• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Setiap orang berhak memilih cita-cita sesuai dengan keinginannya. Meskipun terlihat rabun dan jauh, semua hal terasa sah dan mungkin untuk diharapkan. Mungkin karena kedudukannya sebagai salah satu motivasi hidup yang kadang banyak hambatan, cita-cita harus hadir dengan segala ke-absurd-annya di tengah-tengah manusia. Meskipun demikian, tak sedikit orang yang berhasil meraih cia-cita yang dulunya dianggap sulit terwujud, bahkan tidak mungkin, menjadi ada dan terwujud dengan jelas di depan mata.

Berbicara tentang cita-cita membuat saya teringat dengan cita-cita saya di masa kecil yang banyak sekali. Dari ingin menjadi dokter, guru, polisi dan banyak lagi. Cita-cita yang citarasanya standard bagi setiap anak karena memang profesi-profesi itu saja yang mereka ketahui saat itu.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita yang bejibun itu pun perlahan menghilang dan tergantikan dengan tujuan lain yang lebih jelas dan sesuai dengan keadaan dan skill yang saya miliki.
Saya kemudian bercita-cita menjadi jurnalis, kira-kira pada usia 16 tahun setelah mengikuti kegiatan sekolah bertajuk Training Of Jurnalistic aka. Pelatihan Jurnalistik. Seperti jurnalis muda pada umumnya, semangat sekali saat diberi tugas meliput dan memberikan laporan. Namun saat mulai mendapat tugas -tanpa label pelatihan- seperti ada sesuatu yang mengganjal perut untuk berjalan. Seakan beban sebagai jurnalis terasa berat di pundak. Padahal ilmu saja tidak cukup, prakteklah yang lebih penting. Dan dari tugas-tugas inilah seharusnya saya bisa belajar sejak dini.

Semakin sering memraktekkan, maka semakin lihai dan lancar. Dalam hal menulis berita, sering membaca dan menulis adalah salah satu kunci utama.

Beberapa bulan ini saya berhenti menulis karena suatu hal,  dan apa yang terjadi?, saya kesusahan saat memulai menulis kembali. Sadis memang, tapi ini hukum alam. Semakin banyak berlatih, maka semakin lancar dalam menulis, pun dalam berbagai hal yang lain.

Di salah satu grup Whatsapp, seorang teman bertanya mengenai bagaimana cara menulis yang baik bagi pemula. Jawabnya pun beragam, hampir semuanya telah tertulis dan dapat dicari di mesin pencarian. Namun satu-satunya hal yang paling penting adalah memulai menulis dengan pikiran seadanya, dan biarkan ia berkembang dengan sendirinya. Dan saya akui, hal ini tidak mudah.

Saya pikir hal ini berlaku untuk hal yang lain selain menulis. Berlatih dan memraktekkan secara terus menerus adalah kunci utamanya. Seperti kata mutiara di bagian bawah buku tulis bermerek yang berbunyi “Practice make Perfect”.

Masih dengan cita-cita yang sama, saya kembali membuka lembaran baru yang dulu pernah ada. Ilmu dasar jurnalistik yang pernah saya dapatkan seakan muncul kembali dalam ingatan. Semakin semangat? Iya, namun keadaan kadang tak bisa dikompromikan #curhat. Dan sebisa mungkin saya selalu sigap dan siap untuk menggapainya. Jika pun tidak, setidaknya ada plan B yang harus saya lakukan.

Menulis di blog ini adalah salah satu cara saya berlatih membuat reportase, meskipun dengan objek yang sama dan gaya bahasa yang seadanya, hehe. “Mimpi adalah realita yang masih tertunda”, begitu pikir saya. Maka tidak ada salahnya memiliki cita-cita yang buram, toh banyak yang jual lampu.


Sekian dulu cerita tentang cita-cita dan kenangan masa lalu saya. Duh, kok saya jadi malu gini ya J.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Maret 2014
Awan tebal berjajar di arah barat, namun sinar matahari sore tetap tak beranjak dari tempat singgahnya. Duduk di pinggir jalan sembari menunggu bus dengan diiringi joke-joke kecil membuat suasana mudah mencair.
Tidak seperti biasanya, hari ini, yang biasa mereka sebut dengan Hari kamis berhasil membuat saya lelah. Penyebabnya bukan masalah banyak kerjaan atau tugas kuliah, Tapi motivasi diri saya yang sedang down. Menjadi orang yang moody memang susah susah gampang. Apalagi sebagai mahasiswa yang kadang banyak tugas berhinggapan yang justru menjadikan malas untuk mengerjakan.
Meskipun begitu, banyak pelajaran yang saya dapatkan hari ini.
Berawal dari tulisan maaf, ruangan ini dipakai untuk bla bla bla..... di depan ruangan kelas yang biasa kami pakai untuk kuliah. Tulisan di atas kertas berukuran f4 itu bertutur yang intinya ruangan tersebut akan dipakai untuk acara BEM. Dalam hati, saya berbisik emang ga ada ruangan lain ya?, namun apalah hak saya untuk mempertahankan ruangan tersebut?. Toh yang penting bisa kuliah dengan lancar.
Akhirnya kuliah hari itu dilaksanakan di ruang kuliah lain yang tidak digunakan. Ketika perkuliahan dimulai dan Forum diskusi dihidupkan, suasana cukup mencekam (kayak di kuburan ajah...). selain dosen yang menurut saya cukup killer, pemakalah yang bertugas juga cukup serem. hehehe
Dilanjutkan dengan matakuliah berikutnya bersama dosen muda. Suasana menjadi cair begitu kuliah dimulai, si dosen muda yang notabene-nya humoris mampu memberi nilai lebih di setiap kuliah yang disampaikan. Kuliahpun berjalan cukup kondusif hingga jam berakhir.
Ketika hawa bersua
Matahari yang telah tinggi menjulang di atas kepala memberi isyarat untuk berhenti sejenak dari aktifitas yang melelahkan. Tak ayal lagi, ketika sekumpulan hawa bersua dalam suasana dan waktu yang pas membuat mereka tak bisa menahan diri untuk tak berbicara. Baik sekedar memberikan argumen tentang keadaan sekitar, atau lebih dari yang terpikirkan sebelumnya.
Seperti saat itu pula, banyak hal baru yang saya dapatkan dari teman-teman hawa yang lain. Bukan bermaksud untuk mengadu domba, tapi hanya sekedar sebagai informasi yang dapat diambil sisi positifnya.
Pengalaman baru
Sebagai orang baru di dunia mahasiswa, saya dan beberapa teman berinisiatif untuk mengikuti acara tutup buku sebuah badan penting di perguruan tinggi, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat fakultas. Tujuan saya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengetahui apa saja yang terjadi disana. Dan betul, apa yang saya inginkan pun tercapai. Saya tidak mengikuti acara ini dan hanya mendapatkan gambaran tentang situasi disana. Thats all.
Sebagai anggota yang hanya nimbrung sungguh tidak patut jika meninggalkan forum sebelum selesai. Akhirnya saya dan seorang teman lainnya menunggu hingga waktu acara selesai, yaitu pada pukul 16:55 waktu itu, waktu yang menghawatirkan bagi peminat bus seperti saya.
Dan benar, sekian lama menunggu, tak ada satu bus pun yang lewat. Akhirnya ada satu bus yang lewat dan saya putuskan untuk menaikinya. Meskipun saya tahu bus itu tidak akan menghantarkan saya sampai tujuan, pertimbangan saya saat itu adalah untuk mengurangi jarak jemputan dari rumah sepupu saya.
Perjalanan yang setengah-setengah membuat saya harus bekerja ekstra. Berjalan menyusuri pinggiran kali yang telah surut sambil memutar otak mencari jalan keluar untuk dapat pulang. Daaaaan,,,untungnya saya teringat teman saya yang tinggal di dekat sana.
Tanpa basa-basi, akhirnya saya sms dan telfon dia. Meskipun harus menunggu agak lama sambil berjalan. Beberapa pohon dengan bunga-bunga berwarna merah menyala tumbuh di sepanjang jalan yang saya lewati. Warna merah yang indah membuat saya kagum dan memetik beberapa kuntum bunga untuk saya amati. Ya,, itung-itung buat hiburan di jalan, hehe.
Setelah berjalan beberapa meter sambil mengamati bunga indah yang saya petik tadi, langkah saya terhenti di taman kecil yang sengaja dibuat untuk melepas lelah. Suara adzan samar-samar terdeengar dari kejauhan. Tandanya saya harus segera pulang.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya teman saya datang dan saya bersiap untuk segera pulang. Batin saya, hari yang indah adalah hari ini. Banyak hal yang kecil yang tanpa sengaja justru memberi nilai yang sanagt besar dalam hidup.
Setiap hal memiliki nilainya masing-masing. Tinggal bagaimana kita peduli dan berupaya menjadikannya sebagai sesuatu yang lebih.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Maret 2014

Mengajar itu bukan hanya tentang teks, tapi juga pengalaman hidup. Seperti dosen saya yang satu ini. di setiap pertemuan, materi kuliah yang beliau sampaikan tidak pernah lepas dari pengalaman pribadinya. Entah baik atau buruk, selama masih berhubungan dengan bahasan yang diajarkan, tak segan-segan beliau menguraikan apa yang pernah beliau rasakan.

