Tentang Pacaran - Pacaran atau nggak pacaran itu pilihan masing-masing, siapapun boleh pacaran asalkan dengan sesama single atau dengan pasangan sahnya yang masih ingin menyebut dirinya pacaran. Ih, kompleks banget ya penjelasanku.
Well, memang ribet karena aku juga dibikin pusing sama kenyataan di media sosial yang satu sisi bilang nggak boleh pacaran karena bla bla bla dan di sisi lain bilangnya pacaran aja biar kenal sama calon pasangan seumur hidupnya.
Apakah Aku Pro Pacaran?
Aku sendiri, jujur saja pernah ada di dua posisi tersebut. Entah itu jalan yang benar dan sekarang aku kembali tersesat atau sebaliknya, aku pernah tersesat lalu kembali ke jalan yang benar. Aku tak mau memikirkannya lebih jauh. Capek buuuk, mikir terus. Jalanin aja hidup seenak mungkin, hempaskan halu yang bertubi-tubi. :)
Oke, sampai disini sebut saja aku pelaku pacaran. Bukan berarti nggak mendukung yang anti pacaran tapi ini hak kalian sendiri untuk menentukan pilihan. Segala hal pasti ada resikonya, termasuk pacaran. Selama kalian yakin bisa menghadapi kenyataan dan segala resiko dalam proses pacaran artinya kamu boleh dan siap untuk pacaran.
Sebenarnya sih, pacaran itu hal yang kompleks untuk dibicarakan. Bahkan anak kecil yang cuma modal rasa suka terus nembak lalu diterima juga nyebutnya pacaran, kan?. Meskipun aku can't relate banget karena aku polos banget waktu kecil, sih. Nggak pernah punya pengalaman pacaran di usia dini. Tapi percaya aja lah karena aku lihat sendiri salah satu murid les yang mengaku sudah berpacaran padahal baru kelas 5, hmm. Juga beragam fakta di sosial media yang justru kerap jadi guyonan kaum dewasa.
Padahal nih ya, aku tuh cuma mau membahas tentang pacaran yang dijalankan dua insan di umur yang bisa dibilang matang. Tapi bisa aja kan artikelku ini dikaitkan dengan pola pacaran abg yang sedang merasakan cinta monyet. Semoga tetap bisa relate karena masih dalam satu topik, PACARAN.
It's ok, seenggaknya kalian sudah tahu maksudku.
Aku nggak akan menjelaskan tentang definisi pacaran karena pasti akan lebih kompleks lagi.
Btw, ini tulisan atau perumahan kok banyak kompleksnya dari tadi???
Pola pacaran setiap pasangan selalu berbeda satu sama lain. Nggak bisa dipukul rata. Karena setiap orang punya karakternya masing-masing dan tentu saja berpengaruh pada pola hubungannya. Pola hubungan juga dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing pasangan, usia hingga tujuan yang berbeda-beda. Beda pasangan, beda cara mengungkapkan perasaan, beda cara nge-treat pasangan dan tentu saja beda cara pandang terhadap hubungan.
Namun beberapa poin ini mungkin bisa dijadikan landasan hukum ketika memutuskan untuk berpacaran. Jika dirasa nggak bisa memenuhi, please.. mendingan kamu jomblo aja. Semuanya based on my story, sebisa mungkin nggak mau dibuat-buat karena ini blog personal, ehe~.
Komitmen
Memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis artinya siap menerima banyak hal baru. Menerima dan menjalankan segala yang ada di depan mata dengan lapang dada.
Pacaran artinya siap menjalankan komitmen yang telah dibuat bersama. Baik langsung maupun tidak langsung. Yang tujuan utamanya tentu demi keberlangsungan hubungan dalam jangka panjang dan dalam kebahagiaan yang mendalam.
Siapapun dan dari latar belakang apapun pasangan, cintailah dia sepenuhnya. Bukan karena apapun yang ada di belakangnya. Dan tanamkan pada diri bahwa hal itu sebenarnya nggak penting sama sekali. Anggap saja bonus dari betapa tulusnya cintamu selama ini. Dan tak ada alasan untuk memilih tempat lain untuk melabuhkan pandanganmu pada yang lain hanya karena keadaanya yang nggak sama dengan yang sedang kamu suka.
Jika sudah yakin dengan pasangan, komitmen bukan hal yang sulit, kok. Tapi lagi-lagi ini tentang sifat bawaan juga, sih. Well, nggak semua orang punya skill setia sekuat baja. Lhah, baja aja kalo sering ditempa bakalan bengkok juga kan ya....?!
Komitmen itu intinya melaksanakan janji yang telah dibuat dengan pasangan maupun diri sendiri ketika memulai sebuah hubungan. Yang pasti, pasangan yang dimaksud disini hanya 1 laki-laki dan 1 perempuan, nggak ada yang lain.
Aku sendiri agak insecure sih sama Mas A, hmm... mungkin demikian juga dengan Mas A padaku. Wajar saja karena kita nggak setiap hari bertemu dan kemungkinan dia bertemu orang lain jauh lebih banyak. Aku sendiri benci pada perasaan ini karena aku pernah percaya banget sama mas A. Dan hanya karena aku pernah lihat chat dia dengan perempuan lain, sejak saat itu aku jadi mulai insecure. Ih, sebel. Padahal maunya secure-secure aja, kalem, santai, woles. Tapi pikiran parno muncul terus dan datang seenaknya. Bikin hidup nggak tenang dan pengen makan orang. Oh, ternyata posesifku separah itu.
Jika sudah seperti ini, waktunya mengeluarkan amunisi kedua.
Komunikasi
Dalam setiap hubungan, baik formal maupun non formal, penting atau nggak penting, komunikasi harus selalu dipentingkan, lho. Apapun bentuk komunikasinya, usahakan agar semua pihak tahu apa yang diinginkan pihak lain.
Nggak harus setiap waktu juga untuk berkabar, tapi usahakan untuk tidak kehilangan kabar dari pasangan. Minimal sekali dalam satu hari, usahakan ada komunikasi dengan pasangan.
Untuk hubungan dalam ranah usia muda, mungkin banyak ditemui jawaban 'jalani saja dulu, kalau cocok ya lanjut kalau nggak ya gimana lagi?'. Ambigu, percuma menjalin komunikasi sebagus apapun tapi tujuannya nggak jelas. Kasian waktumu terbuang percuma, Gais. Saranku, lebih baik menjomblo saja daripada harus merasakan sakitnya patah hati terencana.
Untuk hal yang lebih serius, komunikasi dengan pasangan tentang tujuan hubungan ke depan, apakah akan sekedar getting happy atau akan bermuara pada jenjang pernikahan menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Meskipun 90% akan mendapatkan jawaban 'yes' untuk pertanyaan 'will you marry me?', tapi tetap banyak juga yang masih belum siap dan mendapatkan jawaban tragis. Saranku, sebelum melamar dengan gaya seperti itu sebaiknya dikomunikasikan saja dulu. Berdua. Biarkan dunia tahu setelahnya saat semua sudah tiba pada waktunya.
Setiap pasangan tentu memiliki pola komunikasi yang berbeda. Hal ini tergantung pada sifat dan watak kedua belah pihak. Dan tentunya sesuai kesepakatan bersama.
Komunikasi yang dibangun dengan baik akan membuat hubungan terasa jelas dan terarah. Meskipun kadang terlihat nggak penting seperti menanyakan kabar, keadaan, kegiatan maupun hal lainnya yang terlihat menjemukan, tapi bagi sebagian orang hal itu terbilang penting, lho. Apalagi untuk pasangan yang lagi hangat-hangatnya. Ya nggak sih?
Realistis
Cinta kadang membuat siapapun berfikir tak realistis, cenderung mengada-ada dan aneh. Seaneh mau mau aja diatur pasangan yang baru kenal beberapa bulan. Padahal selama ini kamu hidup dengan dirimu sendiri dan so far, sangat baik-baik saja.
Seaneh tiba-tiba mau membelikan make up pacarnya, mengantarkannya kemanapun tujuannya serta berbagai hal absurd lainnya. Bahkan kadang ada yang mengalahkan egonya demi kesenangan pasangannya. Sempat sweet di masanya.
Tapi akan ada waktunya hal-hal seperti itu rasanya
Uuh, sweet memang. Tetapi apakah tidak terlalu berlebihan dalam memberikan segala waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk orang lain yang ((iya sih kita sayang)) bukan siapa-siapa.
Menjadi Diri Sendiri
Sampai poin ke empat ini sebenarnya sudah cukup bingung apa yang akan ditulis. Karena saking banyaknya yang sudah aku tulis diatas. HeheheSelain itu, karena poin ini juga sudah tercakup dalam poin-poin sebelumnya. Pada intinya, pacaran hanyalah satu step hubungan untuk saling mengenal lebih dalam tentang pasangan. Pola, jenis, bentuk dan karakter hubungan selalu berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lain.
Karena masih bersifat penjajakan, sebaiknya tak perlu larut terlalu dalam. Tetaplah menjadi diri sendiri dan tetap mencintai diri sendiri. Tak perlu menyediakan segala kelebihanmu demi menyenangkan pasangan.
Jadilah pasangan yang menyenangkan, tak perlu jadi seperti yang diinginkan. Ini cinta, bukan trik sulap.
Sekian, happy blogging.



























