• Home
  • About
  • Gaya Hidup
    • Minimalism
    • Quarter Life Crisist
    • Relationship
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

haiulya


Sejak mulai peduli dengan kesehatan, Air Putih adalah saran utama yang diberikan dokter kepada pasiennya, termasuk aku. Karena sering merasa tidak cocok dengan minuman manis kecuali teh dan sirop akhirnya aku lebih menyukai air putih daripada harus membeli teh ataupun sirop, kecuali saat di tempat makan. Konsekuensinya, harus rajin nggodog banyu atau isi ulang galon. sejak di rumah (aku ngekos), aku terbiasa minum air putih banyak meskipun aku tau pada akhirnya akan sering buang air kecil. Tapi sedikit Air Putih saja tak pernah cukup untuk membahasahi kerongkonganku, minimal satu gelas.

Kebiasaan ini terbawa hingga aku di kos dan sempat sakit karena kurangnya pasokan air putih. Ada galon besar tapi pihak kos tak memberikan subsidi pada kami yang bisa dibilang tidak akan kuat membawa air sebanyak sembilan belas liter di galon tersebut. Kami pernah memilih mengisi ulang air galon dengan merk ternama tapi rasanya cukup berat di kantong mengingat air isi ulang yang lain sudah cukup untuk membantu kami tak kekeringan.

Dan akhirnya kusempatkan membeli galon yang lebih kecil dengan ukuran sepuluh liter, masih berat sih, tapi lumayan lah untuk mengurangi beban hidup hehe. Selain itu juga ada kran di bagian bawah yang mudah digunakan untuk menuang air, jadi tak perlu angkat berat dulu kalo mau minum.


Sejak saat itu, aku jadi semakin rajin mengkonsumsi Air Putih. Bahkan sempat membuat program minum Air Putih dua liter sehari, meskipun sering gagal tapi setidaknya sudah ada perbaikan hehe. Waktu itu aku sedang menjalankan aksi sehat keiling kos tiap pagi dan sore jadi sok sehat gitu. padahal cuma bentar, haha.

Daaan, sekarang kebiasaan itu mulai luntur. Apalagi setelah mulai bekerja, jarang minum karena malas ke kamar mandi. Tapi di rumah selalu tersedia air minum galon yang selalu diisi ulang setiap kali habis. Hanya perlu sms dan setengah jam kemudian galon berisi air sudah tersedia di rumah.
Meskipun begitu, saat dirumah aku tetap berusaha minum sebanyak mungkin Air Putih. Botol tupperware ukuran dua liter selalu tersedia di rumah dan aku yang lebih banyak menghabiskannya meskipun jarang mengisinya, haha curang ya. Ada yang punya cerita tentang Air Putih sepertiku? share yuk....



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Saya bukan penggemar Drama Korea, Kpop atau apalah yang sejenisnya. Bagi saya semua yang berhubungan dengan hal tersebut seakan tidak menarik dan terkesan berlebihan (baca : alay). Namun sepertinya anggapan itu perlahan luntur. Saya sudah menamatkan dua judul Drama Korea dalam waktu satu minggu. Hwaa.. efeknya parah banget, bikin nagih. Pengen lagi pengen lagi hehe.


Awalnya sih cuma iseng aja minta copy-an film apa aja dari seorang teman yang pengkoleksi film. Tanpa milih-milih lagi kaya mau beli ikan di pasar, asal dicopy aja. Dan karena suasananya cukup bagus untuk menyendiri, maka saya pun capcus mainin filmnya.

Tak disangka tak dinyana, saya pun tehanyut oleh ceritanya. Apalagi melihat para aktor yang ketjeh badai ya kan? :) siapa coba yang gak betah?. Selain para pemain, alur cerita yang bagus juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Mungkin karena saya bukan penikmat film ya, jadi masih awam tentang hal seperti ini.


Korean Drama dengan segala sisi dramatis yang ampuh menghipnotis penonton baik yang baru maupun penggemar lamanya memang tak tanggung-tanggung. Semuanya terlihat begitu sempurna, dikemas dengan apik dan profesional. Banyak adegan penting yang terlihat begitu nyata meskipun sangat sulit membayangkannya. Tidak jauh beda dengan hollywood.

Meskipun begitu, banyak pula alasan untuk tidak menontonnya. Ya, karena tidak semua orang suka menonton apalagi dengan jumlah episode yang berekor panjang. Harus nunggu weekend dulu dan menyiapkan waktu yang panjang untuk menghabiskan seluruh episodenya. Bisa sih dicicil –kaya kredit motor aja-, tapi dijamin rasanya pasti beda sama yang marathon.

Ups, sepertinya saya sudah terhipnotis dengan Drama Korea. Tapi percaya deh, bagus kok, saya aja sampe suka, atau mungkin jatuh cinta, eeaaa. Seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya, pasti sulit untuk menentukan apa yang membuatnya jatuh cinta, yakan?. Dan itu terjadi pada saya :( .
Tapi  kalo dari pengamatan awam saya, ada beberapa hal yang menurut saya menarik dan membuat saya betah untuk mengamati k-drama ini, this is it:

·         Yang pertama adalah fashion style yang dikenakan para pemain di K-Drama menurut saya sangat elegan. Cocok dijadikan inspirasi model berpakaian sehari-hari dengan sedikit sentuhan di beberapa bagian tentunya ya. Sesuaiin aja lah sama kebutuhan.
Saya suka style-nya :)


·         Kalo yang kedua saya yakin semuanya pasti sependapat sama saya hehe. Yap, pemainnya ganteng-ganteng dan cantik-cantik kan?, ada yang bilang gak?. Salah satu opsi untuk menyegarkan pikiran yang sedang galau.
Ada yang mau bilang jelek? haha

  Alur cerita yang bagus menjadi poin selanjutnya yang menurut saya cukup menarik. Endingnya susah dibaca, bahkan saya sampai skip ke episode terakhir dulu saking penasarannya. Tapi jangan ditiru ya, bikin semangat nonton jadi turun.

·         Nah, kalo yang terakhir ini yang kadang bikin ngakak. Bahasa korea yang unik (menurut saya) jadi bikin praktekin di dunia nyata. Meskipun taunya Cuma sepotong, yaudah praktekin aja. Tiap ketemu temen disapa dengan bahasa yang sebisanya dan seadanya. Tapi sisi baiknya sih jadi bikin pengen belajar bahasa korea lebih dalam lagi. Sekarang yang familiar cuma anyeonghaseo sama hamsahamida aja.


Sepertinya sih masih banyak lagi yang bikin nonton K-Drama ini makin asik. Mungkin ada yang mau nambahin? Kalo ada yang punya koleksi lama atau baru bolehlah dikasih ke saya hihi. yuk lanjut nonton... jangan lupa siapin cemilan yang banyak ya hehe.


Happy blogging :) 

Sumber gambar : google.com/loverain
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Assalamualaikum

Kembali bertemu di blog saya yang masih cupu ini. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya tentang aktivasi mobile banking di salah satu bank di Indonesia. Ternyata jauh dari pikiran buruk saya tentang kerumitannya, its so easy, Dear.

Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin mengaktifkan aplikasi mobile banking karena jumlah transaksi yang kadang cukup banyak dan membuat malas mengantre berlama-lama di atm. Apalagi bank yang saya titipin uang ini tidak memiliki jumlah atm sebnayak bank lain yang selalu ada di manapun berada. Jadi sepertinya akan lebih mudah jika transaksi dilakukan melalui satu aplikasi saja.

Setelah mencari tau tentang kelebihan, kekurangan dan cara aktivasi akun mandiri mobile di internet, akhirnya saya pun berangkat ke Kantor Mandiri KCP Jepara. Sengaja memilih waktu agak siang karena menurut prediksi saya, pada hari tersebut akan terdapat antrean cukup panjang di CS Bank tersebut.

Entah prediksi saya benar atau tidak, yang pasti pada saat saya sampai di sana dan disambut oleh satpam saya lihat semua kursi di depan CS terisi penuh. “Semoga tidak antre lama”, doa saya saat itu.
Setelah mendapatkan formulir permintaan dari petugas satpam dan dipersilakan mengisi, saya pun mengisi beberapa kolom yang tersedia. Sebenarnya saya agak malas, karena harus mengisi kolom-kolom yang tersedia sesuai dengan kartu identitas. Males ngeluarin ktp aja sih sebenernya hehe.

Formulir permintaan yang perlu saya isi sembari menunggu antrean

Setelah mengisi beberapa kolom yang bisa diisi tanpa melihat ktp, salah satu kursi terlihat kosong dan CS mempersilakan saya untuk menuju ke meja tersebut.

Setelah disambut dengan senyum dan salam serta menanyakan keperluan, akhirnya keluarlah ktp saya dari tas (tentu saja beserta buku tabungan dan kartu atm). Dan kolom yang masih kosong akhirnya dilanjutkan oleh CS tersebut hehe. Lalu saya diminta untuk menyebutkan nomor handphone yang akan didaftarkan untuk sms banking.

Loh, kok sms banking?

Iya, karena mandiri mobile nantinya berhubungan dengan nomor yang digunakan untuk sms banking dan secara otomatis akan mengaktikan sms banking. CMIIW.

Setelah menunggu aktivasi sekitar beberapa menit, gak sampe lima menit sih, saya diminta untuk memasukkan pin sms banking ke mesin atm. Setelah berhasil, selanjutnya saya diminta membuka aplikasi mandiri mobile yang sudah saya download sebelumnya.

Download dulu aplikasinya ya... (:
Saat membuka aplikasi, ternyata jaringan internet di dalam gedung bank tidak stabil. Jaringan yang awalnya 3G mendadak menjadi E. Karena saking lamanya loading aplikasi, akhirnya CS menawarkan untuk keluar demi mencari jaringan yang bagus. Meski masih belum stabil, akhirnya setelah sekitar lima menit aplikasi tersebut bisa terbuka dan saya diminta kembali untuk memasukkan username dengan kombinasi huruf dan angka sebanyak 8 digit. Dan DONE! Aplikasi mandiri mobile sudah bisa digunakan.



Sedikit Tentang Mandiri Mobile

Tentang layanan ini sebenarnya telah dijelaskan di website bank mandiri dengan cukup detail. Saya hanya akan menambahkan beberapa poin saja.

Mandiri mobile dapat digunakan di handphone blackberry, android maupun ios. Namun perhatikan dulu versi layanan handphone-nya ya, karena aplikasi ini masih belum bisa berdamai dengan android versi terbaru. Ini bocoran dari CS yang melayani saya, kabarnya ada nasabah yang tidak bisa melakukan aktivasi karena versi android di handphone-nya adalah versi yang cukup baru.

Jika handphone yang digunakan transaksi adalah handphone dual sim, maka nomor yang didaftarkan sms banking harus dipasang di slot sim 1. Dan menurut CS-nya, hanya bisa digunakan dari jaringan yang terdapat di sim yang didaftarkan tersebut atau jaringan wifi.

Untuk hal ini, saya sempat mencoba untuk membuktikan kebenarannya hehe. Taraaaa.. hasilnya, transaksi tetap bisa dilakukan meskipun jaringan internet yang saya aktifkan bersal dari sim 2. Entah karena saya beruntung atau memang demikian, Idk :)
 .
Taraaaaa.. transaksi berhasil dengan jaringan sim 2
Apa saja yang perlu disiapkan?

Untuk mengaktifkan layanan mandiri mobile ini setidaknya ada beberapa hal yang perlu disiapkan:
  • Kartu identitas, buku tabungan dan kartu ATM
  • Handphone yang support aplikasi mandiri mobile.
  • Sim card yang bisa digunakan transaksi sms banking mandiri. Menurut CS yang menangani saya, semua kartu bisa digunakan kecuali *hree.
  • Kuota data yang cukup untuk melakukan download aplikasi dan transaksi. Untuk handphone dual sim, meskipun menurut pengalaman saya tentang transaksi yang tetap bisa dilakukan dengan jaringan sim2, aplikasi harus didownload dengan menggunakan sim1.
  • Username yang terdiri dari 8 digit kombinasi huruf dan angka serta pin sms banking yang benar-benar aman.

Kurang lebih begitulah ulasan dan cerita saya tentang pengalaman melakukan aktivasi mandiri mobile. Dengan aplikasi ini, saya bisa melakukan banyak hal mulai dari cek saldo, cek mutasi, transfer uang sampai melakukan pembayaran-pembayaran bulanan.



Semoga bermanfaat
Ini ceritaku mana ceritamu?


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Hari ini genap satu bulan saya menempati kamar kos yang cukup jauh dari rumah. Sebenarnya keputusan ini sudah sangat telat bagi saya yang notabene-nya telah menginjak semester akhir. But, bukan itu poinnya. Ada hal lain yang saya pertimbangkan dari keputusan besar setelah bertahun-tahu terpendam. Ya, terpendam karena sejak semester awal sudah memohon dan meminta kepada ibu saya untuk mengijinkan anaknya hidup mandiri dan tak lagi tinggal di rumah.

Sebenarnya cerita hari pertama di kos sudah ditulis disini, tapi entah kenapa saya masih ingin menuliskannya kembali.

Beberapa teman menanyakan tentang alasan saya memilih tidak lagi berangkat kuliah dari rumah, padahal tiga tahun berlalu dan semua terlihat baik-baik saja. Dan akhirnya saya pun banyak berspekulasi yang membuat mereka semakin heboh saja. Daripada saya jawab serius, saya jawab saja “karena takut dilamar”, hehe.

Sebulan terakhir saya sudah pulang tiga kali, “hah, apa-apaan?”. Ya kan namanya juga anak baru, kangen orang tua, pasti. Tapi selain itu, saya juga perlu riwa-riwi mengambil barang-barang kebutuhan yang saya perlukan. Mau gak mau harus pulang dong. Paling lama hanya satu hari dua malam di rumah. Sudah fair dong ya.

Sampai detik ini, saya sudah merasa nyaman tinggal di kos dengan suasana yang masih sepi karena belum masuk masa perkuliahan. saya lebih menyukai suasana yang sepi, hening dan tidak bising, tanpa gangguan lebih tepatnya. Seperti saat saya menulis post ini. Saat dimana tetangga kamar saya sedang beraktifitas di luar dan hanya saya di dalam kamar yang bersebelahan dengan penghuni kamar yang memiliki daya verbal luar biasa. Saya gak bilang cerewet lo ya, peace.

Kembali lagi ke soal keputusan menjadi anak kos. Sebagai mahasiswa hukum, sejujurnya saya tidak begitu tertarik untuk memiliki karir di dunia perhukuman. Bukan bermaksud menyia-nyiakan ilmu yang telah didapatkan ya, tapi setau saya ilmu bisa dimanfaatkan dalam berbagai bentuk. Tidak harus di bidang yang telah ditentukan. Dan saya lebih tertarik untuk menjadi entrepreneur atau wirausaha atau apalah bahasanya.

Di zaman yang serba digital, tentunya bisnis tak ketinggalan dengan kedigital-an dunia. Saya pun memaksa merangsek untuk masuk ke dunia bisnis beserta digitalisasinya. Dukungan orang tua menjadi salah satu penyemangat saya, meskipun kadang mereka sangsi. Tapi dengan berbagai upaya, akhirnya mereka yakin kembali.

Dan sekarang, saya memutuskan untuk kembali memulai, oh bukan, meneruskan apa yang pernah saya bangun dan sempat jatuh. Saya kembali mantap untuk memulai usaha meskipun harus tidak tinggal di rumah.

Loh, kan bisa buka usaha di rumah saja?
Iya sih, tapi gimana ya. Kalo saya kasih jawaban nanti dikira alasan. Kalo gak dijawab jadi salah juga.
Jadi gini, sebagai seorang introvert, saya lebih senang mengatur kehidupan saya sendiri. Tidak suka diatur-atur, tidak suka diganggu. Padahal sebagai tanpa diatur orang lain pun saya cukup kualahan mengatur jadwal sendiri hehe. Dengan lokasi yang dekat dengan kampus, harapan saya sih, kegiatan saya yang tadinya harus di skip dengan agenda naik turun bis saat pulang dan berangkat ngampus bisa diconvert ke kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Jika perjalanan yang biasa saya tempuh adalah empat puluh lima menit pulang pergi, tentunya sudah bisa digunakan untuk banyak hal lain, bukan?

Emang usahanya apa sih? Sampe segitunya?
Emm,,, nanti dulu deh. Belum pengen ngasih tau, nanti dikira ngiklan lagi :D.

Trus, mau sampe kapan ngekosnya?
Belum tau. Yang pasti selama saya merasa nyaman dan tenang, saya akan tetap disini. Mungkin sampai ada yang melamar saya, cieee. Bukan berarti saya tega sama ibuk karena membiarkan beliau di rumah hanya dengan adik laki-laki saya loh ya. Semua atas persetujuan beliau yang bahkan telah menyarankan saya untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan tempat kos (meskipun saya masih mikir soal keinginan bekerja). Gak peduli mau mahasiswa atau sudah sarjana, saya masih anak kos.


Saya masih dalam tahap belajar untuk menjadi mandiri dan tidak membebani orang lain. Apapun yang saya lakukan adalah apa yang saya inginkan dengan tidak menjadi benalu dalam kehidupan orang lain. Jika terlihat baik dan positif, maka akan saya lakukan. Jika terlihat tak mungkin, biarkan waktu yang menjawabnya.

Jika ada potensi dalam dirimu dan ingin kau pecahkan, pecahkan!
Jika kau tak mampu, berusahalah dan biarkan waktu yang membantumu memecahkannnya.
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar

Assalamualaikum...

Bagi sebagian orang yang memberlakukan gaya hidup sehat, infused water atau air infus bukanlah hal yang baru lagi. Air yang dibubuhi irisan buah dan bahan herbal ini diklaim memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Selain itu, kemudahan dalam membuat dan meraciknya pun turut memberi daya tarik tersendiri.

Metode infused water bukan datang dari Indonesia, trend ini mulai banyak didengungkan setelah seorang blogger luar negeri mengunggah tentang infused water berdasarkan pengalaman pribadinya. Dengan segudang manfaat yang ditawarkan, tentu saja banyak peminat yang mengikuti gaya hidup sehat yang mudah ini. Berikut beberapa manfaat infused water bagi kesehatan:

Memberi Sensasi Rasa Yang Unik Pada Air Mineral
Infused water, yang merupakan campuran air putih (mineral) dengan irisan buah tentu akan memiliki rasa yang khas dibandingkan dengan air mineral yang murni. Hal ini menjadi keuntungan bagi yang tidak suka dengan rasa air putih yang cenderung hambar dan tidak berasa. Sensasi rasa buah yang muncul dalam infused water dapat menjadi pilihan lain bagi yang tidak suka air putih dibandingkan harus meminum kopi, teh maupun minuman berperasa yang lain.


Membantu Proses Detoksifikasi
Beberapa jenis buah seperti lemon dan jeruk nipis diyakini mampu membantu proses pengeluaran racun dalam tubuh yang disebut dengan detoks. Campuran air dan buah dalam infused water dapat membantu mengopitimalkan proses detoksifikasi dibandingkan dengan hanya mengkonsumsi buah dan sayur secara langsung. Adapun pengeluaran racun dapat melalui urin, veses maupun keringat.

Melancarkan Pencernaan
Buah dan sayur memang menjadi andalan ketika terjadi masalah dalam pencernaan. Infused water dapat menjadi opsi yang tepat untuk Anda yang tidak punya banyak waktu untuk mengkonsumsi sayur dan buah. Meskipun begitu, masih sangat disarankan untuk tetap mengkonsumsi sayur dan buah secara langsung untuk hasil yang lebih maksimal.

Menyegarkan Dan Menjaga Daya Tahan Tubuh
Kandungan infused water yang merupakan kombinasi antara rasa buah dan bahan herbal mampu memberikan kesegaran yang ekstra dibanding meminum air putih biasa. Selain itu, kandungan antosianin dari pigmen buah pun mampu menjaga daya tahan tubuh.

Menurunkan Berat Badan Dan Antiaging
Selain beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh diatas, infused water juga mampu menjadi pilihan untuk menjalankan diet dan mencegah penuaan dini. Manfaat ini bisa didapatkan dengan memilih buah jenis tertentu untuk mendapatkan hasil maksimal. Namun demikian, mengkonsumsi buah dengan infused water dengan tujuan diet dan antiaging tentu harus dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat melalui olahraga dan mengatur pola makan yang seimbang.

Cara Meracik Infused Water
Untuk membuat infused water sebenarnya sangat mudah dan tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga. Hanya saja sangat perlu diperhatikan kebersihan, baik kebersihan buah maupun kebersihan wadah air yang akan digunakan.

Infused water dengan segudang manfaat yang dimiliki bukan berarti tidak bisa menjadi racun yang memakan tubuh kita jika tidak menjaga kebersihan selama proses pembuatannya. Adapun yang perlu disiapkan dalam membuat infused water adalah sebagai beriku:
  • Wadah air minum, bisa berupa botol atau gelas. Upayakan menggunakan wadah memiliki tutup dan tahan suhu dingin. Botol semacam ini dapat ditemukan di toko online maupun offline dengan harga terjangkau, sekitar enam puluh ribuan.


Sumber : Tokopedia.com

  • Buah yang telah dicuci bersih. Bisa satu jenis maupun lebih sesuai kebutuhan dan keinginan.
  • Air mineral.


Cara Membuat
  • Cuci bersih dan pastikan wadah telah steril.
  • Iris tipis buah-buahan yang akan digunakan, untuk beberapa bahan juga perlu dikupas agar tidak menimbulkan rasa pahit seperti jeruk. Tambahkan bahan herbal maupun bahan lain jika diinginkan.
  • Masukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan. Tekan-tekan dengan sendok hingga sarinya keluar dan sedikit hancur (opsional), atau bisa dibiarkan saja.
  • Tambahkan air ke dalam wadah, simpan di lemari pendingin minimal dua jam dan maksimal dua belas jam. Ada banyak versi tentang waktu penyimpanan infused water, ada yang dua belas jam, dua hari bahkan ada yang satu minggu. Tapi untuk keamanan, aku lebih suka menikmati infused water yang disimpan maksimal dua belas jam saja.


Mudah, bukan?

That’s so simple, Mas Mbak. Gak perlu dibikin ribet ah. Sehat itu pilihan kok hehe.

Semoga bermanfaat dan tunggu ceritaku tentang infused water pertama yang kubuat. That was an awkward moment, and I stop cunsuming it for several time to take my tongue rest haha. Maklum, lidah ndesoooo :D


See yaaaaaa
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Ngomongin masa depan sambil ngopi yuk :)
Setiap kali mendengar tiga huruf yang merupakan akronim dari Kantor Urusan Agama, KUA, hal yang pertama kali difikirkan adalah perkawinan. Ya, instansi ini memang lebih banyak mengurusi soal perkawinan dibanding yang lainnya. Sehingga image masyarakat terhadap KUA lebih kepada badan pemerintah yang “suka nikahin orang”.

Well.. well... gak ada yang salah sih dengan pandangan seperti itu. Toh pada kenyataannya, urusan yang lebih sering ditangani KUA adalah Perkawinan. Apalagi kalo lagi musim nikahan, pas tanggal bagus, pas hari bagus, duuhh... sampe capek tuh penghulunya kesana kesini buat nikahin orang.

Ngomongin penghulu jadi inget sama sinetron bulan puasa kemaren. Penghulu ganteng yang diperanin sama Ali Syakieb dan Kantini yang diperanin sama mbak Bella. Katanya sih mau ada serial lanjutannya tapi entah kapan. Kalo di sinetronnya, penghulunya sendiri belum nikah tapi udah pengalaman nikahin banyak pasangan. Haha, gak mupeng apa ya?

Ok, back to the main topic.

Tiga minggu yang lalu, aku bersama tim PPL-ku mendapat kesempatan untuk observasi di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jepara. Meskipun sudah mendapatkan materi yang cukup banyak di kelas, nyatanya kami masih butuh bukti konkret tentang hal-hal yang sebenarnya terjadi di lapangan. Di KUA, masyarakat tidak hanya dapat mengurusi soal perkawinan. Namun dapat pula mengurus tentang Akta Ikrar Wakaf, WAZIS (Wakaf, Zakat Infaq & Shadaqah), Bimbingan Keluarga Sakinah, Bimbingan Haji, Kemasjidan dan sebagainya.

Selain itu, di KUA juga terdapat Kursus Calon Pengantin (SUSCATIN) untuk calon pengantin yang baru mendaftar loh. Jadi, setelah Kedua calon mempelai melakukan pendaftaran nikah keduanya akan diberikan bimbingan mengenai hak dan kewajiban suami istri dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia rumah tangga. Terbilang cukup umum dan sudah mainstream, tapi menurutku hal ini cukup penting. Bisa sebagai pengingat bagi yang sudah tau dan sebagai ilmu baru bagi yang belum tau.

Loh, memangnya ada yang mau nikah tapi belum tau hak dan kewajibannya?

Jawabnya, ada. Dan BANYAK!

Tidak semua calon mempelai adalah orang yang sudah siap untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri. Ada banyak hal yang kadang membuat mereka sedikit terpaksa untuk menjalankannya dengan ilmu dan pengetahuan yang bisa dibilang minim. Disinilah, kursus calon pengantin yang diberikan penyuluh diharapkan dapat berguna bagi kedua calon mempelai.

di KUA juga terdapat BP4 (Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan) yang lebih banyak melakukan penyuluhan terhadap pasangan pengantin yang memiliki masalah. Kursus calon pengantin yang aku tulis barusan juga ditangani sama Badan ini.

Dan satu lagi, PNS yang memiliki permasalahan yang kemungkinan tidak bisa dipecahkan dan akan dilanjutkan ke Pengadilan harus melalui Badan ini terlebih dahulu. Kenapa? Ya biar gak bercerai. Siapa tahu bisa dirukunin lagi. Kalo non PNS juga bisa melalui BP4, tapi memang jarang yang menyadari adanya badan pemerintah ini sehingga sedikit sekali yang datang untuk meminta bimbingan dan memilih langsung mengajukan di pengadilan agama.

Biarpun begitu, Petugas KUA hanya manusia biasa yang memang tak sempurna. Keberadaan badan seperti BP4 hanya sebagai usaha agar terwujud keluarga Indonesi yang bahagia dan sejahtera. Dan dalam realitanya, kita sendiri yang menentukan laju hidup yang akan dijalani. Entah memilih untuk segera menikah tanpa pertimbangan matang dengan berbagai resiko yang ada atau memilih untuk menyiapkan semuanya sejak awal.

Lagi-lagi, KUA memang selalu jadi sorotan. Sering diomongin, dianggap sebagai destinasi menuju kebahagiaan. Apalagi sama anak-anak muda tuh, sukanya ngegombal mau ngajak ke KUA lah, apa lah, padahal uang jajan aja masih nyadong. Meskipun nikah di KUA tidak dikenai biaya, tapi hidup setelah akad juga butuh biaya kan?

Siapin diri aja deh, kalo udah waktunya juga bakalan sampe sana :)


“Jodoh pasti bertemu”, kata bang Afgan.
Share
Tweet
Pin
Share
11 komentar
Yeay, akhirnya bisa ngeblog lagi. 
lalalalalala

Efek lama gak nulis, jadi ribet nih mau ngungkapin perasaan, ceileeehhh... :D

Jadi sore ini adalah hari pertama saya masuk di kamar kos, setelah sekian lama saya tidak terpisah dengan orang tua. Ya sekitar tiga tahun sejak saya kuliah di kampus ini. Dan sejak saat itu saya sangat jarang meningalkan rumah, maksimal tiga hari. Itu pun masih dalam jangkauan dalam kota. Keputuan untuk tinggal di tempat kost adalah keputusan saya sendiri dan hasil negosiasi dengan orang tua, terutama ibu.

Sejak sekitar satu tahun yang lalu keinginan ini muncul hingga terjadi banyak penolakan dengan segudang alasan. Hingga akhirnya pintu hati ibu saya terbuka dan rela untuk melepaskan anak perempuan satu-satunya.

Ya, belum genap satu jam saya masuk ke kamar dengan cat hijau muda dengan sebuah cermin dan lemari dua pintu di dalamnya. Ukurannya sekitar 3 meter persegi, Cukup nyaman untuk ditempati dua orang meskipun sekarang masih sendirian.  Dua lubang ventilasi terdapat di dua sisi kanan dan kiri, meskipun sepertinya tidak begitu berguna karena tidak berhadapan dengan udara di luar ruangan. Sisi kanan dan kiri diapit oleh dua ruangan kamar lain. It’s mean kamar ini tidak kedap suara.

Sengaja saya mengetuk dindingnya, mungkin saja terbuat dari triplek atau semacamnya. Ternyata benar-benar tembok dari susunan bata, semoga tidak pengap nantinya. Oh ya, ada juga satu jendela di bagian (sebut saja) belakang. Tapi lagi-lagi tak berhubungan dengan dunia luar, hanya menyambung pandangan ke ruangan sebelah yang terdapat deretan kamar lain.

Cukup nyaman untuk saya yang memang agak susah beradaptasi. selama tidak bising dan mampu memberikan kenyamanan, it's ok. Namun sayangnya cukup jauh dari penjual makanan siap saji yang rasanya cocok di lidah. Semoga saya betah disini. 

Ohya, Sebulan terakhir, saya sedang menjalani Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di dua instansi milik pemerintah yang cukup penting. Keduanya berkaitan lansgung dengan kelangsungan hidup manusia dan keluarga. Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan, tapi entah kapan. Semoga tak lama lagi dan tentunya di blog ini. Jangan penasaran ya, hehe.



Sampai jumpa, happy blogging :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Setiap orang berhak memilih cita-cita sesuai dengan keinginannya. Meskipun terlihat rabun dan jauh, semua hal terasa sah dan mungkin untuk diharapkan. Mungkin karena kedudukannya sebagai salah satu motivasi hidup yang kadang banyak hambatan, cita-cita harus hadir dengan segala ke-absurd-annya di tengah-tengah manusia. Meskipun demikian, tak sedikit orang yang berhasil meraih cia-cita yang dulunya dianggap sulit terwujud, bahkan tidak mungkin, menjadi ada dan terwujud dengan jelas di depan mata.

Berbicara tentang cita-cita membuat saya teringat dengan cita-cita saya di masa kecil yang banyak sekali. Dari ingin menjadi dokter, guru, polisi dan banyak lagi. Cita-cita yang citarasanya standard bagi setiap anak karena memang profesi-profesi itu saja yang mereka ketahui saat itu.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita yang bejibun itu pun perlahan menghilang dan tergantikan dengan tujuan lain yang lebih jelas dan sesuai dengan keadaan dan skill yang saya miliki.
Saya kemudian bercita-cita menjadi jurnalis, kira-kira pada usia 16 tahun setelah mengikuti kegiatan sekolah bertajuk Training Of Jurnalistic aka. Pelatihan Jurnalistik. Seperti jurnalis muda pada umumnya, semangat sekali saat diberi tugas meliput dan memberikan laporan. Namun saat mulai mendapat tugas -tanpa label pelatihan- seperti ada sesuatu yang mengganjal perut untuk berjalan. Seakan beban sebagai jurnalis terasa berat di pundak. Padahal ilmu saja tidak cukup, prakteklah yang lebih penting. Dan dari tugas-tugas inilah seharusnya saya bisa belajar sejak dini.

Semakin sering memraktekkan, maka semakin lihai dan lancar. Dalam hal menulis berita, sering membaca dan menulis adalah salah satu kunci utama.

Beberapa bulan ini saya berhenti menulis karena suatu hal,  dan apa yang terjadi?, saya kesusahan saat memulai menulis kembali. Sadis memang, tapi ini hukum alam. Semakin banyak berlatih, maka semakin lancar dalam menulis, pun dalam berbagai hal yang lain.

Di salah satu grup Whatsapp, seorang teman bertanya mengenai bagaimana cara menulis yang baik bagi pemula. Jawabnya pun beragam, hampir semuanya telah tertulis dan dapat dicari di mesin pencarian. Namun satu-satunya hal yang paling penting adalah memulai menulis dengan pikiran seadanya, dan biarkan ia berkembang dengan sendirinya. Dan saya akui, hal ini tidak mudah.

Saya pikir hal ini berlaku untuk hal yang lain selain menulis. Berlatih dan memraktekkan secara terus menerus adalah kunci utamanya. Seperti kata mutiara di bagian bawah buku tulis bermerek yang berbunyi “Practice make Perfect”.

Masih dengan cita-cita yang sama, saya kembali membuka lembaran baru yang dulu pernah ada. Ilmu dasar jurnalistik yang pernah saya dapatkan seakan muncul kembali dalam ingatan. Semakin semangat? Iya, namun keadaan kadang tak bisa dikompromikan #curhat. Dan sebisa mungkin saya selalu sigap dan siap untuk menggapainya. Jika pun tidak, setidaknya ada plan B yang harus saya lakukan.

Menulis di blog ini adalah salah satu cara saya berlatih membuat reportase, meskipun dengan objek yang sama dan gaya bahasa yang seadanya, hehe. “Mimpi adalah realita yang masih tertunda”, begitu pikir saya. Maka tidak ada salahnya memiliki cita-cita yang buram, toh banyak yang jual lampu.


Sekian dulu cerita tentang cita-cita dan kenangan masa lalu saya. Duh, kok saya jadi malu gini ya J.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Maret 2014
Awan tebal berjajar di arah barat, namun sinar matahari sore tetap tak beranjak dari tempat singgahnya. Duduk di pinggir jalan sembari menunggu bus dengan diiringi joke-joke kecil membuat suasana mudah mencair.
Tidak seperti biasanya, hari ini, yang biasa mereka sebut dengan Hari kamis berhasil membuat saya lelah. Penyebabnya bukan masalah banyak kerjaan atau tugas kuliah, Tapi motivasi diri saya yang sedang down. Menjadi orang yang moody memang susah susah gampang. Apalagi sebagai mahasiswa yang kadang banyak tugas berhinggapan yang justru menjadikan malas untuk mengerjakan.
Meskipun begitu, banyak pelajaran yang saya dapatkan hari ini.
Berawal dari tulisan maaf, ruangan ini dipakai untuk bla bla bla..... di depan ruangan kelas yang biasa kami pakai untuk kuliah. Tulisan di atas kertas berukuran f4 itu bertutur yang intinya ruangan tersebut akan dipakai untuk acara BEM. Dalam hati, saya berbisik emang ga ada ruangan lain ya?, namun apalah hak saya untuk mempertahankan ruangan tersebut?. Toh yang penting bisa kuliah dengan lancar.
Akhirnya kuliah hari itu dilaksanakan di ruang kuliah lain yang tidak digunakan. Ketika perkuliahan dimulai dan Forum diskusi dihidupkan, suasana cukup mencekam (kayak di kuburan ajah...). selain dosen yang menurut saya cukup killer, pemakalah yang bertugas juga cukup serem. hehehe
Dilanjutkan dengan matakuliah berikutnya bersama dosen muda. Suasana menjadi cair begitu kuliah dimulai, si dosen muda yang notabene-nya humoris mampu memberi nilai lebih di setiap kuliah yang disampaikan. Kuliahpun berjalan cukup kondusif hingga jam berakhir.
Ketika hawa bersua
Matahari yang telah tinggi menjulang di atas kepala memberi isyarat untuk berhenti sejenak dari aktifitas yang melelahkan. Tak ayal lagi, ketika sekumpulan hawa bersua dalam suasana dan waktu yang pas membuat mereka tak bisa menahan diri untuk tak berbicara. Baik sekedar memberikan argumen tentang keadaan sekitar, atau lebih dari yang terpikirkan sebelumnya.
Seperti saat itu pula, banyak hal baru yang saya dapatkan dari teman-teman hawa yang lain. Bukan bermaksud untuk mengadu domba, tapi hanya sekedar sebagai informasi yang dapat diambil sisi positifnya.
Pengalaman baru
Sebagai orang baru di dunia mahasiswa, saya dan beberapa teman berinisiatif untuk mengikuti acara tutup buku sebuah badan penting di perguruan tinggi, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat fakultas. Tujuan saya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengetahui apa saja yang terjadi disana. Dan betul, apa yang saya inginkan pun tercapai. Saya tidak mengikuti acara ini dan hanya mendapatkan gambaran tentang situasi disana. Thats all.
Sebagai anggota yang hanya nimbrung sungguh tidak patut jika meninggalkan forum sebelum selesai. Akhirnya saya dan seorang teman lainnya menunggu hingga waktu acara selesai, yaitu pada pukul 16:55 waktu itu, waktu yang menghawatirkan bagi peminat bus seperti saya.
Dan benar, sekian lama menunggu, tak ada satu bus pun yang lewat. Akhirnya ada satu bus yang lewat dan saya putuskan untuk menaikinya. Meskipun saya tahu bus itu tidak akan menghantarkan saya sampai tujuan, pertimbangan saya saat itu adalah untuk mengurangi jarak jemputan dari rumah sepupu saya.
Perjalanan yang setengah-setengah membuat saya harus bekerja ekstra. Berjalan menyusuri pinggiran kali yang telah surut sambil memutar otak mencari jalan keluar untuk dapat pulang. Daaaaan,,,untungnya saya teringat teman saya yang tinggal di dekat sana.
Tanpa basa-basi, akhirnya saya sms dan telfon dia. Meskipun harus menunggu agak lama sambil berjalan. Beberapa pohon dengan bunga-bunga berwarna merah menyala tumbuh di sepanjang jalan yang saya lewati. Warna merah yang indah membuat saya kagum dan memetik beberapa kuntum bunga untuk saya amati. Ya,, itung-itung buat hiburan di jalan, hehe.
Setelah berjalan beberapa meter sambil mengamati bunga indah yang saya petik tadi, langkah saya terhenti di taman kecil yang sengaja dibuat untuk melepas lelah. Suara adzan samar-samar terdeengar dari kejauhan. Tandanya saya harus segera pulang.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya teman saya datang dan saya bersiap untuk segera pulang. Batin saya, hari yang indah adalah hari ini. Banyak hal yang kecil yang tanpa sengaja justru memberi nilai yang sanagt besar dalam hidup.
Setiap hal memiliki nilainya masing-masing. Tinggal bagaimana kita peduli dan berupaya menjadikannya sebagai sesuatu yang lebih.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Maret 2014

Mengajar itu bukan hanya tentang teks, tapi juga pengalaman hidup. Seperti dosen saya yang satu ini. di setiap pertemuan, materi kuliah yang beliau sampaikan tidak pernah lepas dari pengalaman pribadinya. Entah baik atau buruk, selama masih berhubungan dengan bahasan yang diajarkan, tak segan-segan beliau menguraikan apa yang pernah beliau rasakan.

Sebenarnya beliau tidak dengan sengaja menguraikan hal tersebut, terkadang hanya kerana beberapa kata yang menyangkut tentang suatu hal beliau jadi tertarik untuk membahasnya. Pembahasan yang dilakuakan justru lebih mendalam dan lebih eksklusif dari materi kuliah yang sebenarnya.
Tak jarang pula cerita ayng disampaikan adalah cerita yang entah sudah berapa kali dissampaikan. Sehingga banayk dari teman-teman sekelas yang sampai hafal alur yang akan disampaikan bapak dosen, haha. Lucu juga sih, cukup menghibur saat suasana bosan dan kantuk mulai berdatangan.
Seperti halnya hari ini, kelas yang tak lagi seperti kelas. ketika pak dosen sedang menerangkan tentang �karya ilmiah�, terlihat teman-teman tak berbeda dengan saya, bahkan lebih parah. Ada yang tidur, ngobrol, main laptop, hingga membuka panti pijat (eh..).
Di tengah penjelasan beliau yang semakin membosankan dan mengantukkan, saya tersadar dan tergugah dengan pembahsan beliau yang menarik. Entah dari bahsan apa, tiba-tiba beliau menyampaikan tentang pentingnya bermusyawarah. Baik dalam lingkup formal maupun nonformal, seperti keluarga.
Dalam sebuah keluarga, sangat dibutuhkan adanya keharmonisan. Sifat harmonis ini pun dapat diciptakan dengan berbagai hal, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada seluruh anggota keluarga untuk beraspirasi dalam setiap pengambilan keputusan.
Seperti yang disampaikan oleh dosen saya, dalam keluarga tidak diperbolehkan menganggap apa yang dimilikinya adalah haknya secara penuh. Meskipun cara mendapatkannya adalh dari jerih payahnya, tidak menutup kemungkinan anggota keluarga yang lain dapat turut andil dalam pengambilan keputusan mengenai hal tersebut.
Pengambilan keputusan secara sepihak dapat mnegakibatkan krisis eksistensi di antara anggota keluarga. Akibatnya anggota keluarga sering merasa diabaikan dan dinafikan hak-haknya dalam lingkup tersebut. Tak jarang pula terjadi cek cok yang berkelanjutan akibat hal tersebut karena merasa tidak dianggap atau menganggap keputusan yang telah diambil secara sepihak tidak bermanfaat.
Keluarga adalah lingkup terkecil dalam masyarakat, tentu masalah yang hinggap tak serumit masalah yang ada di luar. Tahap pembelajaran yang paling mengena dan paling efektif pun ada di lingkup keluarga. Indikasinya, jika kita mampu menyelesaikan masalah dalam keluarga, kemungkinan untuk mampu bersaing di masyarakat semakin tinggi.
Kuliah yang membosankan tidak selamanya nihil informasi dan pengetahuan. Kebosanan adalah titik terkecil dari sebuah pengalaman, tentunya penalaran dan logika harus dipakai dengan seksama pula. Sehingga kita tidak terjatuh di jurang kehancuran yang kita buat bersama kebosanan kita.
Maksudnya, kebosanan kita tidak serta merta dijadikan sebagai monster besar yang menjadikan kita tidak antusias dengan keadaan. Beberapa hal menarik yang sepertinya tidak berarti terkadang bisa menjadi magnet besar untuk menjadikan kita lebih tertantang untuk semakin maju. Kecuali jika Anda memang sudah terpuruk terlalu jauh.
Ah, tak ada keterpurukan yang abadi. Tuhan menjadikan manusia dengan problem dan solvernya, itu pasti. Jadi, jika Anda tetap terpuruk dengan keadaan Anda, diskusikan dengan orang terdekat Anda. Semoga lekas mendapatkan pencerahan. Amin.
Demikian coretan saya kali ini, dari kuliah yang membosankan hingga diskusi keluarga dan keberanian untuk terjun di masyarakat.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan dari suatu proses yang telah berakhir. Sampah sendiri memiliki banyak jenis dengan tingkat peleburan yang berbeda. Ada yang dapat segera hancur dan melebur dengan tanah dalam waktu cukup singkat, namun adapula yang harus menunggu berabad-abad untuk dapat menghancurkannya.


Kesadaran masyarakat akan hal ini bisa dibilang minim dan  seakan acuh terhadap pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman sampah. Mungkin hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya gerakan pungut sampah yang ada di Jepara dan kota lainnya. 
Meskipun tidak menjadi yang pertama, gerakan pungut sampah yang digalakkan di Jepara terbilang sukses menarik perhatian masyarakat yang peduli terhadap sampah yang mengganggu pemandangan dan masa lalu yang kelam #eh.



Gerakan ini sudah berlangsung sekitar satu bulan sejak Jepara menggelar banyak gawe yang tidak dipungkiri dampak sampahnya, banyak banget. Dari kejauhan, karena saya tidak ikut turun ke jalan, terlihat tingginya antusiasme masyarakat untuk mengikuti gerakan ini. Banyak yang ikut ambil bagian dalam gerakan pungut sampah saat itu.
Cekidot lihat gambarnya


sumber: Jepara Inspiration Project

Rute Gerakan Pungut Sampah 9 April 2016

Saya sempat galau karena pusat gerakan ini terletak di alun-alun kota yang jauh dari rumah saya, Bangsri. Sempat terpikir tidak akan bisa mengikuti gerakan mulia ini. Duh, eman-eman hari mingguku yang libur dong, hehe. Hingga pada akhirnya ada aksi GPS yang juga digelar di lapangan Bangsri.  Yeay, dekat dari rumah dong ya. Dan akhirnya, setelah tiga kali gerakan ini diadakan di Bangsri, pada aksi yang ke empat ini, saya bisa turut berkontribusi dalam gerakan pungut sampah yang diadakan di Lapangan Bangsri.

Pagi itu, Minggu 8 Mei 2016, sedikitnya ada 15 orang yang turun membersihkan sampah di sekitar Lapangan yang setiap sore dipakai untuk Turnamen Sepak Bola. Bagaimana kondisi sampahnya? Duuh, parah banget. Setelah mengenakan sarung tangan dan mengambil kantong sampah yang terbuat dari semacam kain karung (sak), kami pun menyebar ke beberapa titik yang terindikasi terdapat sampah. Karena baru pertama, saya belum paham betul titik-titik mana yang banyak sampah. saya pun memokuskan diri pada sampah plastik kecil yang banyak tersebar di bagian tengah lapangan. Seperti sampah sedotan air mineral dan semacam bungkus permen yang banyak bertebaran bagai bintang yang terlihat menyala dari kejauhan #halah. Alhasil saya Cuma dapat sedikit banget sampah, ga ada segenggaman tangan saya yang kecil ini, heu. Tapi ya gak papa, yang kecil juga perlu untuk dibuang juga  kan??? Iya!!!.

Saking asiknya memungut sampah-sampah kecil di tengah lapangan, hingga akhirnya saya sadar bahwa saya satu-satunya orang dengan sarung tangan dan kantong sampah yang ada di tengah lapangan. Tak mau kehilanagan momen, sayapun mengambil beberapa gambar dari tengah lapangan yang luas tersebut.








Oke, jadi sekarang kamu masih mau nyampah ga jelas juga? Hellow.... #SumpahGaNyampahItuAsik loh. Coba rasain deh, asiiik banget. Apalagi kalo kamu gabung bersama para relawan GPS yang tak pernah absen setiap minggu. Yuk Gabung GPS, tinggal pilih aja, mau ke alun-alun Jepara atau ke Lapangan Bangsri. Untuk info dan tanya-tanya, cek langsung ke fanpage Jepara Inspiration Project ya. 

Salam sehat, salam bersih. 
#SumpahGaNyampahItuAsik.

Share
Tweet
Pin
Share
14 komentar
Sebagai salah satu anggota Club meme di instagram, sedikitnya saya selalu meluangkan waktu 15 menit dalam sehari untuk stalking akun-akun meme besar untuk mencari inspirasi atau sekedar mencari hiburan dan pasang tampang biar follower nambah :D. Ya, memang hidup kami sebagai meme creator diharuskan menjadi sekreatif mungkin dengan tidak melakukan plagiat terhadap akun manapun. Sebisa mungkin seperti itu. Paling tidak cara menaikkan popularitas yang alami adalah dengan mendekati akun-akun besar agar direpost atau sekedar menyukai postingan meme kita. Apa manfaatnya?, kalau kamu pengguna instagram aktif pasti tau lah ya...

Oke, cukup dulu bicarain kebiasaan saya. Sekarang kita ngomongin memenya. Sejak awal bikin meme, banyak sekali meme yang menyinggung tentang ke-jomblo-an.  Dari pembully-an hingga sanjungan dahsyat :D. Yang pasti seakan-akan jomblo adalah suatu hal yang aneh dan patut dibahas, dikasihani dan ditertawakan.

Tak sulit menemukan meme seperti itu, cukup cari #jomblo atau #quotejomblo di mesin pencari saja pasti sudah banyak yang keluar. Baper-pun tak terelakkan, haha. Iya lah, tanya kenapa? Ya karena yang sering cari tagar itu adalah si pelakunya sendiri. Jadi dipasin sama nasibnya, muncullah baper tak berkesudahan. Mungkin ini juga yang menyebabkan tagar# jomblo semakin bergelimpangan, #eh.

Sebenarnya apa yang salah dari jomblo ya kok sampai segitunya?

Dari analisa saya sih, sebenarnya gak ada yang salah, cuma karena populasi anak muda (di instagram) yang doyan pacaran lebih banyak dibanding sama yang pura-pura gak doyan pacaran. Jadi keliatan banget mereka (para jomblo-red) seolah menjadi kaum minoritas yang pantas dijajah, eh, dibully, eh dibahas, eh, apa ya bahasanya yang lebih halus. Pisss
Ada juga nih yang jadi pemicu pembully-an jomblo semakin ramai, yaitu bapernya para jomblo karena meme yang membahas urusan mereka. Suka muncul di kolom komentar yang membahas kejombloan, curcol dikit tapi ngena. Dan kami, para meme creator hanya menjawab tantangan pasar yang semakin butuh meme seperti demikian. Jadi cukup maklum kalau fenomena ini menjadi  tak berkesudahan.

Ini cuma analisa saya loh ya, jangan percaya gitu aja.

Yeah, serba serbi jomblo memang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Meski pada akhirnya tak ada yang mau hidup dalam nestapa tak berkesudahan. Namun tahap jomblo adalah fase yang harus terlewatkan. #eeaak





So far, semua yang saya lakukan bersama teman-teman meme creators hanya bentuk kreasi kami yang terbatas. Mohon maaf jika banyak meme yang tidak berkenan, tidak ada maksud menyinggung atau menindas siapapun (kecuali yang merasa). Hidup itu numpang lewat, sayang kalo ga dikerat  #quotemaksa.

Sekian dulu bahasan tentang quote jomblo, terimakasih.

Happy blogging, salam jomblo.



Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Selamat datang di blog Hai Ulya

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube


recent posts

Blog Archive

  • ▼  2021 (2)
    • ▼  April 2021 (1)
      • Ketika 'Cuan' Menjadi Alasan Untuk Setiap Hal
    • ►  Maret 2021 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  November 2020 (1)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (1)
  • ►  2019 (21)
    • ►  Agustus 2019 (1)
    • ►  Juli 2019 (4)
    • ►  Juni 2019 (1)
    • ►  Mei 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (5)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (4)
  • ►  2018 (26)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  Oktober 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (4)
    • ►  Juli 2018 (5)
    • ►  Juni 2018 (3)
    • ►  April 2018 (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  Oktober 2017 (3)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  Agustus 2017 (1)
    • ►  Juli 2017 (2)
  • ►  2016 (17)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (2)
    • ►  Mei 2016 (8)
    • ►  April 2016 (2)

Categories

Advertorial Banking Beauty Belanja Blogging Curhat Dunia Kerja Event Fashion Gawai Gerakan Pungut sampah Goods Jalan-jalan Kesehatan Komunitas Kuliner Lomba Mahasiswa Minimalism Indonesia Musik None ODOP Opini Pribadi Otomotif Parenting Pernikahan Quarter Life Crisis Relationship Sosial Media Tips Tradisional Viral

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates