• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya




Apa yang kalian pikirkan saat telah lulus dari dunia pendidikan?. Sebut saja s1, s2 atau SMA.

Mungkin bagi lulusan S2 akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan melihat jenjang pendidikan yang ditempuh sudah oke dan banyak sekali lowongan yang bisa menampung mereka. Bagi lulusan S2 mungkin lebih sedikit sulit, jika tidak dibarengi dengan ikhtiar kuat dan kualifikasi yang mumpuni tentu akan terasa berat dalam menjalani kehidupan di dunia kerja. 

Nah, untuk yang lulusan SMA atau sederajat nih. Kalo menurutku sih lebih mending dibanding yang lulusan SMP. Meskipun banyak penyedia lowongan kerja yang masih menyamakan kedudukan keduanya. Tapi yang namanya rejeki pasti tak akan kemana. 

Jadi pekerja adalah pilihan. Menurutku, setial hal yang dilakukan dan bisa menghasilkan uang adalah sebuah bentuk nyata dari kata 'BEKERJA'. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan pendapat orang lain, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Beberapa orang telah memiliki pekerjaan impian sejak masuk ke perguruan tinggi, atau sekolah menengah atas atau bahkan di tingkat pendidikan yang lebih rendah. Semuanya tergantung pada pola pikir dan ajaran keluarga yang didapatkannya sejak kecil. Tak jarang diantara mereka yang memperjuangkan impiannya mati-matian demi sebuah harapan besar.

Beberapa orang lain justru lebih acuh pada pekerjaan impian. Lebih suka menjalani hidup dengan santai dan mengikuti arus. Kemana takdir memanggil, ia akan datang. Kurang lebih begitu. Termasuk jika ia pernah memiliki pekerjaan impian lalu memilih berjalan mengikuti kemana arah angin membimbingnya.

Mengangur? BIG NO!!!


Sebesar apapun keinginanmu untuk bekerja, bersyukurlah jika bisa mewujudkannya dengan jalan yang biasa, maksudku tanpa hambatan dan perjuangan yang berlebihan. KARENA, di luar sana banyak yang masih kebingungan melabuhkan dirinya pada satu pekerjaan impian. Ya, lagi-lagi ini tentang takdir.

Apalagi jika dibarengi gengsi yang sebesar gunung, wah... bisa nganggur kamu. Hm.. maaf jika ini terkesan berlebihan, tapi begitulah kenyaataan yang ada. Banyak tawaran pekerjaan tapi tak semuanya membutuhkan skill dan title yang kamu miliki. Kalaupun ada, biasanya sudah disusupi orang dalam. Dan kamu hanya bisa memilih untuk pulang untuk membuat surat lamaran baru esok hari.

Jika memang niat bekerja, jalani saja apa yang ada di depan mata. Bukan soal berapa rupiah atau berapa lama kamu bisa bertahan, tapi ini tentang pengalaman. You need it, Trust Me!

Atau
Jika memang tidak punya niat bekerja sama sekali artinya ini tipe yang lebih suka membuka lapangan kerja. Setidaknya untuk dirinya sendiri. "Lha, emang bisa bikin lapangan kerja?, so so an banget lah baru lulus udah mau jadi bos."

Please abaikan kalimat julit kaya gitu. Banyak kok yang baru lulus dan sudah punya usaha, bahkan yang belum luluspun banyak. Dan kebanyakan jenis usahanya ngga nyambung dengan jurusan yang diambil saat kuliah. Dan satu hal lagi yang cukup penting diketahui adalah bahwa memulai usaha itu gak harus langsung besar, bisa kok dimulai dari yang kecil-kecilan. Apa aja? Ini aku beri beberapa contohnya:

1. Jual Gorengan
Sebenernya ini bukan duniaku, hehe. Aku ga bisa masak dan bikin cemilan enak. Jadi maaf kalo saran ini ga berdasarkan pengalamanku. Tapi siapa sih yang ga suka gorengan? Biarpun lagi batuk atau kena penyakit lain yang dilarang makan gorengan pasti tetep dimakan. Hehe

Menurutku, jualan gorengan tuh ga ada matinya. Bahkan peluang berkembangnya sangat besar. Bisa merambah ke jualan nasi bungkus semacam 'angkringan' yang berjualan semalaman. Bisa juga membuka banyak cabang di berbagai tempat. Wah, kalo gini sih bisa kasih kerjaan ke orang lain juga. 

Modalnya juga lumayan gampang, yang penting tau resepnya dan telaten menjalani usahanya insya Allah akan menuai hasil baiknya.

Eits, meskipun disini aku tulis jualan gorengan aja kalian juga bisa kok buka usaha dengan berjualan barang lainnya. Ya kan ini berdasarkan apa yang aku lihat aja. Banyak anak muda dan masih aku kenal yang memilih berjualan gorengan, nasi bungkus, roti bakar dan lain sebagainya.

2. Membuka Jasa Les 
Jasa di bidang pendidikan adalah salah satu hal yang akan terus dicari. Nah, peluang ini bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha. Modalnya yang cukup ringan dan mudah tentu menjadi kelebihan tersendiri bagi siapapun yang ingin bergelut di bidang pendidikan.

Hanya dengan modal ilmu yang dimiliki dan ruang tamu di rumah saja sudah cukup untuk membuka jasa les. Ditambah dengan promosi melalui media sosial serta brosur sederhana untuk media informasi sepertinya sudah cukup. Setelah ada beberapa murid tentu akan semakin berkembang informasi dari mulut ke mulut yang justru semakin membantu tersebar luasnya usaha les yang kamu punya.

Hanya sekedar info tambahan bahwa beberapa orang tua ada yang sangat selektif memilih tempat belajar tambahan untuk anaknya. Bahkan tak jarang dari mereka mengharuskan anaknya diajar oleh lulusan S1 Pendidikan. Wow, amazing!. It's okelah kalo memang kamu memiliki kualifikasi yang mumpuni. Kalo ngga????

Em, jangan khawatir deh.. kamu yang lulusan non pendidikan atau bahkan hanya lulusan SMA bisa kok membuka jasa les untuk anak. Ya memang bukan les privat atau les pelajaran sekolah, tapi Les Baca Anak Hebat atau biasa disingkat AHE. 

Syarat yang diperlukan cukup mudah dan simpel. Cukup mendaftar di websitenya atau kepada konsultan terdekat lalu mengikuti pelatihan mengajar dan sudah bisa membuka unit resmi di rumah. Siapapun bisa mendaftar dan membuka les baca di rumah baik ibu rumah tangga adik-adik yang baru lulus SMA atau para calon ibu muda sepertiku hehe. Yang penting di area yang akan didaftarkan belum terdapat unit resminya. Nah, kamu bisa cek area kamu di webnya langsung tuh. Atau kamu bisa cek di media sosialnya disini.

3. Jadi Freelancer
Sebenarnya aku juga belum tau definisi freelancer yang sebenarnya. Yang pasti kerja jadi freelancer itu lumayan enak dibanding yang lainnya. Gak ada jam kerja khusus dan gak ada kerjaan khusus. Semuanya seperti berjalan apa adanya. Yaa... namanya juga pekerja lepas, bebas.

Wah, freelancer gak bisa jadi kerjaan utama dong? Paling honornya kecil!

Eh, jangan salah, coba aja deh baca cerita teman-teman yang memilih menjadi freelancer pasti bikin kamu kepincut pengen seperti mereka. Apalagi kalau kamu tipe yang gak suka kerja rutin setiap hari. Kalo masih kepo dengan jenis kerjaan ini kamu bisa dapat info lainnya disini.


Nah, itu tadi beberapa pilihan Pekerjaan untuk kamu yang belum diterima bekerja setelah lulus. Jangan putus asa, kamu bisa kok buat pekerjaanmu sendiri. Dari ketiga jenis kerjaan itu, sebenarnya banyak aku ambil dari pengalamanku sebagai penjual kain tenun, pengajar les, blogger dan vlogger yang masih terus belajar sampai sekarang.

So, jangan pernah memilih untuk menganggur. Bekerjalah, berusahalah semampumu. Mungkin tak ada yang tau hasilnya, tapi kamu yang merasakannya.

Sekian, selamat membaca dan happy blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
49 komentar


Pacaran itu gak ada dalam buku manapun, kecuali novel fiksi atau novel non fiksi yang berawal dari novel fiksi yang dibaca sebelumnya. Maksudku gaya pacaran real yang diadaptasi dari bacaan fiksi gitu lhoh. Ribet yaa...

Iya. Ribet. Sama dengan pacaran itu sendiri. Apalagi untuk yang belum benar-benar siap menjalin hubungan dengan orang lain yang belum dikenal atau sudah dikenal namun dengan kedekatan yang berbeda. Menurutku, ini hanya tentang status sosial di zaman yang sudah sangat lazim menghina jomblo. Atau alibi pemenuhan perhatian dan kasih sayang yang seperti mereka bayangkan selama ini.

Sebenarnya, daripada bahas pacaran mendingan bahas nikah. Lebih jelas dan terarah. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur ingin membahasnya.

Pada masa awal, pacaran akan terasa indah. Selalu berkabar, rajin nanyain pasangan, telponan tiap hari sampe kuping panas. Ya begitulah, namanya juga masih seger-segernya. Makin lama, karena kebanyakan yang pacaran adalah anak muda yang masih labil, makin berkurang deh keseruan di awal masa pacaran.

Apalagi kalo nggak ada tujuan serius sampai ke jenjang menikah, atau salah satu dari mereka adalah player, ya sudah pasti terbaca endingnya.

Para pelaku pacaran bukannya tidak tahu akibat dan resiko berpacaran, tapi ya lagi-lagi ini tentang status sosial. Akan terlihat wah jika mereka berpacaran, setidaknya ada nama yang bisa ditambahkan di bio sosial media dengan bubuhan emotikon love 😂.

Gaya pacaran anak muda lebih menjurus ke hal-hal yang have fun ala anak muda. Jalan bareng, makan bareng, belanja bareng dan lain-lain yang cenderung konsumtif. Padahal kebanyakan dari mereka belum produktif menghasilkan uang sendiri. Anehnya, mereka selalu bisa meluangkan waktu dan uangnya untuk hal itu.

Gaya pacaran anak muda tuh gak jauh beda, rata-rata hampir sama dengan pola yang juga sama.
➡KENALAN-PDKT-JADIAN-TAUBELANGNYA-MARAHAN-PUTUS
➡LIAT AVA CANTIK - DI DM - DAPAT KONTAKNYA - DIPUJI-PUJI KECANTIKANNYA (PADAHAL BIASA AJA) - PDKT - MAKIN DIPEPET - JADIAN DI HP - KETEMUAN - TERNYATA GAK SESUAI FOTO AVA - PUTUS
➡DIKENALIN TEMEN - PDKT - NEMBAK - JADIAN - DIMAKAN TEMEN - PUTUS

Masih banyak lagi teorinya sih, tapi gak mau nulis semua. Nanti aku dikira pakar dunia percintaan, eh dunia pacaran. Aku disini bedain pacaran sama percintaan ya Gais... Karena menurutku emang beda, beda banget. Pacaran, bahkan menikah ga musti pake cinta. Dan cinta pun ga musti berakhir dengan pacaran atau meniqah.

Jangan Pacaran, BERAT!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar





 Tiga Pasang Sepatu dan Dua Pasang Sendalku | Ada yang mengatakan bahwa sepatu (atau sebut saja aksesoris kaki) merupakan salah satu fashion icon yang cukup penting untuk diperhatikan. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa sepatu adalah bagian yang berbeda dengan tren fashion. Ya, memang letaknya cuma di kaki, ga begitu diperhatikan orang. Hei... kok cuma sih?. Bayangin kalo kita cuma nyeker tanpa alas kaki, bisa melepuh deh kulit kakinya. Ya kali wajahnya mulus tapi kakinya buduk. Ckck


Entah sepatu, sendal ataupun lainnya, bagiku cukup penting sih. Aku memang tipe yang ga kuat panas ataupun dingin, termasuk tekanan dari kerikil-kerikil kecil. Menyiksa. Aku tak suka. Kecuali di tempat-tempat yang memang lazim tak beralas kaki, misalnya di pematang sawah. Meski sekarang sudah ada sepatu booth, rasanya lebih nikmat saat merasakan pijatan lumpur sawah yang lembut di kaki. Sayang sendalnya juga sih kalo kena lumpur. Hehe

Nah, aku sendiri bukan tipe pengoleksi alas kaki baik sepatu maupun sendal. Ya.. seperlunya aja sih, gak usah banyak-banyak apalagi mahal. Pokoknya seperlunya dan secukupnya aja. Kita mau kemana, ada yang dipakai untuk melindungi kaki kita tanpa harus bingung mau beli baru demi kepuasan diri. Toh cuma di kaki, eh.

Kegiatanku sebagai pengangguran ya paling gitu-gitu aja sih. Tak terlalu sering tapi bisa dibagi ke beberapa bagian, seperti acara formal, non formal dan semi formal. Dan aku punya item sepatu untuk masing-masing acara tersebut. Berapa jumlahnya? Ya kali banyak-banyak. Satu aja kok.

Lho? masak ga ganti-ganti?
Emang kenapa kalo gak ganti? Kan sudah kubilang jarang dipakai juga. Kalopun orangnya sama di acara yang berbeda, paling juga orang yang lihat sudah lupa. Wong cuma di kaki aja kok, hehe.

Ya udah ya udah, emang apa aja sih?

1. Sepatu Lari


Ini sepatuku yang paling baru, hehe. Murahan banget, maksudku harganya murah. Ada sih merknya tapi entah ori atau kw aku juga gak ngeh. Yang penting nyaman aja dipakai. Ukurannya kegedean 1 nomor sih sebenernya, tapi cukup pas kalo buat lari. Soalnya waktu nyobain yang satu nomor di bawahnya agak ketat gitu. Jadi ya sudahlah....

Sepatu ini dipake cuma 3 kali seminggu, itupun kalo lagi rajin jogging. Saat menulis ini malah udah semingguan gak kepake karena sering bangun kesiangan dan udah lemes saat mau jogging sore. *alesan*

Sejak beli hingga sekarang belom pernah kucuci karena memang belum pernah kotor banget. Paling bagian bawahnya aja yang aku sikat dengan pasta gigi agar tetap putih kinclong seperti gigi di iklannya. Huhu

2. Sepatu Ket

Aku gak tau gimana ejaan yang benar, ket atau cat atau cet. Ah sudahlah, maksudnya yang itu. Tau kan maksudku?
Kalau biasanya yang disebut sepatu ket adalah yang memiliki tali di bagian atas dan datar di bagian bawahnya, punyaku ini tanpa tali. Ada sih tali, tapi udah nempel gitu jadi gak perlu diikat secara manual. Entah masih termasuk kawanan sepatu ket atau nggak aku pasrah aja.

Sepatu ini casual banget. Aku suka pake kemana-mana. Biarpun bagian dalamnya udah buluk dan jelek, yang penting gak bau hehe.

Sepatu ini sudah setahun lebih menemaniku, aku beli di toko sepatu pinggir jalan dengan harga enam puluh ribu saja. Murah kan?, dan sampai sekarang aku belum berniat menggantinya. Bentuknya yang unik, simpel dan tak perlu mengikat tali seperti sepatu lainnya membuat aku mudah memakainya. Apalagi jika bepergian ke tempat ramai yang gak mungkin bisa jongkok barang sebentar untuk mengencangkan ikatan talinya.

3. Sepatu Flat

Sepatu ini sedikit lebih tua dari sepatu lariku. Harganya dua kali lebih murah dari kakaknya adiknya, maksudku harga sepatu lari tadi dibagi dua. Memang agak kebesaran karena ukuran standarnya besar, tapi mau gimana lagi. Itu sudah ukuran terkecil di tokonya. Warnanya manis dan modelnya elegan membuatku kepincut saat itu. Sampai saat ini masih sering kupakai dan rencananya akan kupakai saat lebaran nanti.

Warna dusty pink yang dimilikinya membuat warna kulit kakiku yang agak gelap terlihat lebih cerah. Entah karena khayalanku saja atau teorinya memang seperti itu, aku tak tau persis. Yang pasti sepatu ini berhasil menambah rasa percaya diriku saat menghadiri acara formal maupun semi formal.

4. Sendal Gunung
Bukan foto asli nih, tapi mirip sih modelnya. 

Sandal gunung ini kubeli setahun yang lalu. Terlalu besar dan agak berat jadi jarang kupakai. Tapi aku suka modelnya yang tak pasaran, meskipun sering dibilang kebo sapi karena warna masing-masing sisi yang berbeda. Satu sisi berwarna merah dan satu sisi lainnya berwarna hitam. Dulu saat masih sering jalan-jalan di alam sih sering dipakai, sekarang sudah berganti jalan-jalan di dunia maya jadi jarang dipakai, deh.

Sendal ini kubeli dari salah satu produsen di Jawa Barat, kalo gak salah Bandung. Harganya lumayan karena modelnya custom. Selain nyaman saat dipakai, modelnya yang tak pasaran juga menambah kePDanku hehe.

5. Sendal Jepit Butut

Nah, ini nih bagian yang penting gak penting. Aku anggap penting karena paling sering dipakai kemana saja. Ya kali mau ke warung pakai sepatu lari? Enaknya kan pakai yang tinggal 'mblusuk' aja to?

Tapi ya gak penting juga dilihat dari bentuk dan buluknya. Sendal ini paling sering dipakai tapi paling jarang dibersihkan hehe. Yang penting selalu ada saat dibutuhkan.





Nah, itu tadi koleksi alas kakiku alas kakiku. Em, bukan koleksi sih kan soalnya cuma itu-itu aja hehe. Kalau kalian punya koleksi sepatu apa aja sih?, pasti banyak ya... Share yuk!

Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar

Entah sejak kapan lebaran menjadi identik dengan baju baru, dan entah sejak kapan pula aku tidak peduli dengan hal tersebut. Yang pasti, hingga sekarang keduanya berjalan bersama meski berbeda.

Ya, sejak kecil hingga sekarang aku memang termasuk bagian dari kaum yang jarang 'nyandang' atau membeli pakaian baru. Bahkan pernah dalam setahun aku hanya membeli pakaian sebanyak dua kali. Dan apakah aku lantas kehabisan pakaian? Tidak, aku masih berpakaian. Ya meskipun itu- itu saja, tapi justru menambah semangat kreatifitas untuk memadu padankan pakaian yang ada. Sangat menyenangkan.


Seperti Ramadhan edisi sebelumnya, properti baru menjadi topik yang wajib dibicarakan, bahkan kalau bisa diadakan. Aku sebut properti karena ini bukan hanya soal pakaian. Tapi apapun yang menjadi objek pandangan. Seakan harus baru, minimal baru beli meski bukan baru dibuat. 😂

Alasannya klasik dan lucu, tapi sudah mendarah daging. Biasanya dijawab dengan pertanyaan balik 'masa lebaran gordennya/kursinya/bajunya/temboknya/rambutnya/dsbnya sama kaya biasanya, GANTI DONG!'. Halah, mbok ya mikir, itu hati sudah diupgrade belom? Kalo sudah, darimana muncul pikiran semacam itu?, C'mon lah.

Hal semacam ini sudah biasa aku dengar di sekitarku. Meski berbeda pendapat, aku tak punya banyak nyali untuk mendebat mereka yang ujungnya pasti aku kalah juga. Ya, paling bisanya cuma nulis argumen di blog atau ngetweet sendiri, haha.


Jujur, aku bukan orang yang terlalu bersuka cita menyambut Lebaran. Biasa saja, Flat. Bahagia mungkin hanya di hari pertama dan kedua, saat berkumpul dengan keluarga. Momen yang dirindukan oleh siapapun. Selebihnya biasa saja, seperti hari biasanya.
Gini amat ya aku. hehe

Meski begitu, keasikan seluruh member keluarga menyambut lebaran kadang sudah cukup mampu menjadi penyemangat harique. Dari berburu baju baru berset-set meski dengan kualitas standar (gapapa yang penting baru) hingga berburu snack yang hanya ada di rumah saat lebaran saja. Ceritanya untuk hidangan tamu, tapi kenyataannya menjadi santapan orang rumah saat lebaran sudah usai dan para tamu sudah tak lagi berdatangan.

Begitulah, lebaran di mataku. Memakai baju baru di hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sesuai jumlah yang dimiliki. Bahkan kadang dipakai lebih dari sekali agar tetap dibilang baru. Sayangnya aku tak suka pakai baju baru, kadang sengaja kupakai lebih dulu sebelum lebaran. wkwk

Untuk yang jomblo kaya aku ini, yang bikin males adalah kekepoan sedulur semua. Sudah pasti muncul berbagai pertanyaan dari para sesepuh yang sudah mendahului ke pelaminan. Ya, pertanyaan keramat yang tak perlu kutulis disini. Seakan mereka sudah 'savage' hingga berani menanyakan hal yang mutlak menjadi hak Tuhan untuk menentukan.


Well, ini hanya sebagian. Hingga saat ini, lebaran masih begini-begini saja di mataku.

Sekian
Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
37 komentar



Makan makan.... siapa yang ga mau sih? Apalagi kalo tinggal makan, gratis pula! hehe


Kalau urusan makanan memang jarang sekali yang mengelak, apalagi mengelak. Kecuali cuma basa-basi. Ujungnya juga pasti mau. 😂 Beda lagi dengan masak, gak semuanya mau meski semuanya bisa.

Tapi aku gak bisa masak ....
Sst, bilang saja belum bisa. Ini hanya soal waktu.

Ya, soal masak memang agak tak enak dibicarakan. Apalagi untuk yang masih amatir seperti saya. Punya keinginan untuk masak, tapi apa daya selalu gak enak. Bukannya gak bisa, aku bisa kok!. Aku tau resepnya, bumbunya, cara bikinnya. Toh semuanya gampang dicari dan dipelajari baik di buku resep maupun di media online. Tapi ..... lagi-lagi ini soal rasa, meski sudah sesuai anjuran yang ada di buku, hasilnya jauh dari yang diharapkan.

Keasinan
Kurang Sedap
Kepedesan
Kebanyakan micin
Dan masih banyak lagi


Rasanya sulit sekali memasak masakan yang enak, bagiku, kecuali telur dadar. Bahkan masak tumis tempe saja aku masih belum bisa. Mungkin lebih tepatnya aku tidak memiliki skill perkiraan bumbu yang mumpuni. Anggap saja masih amatir. Maklumlah, aku belum dituntut untuk memasak, hanya secukup memasak untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain (yang aku sayangi, eh).

Sejak kecil aku memang tidak diajari masak secara spesifik, sebatas membantu masak tanpa ada ketertarikan berlebih. Bahkan aku baru bisa membedakan ketumbar dan merica baru setahunan ini, haha parah banget yak. Sampai akhirnya aku hidup di kosan yang menuntut untuk bisa masak. Ya, minimal aku bisa makan sendiri lah. 

Berkali-kali masak hasilnya tetap sama, jadi kok masakannya tapi gak enak. Seperti ada saja yang kurang. Ya, aku hanya kurang jam terbang. Tapi aku yakin aku tak sendiri, tentu banyak perempuan lain di luar sana yang senasib denganku. Mungkin juga lebih parah. 

Meskipun aku tak bisa masak enak, syukur alhamdulillah aku tak pernah kelaparan. Setidaknya aku bisa memasak masakan simpel yang tak perlu pertimbangan bumbu yang berlebihan. Cukup garam, lada dan penyedap saja sudah cukup. Apalagi kalau bukan telur dadar. 😋

Aku sempat meresah pada ibu tentang keadaanku ini, dan ternyata beliaupun dulu sama sepertiku. Dan solusinya adalah buku resep dan kebiasaan. Nyatanya sekarang, masakan ibuku enak, selalu enak. 

Percayalah, suatu saat aku akan bisa masak enak. Doakan ya...

Happy Blogging!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

MiFi Smartfren M3Y, Teman Baru Berselancar Seru

Tinggal di desa yang cukup jauh dari suasana perkotaan memang menjadi hal yang cukup tragis sekaligus menyenangkan. Suasana pedesaan selalu mampu memberikan suntikan mood bagi saya, suasana khas yang selalu membuat saya ingin kembali. Namun di sisi lain, saya sering kesulitan dalam mendapatkan koneksi internet yang cepat dan murah. Maklumlah, saya bukan pengguna kartu mahal, jadi terbiasa dengan tarif murah. Meskipun di dekat rumah sudah ada tower provider dengan iri khas warna merah, namun tetap tidak membuat saya yakin untuk beralih ke provider tersebut.

Setelah berusaha mencari informasi dan tips serta trik untuk bisa tetap berselancar di dunia maya dengan lancar dan murah, akhirnya saya menemukan satu pilihan yakni dengan menggunakan MiFi atau atau Mobile Wifi untuk GSM. Nantinya akan saya isi dengan si merah yang sudah saya ketahui biaya dan paketnya. Saya pun memutuskan untuk browsing sambil mencari harga yang pas dengan kantong saya. Ternyata harganya beragam dan cukup mahal bagi saya yang hanya rakyat jelata.

Akhirnya.....


Setelah puas mencari di marketplace dan tak menemukan hasil, akhirnya saya beralih ke toko fisik di sekitar tempat tinggal saya. saya tidak menemukan yang saya inginkan, tetapi menemukan yang saya butuhkan. Tuhan memang maha adil. Saya ditawari Produk MiFi Smartfren M3Y oleh sales resmi yang ada di counter tersebut. Saya sempat ragu akan kualitas jaringan provider ini di tempat saya tinggal. Namun sales produk, yang ternyata satu desa dengan saya, meyakinkan bahwa kualitas sjaringannya sangat baik. Bahkan  orang-orang di sekitar tempat tinggal saya banyak yang mencari produk ini untuk digunakan di desa yang cukup terpencil, katanya.

Akhirnya sayapun membelinya dengan harapan bisa membantu kinerja saya dalam bersosial media, ~halah. Dalam boksnya, terdapat sebuah perangkat MiFi, kabel charger, SIM card dan buku panduan. Bentuknya yang kecil dan simple membuatnya mudah digenggam dan dibawa kemana saja. Dalam SIM card telah tersedia paket 2 GB yang berlaku selama 7 hari. Untuk penggunaan selanjutnya bisa melakukan isi ulang via pulsa maupun voucher internet yang bisa didapatkan di toko terdekat.
MiFi Smartfren M3Y, Teman Baru Berselancar Seru

MiFi Smartfren M3Y, Teman Baru Berselancar Seru

MiFi Smartfren M3Y, Teman Baru Berselancar Seru


Testimoni Pribadi


Setelah mengaktifkan paket, saya berniat untuk pulang ke rumah dan menjajal kualitas produk ini. Dan ternyata memang benar, kualitas jaringan yang saya dapatkan tidak jauh berbeda dengan si merah. Akhirnya saya bisa mendapatkan jaringan terbaik tanpa harus berganti kartu SIM di smartphone saya. Namun saya belum mencobanya di lokasi lain apakah kualitasnya sama atau justru lebih baik. Sejauh ini saya cukup puas dengan pilihan saya.

Untuk di perkotaan, jaringan 4G Smartfren tentu tidak diragukan lagi. Namun saya lebih memilih menggunakan kartu GSM yang biasa saya pakai untuk mengurangi penggunaan kuota MiFi berlebih. Hehe, Ya kan karena saya beli MiFi memang untuk jaga-jaga ketika di rumah.

Akhirnya sekarang saya tak perlu khawatir lagi untuk berselancar di dunia maya ketika di rumah. Gak takut kudet lagi, gak takut ketinggalan info lagi. Hehe

Kalo kamu pakai apa nih buat nemenin selancar seru di dunia maya? Share yuk...
Share
Tweet
Pin
Share
29 komentar
7 Manfaat Minyak Zaitun Untuk Kecantikan

Minyak Zaitun merupakan salah satu bagian wajib dalam serial drama kecantikan saya, ceileh. Ya, saya selalu menyediakan Minyak Zaitun dalam pouch make up saya. Meskipun tidak setiap hari dipakai, tapi setidaknya dia selalu ada setiap kali saya membutuhkannya. Pertama kali saya membelinya secara tidak sengaja di sebuah bazar, harganya cukup murah. 10ribuan kalo gak salah.

Sejak saat itu saya selalu menyediakannya di rumah. Jika ada yang punya pengalaman meminumnya, saya belum pernah mencoba karena merasa belum perlu dan cukup dioles di area kulit saja sudah cukup. Manfaat yang saya dapatkan pun tak sedikit, meskipun kadang saya menjadikan Minyak Zaitun sebagai pilihan terakhir ketika malas membuat masker dari bahan alami lainnya seperti kopi, putih telur maupun jeruk nipis. 

Saya sering menggunakan Minyak Zaitun untuk masker di malam hari sebeum tidur. Penggunaannya cukup mudah dan tidak terlalu kotor dibandingkan bahan lain yang sering saya gunakan. Cukup mengoleskannya di wajah dan membiarkannya semalaman lalu dibilas keesokan harinya. Berbeda dengan bahan lain yang harus nunggu kering baru bisa dibilas dan HARUS dibilas. Kan gak lucu kalo tidur sambil pake masker kopi atau putih telur. Bau dan nyeremin euy...

Oh ya, Minyak Zaitun punya banyak sekali manfaat untuk kecantikan lho. Yakali saya cuma pakai doang tapi gak ada manfaatnya. Berikut 7 manfaat yang saya rasakan selama pemakaiannya:

1. Melembabkan kulit wajah
2. Menjaga kesehatan kulit 
3. Menyegarkan kulit wajah
4. Mengurangi Minyak pada wajah
5. Mencerahkan kulit wajah
6. Mengangkat sel kulit mati
7. Menghilangkan kantung mata
7 Manfaat Minyak Zaitun Untuk Kecantikan
Minyak Zaitun yang saya pakai
Nah itu tadi manfaat Minyak Zaitun untuk kulit wajah yang saya rasakan selama ini. Dan untuk penggunaannya sangat mudah sekali. Biasanya langsung saya ambil cairannya lewat lubang botol dengan ujung jari lalu dioleskan ke seluruh wajah. Mudah sekali, bukan?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Instagram, siapa yang tak tahu aplikasi satu ini? People zaman now sudah pasti tahu dan punya aplikasi ini di smartphonenya. Meskipun tak dipungkiri juga banyak people zaman old yang juga tak ketinggalan untuk memiliki setidaknya satu akun di platform bergengsi ini.

Aku mengenal instagram sekitar dua tahun lalu saat pertama kali memiliki smarthphone berbasis android. Karena sedang asik-asiknya punya hp android, aku yang memang tak bisa diam ini pun memanfaatkannya untuk hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang tidak ada gunanya. Ya, meskipun akhirnya kandas dan pupus di tengah jalan.

Semakin hari, inovasi yang diberikan pihak instagram pun semakin banyak dan diterima dengan baik oleh para penggunanya. Salah satunya adalah instastory yang menurutku sangat membuang banyak waktu dan kuota (tentu saja).
Bagaimana tidak?
Saat masih awal-awal menggunakan instagram, aku sering sekali khilaf scroll apapun yang ada di feed hingga jauh ke akun yang mungkin sebenarnya tidak aku butuhkan. Hal ini saja sudah membuang banyak waktu, apa sih yang kita lihat disana?

Kecuali jika kita memang butuh untuk riset atau untuk hal penting lainnya, hal ini hanya membuang waktu saja. Hehe ketimbang hanya scroll mendingan baca buku kali ya, nambah wawasan.

Dan sekarang, instastory yang hanya berisi cuplikan kegiatan baik berupa foto maupun short video seakan telah menjadi hal wajib yang harus dilakukan setiap hari. Tentang kita dimana, sedang apa, dengan siapa, dan sebagainya.

Sejauh ini aku tak pernah memebedakan orang, entah artis atau bukan semuanya sama di sosial media. Semuanya bersifat hiburan. Bedanya adalah jika para artis melakukan live dan mengunggah story mereka di media sosial sebagai bagian dari pekerjaan, dan kita sebagai orang biasa hanya menikmatinya tanpa sadar telah menjadi korban kekhilafan kita sendiri.

Hal lain yang menjadi ironi adalah merebaknya suasana ala ala artis di dunia nyata. Kali ini bukan artis sebagai pelakunya ya. Mungkin hanya follower yang hobi stalking akun idolanya saja. Mulai bermunculan kegiatan-kegiatan yang terinspirasi dari para idola, dari yang baby shower, perayaan mau lepas masa lajang, sampai yang suka sewa studio foto tiap minggu.
 -bersambung



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bagi sebagian wanita, make up adalah hal yang terpisahkan dari setiap helaan nafas. Baik wanita dewasa maupun yang baru menginjak dewasa, bahkan yang sok sok udah dewasa. Baik yang sudah bisa dan pandai bersolek maupun yang masih amatiran (sepertiku). Wajarkah? Tentu saja sangat wajar. Bukankah wanita memang tercipta untuk segala keindahan tersebut?. 

Pikiran asal-asalanku mengatakan tentu sangat wajar, lha kalo wanita gak pake make up kasian yang jualan bedak donk, bangkrut lah mereka!.

Aku adalah salah satu pengagum kecantikan yang tidak bisa mengaplikasikan, eh maksudku belum bisa. Berkali-kali aku menengok video tutorial make up di youtube demi dapat bermake up dan terlihat cantik, tapi nyatanya masih saja nihil. Aku tak bisa berdandan.

Biasanya aku hanya menggunakan pelembab, bedak dan lipstik untuk menyapu wajahku agar tak terlihat kuyu. Begitu saja setiap hari, ke kampus, ke tempat kerja, ke tempat hang out dan ke tempat-tempat lainnya. Sangat simple dan murah. Untungnya kulit wajahku bukan tipe yang rewel sering jerawatan maupun perlu perawatan ekstra, sangat menguntungkan bagiku yang agak malas melakukan perawatan rutin.

Musim Nikahan


Dalam penanggalan jawa, bulan safar diyakini sebagai bulan yang baik untuk menyelenggarakan hajatan maupun kegiatan tertentu. Salah satunya adalah hajat pernikahan yang saat ini bisa dibilang sedang musim di kotaku, Jepara. Dimana-mana selalu ada tenda biru ala nikahan. Apalagi di sosial media, timeline hampir penuh dengan foto-foto pernikahan dengan berbagai caption, status whatsapp dan dp bbm pun tak berbeda, isinya NIKAHAN semua. 

Bukannya baper, aku justru tergoda melihat dan mengamati riasan makeup para pengantin yang silih berganti menghantui timelineku. Semuanya cantik. Yaiya, namanya juga dirias pasti cantik. Kecuali kalo yang merias adalah mantannya calon suami, bisa jadi badut deh tuh pengantin perempuan. Setiap ada yang menikah, salah satu yang menjadi topik khas ibu-ibu adalah ngantene mangklingi ora?.

Ada keyakinan terselubung bahwa wanita yang suka berhias aka. Bermake up tidak akan mangklingi saat menjadi pengantin, pun sebaliknya. Mangklingi disini maksudnya adalah perbedaan yang mencolok dari pra dan pasca riasan. Ada yang wajahnya berubah menjadi cantik dan mempesona bak bidadari, adapula yang terkesan cantik namun biasa saja, tidak ada yang menarik. Aku tak tau apa yang ada dibalik semuanya, tapi yang pasti hal seperti itu ada di dunia ini. 


Tutorial Make Up dari Youtube


Berawal dari ketidaksengajaan saat mengecek perkembangan channel youtube yang berujung pada sebuah video tutorial make up yang aku lupa milik siapa. Aku bersama salah seorang teman kerja yang ekspert di bidang make up sepakat untuk membuat video dengan make konten make up. Setelah negosiasi yang cukup alot akhirnya aku yang menjadi objek eksperimen make up yang pertama kalinya ini. Agak takut sih, tapi penasaran juga gimana mukaku setelah dimake up nanti. Peralatan yang digunakan cukup sederhana dan seadanya. Bermodal kamera handphone dan tripod kami membuat video di jam istirahat kerja. 

Dengan memanfaatkan salah satu sudut di tempat kerja, video pun direkam dengan konsep seadanya. Harap maklum karena masih pemula, semuanya serba sederhana dan apa adanya. tentang hasil, wow... sungguh di luar ekspektasi. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Lihat saja hasilnya.


 Video lengkapnya mari kita tonton di sini


Sejak saat itu aku seperti ketagihan berdandan. Tapi apalah dayaku yang hanya punya bedak, lipstik dan maskara. Harus sabar menunggu hari gajian untuk bisa sedikit bereksperimen, setidaknya aku bisa terlihat lebih cantik saat di kamera, huaahahaa. Dan sekarang hanya cukup menerima apa yang dengan modal dan make up seadanya sambil belajar dari para beauty blogger dan beauty vlogger di luar sana. 

Sekian celotehku yang tak penting tentang make up kali ini. semoga ke depannya lebih oke, tapi jangan pangling ya kalau suatu saat bertemu aku dan keliatan beda, haha. Kamu punya cerita tentang makeup? Share yuk!
Share
Tweet
Pin
Share
17 komentar




Hari ini adalah hari ke 59 aku bekerja di sebuah pabrik, eh perusahaan, eh apa ya enaknya kalo mau nyebut. Emm... okelah, aku akan menyebutnya sebagai tempat produksi mebel dan furniture rumahan milik salah seorang teman. Hal yang cukup baru untukku, mengenal hal-hal berkaitan dengan dunia mebel dan furniture (adalah yang sulit untuk membedakan istilah mebel dan furniture, selanjutnya aku akan menyebut keduanya saja. Biar fair.) yang seharusnya sudah menjadi makananku sejak kecil.
Jepara yang memiliki julukan kota ukir memang memiliki banyak aset perajin furniture dan pemahat yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Banyak sentra perajin yang tersebar di seluruh wilayah Jepara. Tak terhitung jumlah perajin dan pemahat kayu yang ada di seluruh Jepara. Dan semuanya baru kusadari keberadaannya belum lama ini.

Kemana aja mbak?

Huhu, maafkan keculunanku di kampung sendiri. Maklumlah, aku tinggal di desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan pekerja di dunia mebel dan furniture. Ya, hanya pekerja. Berangkat pagi pulang sore dan semuanya berkutat dengan kayu. Dulunya, kupikir tak ada yang istimewa dari  semua pekerjaan tersebut. Sama saja seperti pekerjaan lainnya, memproduksi barang dan memenuhi pesanan.
Pertanyaan baru pun timbul, siapa yang memesan? Kok pesan terus? Kehidupan para tukang meskipun sederhana tapi tak pernah sepi dari pekerjaan. Adaaaaa saja yang dikerjakan. Lepas dari satu brak (sebutan untuk pabrik rumahan) bisa pindah ke brak yang lain. Yang namanya rejeki pasti gak kemana, sesederhana itu.

Baca juga : Piknik Depan Rumah 

Jepara sudah menjadi pusat produksi mebel dan furniture sejak lama. Dan kebutuhan akan perabotan rumah tangga tentu tidak akan bisa dihilangkan. Mau jadi apa kalau rumah tanpa isi? Mirip gudang kali ya, hehe. Meskipun banyak produk perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari non kayu dengan harga yang jauh lebih murah, bagi orang berduit, kualitas terbaik tentu menjadi prioritas utama.
Di hari ke 59 aku menjadi karyawan ini, sedikit banyak aku mulai tahu betapa indahnya kotaku. Jika setahun lalu aku disibukkan dengan menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman pegiat jalan-jalan, sepertinya tahun ini atau hingga seterusnya aku akan lebih banyak berurusan dengan penjualan dan produk perlengkapan rumah tangga berbahan kayu dan sejenisnya.

Mendapat Tawaran Kerja

Hari pertama bekerja, aku masih sangat gugup. Dunia mebel dan furniture adalah hal yang baru bagiku, sangat baru. Bahkan jenis produk dan berbagai rinciannya pun aku sama sekali tak tahu. Semuanya benar-benar dimulai dari nol. Harap maklum sekali karena aku bekerja bukan hasil dari pencarian di grup lowongan kerja yang banyak tersebar di sosial media maupun dari hasil broadcast di aplikasi  chat.
(Mungkin) seperti halnya para pekerja baru lainnya, aku sama sekali tak tahu istilah-istilah yang digunakan. Jenis barang, bahan hingga sebutan untuk proses pengerjaan pun sama sekali aku tak tahu. Haha, lucu sih tapi bagaimana lagi. Semua yang tahu berawal dari ketidahuan kan?, *alibi. Seiring berjalannya waktu, semua bisa teratasi dan banyak sekali ilmu yang kudapatkan meskipun belum seberapa. Alhamdulillah.

Aku mendapatkan tawaran kerja langsung dari salah seorang teman yang merupakan owner sebuah online shop yang bergerak di bidang mebel dan furniture yang sedang mencari admin sekaligus sekretaris di warehousenya. Karena sedang vacum kuliah dan memang sedang mencari tambahan pemasukan, tanpa pikir panjang akupun langsung mengiyakan. Selain itu, sebenarnya aku juga ingin belajar tentang dunia mebel dan furniture yang membuat Jepara terkenal di dunia.
Siapa tau kan ya, suatu saat aku bisa mengikuti jejak Pak Bos menjadi pengusaha mebel furniture dan memiliki banyak karyawan, hehe. Terlalu muluk-muluk, berlebihan dan lebay (halah), tapi tak ada salahnya berdoa yang baik-baik. Mohon aminkan.

Berapa Gajinya?

Dua kata ini adalah salah satu hal yang menurutku sangat tidak etis untuk diungkapkan dan sangat tidak wajib dijawab. Tapi bagi sebagian orang, bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan dari uang. Sejak awal bekerja, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan gaji, sedikit terlihat munafik tapi aku punya alasan untuk tetap mempertahankan statementku ini.
Selain bekerja untuk mendapatkan uang, aku juga punya keinginan untuk bisa belajar sambil bekerja. Mempelajari hal-hal baru yang (sangat) mungkin tidak bisa kudapatkan jika aku bekerja di tempat lain, bahkan jika aku sudah sarjana sekalipun. Bisa belajar ilmu marketing secara langsung dengan pelaku usaha yang sudah berpengalaman sekaligus belajar tentang mebel dan furniture sejak dari masih berbentuk potongan kayu hingga proses pengiriman dan sampai kepada pelanggan. Semuanya paket komplit dibungkus dalam sebuah bingkai pekerjaan berlabel karyawan.


Tidak ada yang patut dibanggakan, bahkan beberapa pihak menolak keputusanku bekerja sebelum lulus kuliah. Tapi dengan tidak mengurangi ras hormat kepada seluruh saudara dan teman, aku katakan pada mereka bahwa aku ingin belajar. Dimana lagi bisa belajar dan dibayar?

Sepertinya curhatku sudah terlalu panjang, terimakasih sudah membaca cerita pengalamanku selama 59 hari bekerja. Yuk share ceritamu juga!
Share
Tweet
Pin
Share
21 komentar


Sudah hampir dua bulan aku tak mendapat ajakan piknik. Meskipun jarang di rumah, dolanku tetap ke tempat yang dekat-dekat saja, kalau tidak dekat dari rumah ya dekat dari tempat kerja. Selain itu juga maksimal hanya dua jam aku menghabiskan waktu bersama mereka dengan perjalanan melalui daerah kota yang meskipun sejuk tapi kurang menyegarkan.

Ya, bagiku piknik adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk melepas kelelahan selama bekerja dengan suasana yang berbeda. Meskipun aku anak desa, tapi pemandangan hijau ala persawahan masih menjadi hal yang mengagumkan bagiku. Maklum saja, rumahku berhadapan langsung dengan jalan raya kampung, jadi mau tidak mau aku harus merasakan kebisingan yang lebih dibanding warga kampung lainnya. Beda tipis dengan suasana kota, anggap saja sebelas dua belas.

Hampir setiap minggu selalu ada yang mengajakku piknik. Yang ke sana lah, ke situ lah. Meskipun sudah pernah dikunjungi, rasanya tak pernah bosan untuk sekedar kembali lagi selama cuaca dan keadaan dompet tak menghalangi hehe. Namun, sekira dua bulan ini ada yang berkurang dari kegiatanku yang sebelumnya. Tak ada ajakan piknik. Sekalinya ada, sudah ada agenda lain yang belakangan diketahui ternyata dicancel. Sekali dayung, dua acara terlewati, hiks.


Tamu Tak Diundang


Dua minggu yang lalu saat sedang bersantai, rumahku didatangi dua tamu tak diundang. Sepupuku dari negeri seberang (halah) sedang ingin mengunjungi simbahnya yang sedang sakit. Setelah berbincang cukup lama akhirnya muncullah ide untuk mengajak mereka menikmati es kelapa muda di depan rumah. Rumahku dikelilingi oleh beberapa pohon kelapa yang memang selalu berbuah.

Setelah mereka (berdua) bersusah payah nyonggek (baca-memetik) kelapa, aku siapkan es dan segala alat lainnya. Selesai digepuk, kami langsung mengeksekusi dengan mengambil isi buah kelapa dengan tutup botol bekas. Tak lupa pula dicampurkan dengan sirop, gula, garam dan beberapa butir nasi agar lebih mantab rasanya. Hasilnya tak jauh beda dengan penjual es kelapa muda di pasaran, hehe.



Kami lanjutkan dengan menikmati minuman seadanya ini bersama tahu pong sambil berbincang ngalor ngidul, dari hal penting hingga tak penting. Ternyata piknik bisa dinikmati dengan semudah ini. Tak perlu jauh-jauh ke tempat rekreasi dengan suguhan pemandangan nun jauh disana, depan rumah pun bisa jadi tempat penghibur lara.

Piknik dadakan kamipun terpaksa diakhiri karena hujan segera turun dan makanan kami pun sudah habis, semoga suatu saat bisa terulang lagi bersama anggota keluarga atau teman lain yang berkunjung ke rumah. Semoga timingnya tepat saat buah kelapanay belum beranjak tua hehe.

Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang piknik di sekitar rumah? share yuk...

Share
Tweet
Pin
Share
30 komentar

Halo hai, lama gak ngeblog rasanya susah mau nulis lagi. Biasa lah namanya juga labil hehe.
oke, lupakan tentang kelabilanku dan mari kita mulai bahasan kali ini. Kali ini aku mau share Tips biar bibir tetap lembut dan kering meskipun banyak aktifitas di luar ruangan. Tau sendiri lah gimana cuaca sekarang yang lagi hot in buanget. 

Yang paling penting dan utama adalah air putih. Ya, kamu harus banyakin minum air putih. Bukan dalam hal ini aja sih, seluruh aspek yang berkaitan dnegan tubuh manusia biasanya akan dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi air putih atau air mineral. So, aku gak masukan air putih dalam jajaran tips kali ini.

menurut pengalamanku, ada lima hal yang bisa kamu lakuin biar bibir tetap lembut dan gak kering. check this out:
1. Madu.

Siapa yang gak tau tentang khasiat madu yang bejibun? salah satunya bisa untuk melembabkan bibir kering loh. caranya, oleskan madu secukupnya pada bibir kamu sebelum tidur. pijat perlahan beberapa saat dan biarkan semalaman. Usahakan untuk rutin ya, biar hasilnya maksimal.
Kalo aku sendiri sih, karena memang banyakan di dalam rumah jadi seringnya aku olesin aja kalo lagi pengen. Gak perlu nunggu pas mau tidur aja, hehe.
2. Minyak Zaitun

Kandungan vitamin dalam minyak zaitun juga dipercaya mampu menutrisi bibir kering loh. Bisa diaplikasikan sendiri ataupun dengan campuran bahan lain seperti madu ataupun gula pasir. Cara pengaplikasiannya musah banget, tuangkan minyak zaitun ke wadah secukupnya lalu oleskan pada bibir, pijat sebentar dan biarkan hingga mengering atau hilang dengan sendirinya. 
Kalo aku sih biasanya dari botol kecil seukuran minyak angin langsung ditetesin ke jari gitu. Jadi gak perlu makan banyak wadah buat naroh minyak zaitunnya.
3. Gula Pasir

Gula pasir atau gula putih juga bisa buat perawatan bibir kering loh. Tapi berbeda dengan madu dan minyak zaitun, gula pasir harus punya tandem. Gak bisa jalan sendiri. Kalo sendiri jadinya dimakan gak dipake perawatan wkwk.
Caranya ambil satu sendok teh gula pasir dan 4 tetes madu atau minyak zaitun. aduk hingga rata dan membentuk scrub. Jangan encer banget ya. Lalu oleskan pada bibir dan pijat ringan bersama butiran-butiran gula. Lakukan sekira  menit lalu bilas dengan air hangat.

Kamu bisa pakai takaran secukupnya, gak harus 4 tetes. Tergantung tetesannya juga kali ya, gede apa ngga haha. Yang penting bisa jadi scrub dan ga mubadzir nantinya.
4. Bubuk Kopi

Tauu gak sih, bubuk kopi selain bisa dibikin kopi juga bisa dipakai sebagai scrub bibir. Caranya gampang banget. Campur bubuk kopi dengan sedikit air, sedikiiiit saja, jangan terlalu encer nanti malah jadi wedang kopi hehe. Setelah itu oleskan pada bibir dan pijat perlahan sekira 5-10 menit lalu bilas dengan air hangat.
Pastikan campurannya pas untuk ukuran scrub ya, kira-kira kayak lulur badan yang biasa kita pakai. Gak encer dan gak kental banget. 

5. Pasta Gigi

Pernah gak bibir kamu gak sengaja kena pasta gigi pas lagi sikat gigi? rasanya gimana? adem kan? seger-seger gimana gitu ya.
Ternyata pasta gigi bisa untuk mengatasi bibir kering loh. Caranya mudah, oleskan pasta  gigi pada bibir dan ratakan. Tunggu sebentar lalu bilas.
Ohya, kalo merasa pasta gigi terlalu panas jika dioleskan di bibir secara langsung bisa juga kamu akalin dengan menggosok area bibir dengan pasta gigi disaat menggosok gigi. Sebenarnya aku gak recommend pakai pasta gigi sih, karena kurang alami dan panas juga kan. tapi bisa lah dipake kalo lagi buru-buru dan gak punya banyak waktu. 

Nah, itu dia 5 tips dari aku biar bibir kamu gak kering lagi. Semuanya berdasar pengalaman aku karena memang tipe bibirku mudah kering *curhat. Selamat mencoba. jangan sungkan bertanya ataupun berkomentar ya. see ya


Share
Tweet
Pin
Share
16 komentar

Hape, salah satu jenis gawai yang paling mudah dibawa kemanapun. Tinggal selipin di saku aja udah oke, lagi main di air? tenang!, ada kok waterproof case buat Hape. So simple dan sangat fleksibel dibawa kemanapun. Dan..... siapa sih yang gak punya? anak kecil aja hapenya udah Iphone, minimal Oppo lah yang standarnya udah lumayan. Mahasiswa semacam aku ini malah tertinggal jauh dari mereka.

Sejak pertama memiliki Hape, mungkin baru beberapa kali ganti dan baru sekali ini seriusin, eh maksudnya benar-benar terpakai sesuai fungsinya. Dulu pas masih muda dan (sedikit) alay, hape yang kupunya hanya terpakai sebatas untuk sms dan bermain facebook saja. Duh, masalaluku :(.
Akhir 2015, aku membeli Hape Samsung Galaxy Vplus yang saat itu sudah cukup bagus menurutku. Kan dulu belum ada hape dengan kamera yang selfie expert dan perfect selfie kaya sekarang, jadi yaaa... lebih prefer ke kegunaannya aja. Pertama kali menggunakannya aku langsung membeli Hard case yang berbentuk seperti dompet atas saran ibu. Safety banget, gak takut jatuh ataupun lecet. Namun kurang nyaman digenggam karena bentuknya jadi terkesan besar dan gak muat di tangan kecilku.

Setelah itu, aku beralih ke pilihan kedua, soft case, tidak mengurangi kenyamanan tapi justru licin saat digenggam. Tuh kan, gak enak lagi. Dan akhirnya aku putuskan untuk mencari info tentang Garskin yang biasa kulihat di instagram. Setelah menemukan beberapa info tentang bahan dan kelebihannya, akhirnya aku putuskan untuk memesannya di salah satu penjual di Jepara.
Sistemnya harus preorder karena menyesuaikan motif yang dipesan dengan tipe hape yang digunakan. Pertama kali aku pakai motif batik, klasik memang, tapi aku suka. Saat dipasang memang agak sulit. Jika tidak yakin bisa, sebaiknya minta tolong kepada penjualnya untuk memasang demi menghindari kegagalan dan kesalahan fatal.


Setelah terpasang, taraaaaaaaaaaa.... Hapeku jadi makin oke deh. Genggamannya pun nyaman, tidak licin. Dan bagi aku yang, syukurnya, jarang sekali menjatuhkan Hape cukup nyaman dan aman. Sekedar cerita aku punya teman yang kalo pegang Hape tuh sering banget jatuh, entah kesenggol, kena apa atau apa, akhirnya dia memutuskan menggunakan case berbentuk dompet untuk menghindari benturan lebih keras.

Intinya, Garskin bukan sekedar untuk melindungi casing, tapi juga untuk menyamankan pengguna saat menggenggam Hape. Cocok digunakan oleh yang suka lucu-lucuan karena bisa custom motif maupun tulisan yang disuka. Kalo kamu suka teledor atau sering menjatuhkan HHape kamu tanpa sengaja, lebih baik berikan perlindungan tambahan seperti hard case atau apapun yang menurut kamu bisa melindungi Hape kamu. Oh ya, Garskin buat netbook atau laptop juga ada lhoh. Bikin makin kece dan semangat ngerjain tugas nih.

So, kalo menurut aku sih Garskin itu cukup penting bagi yang gak suka hard case, karena selain bikin Hape jadi lucu dan unik, juga bisa lebih jadi lebih nyaman saat digenggam.


Sekian dulu ceritaku tentang Pengalamanku menggunakan Garskin.
Kamu punya cerita tentang hape dan garskin juga? share yuk....
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates