu saja berpengaruh pada pola hubungannya. Pola hubungan juga dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing pasangan, usia hingga tujuan yang berbeda-beda. Beda pasangan, beda cara mengungkapkan perasaan, beda cara nge-treat pasangan dan tentu saja beda cara pandang terhadap hubungan.

Namun beberapa poin ini mungkin bisa dijadikan landasan hukum ketika memutuskan untuk berpacaran.  Jika dirasa nggak bisa memenuhi, please.. mendingan kamu jomblo aja. Semuanya based on my story, sebisa mungkin nggak mau dibuat-buat karena ini blog personal, ehe~.

Komitmen

Memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis artinya siap menerima banyak hal baru. Menerima dan menjalankan segala yang ada di depan mata dengan lapang dada.

Pacaran artinya siap menjalankan komitmen yang telah dibuat bersama. Baik langsung maupun tidak langsung. Yang tujuan utamanya tentu demi keberlangsungan hubungan dalam jangka panjang dan dalam kebahagiaan yang mendalam.

Siapapun dan dari latar belakang apapun pasangan, cintailah dia sepenuhnya. Bukan karena apapun yang ada di belakangnya. Dan tanamkan pada diri bahwa hal itu sebenarnya nggak penting sama sekali. Anggap saja bonus dari betapa tulusnya cintamu selama ini. Dan tak ada alasan untuk memilih tempat lain untuk melabuhkan pandanganmu pada yang lain hanya karena keadaanya yang nggak sama dengan yang sedang kamu suka.

Jika sudah yakin dengan pasangan, komitmen bukan hal yang sulit, kok. Tapi lagi-lagi ini tentang sifat bawaan juga, sih. Well, nggak semua orang punya skill setia sekuat baja. Lhah, baja aja kalo sering ditempa bakalan bengkok juga kan ya....?!

Komitmen itu intinya melaksanakan janji yang telah dibuat dengan pasangan maupun diri sendiri ketika memulai sebuah hubungan. Yang pasti, pasangan yang dimaksud disini hanya 1 laki-laki dan 1 perempuan, nggak ada yang lain.

Aku sendiri agak insecure sih sama Mas A, hmm... mungkin demikian juga dengan Mas A padaku. Wajar saja karena kita nggak setiap hari bertemu dan kemungkinan dia bertemu orang lain jauh lebih banyak. Aku sendiri benci pada perasaan ini karena aku pernah percaya banget sama mas A. Dan hanya karena aku pernah lihat chat dia dengan perempuan lain, sejak saat itu aku jadi mulai insecure. Ih, sebel. Padahal maunya secure-secure aja, kalem, santai, woles. Tapi pikiran parno muncul terus dan datang seenaknya. Bikin hidup nggak tenang dan pengen makan orang. Oh, ternyata posesifku separah itu.

Jika sudah seperti ini, waktunya mengeluarkan amunisi kedua.

Komunikasi

Dalam setiap hubungan, baik formal maupun non formal, penting atau nggak penting, komunikasi harus selalu dipentingkan, lho. Apapun bentuk komunikasinya, usahakan agar semua pihak tahu apa yang diinginkan pihak lain.

Nggak harus setiap waktu juga untuk berkabar, tapi usahakan untuk tidak kehilangan kabar dari pasangan. Minimal sekali dalam satu hari, usahakan ada komunikasi dengan pasangan.

Untuk hubungan dalam ranah usia muda, mungkin banyak ditemui jawaban 'jalani saja dulu, kalau cocok ya lanjut kalau nggak ya gimana lagi?'. Ambigu, percuma menjalin komunikasi sebagus apapun tapi tujuannya nggak jelas. Kasian waktumu terbuang percuma, Gais. Saranku, lebih baik menjomblo saja daripada harus merasakan sakitnya patah hati terencana.

Untuk hal yang lebih serius, komunikasi dengan pasangan tentang tujuan hubungan ke depan, apakah akan sekedar getting happy atau akan bermuara pada jenjang pernikahan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Meskipun 90% akan mendapatkan jawaban 'yes' untuk pertanyaan 'will you marry me?', tapi tetap banyak juga yang masih belum siap dan mendapatkan jawaban tragis. Saranku, sebelum melamar dengan gaya seperti itu sebaiknya dikomunikasikan saja dulu. Berdua. Biarkan dunia tahu setelahnya saat semua sudah tiba pada waktunya.

Setiap pasangan tentu memiliki pola komunikasi yang berbeda. Hal ini tergantung pada sifat dan watak kedua belah pihak. Dan tentunya sesuai kesepakatan bersama.

Komunikasi yang dibangun dengan baik akan membuat hubungan terasa jelas dan terarah. Meskipun kadang terlihat nggak penting seperti menanyakan kabar, keadaan, kegiatan maupun hal lainnya yang terlihat menjemukan, tapi bagi sebagian orang hal itu terbilang penting, lho. Apalagi untuk pasangan yang lagi hangat-hangatnya. Ya nggak sih?

Realistis


Cinta kadang membuat siapapun berfikir tak realistis, cenderung mengada-ada dan aneh. Seaneh mau mau aja diatur pasangan yang baru kenal beberapa bulan. Padahal selama ini kamu hidup dengan dirimu sendiri dan so far, sangat baik-baik saja.

Seaneh tiba-tiba mau membelikan make up pacarnya, mengantarkannya kemanapun tujuannya serta berbagai hal absurd lainnya. Bahkan kadang ada yang mengalahkan egonya demi kesenangan pasangannya. Sempat sweet di masanya.

Tapi akan ada waktunya hal-hal seperti itu rasanya

Uuh, sweet memang. Tetapi apakah tidak terlalu berlebihan dalam memberikan segala waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk orang lain yang ((iya sih kita sayang)) bukan siapa-siapa.

Menjadi Diri Sendiri

Sampai poin ke empat ini sebenarnya sudah cukup bingung apa yang akan ditulis. Karena saking banyaknya yang sudah aku tulis diatas.  Hehehe

Selain itu, karena poin ini juga sudah tercakup dalam poin-poin sebelumnya. Pada intinya, pacaran hanyalah satu step hubungan untuk saling mengenal lebih dalam tentang pasangan. Pola, jenis, bentuk dan karakter hubungan selalu berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lain.

Karena masih bersifat penjajakan, sebaiknya tak perlu larut terlalu dalam. Tetaplah menjadi diri sendiri dan tetap mencintai diri sendiri. Tak perlu menyediakan segala kelebihanmu demi menyenangkan pasangan.

Jadilah pasangan yang menyenangkan, tak perlu jadi seperti yang diinginkan. Ini cinta, bukan trik sulap.

Sekian, happy blogging. 


Share
Tweet
Pin
Share
61 komentar


Berhubungan dengan banyak orang artinya siap menerima semua keadaan. Sangat kompleks, bahkan terlalu kompleks. Ya, karena rasanya akan sangat keterlaluan jika belum terbiasa. Terasa seperti duri yang menancap secara sengaja. Sengaja karena keputusan untuk berbaur dengan banyak orang adalah dari kita.

Aku sendiri, di usia yang sudah tak lagi muda ini mungkin memang sudah waktunya keluar. Keluar dari zona nyaman atau dari lingkaran pertemanan yang terkesan monoton. Bukan berarti keluar sepenuhnya, tapi keluar untuk menemukan hal baru dari orang-orang baru.

Bagi beberapa orang, di usia produktif bekerja seperti ini akan diisi dengan kegiatan yang diimpikan siapapun; bekerja. Ya, sebuah kegiatan yang pernah diimpikan siapapun dan dikeluhkan oleh siapapun yang sedang menjalaninya.

Wajar dan proporsional, nggak jarang aku dengar keluhan tentang pekerjaan yang sedang digeluti. Entah tentang jobdesk, gaji maupun partner yang mendampingi. Bisaaaaa banget jadi bahan keluhan, ya, bisa aja. Namanya juga manusia yang sering cari-cari kesalahan sendiri.

Dulu aku mikirnya kerja hanya akan sibuk dan ribet dengan jobdesk dan segala hal yang perlu dilakukan. Ini perspektif yang aku bayangkan jauuuh sebelum aku pengen kerja. Lihat di tv kayaknya cuma gitu-gitu aja, ngeluh sekenanya karena banyak kerjaan atau karena capek selama di perjalanan.

KENYATAANNYA


Selain menghadapi pekerjaan, dunia kerja juga mengharuskan kita bertemu dengan banyak orang yang tentunya dari latar belakang berbeda. Hal yang sama sekali nggak terbayang saat masih kecil. Dan inilah saatnya kita merasakan.

Dan alibi niat kerja yang sungguh-sungguh seringkali mematahkan ego. Merasa butuh uang hingga membiarkan diri berlarut-larut dalam posisi yang tak nyaman. Ini sih namanya mematahkan ego dan menumbuhkan ego lain, ya.

Karena bagaimanapun kondisinya, perasaan selalu menjadi bagian paling sensitif untuk tersentuh. Entah dengan sentuhan yang lembut ataupun kasar, sama pekanya. Tak jarang pula yang masih memendam rasa hingga berakhirnya masa kerja.

And then, let me tell what I think

Bekerja artinya kita dibayar karena kita mengerjakan jobdesk yang sesuai dengan kesepakatan awal, atau sebut saja sesuai kontrak. Meskipun banyak juga lho yang nggak ada kontrak dan cuma kerja aja di tempatnya. Nggak ngerti sampai dimana batas dia harus bekerja yang bisa jadi menguntungkan atau merugikan salah satu pihak.

Belum lagi ditambah dengan perlakuan yang diterima, kadang menyenangkan kadang tidak. Pun tentunya kita juga pernah ada di posisi yang melakukan kegiatan baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan orang lain.

Memang harus super siap dengan segala keadaan yang ada. Mulai dari gaji yang tak sesuai porsi kerja (entah lebih atau kurang), pandangan orang-orang baru tentang kita yang sejak lama sudah seperti ini, hingga kebaperan-kebaperan lain yang hanya membuat kerja tak maksimal dan cenderung berdampak negatif.

Bahkan aku sering iri pada orang-orang yang dengan mudahnya tak menghiraukan omongan orang. Semudah itu melupakan sesuatu yang harusnya meninggalkan bekas luka mendalam.

Jika sudah siap dengan dunia kerja, hadapi saja apa yang ada. Jangan percaya begitu saja dengan spoiler yang aku tulis disini. Bisa jadi nggak berlaku untukmu dan kepribadianmu, lho. Nyatanya banyak kan yang masih bertahan di satu tempat kerja bertahun-tahun lamanya. Mungkin kamu salah satunya, atau yang sedang berniat menjadi salah satu dari mereka.

Yang pasti, apapun bentuk dan tujuannya, bekerja adalah sebuah keniscayaan bagi siapapun yang mampu. Tapi, sampai kapan akan menggantungkan harga diri pada orang lain?

Terimakasih sudah membaca, Happy Blogging!




Share
Tweet
Pin
Share
34 komentar


Setelah kemarin membahas tentang sawang sinawang, aku pikir aku akan lebih tenang saat ini. Ternyata tidak. Tiba-tiba aku merasa terpuruk sekali. Hal yang dulu sering aku alami dan sangat aku hindari, kini terjadi kembali. 

Aku sadar sekali aku bukan orang yang konsisten menjaga komitmen. Sering terbawa suasana dan cenderung nggak peduli dengan pembukuan. Entah kenapa rasanya menyedihkan, ingin kusudahi tapi seakan aku sendiri yang tak membuat celah untuk mengakhirinya. 

Aku yakin bukan aku saja yang mengalami hal ini. Untuk ke sekian kalinya, akupun iri pada orang-orang yang bisa hidup tenang dengan keadaan finansial seadanya, secukupnya. Atau mungkin aku orang luar yang memang tidak harus aku ketahui sehingga semuanya tampak baik-baik saja.  

Apalagi melihat anak muda yang seumuran atau bahkan usianya jauh di bawahku yang terlihat begitu nyaman dengan hidupnya. Seakan dia memiliki segala keberuntungan yang aku inginkan. Tak jarang pula aku bertanya, "kenapa dia yang mendapatkannya?, apakah Tuhan tak tahu aku juga menginginkannya?". 

Sangat ambigu, tapi wajar sekali,  bukan? Anggap saja anak kecil yang ingin mendapatkan balon seperti yang dimiliki temannya, tapi stoknya sudah habis. Seakan dunia terasa sangat-sangat tidak adil.

Aku selalu percaya bahwa segala sesuatu pun selalu ada jalinannya. Maksudku mata rantai. Apa yang terjadi saat ini pasti ada sebabnya di waktu lampau, entah jauh maupun dekat. Pun dengan imbasnya nanti di masa yang akan datang. 

Apa yang terjadi padaku saat ini tentunya karena aku tak konsisten dan menganggap sejua bisa dikerjakan nanti saja. Akhirnya semuanya stuck, bahkan aku semakin terpuruk dari waktu ke waktu. Sayangnya aku nggak belajar dari masa lalu. Ya, aku pernah ada di fase ini beberapa waktu yang lalu. 

Baiklah, aku terima saja nasibku saat ini sebagai waktu untuk belajar kembali. Pastinya untuk ikhlas dan lebih konsisten dalam segala hal apapun. Untuk lebih gigih dalam memerjuangkan harapan dan keinginan. Dan untuk bersyukur bahwa tak semua orang mendapatkan kesempatan belajar berkali-kali seperti aku. 

Anggap saja aku belum naik kelas, jadi harus belajar lebih banyak lagi. :)
Share
Tweet
Pin
Share
31 komentar


Ada yang pernah ingin segera menjadi dewasa di masa kecilnya?. Jika iya, tosss!, kita sama. Dan aku yakin banget banyak juga manusia di luar sana yang sama kaya kita. Lalu, bagaimana kesannya setelah menjadi dewasa? Apakah sama dengan ekspektasi di masa kecil dulu?

Lalu, adakah yang pernah ingin kembali ke masa kanak-kanak? Dimana kegiatan kita setiap hari hanya bermain dan tertawa lepas, sesekali menangis untuk hal-hal sepele yang sebenarnya tak bisa diobati dengan tangisan. Aku juga yakin pasti ada karena nggak jarang aku lihat banyak status berkeliaran tentang hal tersebut.

Lalu, apakah sebenarnya posisi kita yang salah? Atau ini hanya tentang persepsi kita saja yang kurang tepat?

Dalam bahasa Jawa, ada istilah "sawang sinawang". Sebuah keadaan dimana kita melihat kehidupan orang lain seakan lebih indah, lebih bahagia, lebih sempurna dan lebih segalanya. Seakan hidup kita terasa begitu jauh di bawah mereka. Padahal, bisa jadi oranh yang kita jadikan objek perbandingan, nggak lebih bahagia dari kita.

Aku pernah ada di fase tersebut. Fase dimana aku merasa terpuruk dan iri pada nasib orang lain yang terlihat lebih bahagia. Tapi itu dulu, dulu banget saat aku belum mengenal dunia luar dengan segala macamnya.

Setelah keluar dari rumah dan bertemu banyak orang hebat dari berbagai latar belakang berbeda, mataku akhirnya terbuka bahwa hidupku nggak seterpuruk itu. Masih banyak yang bisa disyukuri tanpa harus banyak mengeluh.

Apalagi setelah menemukan orang yang bisa menerima apa adanya. Duh, indahnya. Meskipun nggak berani mengklaim kami akan menjadi keluarga, setidaknya aku menemukan titik bahagia yang mungkin orang lain di luar sana belum menemukannya.

Begitulah hidup. Jika dituruti maunya, maka tak akan ada habisnya. Jalani saja apa yang ada. Selalu bersyukur pada Yang Kuasa.

Share
Tweet
Pin
Share
35 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ►  2021 (2)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ▼  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ▼  Januari 2019 (4)
      • Tentang Pacaran
      • Bekerja Dengan (Bawa) Perasaan
      • Refleksi Sawang Sinawang Yang Gagal
      • Menikmati Fase Sawang Sinawang
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates