Hidup ini tak pernah lepas dari segala masalah. Entah kecil atau besar selalu saja ada masalah. Aku lupa kapan pertama kali menghadapi masalah, dan kapan terakhir kali aku keluar dari masalah. Masalahnya, aku sendiri kadang alpa tentang apakah aku sudah keluar dari masalah atau justru membuat lubang masalah yang baru.
Saking akrabnya dengan masalah, aku jadi semakin congkak dan merasa sangat mampu keluar dari sebuah masalah. "Ini semua hanya tentang waktu", ucapku berkali-kali pada diriku sendiri setiap kali merasa tak berdamai dengan masalah.
Toh menurutku segala yang terjadi adalah bagian dari rantai kehidupan. Satu hal terjadi karena hal lain telah terjadi, begitu terus berulang-ulang. Saling tumpang tindih seperti kartu domino yang jatuh setelah kartu sebelumnya mengenainya. Lambat laun akupun tak menganggapnya sebagai masalah, tapi sebagai teman akrab yang mengajarkan banyak hal baru. I love it.
Membahas masalah, tentu cocoknya membahas kegagalan. Biasanya masalah menimbulkan kegagalan. Masalahnya beragam dan bentuk kegagalannyapun beragam. Kalian tahu sendiri lah ya, sebagai makhluk hidup yang normal pasti pernah mengalami dua hal ini.
Sebenarnya tak mau membahas tentang kegagalan terlalu dalam karena aku sendiri sudah tak percaya dengan konsep kegagalan. Why?, karena "kegagalan adalan keberhasilan yang tertunda". Anjay banget nggak sih jawabanku, klasik.
Awal ke-nggak percayaanku pada konsep kegagalan adalah setelah aku merenung dan menyadari bahwa semua yang terjadi saat ini selalu berhubungan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, it is true. Yaaaa, meskipun kadang harus melewati beberapa fase kegagalan dulu.
Salah satunya adalah saat dimana aku sadar bahwa di usia sekarang, aku baru tahu bahwa ilmu parenting itu ada. Bahwa jadi orang tua ada ilmunya, meskipun nggak ada sekolahnya. Aaaak, aku kudet banget dong, ya ampun.
Di fase ini aku sadar kenapa sampai saat ini aku belum diijinkan menikah. Mungkin aku dikasih jalan dulu buat belajar tentang ilmu ini sebelum praktek.
Dan aku jadi ingat kejadian saat aku hendak menikah tapi nggak jadi. Horror tapi pengen ngakak sih kalo ingat ini. Bisa bayangin nggak sih gimana aku yang waktu itu masih 18 tahun, baru tahu cinta doang terus mau nikah. Mau kuapain anakku nanti. Hiks.
Sejak kapan aku sadar?
Baru aja kok, baru aja kemaren. Pas lagi down banget dan tiba-tiba ke flashback gitu aja. Bahkan sampai bikin kepala pusing dan nggak enak badan. Sumpah aku mendingan sakit badan daripada sakit pikiran. Menyiksa.
Waktu itu kepalaku serasa nggak berhenti berpikir dan selalu kepikiran hal-hal yang bikin aku sampai di titik ini sekarang. Sampai akhirnya aku bisa tenang dan bisa berpikir jernih kembali dan menyimpulkan bahwa aku sebenarnya nggak pernah gagal. Aku hanya ditempatkan di tempat yang nggak aku inginkan oleh Tuhan untuk sebuah tujuan yang Beliau rahasiakan.
Sekian.

