Sebenarnya beliau tidak dengan sengaja menguraikan hal tersebut, terkadang hanya kerana beberapa kata yang menyangkut tentang suatu hal beliau jadi tertarik untuk membahasnya. Pembahasan yang dilakuakan justru lebih mendalam dan lebih eksklusif dari materi kuliah yang sebenarnya.
Tak jarang pula cerita ayng disampaikan adalah cerita yang entah sudah berapa kali dissampaikan. Sehingga banayk dari teman-teman sekelas yang sampai hafal alur yang akan disampaikan bapak dosen, haha. Lucu juga sih, cukup menghibur saat suasana bosan dan kantuk mulai berdatangan.
Seperti halnya hari ini, kelas yang tak lagi seperti kelas. ketika pak dosen sedang menerangkan tentang �karya ilmiah�, terlihat teman-teman tak berbeda dengan saya, bahkan lebih parah. Ada yang tidur, ngobrol, main laptop, hingga membuka panti pijat (eh..).
Di tengah penjelasan beliau yang semakin membosankan dan mengantukkan, saya tersadar dan tergugah dengan pembahsan beliau yang menarik. Entah dari bahsan apa, tiba-tiba beliau menyampaikan tentang pentingnya bermusyawarah. Baik dalam lingkup formal maupun nonformal, seperti keluarga.
Dalam sebuah keluarga, sangat dibutuhkan adanya keharmonisan. Sifat harmonis ini pun dapat diciptakan dengan berbagai hal, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada seluruh anggota keluarga untuk beraspirasi dalam setiap pengambilan keputusan.
Seperti yang disampaikan oleh dosen saya, dalam keluarga tidak diperbolehkan menganggap apa yang dimilikinya adalah haknya secara penuh. Meskipun cara mendapatkannya adalh dari jerih payahnya, tidak menutup kemungkinan anggota keluarga yang lain dapat turut andil dalam pengambilan keputusan mengenai hal tersebut.
Pengambilan keputusan secara sepihak dapat mnegakibatkan krisis eksistensi di antara anggota keluarga. Akibatnya anggota keluarga sering merasa diabaikan dan dinafikan hak-haknya dalam lingkup tersebut. Tak jarang pula terjadi cek cok yang berkelanjutan akibat hal tersebut karena merasa tidak dianggap atau menganggap keputusan yang telah diambil secara sepihak tidak bermanfaat.
Keluarga adalah lingkup terkecil dalam masyarakat, tentu masalah yang hinggap tak serumit masalah yang ada di luar. Tahap pembelajaran yang paling mengena dan paling efektif pun ada di lingkup keluarga. Indikasinya, jika kita mampu menyelesaikan masalah dalam keluarga, kemungkinan untuk mampu bersaing di masyarakat semakin tinggi.
Kuliah yang membosankan tidak selamanya nihil informasi dan pengetahuan. Kebosanan adalah titik terkecil dari sebuah pengalaman, tentunya penalaran dan logika harus dipakai dengan seksama pula. Sehingga kita tidak terjatuh di jurang kehancuran yang kita buat bersama kebosanan kita.
Maksudnya, kebosanan kita tidak serta merta dijadikan sebagai monster besar yang menjadikan kita tidak antusias dengan keadaan. Beberapa hal menarik yang sepertinya tidak berarti terkadang bisa menjadi magnet besar untuk menjadikan kita lebih tertantang untuk semakin maju. Kecuali jika Anda memang sudah terpuruk terlalu jauh.
Ah, tak ada keterpurukan yang abadi. Tuhan menjadikan manusia dengan problem dan solvernya, itu pasti. Jadi, jika Anda tetap terpuruk dengan keadaan Anda, diskusikan dengan orang terdekat Anda. Semoga lekas mendapatkan pencerahan. Amin.
Demikian coretan saya kali ini, dari kuliah yang membosankan hingga diskusi keluarga dan keberanian untuk terjun di masyarakat.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan dari suatu proses yang telah berakhir. Sampah sendiri memiliki banyak jenis dengan tingkat peleburan yang berbeda. Ada yang dapat segera hancur dan melebur dengan tanah dalam waktu cukup singkat, namun adapula yang harus menunggu berabad-abad untuk dapat menghancurkannya.


Kesadaran masyarakat akan hal ini bisa dibilang minim dan  seakan acuh terhadap pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman sampah. Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya gerakan pungut sampah yang ada di Jepara dan kota lainnya. 
Meskipun tidak menjadi yang pertama, gerakan pungut sampah yang digalakkan di Jepara terbilang sukses menarik perhatian masyarakat yang peduli terhadap sampah yang mengganggu pemandangan dan masa lalu yang kelam #eh.



Gerakan ini sudah berlangsung sekitar satu bulan sejak Jepara menggelar banyak gawe yang tidak dipungkiri dampak sampahnya, banyak banget. Dari kejauhan, karena saya tidak ikut turun ke jalan, terlihat tingginya antusiasme masyarakat untuk mengikuti gerakan ini. Banyak yang ikut ambil bagian dalam gerakan pungut sampah saat itu.
Cekidot lihat gambarnya


sumber: Jepara Inspiration Project

Rute Gerakan Pungut Sampah 9 April 2016

Saya sempat galau karena pusat gerakan ini terletak di alun-alun kota yang jauh dari rumah saya, Bangsri. Sempat terpikir tidak akan bisa mengikuti gerakan mulia ini. Duh, eman-eman hari mingguku yang libur dong, hehe. Hingga pada akhirnya ada aksi GPS yang juga digelar di lapangan Bangsri.  Yeay, dekat dari rumah dong ya. Dan akhirnya, setelah tiga kali gerakan ini diadakan di Bangsri, pada aksi yang ke empat ini, saya bisa turut berkontribusi dalam gerakan pungut sampah yang diadakan di Lapangan Bangsri.

Pagi itu, Minggu 8 Mei 2016, sedikitnya ada 15 orang yang turun membersihkan sampah di sekitar Lapangan yang setiap sore dipakai untuk Turnamen Sepak Bola. Bagaimana kondisi sampahnya? Duuh, parah banget. Setelah mengenakan sarung tangan dan mengambil kantong sampah yang terbuat dari semacam kain karung (sak), kami pun menyebar ke beberapa titik yang terindikasi terdapat sampah. Karena baru pertama, saya belum paham betul titik-titik mana yang banyak sampah. saya pun memokuskan diri pada sampah plastik kecil yang banyak tersebar di bagian tengah lapangan. Seperti sampah sedotan air mineral dan semacam bungkus permen yang banyak bertebaran bagai bintang yang terlihat menyala dari kejauhan #halah. Alhasil saya Cuma dapat sedikit banget sampah, ga ada segenggaman tangan saya yang kecil ini, heu. Tapi ya gak papa, yang kecil juga perlu untuk dibuang juga  kan??? Iya!!!.

Saking asiknya memungut sampah-sampah kecil di tengah lapangan, hingga akhirnya saya sadar bahwa saya satu-satunya orang dengan sarung tangan dan kantong sampah yang ada di tengah lapangan. Tak mau kehilanagan momen, sayapun mengambil beberapa gambar dari tengah lapangan yang luas tersebut.








Oke, jadi sekarang kamu masih mau nyampah ga jelas juga? Hellow.... #SumpahGaNyampahItuAsik loh. Coba rasain deh, asiiik banget. Apalagi kalo kamu gabung bersama para relawan GPS yang tak pernah absen setiap minggu. Yuk Gabung GPS, tinggal pilih aja, mau ke alun-alun Jepara atau ke Lapangan Bangsri. Untuk info dan tanya-tanya, cek langsung ke fanpage Jepara Inspiration Project ya. 

Salam sehat, salam bersih. 
#SumpahGaNyampahItuAsik.

Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar
Sebagai salah satu anggota Club meme di instagram, sedikitnya saya selalu meluangkan waktu 15 menit dalam sehari untuk stalking akun-akun meme besar untuk mencari inspirasi atau sekedar mencari hiburan dan pasang tampang biar follower nambah :D. Ya, memang hidup kami sebagai meme creator diharuskan menjadi sekreatif mungkin dengan tidak melakukan plagiat terhadap akun manapun. Sebisa mungkin seperti itu. Paling tidak cara menaikkan popularitas yang alami adalah dengan mendekati akun-akun besar agar direpost atau sekedar menyukai postingan meme kita. Apa manfaatnya?, kalau kamu pengguna instagram aktif pasti tau lah ya...

Oke, cukup dulu bicarain kebiasaan saya. Sekarang kita ngomongin memenya. Sejak awal bikin meme, banyak sekali meme yang menyinggung tentang ke-jomblo-an.  Dari pembully-an hingga sanjungan dahsyat :D. Yang pasti seakan-akan jomblo adalah suatu hal yang aneh dan patut dibahas, dikasihani dan ditertawakan.

Tak sulit menemukan meme seperti itu, cukup cari #jomblo atau #quotejomblo di mesin pencari saja pasti sudah banyak yang keluar. Baper-pun tak terelakkan, haha. Iya lah, tanya kenapa? Ya karena yang sering cari tagar itu adalah si pelakunya sendiri. Jadi dipasin sama nasibnya, muncullah baper tak berkesudahan. Mungkin ini juga yang menyebabkan tagar# jomblo semakin bergelimpangan, #eh.

Sebenarnya apa yang salah dari jomblo ya kok sampai segitunya?

Dari analisa saya sih, sebenarnya gak ada yang salah, cuma karena populasi anak muda (di instagram) yang doyan pacaran lebih banyak dibanding sama yang pura-pura gak doyan pacaran. Jadi keliatan banget mereka (para jomblo-red) seolah menjadi kaum minoritas yang pantas dijajah, eh, dibully, eh dibahas, eh, apa ya bahasanya yang lebih halus. Pisss
Ada juga nih yang jadi pemicu pembully-an jomblo semakin ramai, yaitu bapernya para jomblo karena meme yang membahas urusan mereka. Suka muncul di kolom komentar yang membahas kejombloan, curcol dikit tapi ngena. Dan kami, para meme creator hanya menjawab tantangan pasar yang semakin butuh meme seperti demikian. Jadi cukup maklum kalau fenomena ini menjadi  tak berkesudahan.

Ini cuma analisa saya loh ya, jangan percaya gitu aja.

Yeah, serba serbi jomblo memang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Meski pada akhirnya tak ada yang mau hidup dalam nestapa tak berkesudahan. Namun tahap jomblo adalah fase yang harus terlewatkan. #eeaak





So far, semua yang saya lakukan bersama teman-teman meme creators hanya bentuk kreasi kami yang terbatas. Mohon maaf jika banyak meme yang tidak berkenan, tidak ada maksud menyinggung atau menindas siapapun (kecuali yang merasa). Hidup itu numpang lewat, sayang kalo ga dikerat  #quotemaksa.

Sekian dulu bahasan tentang quote jomblo, terimakasih.

Happy blogging, salam jomblo.



Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.
mataharimall-kompetisi

Hai, tau kan jumlah hari dalam satu bulan rata-rata adalah 30 hari. Meski terlihat banyak saat dihitung, tapi terasa cepat saat dilewati. Iya, apalagi saat telah memasuki  tanggal tua aka. tanggal berupa dua digit yang diawali angka dua. Apalagi saat kantong mulai terasa menipis, buset kaya jeruk aja pake nipis #lol.

Banyak teman yang berkeluh kesah tentang tanggal keramat ini, banyak yang galau dan hampir putus asa. Lebay banget ya, padahal kan bentar lagi tanggal muda. Tapi untungnya hal ini tidak menimpa saya, mau tanggal berapa aja kalo berangkat kuliah uang sakunya ya segitu segitu aja. Paling nambah Cuma lima ribu pas dagangan ibu laris. hehe

By The Way, sekarang saya mau berbagi cerita saya di bulan lalu, bulan April. Sangat Berkesan. Saya sakit hampir sebulan, tapi sangat bahagia karena berkesempatan mengikuti piknik eksotis ke pantai berpasir hitam di minggu terakhir bulan kemarin. Awesome!!!

Awal bulan April adalah waktu yang saya nantikan, karena sudah ada janji dengan seseorang untuk bertemu saat dia pulang. Sesuai estimasi, awal bulan yang dimaksud adalah antara tanggal satu hingga tanggal 10 atau minimal di minggu pertama setiap bulannya. Sayangnya, saat ada kabar tentang kedatangannya di kota Jepara justru pada saat saya tak bisa berbuat banyak karena sakit panas dan pusing yang tak berkesudahan. Selain itu, karena waktu pulangnya tak sampai 48 jam di Jepara, saya pun  tak punya kesempatan untuk memulihkan keadaan ataupun dia yang berusaha menemui saya di rumah. Sedih sekali mengingat kejadian itu, #hiks.

Sehari kemudian, saya pikir sakit yang saya alami akan berangsur membaik. Ternyata dugaan saya meleset, saya semakin sakit hingga tidak mengikuti kuliah sekira tiga minggu. Padahal, selain kuliah, banyak hal yang asik dan sayang untuk dilewatkan di luar sana. Tau kan, Jepara ramai sekali di bulan April. Banyak sekali acara dihelat pada bulan Kartini tersebut, dan saya hanya bisa memantau dari kejauhan dengan lapang dada J.

Sakit memang tak bisa ditolak, mungkin teguran bagi saya agar lebih banyak bersyukur atas nikmat sehat yang diberikan selama ini. Hingga akhirnya ada info bahwa Folkom (Forum Lintas Komunitas) Jepara akan mengadakan Piknik ketiga dengan destinasi sebuah pantai di desa Balong Kecamatan Keling, pantai Suweru. 
Flyer Piknik Folkom #2


Meski masih belum fit, saya bulatkan tekad untuk mengikuti piknik yang lumayan beda kali ini. Iya, berbeda dari piknik-piknik sebelumnya yang menuju destinasi air terjun. Jika menuju air terjun, banyak tenaga yang harus dikerahkan untuk sampai di lokasi. Seperti jalan setapak yang kadang menanjak dan menurun penuh rintangan. Sedangkan untuk menuju pantai tak terlalu banyak tenaga yang harus dikerahkan untuk menuju lokasi tujuan. Biasanya, lokasi pantai bisa dijagkau dengan sepeda motor hingga ke bibir pantai. Jadi saya putuskan untu mengikuti piknik sebulan sekali tersebut.

Dan ternyata benar, setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, saya dan rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang sampai di lokasi pantai yang dituju. Pemandangan yang didapat disana mampu melepas seluruh lelah yang didapat selama di perjalanan yang penuh rintangan. Bagaimana tidak?, jalur yang kami lalui harus melewati kebun karet dengan jalan licin dan becek. Amazing sekali pokoknya. Dan semuanya terbayar dengan pemandangan pantai yang dipenuhi pasir hitam dengan kilauan besi berkerlip bagai bintang di hatiku #eh. Asik banget pokoknya.

Namun keadaan berbeda terlihat di sekitar pantai. Beberapa gazebo yang disiapkan bagi para pengunjung terlihat dalam keadaan kotor dan tidak terawat. Tidak ada penjual makanan sama sekali, mungkin karena jarang pengunjung yang datang ya. Semoga ke depan, fasilitas yang ada disana bisa lebih diperhatikan termasuk jalan yang harus dilalui untuk menuju kesana.


Sedikit foto dari pantai Suweru



Selain Pantai Suweru, kami juga mendatangi sebuah pantai di dekat pantai Suweru yang disebut Pantai Lemah Abang. Dari namanya, saya tertarik untuk membayangkan bagaimana keindahannya. Keindahan pantai bersanding dengan tanah merah yang memukau pandangan. Dan ternyata, diluar dugaan, keindahannya melebihi yang saya bayangkan sebelumnya. Sungguh sungguh indah kalau boleh saya bilang. Pengen kesana lagi, hehe.
Yuk Cek Gambarnya



Ini saat kita di Pantai Lemah Abang
Lihat pasirnya deh, hitam legam gitu. Bagus bangeett :)



Terimakasih kepada Tuhan atas segala nikmat dan anugerah yang telah Engkau berikan. Dan terimaksaih untuk piknik eksotis bulan kemarin, terutama untuk teman-teman Pokerman, Ngluyur Mania, TDA Jepara, Sosmed Jepara, Kaskus Jepara dan semuanya. Bulan ini kita kemana ya?

Durasi ceritanya sebulan, tapi singkat banget ya hehe. Gapapa kali.

Sebenarnya ide dari post kali ini adalah video cerita Budi di akhir bulan yang ketjeh banget. Asli. Coba liat deh


Asik banget ya jadi Budi, pas tanggal tua pas ketemu surprise dari Matahari Mall yang bikin dia tetap eksis di tanggal tua. Kamu juga mau tetap eksis kaya Budi, yuk cek diskon kecenya di website mataharimall.com. Ada banyak pilihan diskon yang bisa kamu sesuaikan dengan kebutuhanmu

 
Beragam pilihan diskon dari Matahari Mall

Salah Satu Penawaran terbaik dari Matahari Mall

Voucher menarik dari Matahari Mall

Yang paling wow nih, ada diskon harian juga loh..


Ciee... mupeng ya, ayo buruan kunjungi mataharimall.com dan dapatkan diskon menarik setiap hari.
Udah dulu deh ya. Cukup dulu ceritanya, saya mau ke Matahari Mall dulu. 


Ini ceritaku mana ceritamu?

Happy blogging :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku mung koyo terminal Giwangan
Mung tok nggo sambat
Tok nggo istirahat
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Polusi udara tak lagi bisa dihindari, sejauh ini yang bisa dilakukan adalah mencegah dampak polusi yang semakin meningkat. Atau paling tidak mencegah diri kita agar tidak tercemar oleh limbah udara yang mematikan tersebut. salah satunya dengan memberi perlindungan pada organ tubuh terluar yang terpapar oleh polusi secara langsung, dalam hal ini adalah hidung dan mulut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengenakan masker atau bandana untuk menekan masuknya polusi udara ke dalam tubuh secara langsung.

Terlebih lagi pada musim kemarau yang sering diiringi angin kencang bersama debu yang tak terelakkan. Penutup hidung dan mulut sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang banyak beraktifitas di luar ruangan, terlebih lagi pengendara sepeda motor yang selalu berinteraksi dengan gas emisi berbahaya hasil kerja kendaraan yang mereka tumpangi sendiri.

Buff atau bandana yang sering dipakai para pengendara motor adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan dan tidak boleh ketinggalan. Selain karena fungsinya sebagai penghalau polusi, buff juga diklaim lebih ramah lingkungan dibanding masker sekali pakai yang biasa dibuang setelah tak layak pakai.

Harganya pun cukup terjangkau untuk ukuran barang yang bisa dipakai long last time, sekitar 30-60ribu di online shop yang banyak saya temui. Motifnya pun beragam dan ada yang bisa custom juga. Tinggal pilih aja kan.
beragam pilihan motif buff

Lain halnya dengan masker sekali pakai atau masker yang biasanya dipakai oleh dokter di rumah sakit. Harganya murah, sekitar seribu-1.500 tergantung dari ukurannya. Ada dua jenis masker jenis ini, yaitu yang menggunakan tali dan karet. Saya pribadi lebih suka yang tali karena lebih mudah dipakai saat mengenakan jilbab, jadi tinggal ikat saja di belakang kepala. Done.


Ada pula jenis masker yang berbahan kain, hampir sama dengan buff namun berbentuk masker. Kebanyakan menggunakan tali sebagai aplikator dan didesain dengan aneka bentuk yang menarik sehingga lebih bagus dan terkesan lucu saat dikenakan.


Untuk masker jenis yang terakhir dan buff atau bandana, sebenarnya sangat recommended untuk dipakai karena berbahan kain dan bisa dipakai berkali-kali sehingga ramah lingkungan. Namun bagi saya pribadi lebih nyaman mengenakan masker sekali pakai, meskipun kadang saya pakai berkali-kali :D. Satu-satunya alasan yang utama adalah karena saya tidak tahan pada aroma detergen atau sabun cuci yang sering melekat di kain tersebut. sedikit lebay, tapi inilah adanya hehe. Pernah suatu waktu saya mengakali dengan menyemprotkan minyak wangi ke benda tersebut, yang terjadi justru saya semakin tak berdaya menahan aroma harumnya. 

Well, orang dengan penyakit migrain lebih sensitif terhadap bau dibandingkan orang lain pada umumnya. Jadi, harap maklum. Bisa jadi kamu lebih nyaman dengan masker berbahan kain tersebut.


Nah, bagi kamu yang bingung mau pakai buff, masker berbahan kain atau masker sekali pakai, mungkin ulasan diatas bisa dijadikan bahan pertimbangan. Terimakasih sudah membaca.

Happy blogging
Share
Tweet
Pin
Share
18 komentar

Hay April, bentar lagi Mei nih. Udah siap dengan May Day belum? atau masih belum bisa move on dari April? hehe. eem... April, bulannya sih biasa aja. Tapi di Jepara, April jadi bulan-bulanan acara besar yang dihelat hampir sebulan penuh. Ga percaya?? Coba kita lihat agendanya, cuuussss....
Agenda Kegiatan Festival Kartini IV tahun 2016, seru yah (kayaknya) 


Selain bertepatan dengan hari jadi kota Jepara dan hari kartini, April juga menjadi bulan dies natalis satu-satunya perguruan tinggi di Jepara. Sejauh ini sih masih satu-satunya. Dari rentetan acara diatas, tak ada satupun yang saya ikuti. Don’t ask me why I didn’t join those agendas, I was sick for three weeks guys L. So, saya ga akan banyak bicara soal kegiatan yang dihelat oleh pemkab Jepara tersebut. Tapi kali ini saya mau mengajak para pembaca yang budiman (ceileehh ) untuk membahas seputar expo Unisnu yang ketiga kemaren. Ya, acara ini merupakan rangkaian dari peringatan dies natalis Unisnu yang ketiga tahun ini.
Pintu masuk UNISNU Expo, di halaman gedung Fakultas Sins dan Teknologi

Seperti expo pada umumnya, setiap kelompok mendapatkan satu stand untuk memamerkan produk masing-masing, dalam hal ini karya mahasiswa sesuai dengan prodi dan jurusan. Ada sekitar 17 stand yang disediakan panitia, namun beberapa terlihat kosong dan dijadikan tempat duduk pengunjung saja. Dari informasi peserta sih, katanya pemberitahuan kepada peserta cukup mepet sehingga persiapannya kurang maksimal. That’s why, banyak stand yang terihat apa adanya. But, so far, acara berjalan lancar dan ramai pengunjung.

Salah satu stand yang bikin saya nyess adalah stand anak-anak DKV aka. Desain komunikasi Visual dari Fakultas Sains dan Teknologi. Mungkin karena spotnya yang tepat di bawah pohon ya, jadi adem-adem gimana gitu. Saat masuk ke dalam stand, kita disuguhi degan karya anak-anak DKV yang saya bisa sebut “keren abis”. Mungkin sepuluh kali puteran stand pun ga akan ada bosennya, kalo pusing sih iya, hehe. Sayangnya saya ga sempet foto semuanya, saking terpesona sama mereka. Ini beberapa hasil jepretan saya, lebih banyak cek di instagramnya ya.

 View Stand DKV dari luar, mbaknya cantik yah :D
Trus Karya Tataning Bumi, masih di stand DKV

FYI, ini gergaji usang. Ga kebayang bentuk aslinya deh, buluk banget.
Tapi ini cakep. 

Gak tau apa maksudnya, tapi saya suka.

Nah, ini nih. ilustrasi masa depan yang (mungkin) akan sangat susah mendapatkan air bersih.
makanya, jangan boros ya gaiss...



Stand lain yang cukup fenomenal adalah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Mereka mengangkat tema ghost atau hantu. Jadi, di standnya itu ada beberapa dari mereka yang berdandan ala hantu gitu dan mereka bikin kayak studio kecil buat pengunjung yang mau foto sama mereka. Ih serem ya, tapi kreatif sih. Jadi bisa ketahuan kalo ada hantu lewat, berarti itu anak PBI.


The Ghost dari teman-teman PBI FTIK 

Eits, stand yang bikin baper juga ada loh, kok bisa ya? Ya bisa aja sih, stand dari Jurusan Al Akhwal Al Syakhsiyah aka. Hukum perdata Islam menawarkan jasa ramalan jodoh ala Islami. Banyak yang datang ke stand untuk sekedar meramal jodohnya, atau bahkan untuk menentukan gebetan yang akan ditikungnya, heu. Dari setengah jam saya di sekitar stand saja banyak pengunjung yang tertarik untuk meramalkan nasib percintaannya. Bahkan yang gokil lagi, ada yang meramalkan dirinya dengan beberapa nama teman dekatnya, “biar tinggal pilih”, katanya.
Stand ramalan jodoh ala Islami, liat tuh daftar hadirnya sampe penuh gitu :D

Di stand ini juga kita bisa menemukan aneka alat penghitung arah kiblat, waktu shalat dan tanggal lahir. Alat-alat yang disediakan sudah lengkap dengan rumus dan cara pemakaiannya, jadi cukup mudah digunakan bahkan untuk pemula. Dan adapula koleksi majalah dari teman-teman LPM Burs@ sejak tahun 2010 hingga saat ini. 
Alat pengukur arah kiblat dan tanggal lahir disediakan di stand Jurusan AS FSH

Di bagian lain juga dapat kita temukan stand yang tak kalah seru, ada yang dari jurusan teknik sipil, teknik informatika dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-satu (gak hafal soalnya hehe). Di bagian tengah juga terdapat panggung hiburan yang asik banget, diisi oleh teman-teman dari BandTa, USB dan beberapa pengunjung yang hadir juga ikut meramaikan panggung hiburan. Ini penampakan beberapa stand lain:




Panggung hiburan

Kalo gak salah, ini biasanya punya anak sipil. CMIIW



Expo yang diadakan setiap tahun ini, setau saya, bertujuan untuk mengenalkan masing-masing jurusan kepada masyarakat terutama para calon mahasiswa yang akan melanjutkan studi di Perguruan tinggi agar lebih mengenal berbagai jurusan yang  ada di Unisnu. Namun sejauh yang saya lihat, pengunjung yang hadir justru didominasi oleh mahasiswa Unisnu sendiri dan hanya sebagian kecil yang datang dari luar. Sayang banget ya. Get ready for the next Unisnu Expo, semoga tahun depan lebih seru dan lebih bagus lagi. 

Oh ya, kabarnya mau ada Manajemen Expo di bulan Juni, siap-siap ya gengs....



Sumber Gambar dari kamera sendiri dan koleksi LPM BURS@.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates